Mandor Proyek Dan Janda Muda

Mandor Proyek Dan Janda Muda
Manggulan


__ADS_3

Kang Min terkekeh geli mendengar suara Adi. Hari itu semua orang benar benar sibuk. Bu Siti ternyata juga memasang terop dan sound sistem juga. Saat Adi di belakang, para pekerja terop dengan cepat memasang terop. Meski tidak sebesar di rumah Bu Sarmi, terop di rumah Adi lumayan megah.


Adi yang tidak menyangka hal itu hanya geleng-geleng kepala saja.


Para tetangga laki laki yang rewang sibuk menata kursi dan meja. Aneka jajan dalam toples satu persatu mulai tertata rapi di atas meja.


Bu Gemi salah satu pladen ngarep ( penyambut tamu) tampak memerintahkan kepada ke para pladen laki laki mengatur kursi untuk menempatkan kotak buwuh di salah satu sudut bawah terop.


Adi yang berniat membantu langsung di stop sama Bu Gemi.


"Gak pareng (Gak boleh) loh mas, sampean duduk bagus di kursi sana saja nggeh", ujar Bu Gemi.


"Lah, masak saya harus diam saja to Bu?", tanya Adi sambil tersenyum tipis.


"Wes resiko jadi manten anyar (pengantin baru) yo gitu. Wes sana sampean duduk saja", Bu Gemi mendorong tubuh Adi menuju ke kursi di samping teras.


Adi hanya bisa pasrah saja.


Tak berapa lama kemudian, yang bagian menata sound sistem sudah mulai membunyikan musik untuk acara. Lagu qasidah lama dari Nasidaria langsung mengalun dari kotak kotak speaker sound yang tertumpuk agak jauh dari terop.


🎵


*Duhai senangnya pengantin baru


Duduk bersanding bersenda gurau


Duhai senangnya pengantin baru


Duduk bersanding bersenda gurau


Bagaikan raja dan permaisuri


Duduk bersimpuh bagaikan bidadari


Duhai senangnya


Menjadi pengantin baru*


🎵


Adi tersenyum kecut mendengar suara lagu itu.


'Kampret, karna aku udah berumur, kenapa lagu jadul pula yang diputar? Tidak bisa di maafkan', gerutu Adi sambil mendekat ke arah operator mixer sound sistem itu.


"Lagunya gak ada yang lebih jadul lagi gak? Jaman Waljinah atau Gesang gitu", sindir Adi pada Syukron, operator mixer itu.


"Lha pengen nya lagu apa bos?", tanya Syukron sambil memandang kearah Adi.


"Ya lagu pop jaman now gitu napa? Tuh yang romantis dikit dari Yovie and Nuno. Yang judulnya Janji Suci", pinta Adi sambil mengeluarkan sebungkus rokok dan menyulutnya sebatang.


Tak berapa lama kemudian lagu romantis itu mengalun merdu.


Hari semakin sore, orang orang semakin ramai berdatangan. Adi segera mandi dan berganti pakaian. Bu Sarmi, Mas Hari, Pak Puh Bud semua sibuk menyambut kedatangan para tamu.


Beberapa teman dari dunia konstruksi juga datang memberikan selamat pada Adi.


Antok salah satunya.


Lelaki yang sudah bekerja pada Adi sejak beberapa tahun terakhir, datang bersama istri nya.


"Weh selamat ya bos, sebentar lagi sudah bukan duda lagi", seloroh Antok saat Adi bersalaman dengannya.


"Ya Tok, terimakasih. Ini semua juga berkat kamu kog", Adi tersenyum tipis.


"Lha kok aku bos? Gimana ceritanya?", Antok penasaran dengan omongan Adi.


"Udah duduk dulu, yuk sana", ujar Adi sambil menarik tangan Antok.


Sementara Adi dan Antok ke arah kursi di sudut terop, Bu Sarmi menyalami istri Antok. Dan mengajak duduk di meja yang ada di bawah terop.


