Mandor Proyek Dan Janda Muda

Mandor Proyek Dan Janda Muda
Ketemu Calon Mertua


__ADS_3

Pak Warno hanya bisa tersenyum mendengar jawaban bos nya itu.


'Tanggal main? Kayak film bioskop saja', batin lelaki tua itu.


Adi segera menemui Sapri yang kebetulan ada di lokasi proyek ini. Pria tampang admin itu baru saja keluar dari warung makan yang ada di ujung selatan proyek ini.


"Mas bro, mana gambar lay out pekerjaan di kecamatan Wana? Jadi gak di berikan ke aku?", tanya Adi sambil mendekat ke arah Sapri.


"Kata pak Purwadi sih jadi mas, lay out pekerjaan masih di kantor. Apa perlu aku ambil sekarang mas??", Sapri menatap wajah Adi.


"Kalau bisa ya sekarang mas, soalnya aku punya 2 tanggungan pekerjaan. Kalau bisa dari sini, nanti pindah ke kecamatan Wana. Besok ini tinggal finishing loh mas", jawab Adi seraya menunjuk ujung pekerjaan yang ada di dekat persawahan.


Sapri tampak gembira.


"Baik mas, tak ambil sekarang saja. Mas tunggu dulu disini".


Pria berkacamata itu segera naik ke motor matic nya, meninggalkan Adi dan menuju kantor CV Megah Sarana.


"Memang dari sini kita pindah ke kecamatan Wana ya bos?", tanya Pak Warno yang menguping pembicaraan Adi dan Sapri.


"Rencana nya begitu, soal nya yang menata onderlaag di depan SMP Jati belum selesai mecah batunya", jawab Adi singkat.


"Oke bos siaapppp.. yang penting kerja terus, biar dapur ngebul nya lancar hehe", Pak Warno tertawa kecil memperlihatkan gigi nya yang ompong.


Sambil menunggu Sapri, Adi iseng membuka aplikasi WA nya.


Puluhan chat dari grup sekolah dia langsung scroll saja. Cuma chat terakhir yang membuat Adi. Dari Yudi, bekas ketua OSIS SMP nya. Dia berencana untuk mengajak semua anggota grup SMP berkumpul di rumah salah satu anggota yang bernama Umi, besok siang. Katanya acara reuni tipis tipis gitu.


Adi langsung mengetik dengan kata insyaallah berangkat. Puluhan balasan dari teman lama nya segera masuk.


"Si irit bicara sudah mau tuh"


"Wah besok jadi pengen ikut aku"


"Aku besok ke salon dulu, supaya gak malu-maluin kalau ketemu si ganteng"


Berbagai komentar lain dari perempuan teman sekolah Adi terus bermunculan. Adi hanya tersenyum tipis sambil membaca chat grup SMP nya.


Adi tidak menyadari kalau Sapri sudah berdiri di samping nya dengan raut muka kecapekan.


"Mas, ini lay out pekerjaan di kecamatan Wana. Maaf menunggu lama".


Adi segera menutup ponselnya dan memeriksa lay out pekerjaan dan RAB yang tertera di belakang nya.


"Tambal sulam burtu ya Bro??", tanya Adi sambil terus memperhatikan angka angka di RAB pekerjaan itu.


"Iya mas, ada lapen full 30 meter di sebelah perempatan mas", jawab Sapri sambil menunjuk pada gambar lay out pekerjaan.


"Gini aja bro, besok kita mutual check saja. Jam berapa bisa mu?", tanya Adi sambil melipat kertas lay out pekerjaan dan memasukkan ke dalam tas ransel punggungnya.


"Lah kenapa mesti di cek lagi mas? Kan sudah jelas itu di gambar?", Sapri kebingungan.


"Gini mas bro, kontur tanah di selatan sungai Brantas terutama kecamatan Wana itu labil. Kalau aspal nya hanya sekuat penetrasi di Utara sungai, takutnya hanya bisa bertahan selama 6 bulan saja. Kalau aspal di sana cuma di jatah seperti disini, aku angkat tangan. Silahkan omongkan dulu sama pak Purwadi, karena ini menyangkut reputasi ku. Kalau pak Purwadi berkenan menambah jumlah aspal, aku siap", Adi tegas menyampaikan kebutuhan nya. Dia tidak pernah mau main-main dengan reputasi nya yang baik di kalangan juragan konstruksi.


