Mandor Proyek Dan Janda Muda

Mandor Proyek Dan Janda Muda
Kemana Adi?


__ADS_3

"Maaf ya mbak, mas Adi nya lagi repot. Kalau ada perlu silahkan sampaikan ke saya, nanti tak omongkan sama mas Adi", jawab Indri dengan sopan.


"Bilang saja sama dia, Heni pengen ketemu besok siang jam 1 di kafe Y. Terimakasih", ujar Heni kemudian.


Ceklek..


Belum sempat Indri menjawab, Heni sudah memutuskan hubungan telepon mereka.


"Dasar perempuan aneh", ujar Indri.


"Siapa yank? Kog pakai menggerutu gitu?", tanya Adi sambil memandang kearah istrinya.


"Itu mas cewek anaknya Bu Mamik. Katanya pengen ketemu gitu, besok jam 1 di kafe Y", jawab Indri sambil melirik ke arah Adi.


"Ohhh biarkan saja lah. Toh besok aku mau uitzet dengan Bu Rini dan Pak Purwadi. Gak ada waktu untuk urusan gak penting", Adi segera naik ke motor Vixion kesayangannya.


Indri segera naik ke boncengan motor dan mereka meninggalkan apotek itu segera. Di selatan lampu merah pasar kecamatan Selo, mereka berhenti sejenak.


Indri ingin membelikan ayam goreng kentaki untuk dua putri nya di rumah.


"Mas, sayapnya berapa sepotong?", tanya Indri sambil memandang sayap ayam goreng. Dia hampir saja ngiler membayangkan menggigit sayap ayam goreng itu dengan diolesi saos tomat.


"3500 Bu. Kalau daging sama paha 4000", jawab si penjual ayam goreng itu seraya memegang capit untuk mengambil ayam goreng kentaki di etalase kaca.


"Saya mau sayapnya 2, paha nya 2, dagingnya 2 sama itu kepalanya 2 juga", ujar Indri sambil membuka dompetnya dan mengeluarkan duit 50 ribu.


Dengan cekatan, si penjual ayam goreng kentaki itu memasukkan ayam goreng ke plastik hitam.


Usai menerima kembalian, Indri segera naik ke boncengan motor. Mereka pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah, Adi segera mendorong motor nya ke dalam rumah. Ternyata anak anak sudah sampai di rumah.


"Ayah darimana?", tanya Dhea sambil mendekat ke arah Adi.


"Dari apotek nak, tuh nebus obat buat si dedek nya Dhea yang ada di perut ibuk", jawab Adi sambil tersenyum tipis.


"Kog gak ngajak yah?", protes Cinta yang ikut nimbrung.


"Kalian kan ngaji tadi. Lagian ya, cuma nebus obat doang.


Nih ibuk punya ayam goreng kentaki untuk kalian", sahut Indri sambil mengulurkan dua paha ayam goreng kepada Dhea dan Cinta.


Dua anak gadis nya Adi itu langsung tersenyum gembira dan segera menyambar ayam goreng kentaki di tangan Indri. Mereka buru buru menggigit nya.


"Eh makan pelan pelan, jangan balapan gitu", ujar Indri sambil memandang kearah 2 putri kecilnya.


Dua gadis kecil itu hanya mengangguk.


Malam itu mereka bersantai di depan TV sambil berbincang tentang apa saja yang mereka lakukan hari ini. Indri selalu bertanya kepada Dhea dan Cinta setiap hal yang mereka lakukan di sepanjang hari. Dia sama sekali tidak membedakan antara anak kandung dan anak sambung nya.


Malam semakin larut. Jam dinding sudah menunjuk angka 21.30.


Dhea sudah menguap lebar beberapa kali. Gadis kecil itu segera mendekati Indri dan mencium pipinya. Kemudian berpindah ke arah Adi dan memeluk nya. Adi segera menggendong anaknya itu ke kamar tidur nya. Dengan penuh kasih sayang, Adi merebahkan tubuh putri kecilnya itu ke kasur dan menyelimuti nya. Tak berapa lama kemudian, Dhea sudah pulas. Adi segera mematikan lampu kamar setelah menyalakan lampu kecil. Kemudian dia keluar dari kamar.


Sementara Cinta, begitu Adi keluar dari kamar langsung minta gendong di punggung Adi. Walaupun sudah agak besar, tapi manjanya Cinta tetap saja tidak berkurang.


Usai mengantar Cinta, Adi segera menuju ke depan TV. Indri nampak tersenyum manis kemudian menggandeng tangan Adi menuju ke kamar tidur mereka.


"Ada apa yank? Kog senyum senyum gitu?", tanya Adi curiga.


"Waktunya bikin kuping mas", jawab Indri sambil mengulum senyumnya.


Seketika wajah Adi langsung cerah seperti sinar matahari di pagi hari. Malam itu Adi dan Indri 2 kali berlayar ke pulau bahagia.

__ADS_1


Pagi menjelang tiba...


Usai mengantar dua putri nya, Adi bersiap untuk berangkat uitzet dengan Bu Rini. Karena ini penting, Adi memakai hem kotak kotak biru favoritnya, celana jeans biru belel, topi Adidas original, dan jam tangan sporty merk Ca***.


Modis banget untuk seorang hot daddy.


Tak lupa jaket kulit yang setia menemani perjalanan nya selama bertahun-tahun.