"Buruan bos, penasaran aku ini", ujar Antok mendesak Adi agar segera bercerita usai mereka duduk.


"Ingat gak proyek talud tikungan CV Multi Guna itu?", tanya Adi sambil tersenyum tipis.


"Lha ya ingat to bos, wong selesai juga belum lama. Apa hubungannya dengan itu bos?", Antok tidak sabaran ingin cepat mendengar kata kata Adi.


"Lha aku dapat istri dari proyek itu. Ponakan nya Pak Wito, kuli mu itu", jawab Adi sambil menyulut rokok nya.

__ADS_1


"Haaaaaaaahhhh??!!!


Lha kog bisa bos?", Antok kaget mendengar omongan Adi.


"Aku itu nabrak ponakan nya pak Wito, yang kerja jadi penjaga warkop X itu loh.


Lah karena mungkin juga jodoh, lama lama aku suka dengan dia. Apalagi karna tabrakan dengan ku dia gak bisa kerja, nah dari situ awal kedekatan kami", Adi mengepulkan asap rokok.


"Ckckckck.....


Si bos ternyata predator juga. Ponakan kuli ku di embat juga", gumam Antok sambil geleng-geleng kepala.


"Eh sontoloyo,


Jangan asal njeplak ya.. Dia dulu yang nyatain perasaan nya ke aku.


Jadi jangan salahin aku yang dapat daun muda", geram Adi mendengarkan omongan Antok.


"Ya elah, bercanda bos sensitif amat..


Ya yang penting bos bahagia, biar gak ngegas melulu kalau ngontrol kerjaan di proyek", Antok tersenyum geli.


"Anak tuyul,


Awas ya kau. Ngatain orang macam macam, tak pecat kau", ancam Adi segera.


"Iya iya bos, pengantin baru jangan emosi melulu. Sabar, biar cepet dapat momongan", Antok yang takut ancaman Adi langsung tarik nafas panjang.


Setelah beberapa lama kemudian, Antok dan istri nya di giring Bu Gemi untuk makan hidangan yang telah di sajikan secara prasmanan. Ada soto ayam, rawon daging dan bakso.


Usai makan, Antok dan istri nya pamitan pada Adi. Nita langsung mengangkat tas istri Antok yang sudah berisi beberapa buntalan makanan.


Semakin malam semakin banyak tamu yang hadir. Adi sampai harus menahan diri untuk ke kamar mandi gegara tamu yang seperti laron keluar dari dalam tanah. Maklum saja, Bu Sarmi orangnya entengan. Kalau tetangga hajatan sedikit saja, selalu buwuh. Ditambah posisi Adi sebagai salah satu anggota LPMD, membuat dia begitu dikenal di desa Mande.


Jam 10 malam, tamu sudah mulai sepi. Kang Min, Rio, Kholik dan Memet duduk di kursi depan sambil beristirahat. Kaki mereka sampai panas bolak balik ke dapur sejak tadi sore.


Mereka melekan manten ( istilah menemani pengantin) sambil bermain kartu remi yang sudah di persiapkan sejak tadi sore.


Adi memilih tidur di kamarnya, badannya benar benar capek.


Tok tok tok..


Tok tok tok


Adi terbangun dari tidurnya saat ketokan pintu kamar nya terdengar keras.


Melihat jam pada ponselnya sudah jam 6, Adi bergegas menyambar handuk dan melangkah ke kamar mandi.


Jebyurrrr jebyurrrr


Guyuran air dingin dari bak mandi membuat tubuh Adi segar seketika. Tanpa menghiraukan ramai orang di dapur, Adi langsung kembali menuju ke kamar tidur nya dan berganti baju.


Adi keluar dari kamar tidur dengan busana kerja nya komplit dengan tas ransel punggungnya.


"Le, mau kemana??", tanya Bu Siti melihat penampilan Adi.


"Ya kerja to buk, sudah siang ini", jawab Adi singkat.