"Siap mas, nanti tak sampaikan. Kalau besok pak Purwadi bersedia, kita ketemu dimana mas?", tanya Sapri kemudian.


"Lokasi langsung. Aku hapal betul tempat ini", jawab Adi singkat.


"Oke siap mas".


Adi tersenyum tipis mendengar jawaban Sapri lalu beranjak menuju tempat pak Warno.


"Pak No, saya tinggal dulu ya. Mau ke proyek jembatan dulu".


Pria paruh baya itu terlihat menghormat pada Adi seperti upacara. Adi terkekeh geli melihat ulah tukang bakar aspalnya itu.


Sekejap kemudian, motor Adi sudah melesat cepat meninggalkan tempat itu. Dua puluh menit kemudian, Adi sudah sampai di proyek jembatan CV Barata Konstruksi.


Didik yang beberapa waktu lalu menghilang, terlihat di lokasi. Adi bergegas mendekatinya begitu usai memarkir motornya di samping jalan.


"Darimana saja kau Dik?"


Mendengar suara Adi, Didik segera menoleh.

__ADS_1


"Eh si bos. Sudah lama datang nya bos?", Didik balik bertanya.


"Jangan mengalihkan topik pembicaraan. 4 hari kau menghilang. Pekerjaan disini jadi kacau. Kalau kau tidak sanggup bilang saja, akan kucari kan orang yang menggantikan posisi mu", nada Adi sedikit tinggi. Dia benar-benar tidak suka dengan sikap Didik yang menghilang tanpa jejak.


Didik segera menunduk. Dia hapal betul watak Adi.


"Maaf bos, saya ada masalah keluarga".


"Ada masalah apa? Biasanya mulutmu ember kenapa sekarang diam?", Adi masih sengit.


Didik segera menarik tangan Adi menjauh dari para pekerja yang lain. Setelah cukup jauh, Didik baru melepaskan tangan Adi. Setelah menghela nafasnya dalam-dalam, Didik mulai bercerita.


"Aku ketahuan selingkuh bos".


"Apa??! Sama siapa?", Adi kaget mendengar omongan Didik.


"Sama Tari. Itu loh anak yang punya warung makan waktu kita garap Dam sungai kecil di desa Bintang",ujar Didik sambil tersenyum kecut.


"Bajingan. ABG lebay itu kau embat juga? Dasar brengsek. Trus si Reni tau darimana kau selingkuh?", Adi menatap tajam kearah Didik. Reni adalah istri Didik.


"Kemarin si Tari datang ke rumah. Dia minta pertanggungjawaban bos. ABG itu hamil.


Reni marah besar. Mereka berantem di depan rumah. Makanya aku pulang ke rumah. Akhirnya aku di sidang keluarga. Reni minta cerai bos", ujar Didik lesu.


"Terus apa rencana mu sekarang?",tanya Adi kemudian.


"Ya cari pinjaman dana bos. Untuk biaya perceraian dengan Reni. Kalau boleh, aku pengen pinjam sama bos", jawab Didik memelas.


"Sorry Dik, kalau urusan yang satu ini aku gak bisa bantu. Bikin kualat. Kamu cari pinjaman lain dulu. Urusan gaji mu bisa kamu ambil per Minggu", Adi berkata dengan tegas. Dia takut kena sawan akibat peristiwa itu.


Didik auto lemas seketika.


Sebelumnya dia berharap Adi membantu nya, tapi Adi dengan tegas menolak untuk memberikan bantuan.


Adi segera gaspol ke arah proyek talud tikungan. 15 menit kemudian, duda beranak satu itu sudah sampai dan segera memarkir motornya.


Tergesa-gesa dia menuju ke arah Antok yang tampak berkacak pinggang di bawah pohon asem.


"Dari jembatan. Oiya sudah sampai mana progres pekerjaan mu?", Adi memandang kearah pekerja yang sibuk bekerja di bawah terik matahari.


