Mandor Proyek Dan Janda Muda

Mandor Proyek Dan Janda Muda
Bibibibib Calon Mantu


__ADS_3

Adi menuju dapur Warkop X. Melihat Indri sibuk menyeduh kopi, Adi tak tega untuk menghentikan gerakan nya. Kemudian dia mengambil 50 ribu dari tas kecilnya, dan menaruh diatas meja dapur dengan di tumpangi gelas.


Indri yang masih sibuk tak melihat saat Adi keluar dari warkop X. Dia kembali ke dapur dan kaget melihat duit 50 ribu di bawah jepitan gelas.


Pandangan Indri berkeliling ruang warkop X dan 1 orang tidak ada di sana. Si Om Ganteng!


Indri juga melongok ke parkiran, dan motor Vixion merah tunggangan Adi juga tidak ada.


Ting Ting


Suara notifikasi WA masuk terdengar Indri. Buru buru dia membuka nya.


Tuh duit kopi aku taruh di bawah gelas.


WA dari Om ganteng! Indri segera membalas nya.


Nih kembalian bagaimana om?


Ambil aja.


Indri tersenyum tipis. ' Udah ganteng, gak sombong, baik hati lagi. Tipe ku banget deh', sorak Indri dalam hati.


Adi memarkir motor nya di samping tumpukan pasir dan batu di tepi jalan. Setelah membuka helmnya, dia melihat para pekerja sibuk di bawah. Diesel molen yang di kirim kemarin oleh pak Basuki sepertinya lancar tanpa kendala.


Antok tampak sibuk memasang batu kali dengan balutan semen dan pasir.


Salah seorang pekerja yang mendongak, menepuk pundak Antok.


"Ada si bos tuh".


Antok seketika mendongak ke atas, dan Adi tampak melihat kegiatan nya.


"Pak Hari, gantikan posisi saya sebentar".


Tukang bernama Hari segera bergegas menggantikan posisi Antok. Dan si Antok bergegas naik ke atas tebing dengan tangga bambu darurat.


"Eh si bos, sudah lama bos?", ujar Antok melihat raut muka bosnya yang kusut.


"Baru saja. Itu pondasi besok kayaknya rampung Tok?", Adi menunjuk ujung pekerjaan.


"Insyaallah bos, doakan mesin molen nya gak mogok lagi", ujar Antok sambil tersenyum simpul.


"Lha kelihatannya baru molen nya, kog bisa mogok?", Adi melirik diesel molen beton.


"Eleh baru apanya bos? Itu molen bekas, cuma di cat ulang saja. Tuh pemutar nya saja sudah pada penyok gitu", ujar Antok sambil menunjuk putaran molen yang bengkok.


Hemmmm


"Eh besok kan waktunya bayaran nih, udah kamu total jumlah kira kira sampe besok tok?", tanya Adi sambil mengeluarkan rokok Diplomat favoritnya.


Mengambil sebatang rokok dan menyulut nya. Asap rokok mengebul dari bibir Adi.


Antok ikut mengambil rokok Diplomat dari tempat Adi menaruh, dan ikut ikutan menyulut rokok.


"Kira kira sekitar 5 jutaan loh bos, gimana?", tanya Antok penuh harap.


"Aman. Itu sudah kamu potong kasbon belum?", Adi melihat pekerja yang terus sibuk di bawahnya.


Antok seketika menepuk dahinya.

__ADS_1


Plakk..


"Waduh lupa bos, belum seperti nya".


"Yeee itung yang bener. Kasian tuh mereka yang kerja", Adi menunjuk ke arah pekerja, "Kalau lebih sih gak apa apa, tapi kalau kurang, kamu gak kasian apa".


"Iya bos maaf, namanya juga manusia. Tempat nya salah dan lupa", potong Antok sambil tersenyum.


"Sok kyai. Lagak mu sudah seperti ustadz pengajian saja. Eh kiriman material dari pak Bakri lancar tidak?", Adi memandang tumpukan pasir dan batu yang kelihatan masih baru.


"Kemarin tersendat bos, katanya dump truk nya lagi vet. Itu baru kiriman tadi pagi, tapi sore ini katanya mau kirim lagi bos", jawab Antok.


"Semen masih berapa?", Adi melihat tumpukan kertas semen berserakan di sebelah molen beton.


"Baru habis 20 sak bos, masih 30 sak utuh", Antok semangat laporan.


Hemmmm..


"Nanti sampe rumah kamu total lagi berapa semuanya, ingat potong kasbon. Kalau pekerjaan ini cepat dan aku untung, pasti ada bonus buat kamu", Adi membuka tas kecilnya.