"Duh rapi bener bos,


Kayak mau kencan aja", gurau Antok melihat penampilan Adi yang kece badai. Pria itu baru sampai di rumah Adi untuk memasang genteng dari Trenggalek yang kemarin datang.


"Kencan dengkul mu mlocot itu..


Mau uitzet ini, kumpul pengawas dan konsultan. Kalau dandan gembel ya gak etis dong somplak", Adi melotot ke arah Antok.


"Iya iya, gitu aja emosi. Ntar cepat tua loh bos", Antok mengkerut seketika melihat tatapan mata Adi.


"Bodo amat", Adi ngeloyor pergi menuju ke arah dapur. Meninggalkan Antok yang bersiap untuk bekerja.


"Yank,


Liat kontak motor Vixion gak?", tanya Adi pada Indri yang sedang mengiris tahu.


"Dekat TV mas, dalam rak", jawab Indri yang tetap meneruskan kegiatan nya.


Adi melirik ke arah rak TV dan melihat kontak motor Vixion nya disana. Lelaki itu segera mendekati sang istri.


"Yank, mas berangkat kerja dulu ya. Doakan semoga lancar", pamit Adi.


"Iya mas, hati hati kalau kerja. Pulang bawa duit yang banyak hehehehe", canda Indri sambil tersenyum tipis.


"Kasih semangat dong yank", ujar Adi sambil menyorongkan pipinya ke depan bibir Indri. Dan..


Ciuman mesra Indri mendarat di pipi kanan Adi.


Dengan tersenyum riang, Adi segera berangkat ke Desa Wentar tempat janji nya dengan Bu Rini.


20 menit kemudian, Adi sudah sampai di lokasi proyek. Masih sepi belum ada orang yang datang. Adi langsung mengeluarkan sebungkus rokok dari tas kecilnya. Kemudian menyulut sebatang dan menghisapnya.


Belum genap 5 menit Adi disitu, dari selatan sebuah mobil Fortuner putih berjalan menuju Adi. Bu Rini datang bersama Bela sang admin kantor nya, juga bersama dengan Pak Gatot selaku pengawas dan Haris sang konsultan perencana.


"Ini Bu yang mengerjakan?", tanya pak Gatot setelah turun dari mobil Bu Rini.


"Iya pak, ini mandor saya. Kebetulan rumah nya juga kecamatan Selo, sama seperti bapak", ujar Bu Rini memperkenalkan Adi.


"Lho lho lho, tetangga toh. Keparingan asmo sinten mas (Namanya siapa mas)?", tanya pak Gatot saat Adi mengulurkan tangannya.


"Saya Adi pak, dari desa Mande", jawab Adi dengan sopan.


"Walah tetangga dekat. Saya Gading mas, monggo mampir kalau pas lewat", tawar pak Gatot dengan ramah.


Pagi itu mereka segera melakukan uitzet lokasi. Setelah selesai mengukur panjang pekerjaan, mereka berbincang hangat.


Selesai satu titik, mereka berpindah lokasi ke selatan desa Wentar. Lokasi proyek kali ini di dekat sebuah pondok pesantren dan masjid besar. Panjang drainase yang di kerjakan 238 kanan kiri dengan tebal cover 30 cm, kedalaman 60 cm dan lebar atas 50 cm.


Selesai uitzet rencana nya mau makan siang, namun karena Adi ada janji dengan Pak Purwadi maka dia mohon ijin untuk tidak ikut.


Buru buru Adi segera memacu motornya menuju ke kecamatan Wates karena jam sudah menunjuk angka 12.30


Indri meraih ponselnya sekedar ingin tahu suaminya sudah makan atau belum. Dia mencari kontak suaminya di aplikasi WA. Kemudian menekan tombol hijau.


Tuttttt

__ADS_1


Tutttttt..


Namun tidak ada jawaban.


Hmmmmmmmmm...


'Berdering tapi diangkat, kemana mas?', batin Indri.


Indri mencoba sekali lagi. Tapi tetap tidak ada jawaban. Indri kemudian menghubungi lewat nomer telpon reguler, malah tidak aktif.


Hati Indri semakin bertanya-tanya.


Tanpa sengaja, dia melihat jam dinding. Sudah menunjuk angka 13.15.


Tiba tiba Indri teringat kemarin saat Heni menelpon ingin bertemu di kafe Y jam 1. Hati nya langsung panas. Kembali dia mencoba menghubungi Adi lewat aplikasi WA, namun kini hanya tulisan memanggil tanpa berdering lagi.


Rasa cemburu Indri semakin meluap.


'Pasti dia sengaja mematikan hape nya untuk menemui perempuan gatel itu', geram Indri sambil berdiri.


"Mas Wan,


Tolong antar aku ke kafe Y di dekat masjid raya. Sekarang", pinta Indri pada Wawan.


"Ini mau naik Ndri, biar cepat selesai", jawab Wawan segera.


"Kalau gak mau bilang aja, aku bisa berangkat sendiri", Indri masuk ke dalam rumah dan mengambil helm diatas lemari.


"Eee ya tunggu tak anterin", ujar Wawan dengan cepat. Adiknya itu lagi hamil, sangat beresiko jika naik motor sendirian.


Dengan motor matic nya, mereka berdua segera menuju kafe Y di dekat masjid raya.


Sepanjang perjalanan Indri terus mencoba menghubungi suaminya namun tidak ada jawaban sama sekali.


Kemana Adi?


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁😁


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit ❤️, dan komentar 🗣️ nya

__ADS_1


Selamat membaca kak 😁😁


__ADS_2