"Itu yang bawah mulai nyetrik (memberi lapisan semen pada nat batu). Kalau yang atas sudah satu meter naik dari pondasi trap", Antok menunjuk ke bawah.


Adi melirik ke arah jam tangan merk Ca**** nya. Sudah jam 11.20.


"Kasih mereka rehat Tok", perintah Adi.


"Baru mau setengah 12 bos, masak sudah di suruh rehat", Antok menatap wajah bosnya itu.


"Sekali kali gak papa lah. Sudah cepat sana".


Antok segera menuju molen beton nya dan mematikan diesel nya.


Para pekerja segera menoleh ke arah molen. Mereka tau, ini belum jam rehat.


"Sama bos besar di suruh rehat cepat. Silahkan kemasi alat kerja", teriak Antok yang segera di sambut senyuman para pekerja.


Adi segera mengeluarkan rokok Surya 12 sebanyak sebungkus utuh dan menyuruh Antok membagikannya nya.


Para pekerja tersenyum melihat semua perintah bos mereka.


Adi segera memacu motornya menuju ke arah rumah Indri setelah membeli gorengan yang baru saja lewat. Antok segera membagikan nya kepada para pekerja.


"Si bos ternyata baik ya", ujar Kaseno, seorang pekerja baru yang masuk bersama dengan pak Wito.


"Baik lah, apalagi Paklik nya juga ada disini", Pak Wito tersenyum bangga.


"Maksud mu apa kang?", Kaseno penasaran.


"Lha dia itu mau nikah sama ponakan lo No, dengar dengar bentar lagi lamaran", ujar Pak Wito tersenyum bangga.


"Wah kalau begitu, sebentar lagi kau akan punya ponakan mandor proyek ya kang. Wes tak dukung kang, pokok jangan lupa ajak teman mu ini kalau ada pekerjaan", Kaseno mengharap.


"Beres No, kamu pasti tak daftarkan. Tenang saja", Pak Wito sedikit sombong.

__ADS_1


Sementara itu Adi sudah sampai di rumah Indri.


Terlihat Indri sudah mulai terbiasa dengan satu kruk, tidak dua seperti kemarin.


"Loh mas, jam segini kog sudah mampir? Sudah beres pekerjaan mu?", tanya Indri mendekat Adi yang baru melepaskan helm KYT putih nya. Kruk nya tinggal di ketiak sebelah kanan.


"Beres, tapi ada urusan yang lebih penting", jawab Adi sambil menaruh tas ransel punggungnya diatas jok motor.


Mereka berdua lalu berjalan menuju teras rumah Indri.


"Ada urusan penting apa mas?", tanya Indri penasaran.


"Ibuk minta hari ini kamu ke rumah", jawab Adi saat duduk di dipan kayu.


Deggg...


"Haaaaaaaahhhh!!!!


Memang ada apa mas?", Indri kaget mendengar ucapan Adi.


"Tauk.. Kemarin aku diomelin sama dia. Pokoknya hari ini aku di suruh ajak kamu ke rumah", Adi menyulut sebatang rokok Surya 12.


Bu Sarmi yang mendengar kata kata Adi segera keluar dari dapur.


"Sudah jangan banyak bicara. Ndri, cepat ganti baju. Jangan sampai membuat kecewa calon mertua mu", Bu Sarmi tersenyum penuh arti.


Perempuan paruh baya itu paham maksud ibu Adi. Pasti dia pengen kenal dengan Indri.


Indri segera masuk dan berganti baju. Untung saja Dhea sedang di rumah Wawan, jadi tidak menggangu Adi dan Indri.


Motor Adi segera meninggalkan rumah Bu Sarmi menuju ke arah rumah Adi.


Wawan yang baru datang melihat kepergian adiknya itu dan mendekati Bu Sarmi.


"Indri mau kemana buk?".


Bu Sarmi tanpa memandang kearah Wawan langsung menjawab,


"Mau ketemu calon mertuanya"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Dihhh deg-degan deh si Indri 😁😁


Jangan lupa untuk dukung author terus semangat menulis yah gan dengan like vote dan komentar nya 👍👍👍👍


Selamat membaca 😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2