
Indri mendelik kesal pada Bu Sarmi.
"Buk e kalau ngomong suka asal ya?
Baru sehari pacaran, masak sudah di suruh lamaran. Yang benar aja buk. Om ganteng itu punya keluarga, punya anak. Mengenal mereka itu tidak cukup waktu satu jam. Harus selangkah demi selangkah".
"Lha ibuk cuma tanya, kog kamu malah sewot?
Lagian ya pacaran lama lama itu tidak baik. Beresiko jadi fitnah. Apa lagi status kamu itu bukan gadis lagi", ujar Bu Sarmi.
"Itu Indri paham buk. Tapi gak juga sehari pacaran terus langsung minta di lamar. Entar dikira Indri kebelet nikah", Indri memutar bola matanya.
"Lha kan memang iya. Dulu waktu si Sapto ngejar ngejar kamu, kamu cuek bebek. Waktu si juragan cabe, Not not not siapa Ndri?", tanya Bu Sarmi sambil garuk-garuk kepala mengingat kejadian tempo dulu.
"Panoto buk..", jawab Indri.
"Ya ya si Panoto itu kemari dan bawa banyak hadiah, kamu juga kaku kayak es balok", Bu Sarmi terkekeh geli mengingat dinginnya Indri saat itu.
"Lha siapa juga yang mau jadi istri muda? Panoto itu istri nya sudah 2, anaknya 5. Indri mau di jadikan istri ke 3, Yo sori aja..
Mentang-mentang juragan cabe, seenaknya saja", Indri mengerucutkan bibirnya.
"Maka dari itu, sama si Adi kamu beda banget Nduk. Wajah mu itu loh gak bisa bohong sama ibuk.
Ya kalau bisa, buruan minta di lamar. Adi itu lelaki stok terbatas. Sudah baik, bertanggung jawab, punya pekerjaan tetap, ganteng eh duda lagi.
Ibuk cuma khawatir, kalau dia tidak segera kamu ikat, bakalan lepas. Ibuk yakin, ada banyak wanita yang ingin mendekat kepadanya.
Kamu itu termasuk beruntung Nduk", ceramah panjang Bu Sarmi yang mirip ustadzah wanita di acara tv subuh itu membuat Indri terdiam.
'Benar juga kata ibuk, om ganteng pasti banyak penggemar nya. Kalau tidak segera lamaran, cintaku dalam bahaya', batin Indri.
Perasaan Indri bingung memikirkannya.
Adi dan Eko langsung ke tempat proyek talud CV Multi Guna. Setelah Eko memarkir mobil nya, Adi bergegas turun mendekat Antok yang sedang berdiri di samping molen beton nya.
"Ada apa Tok? Tumben muka mu kusut pas hari Sabtu begini", ujar Adi sambil memandang kepala tukang nya itu.
Antok menghela nafas panjang.
"Maaf bos, pikiran lagi ruwet. Anak lagi sakit. Kata dokter harus opname segera".
"Memang sakit apa Tok?", Adi serius.
"Hernia bos, semalam sudah rundingan sama keluarga. Motor itu mau di jual", jawab Antok sambil menunjuk ke motor Vario hasil kredit nya. Antok mulai mencicil nya sekitar 2 tahun yang lalu. Hampir lunas, tapi musibah nya datang. Dia harus merelakan motor itu demi kesembuhan putra nya.
"Bukankah itu belum lunas Tok?", tanya Adi sambil memandang motor Vario putih punya Antok.
"Iya bos, kurang 2 angsuran", wajah Antok semakin kusut.
"Lha apa bisa di jual Tok? Kalaupun laku bukankah akan jauh dari pasaran nya?", kembali Adi menatap Antok.
"Apa boleh buat bos, demi keluarga", Antok memelas sambil memijat kepalanya yang tidak sakit.
"Gini aja Tok, aku bantu lunasi dulu kredit motor mu. Nanti setelah kamu jual, kan harganya sudah pasaran, baru kamu kembalikan duit ku yang di pakai nutupin angsuran. Bagaimana?", tanya Adi kemudian.
__ADS_1
Wajah Antok langsung semangat 45. Dia tidak menduga akan ide Adi itu.
"Serius bos?".
Adi tersenyum sambil mengangguk.
"Terimakasih bos, terimakasih. Semoga bos selalu lancar rejeki nya", ucap Antok penuh semangat. Dengan harga standar pasar, motor nya cukup untuk biaya rumah sakit anaknya, bahkan masih cukup ada sisa buat beli motor bekas.
Hari itu, Adi memberikan duit 4,5 juta kepada Antok. 3 juta untuk membayar kasbon pekerja, 1,5 juta untuk membayar kredit motor Antok.
