Mandor Proyek Dan Janda Muda

Mandor Proyek Dan Janda Muda
Gerak Cepat


__ADS_3

Indri tersenyum tipis mendengar pujian Bu Sarmi untuk Adi. Dalam hati dia mengakui bahwa Adi adalah sosok lelaki yang mampu menggetarkan hati nya yang sempat membeku.


Lelaki yang mampu membuat nya merasakan rindu bila tidak bertemu.


Adi menyelesaikan suapan terakhir nya dan menaruh piringnya di bawah ranjang Indri. Dengan telaten pria itu membersihkan sisa-sisa jenang yang belepotan di wajah Dhea dengan tisu.


"Anak ayah sudah cantik, sekarang tidak boleh nakal ya?", ujar Adi yang di sambut anggukan kepala dari gadis kecil itu.


"Sekarang ayah kerja dulu ya nak. Dhea tidak boleh rewel. Kalau ayah pulang kerja Dhea mau di bawain apa?" tanya Adi sambil berjongkok di depan Dhea.


Gadis kecil itu tampak berpikir.


"Emm ayam goreng kentaki", jawaban polos gadis kecil itu membuat Adi tersenyum.


"Dhea, tidak boleh minta aneh-aneh", potong Indri karena merasa tidak enak. Adi terlalu baik pada nya dan Dhea.


"Bisa gak sih itu mulut di rem dikit. Orang cuma ayam goreng kentaki aja kog di buat ribut", Adi berdiri sambil memandang kearah Indri yang baru di washlap.


"Tapi om..", Indri hendak menyela pembicaraan.


"Gak ada tapi tapi. Kamu gak boleh banyak protes. Masak kalah nurut sama Dhea.


Iya kan Dhea?", Adi menoleh ke arah Dhea dan dengan ajaib gadis cilik itu mengangguk.


Indri mendelik ke arah Dhea. Bisa bisanya Dhea lebih membela Adi daripada dia.


"Ya sudah, ayah berangkat kerja dulu ya", ujar Adi sambil mengulurkan tangannya dan Dhea segera menyambut tangan itu dan mencium punggung tangan Adi.


"Aku berangkat kerja dulu ya, kamu baik baik saja disini",Adi mengulurkan tangannya dan Indri mencium punggung tangan Adi seperti kemarin.


"Om ganteng...."


Suara Indri sukses menghentikan langkah kaki Adi yang hendak keluar kamar. Adi segera menoleh ke arah ranjang.


"Hati hati kalau kerja".


Indri menunduk. Wajahnya merona merah. Malu malu kucing.


Adi tersenyum tipis lalu bergegas keluar kamar perawatan. Bu Sarmi yang baru masuk setelah membuang air washlap tidak sempat melihat Adi berpamitan.


Dhea terus memandangi arah Adi yang menghilang di balik pintu rumah sakit.


Adi menjalankan motor nya menuju ke proyek talud. Hari ini seharusnya sudah trap pertama, sesuai jadwal dari pak Basuki.


Antok tampak serius mengulik diesel molen.


Sepertinya molen beton mereka bermasalah.


"Kenapa Tok?", tanya Adi mendekat ke arah molen beton mereka.


"Bose pump nya sih aman bos, kayak nya nosel nya ini. Tuh solar nya gak turun dari selang", Antok mencoba menerangkan.


"Cek dulu solar nya masih ada tidak?", ujar Adi kemudian.


Antok kemudian memutar tutup tangki solar molen nya. Kemudian cengar-cengir.


"Hehe iya bos, solarnya habis".


"Hu dasar pikun, cepat isi sana. Mumpung masih pagi", teriak Adi.


Antok segera berlari ke tempat penitipan barang mereka di salah satu rumah warga. Tak berapa lama kemudian, dia kembali sambil membawa jerigen plastik berisi solar.


Setelah di isi solar dan selang bawah di buka untuk membuang angin, Antok memasang lagi selang nosel nya.


Dan..


Deng..deng..deeengggg..

__ADS_1


Mesin diesel molen beton mereka menyala seperti biasa. Para pekerja kembali sibuk bekerja. Namun pandangan Adi jatuh pada seorang lelaki paruh baya. Pak Wito!


Lelaki tua itu tampak bersemangat meski badan nya basah kuyup oleh keringat.


"Tok, ingatkan aku kalau aku punya hutang sama pak Wito sabtu depan ya?", ujar Adi sambil memandang kearah pak Wito.


"Hutang apa bos?", Antok mengernyitkan keningnya tak mengerti.


"Sudah jangan banyak tanya. Ingat pesan ku" , ujar Adi sambil berlalu meninggalkan Antok yang masih penasaran dengan omongan bos nya tadi.


Adi memacu motornya menuju ke proyek jembatan CV Barata Konstruksi. Didik sedang mengarahkan excavator mengangkat balok baja untuk dasar jembatan.


Hampir selesai. Dan sebentar lagi pekerjaan ini tinggal pengecoran beton sebagai penghubung diatas balok baja yang baru terpasang.