Mendengar kata bonus, Antok auto semangat 45.


"Siap bos", Antok menghormat gaya upacara.


"Lebay banget", Adi menyerahkan duit 50 ribu ke Antok, "Buat beli rokok sama air minum 2 hari".


Antok mengacungkan jempol nya.


"Aku mau ke jembatan, ingat pesan ku", Adi bergegas pergi ke motor Vixion kesayangannya. Antok hanya mengacungkan jempol nya, saat Adi memacu kuda besi nya menuju proyek jembatan CV Barata Konstruksi.


15 menit kemudian, Adi sampai dan memarkir motor nya di samping motor pekerja.


Para pekerja sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Didik kepala tukang nya, sedang mengukur calon sayap samping jembatan.


Mendengar suara Adi, Didik menoleh.


"Itu bos, sama pak Hasan di suruh partisipasi. Ini lagi tak ukur kira kira berapa partisipasi nya. Dari pada kena omelan bos Alex karna kebanyakan".


Adi terkekeh geli mendengar ucapan Didik.


"Jadi berapa partisipasi nya Dik?".


"Sekitar 5 meter bos, tapi kalau di kalikan tinggi jadi 30 meter persegi kayaknya", jawab Didik sambil menggulung meteran.


'0,5 meter x 30 meter persegi \= 15 kubik'.


"Coba nanti aku laporan ke bos Alex, soal nya tambahan 15 kubik satu sisi. kalau dua sisi sudah 30 kubik, dan itu lumayan banyak Dik", ujar Adi sambil menunjuk ke sisi lain jembatan.


"Material kamu aman gak?", sambung Adi kemudian.


"Tinggal itu bos", ujar Didik menunjuk tumpukan pasir dan batu di belakang nya.


"Kalau segitu, harusnya cepat laporan Dik biar tidak tersendat pekerjaan nya", omel Adi sambil mengirim SMS ke Rizki, salah satu sopir material andalannya. Isinya meminta besok minta kiriman batu dan pasir masing-masing 2 dump truk.


"Eh bos, besok aman kan??", tampang Didik memelas seperti kucing dapur minta makan.


Adi terkekeh geli melihat tingkah Didik, dan cuma memberikan jempol doang.


Seketika wajah Didik ceria seperti baru dapat arisan.

__ADS_1


"Dik, aku pergi dulu. Kalau ada apa-apa cepat laporan", ucap Adi sambil melangkah ke motor Vixion kesayangannya.


"Siap laksanakan boskuhh", Didik menjawab dengan gaya lebay banget.


Adi terkekeh geli melihat ulah manusia yang satu ini.


Adi segera memakai jaket kulit nya dan helm nya. Memundurkan motor dan men-start motor Vixion kesayangannya melesat ke arah jalan raya.


Hari ini Heni ulang tahun dan dia mengundang Adi untuk makan di Restoran Jaya. Adi janji jam 16.00 sampai di restoran karna jarak proyek jembatan dan Restoran Jaya tidak sampai 20 menit. Heni bilang acara mulai jam 15.30, tapi dia juga mengerti kalau Adi sibuk bekerja.


Begitu sampai Adi langsung memarkir motor nya di salah satu sudut parkiran. Sepertinya restoran itu hari ini ramai sekali.


Adi lalu mengambil ponsel pintar nya, dan membaca WA Heni. Private Room no 3. Dengan ransel nya yang masih bau pekerjaan, Adi mampir sebentar ke toilet untuk mencuci muka nya dengan pembersih wajah.


Begitu selesai, dia melihat kado yang sempat dia pesan via online dan diantar saat di pekerjaan pengaspalan di kecamatan Gandu dalam ransel nya.


Adi diberitahu resepsionis restoran letak private room. Sampai di pintu private room no 3, Adi mengetuk pintu.


Ceklek


Ternyata Fajar kakak Heni yang di Surabaya membuka pintu. Adi sedikit terkejut.


"Hai dekil, datang juga kamu", teriak Fajar sambil tersenyum," Ayo masuk".


Di private room, ternyata saudara saudara Heni dan keluarga nya berkumpul. Termasuk ayah Heni yang baru dari luar kota.


Semua nya memandang Adi dengan tatapan aneh seperti menanyakan sesuatu.


Bu Mamik langsung berdiri dan dengan pede menyalami Adi dan berkata,


"Bibibibib Calon Mantu, selamat datang"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Author sedikit letoy nih hihihi


Happy reading guys 🙏🙏

__ADS_1


Jangan lupa sedekah like, vote dan komentar nya ya..


Thanks for reading my novel 😁😁😁


__ADS_2