"Astaghfirullah hal adziimmm,


Le besok itu kamu mau nikah, masak mau berangkat kerja?", Bu Siti mendelik sewot kearah Adi.


Adi langsung menepuk jidatnya seketika.


"Ya Allah Ya Rabb,


Kog aku lupa besok mau nikah??!!".


Adi tersenyum malu-malu, dan kembali ke dalam kamar nya lalu berganti baju.


Sepanjang pagi itu, kesibukan di rumah Adi benar benar luar biasa. Sanak saudara jauh Bu Siti berdatangan ke rumah Adi.


Menjelang tengah hari, Adi bersiap berangkat ke rumah Indri. Eko yang sudah sejak pagi stand by di rumah Adi, langsung memacu mobil sejuta umat nya menuju ke rumah Indri di desa Marga.


1 jam kemudian, Adi sudah sampai di rumah Indri. Dengan kemeja batik dan celana hitam, serta kopyah hitam Adi turun dari mobil yang di parkir Eko tak jauh dari lokasi acara.


Pak Wito yang melihat kedatangan Adi langsung bergegas menghampiri.

__ADS_1


"Ayo mas bos langsung ke dalam rumah saja, gak usah berhenti di luar", ujar Pak Wito yang langsung menggiring Adi ke dalam rumah.


Indri dan Bu Sarmi serta Pak Jarno sibuk berbincang dengan para tamu. Indri menatap Adi sambil tersenyum penuh arti.


Para tamu seketika menoleh ke arah Adi yang terlihat tampan dengan baju batik modern nya.


"Ohhh itu to yang jadi bojo mu Ndri, ganteng banget", ujar Tutik, teman Indri dari kampung sebelah.


"Iya Tik, itu calon ku. Terimakasih atas pujiannya", Indri tersenyum tipis.


"Awas hati hati loh Ndri, suami kamu itu ganteng. Juragan proyek lagi. Pasti banyak janda janda gatel yang pengen deketin dia", Tutik terus menatap ke arah Adi yang hendak masuk ke dalam rumah.


Indri mengerutkan keningnya.


'Bukankah Tutik juga janda? Apa dia juga termasuk janda gatel yang pengen deketin mas Adi?", batin Indri sambil melirik ke arah Tutik yang terus menatap Adi.


Plak...


"Woy segitunya liat suami ku, apa berminat untuk merebut nya?", Indri menepuk tangan Tutik sambil mendelik tajam kearah nya. Ada desir cemburu melihat Adi dilihat wanita lain.


Hehehehe


"Maaf Ndri, habis suami kamu ganteng bingit.


Punya saudara kembar gak dia?", Tutik tersenyum malu-malu tapi mau ketahuan menatap Adi oleh Indri.


"Gak,


Awas kau. Lirik lirik suami ku lagi, tak colok mata kau", Indri mendelik sambil mengacungkan 2 jari pada Tutik.


Tutik hanya tersenyum tipis saja.


Sementara itu begitu Adi masuk ke dalam rumah, Mbah Sunar sang dukun manten langsung menyalami tangan Adi dengan bau wangi aneh di tangan nya. Pria tua itu lalu memberikan segelas air putih untuk Adi minum.


Adi hanya menurut saja tanpa protes. Baginya lebih baik gak banyak tanya agar cepat dia jauh dari dukun manten itu. Bau nya aneh menurut Adi.


Malam manggulan ( sebelum ijab kabul) di rumah Indri berlangsung ramai.


Adi menemani Indri sampai pegal kakinya karena bolak balik berdiri menyalami tamu.


'Gak papa pegal dikit, yang penting nanti malam bobok bareng'


Lahhh..


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Aduh dhek Mas Adi udah ngeres mulu yak 😁


Lophe lophe pokoknya ❤️❤️❤️❤️


Untuk kakak reader tersayang semuanya yang sudah memberikan dukungannya terhadap cerita ini 👍👍👍👍


Selamat membaca guys 😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2