Usai urusan Antok rampung, Adi dan Eko langsung pulang ke rumah Adi. Sebenarnya sih masih ada waktu sewa nya, cuma Adi tidak terlalu nyaman bermobil. Makanya dia sangat menyukai Vixion kesayangannya.
Eko segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah Adi usai menerima 3 lembar ratusan ribu.
Selepas Eko pergi, Adi menuju kamar dan berganti baju. Segera dia mengeluarkan motor Vixion kesayangannya dari dalam rumah.
Bu Siti setengah berlari menuju ke arah Adi.
"Le, ada undangan dari pak Lurah Bejo. Nanti malam kau di suruh ke rumah nya. Tadi pak RT yang kesini".
"Acara apa buk?", tanya Adi.
"Pak RT gak ngomong tuh, cuma itu saja pesan nya", jawab Bu Siti kemudian.
Adi segera men-start motor Vixion kesayangannya melesat di jalan beraspal menuju ke arah kecamatan Waru. Tempat pak Warno dan kawan kawan bekerja.
Di lampu merah, tak sengaja pandangan Adi tertuju pada seorang wanita muda yang sedang menunggu lampu hijau di depan nya.
Heni!
Perlahan Adi mendekatkan motor nya.
"Mau ke sekolah mas, baru saja ngambil berkas ketinggalan", jawab Heni tersenyum manis. Dia senang disapa Adi.
"Yo wes hati hati, aku kerja dulu", ujar Adi sambil ngegas motor nya begitu lampu hijau menyala.
Heni hanya mengangguk sambil tersenyum penuh arti.
Adi memacu motornya menuju ke arah kecamatan Waru. Motor Vixion kesayangannya itu begitu lincah menembus jalan raya.
20 menit kemudian, Adi sudah memarkir kendaraan bermotor nya di sebelah parkiran motor para pekerja.
Semua pekerja nya tampak sibuk bekerja.
"Darimana bos, kog jam segini baru datang?", tanya Sapri yang mendekati nya.
"Baru dari rumah sakit. Ngurus keluarga.
Eh pak Purwadi sudah menitipkan permintaan kasbon ku??", Adi menatap Sapri.
Admin kantor CV Megah Sarana itu tersenyum sambil membuka tas punggungnya. Kemudian dia menyerahkan amplop besar berwarna coklat berisi duit dari pak Purwadi.
"Sama pak Purwadi baru di kasih 10 juta mas, besok kan uang muka cair nih, akan di tambahi lagi", ujar Sapri kemudian.
"Oke. Ini sudah lumayan kog buat nambahin bayar orang orang", Adi tersenyum tipis.
__ADS_1
Adi bergegas mengambil ponsel pintar nya dan memotret pekerjaan itu sebagai dokumen pribadi nya. Adi lalu mendekati pak Warno yang sibuk mengurus tungku pembakar aspal nya.
"Eh si bos. Sudah lama bos?", tanya pak Warno begitu melihat Adi mendekat.
"Baru saja Pak No, habis kerjaan ini pak Warno ada pekerjaan lain gak?", Adi menatap wajah sepuh pria itu yang tampak legam karena terkena jelaga dari drum aspal.
"Ya kalau habis ini paling ya ke sawah lagi bos", jawab pak Warno sambil melemparkan kayu kering ke arah tungku pembakar aspal.
"Gak ingin ikut kerja lagi to pak?", Adi tersenyum tipis.
"Yo pengen bos, tapi kalau habis kan ya berhenti to. Wong proyek tidak ada depanku tahun", raut wajah pria itu terlihat sedikit sedih.
"Oke, kalau ini selesai kita pindah ke depan SMP Jati pak No", ujar Adi yang seketika membuat wajah pak Warno tersenyum lebar.
"Garapan nya apa bos??".
"Makadam onderlaag langsung di timpa lapen aspal. Lumayan loh pak, 700 meter kog", Adi menjelaskan pada tukang bakar aspalnya itu.
"Cocok bos, Alhamdulillah masih bisa menabung untuk sekolah si Vita", ujar Pak Warno tersenyum bahagia. Vita anak keduanya sudah hampir lulus Madrasah Aliyah Negeri. Pak Warno ingin menyekolahkan Vita ke IAIN di kota sebelah.
Adi lalu ke motor nya. Mengambil tas ransel dan berganti baju. Dia ingin berolah raga dengan bekerja.
Sepatu boot, celana kolor panjang, baju lengan panjang dan topi khas proyek segera menjadi pakaian Adi.
"Semangat cari rejeki
untuk menghalalkan Indri"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Om ganteng, semangat yaaaa...
Ikuti terus kisah selanjutnya guys
__ADS_1
Jangan lupa untuk dukung terus semangat menulis dengan like vote share dan komentar nya 👍👍👍
Selamat membaca guys 😁😁😁