Adi tersenyum tipis.


Meski baru mendapat musibah, ternyata Tuhan mengganti dengan cara yang luar biasa.


Setelah berbincang dengan kekurangan material dan proses pekerjaan pada Didik, Adi meninggalkan tempat itu menuju ke tempat pekerjaan dari pak Purwadi.


Pembersihan lokasi proyek dan penataan letak material koral dan aspal sesuai dengan harapan Adi.


Ismoyo, kepala kelompok kecil itu, bekerja dengan rajin. Sementara Sapri, admin kantor pak Purwadi tampak puas dengan kinerja Adi.


Usai makan siang bersama Sapri di sebuah warung nasi tak jauh dari lokasi, Adi menuju ke tempat pak Warno.


"Kog siang banget bos? Gak kayak kemarin", tanya pak Warno sambil menghisap rokok yang baru di kasih Adi.


"Ada orang sakit di rumah sakit daerah", jawab Adi singkat padat dan jelas.


"Keluarga nya si bos?", tanya pak Warno masih penasaran.


"Bisa di bilang seperti itu", jawab Adi sambil memandang kearah langit.


Dan siang itu hingga sore, Adi berada di lokasi proyek pengaspalan jalan di kecamatan Gandu tempat pak Warno.


Setelah jam istirahat sore, Adi segera mencuci tangan dan kaki nya, numpang di rumah salah satu warga. Facial wash favoritnya langsung dia pakai. Rasa mint. Segar meskipun belum mandi.


Ada penjual ayam goreng kentaki yang lumayan ramai di selatan jalan sebelah lapangan. Adi berhenti.


"Mau yang mana mas? Sayap, kepala, daging atau paha?", ujar penjual ayam goreng kentaki itu bersemangat.


"Buat dua wadah. Yang satu isi daging sama paha. Yang satu isi sayap dan daging. Masing masing isi 6 biji ya?", sahut Adi.


Penjual ayam goreng kentaki itu mengangguk tanda mengerti. Segera dia membungkus pesanan Adi.


"Itu kantong plastik nya dobel ya, saya masukkan ke dalam tas soalnya", sambung Adi kemudian.


Setelah beres, Adi mengulurkan duit 50 ribu ke penjual ayam goreng kentaki itu. Adi segera menata tas nya agar berkas nya tidak kena minyak.


Penjual ayam goreng kentaki segera mengulurkan duit kembalian.


Adi segera memacu kuda besi nya usai memakai jaket dan helm nya.


20 menit kemudian, Adi sudah di parkiran rumah sakit. Dia segera membuka tas, mengambil satu bungkus ayam goreng kentaki dan bergegas menuju ke kamar perawatan Indri.


Gadis kecil itu langsung berlari menyongsong Adi dengan merentangkan kedua tangannya meminta gendong.


"Ayaaaahhhhh"


Adi berjongkok dan menyambut pelukan Dhea.


Kemudian menggendong tubuh mungil bocah cilik itu segera.


Dhea tersenyum bahagia.


Indri yang melihat tingkah Dhea merasa jengah.

__ADS_1


"Dhea tidak boleh begitu. Om ganteng lagi capek. Ayo turun", ucap Indri.


Dhea tidak menjawab, tapi justru memandang kearah Adi.


" Ayah capek?".


Adi hanya tersenyum dan menggeleng cepat.


"Ah ibu bohong. Ayah tidak capek kog", teriak Dhea sambil memandang Indri.


Indri dongkol setengah mati. Mereka berdua benar-benar kompak, batin Indri.


Adi menurunkan Dhea, kemudian memberikan sepotong ayam goreng kentaki kepada gadis cilik itu.


Mata Dhea membulat sempurna dan segera menyambar ayam goreng kentaki. Dia makan dengan lahap.


"Om ganteng, jangan kebiasaan memanjakan Dhea deh", ujar Indri melihat Dhea sangat menikmati ayam goreng kentaki nya.


"Lha kenapa emang nya?", jawab Adi sambil duduk di ranjang samping Indri. Matanya terus memandangi Dhea.


"Kalau suatu saat kaki ku sudah sembuh, dan om ganteng gak ada lagi, bagaimana...".


Belum sempat Indri menyelesaikan omongannya, suara Adi memotong pembicaraan mereka.


"Aku akan terus ada untuk Dhea"


Indri terkejut dan menoleh pada Adi. Lebih terkejut lagi saat tiba tiba Adi memalingkan wajahnya dan mengecup bibir mungil Indri dengan mesra.


Blusss


Wajah Indri memerah. Dia tidak menduga gerakan cepat dari Adi. Indri baru sadar saat Adi mengambil tissue basah mengelap bibir Dhea yang belepotan tepung ayam goreng kentaki.


'Om ganteng menciumku'


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Duh babang Adi main sosor aja


Bulan puasa ini bang..

__ADS_1


Jangan lupa untuk dukung author menulis dengan like vote dan komentar nya ya guys


Selamat membaca.


__ADS_2