
Niken Arnadia Latif, janda Adi Prasetyo itu sedang kesal. Masa cuti liburan nya tinggal seminggu. Sebagai BMI Hong Kong, tujuan nya pulang ingin kumpul keluarga. Dia ingin sekali kembali rujuk dengan Adi, tapi sikap dingin Adi kemarin membuat nya kesal setengah mati.
Perempuan itu biasanya di panggil Nadia oleh temannya, tapi sejak dulu Adi memanggil nya Niken.
"Ayolah Nik, berpikir berpikir berpikir", kata Niken sambil memukul mukul jidatnya.
Cinta. Ya cuma Cinta yang bisa membuka jalan bagi nya untuk kembali bersama Adi. Begitu pikiran Niken sambil buru buru membuka ponsel pintar nya.
Setelah mengeklik kunci pada layar ponsel nya, Niken mencari kontak Eti. Tetangga dekat sekaligus terhitung saudara jauh Adi. Niken segera mengklik tombol hijau.
📞
Assalamualaikum mbak
Walaikumsalaam. Maaf ini siapa?
Ya Allah Mbak, ini Niken. Ibunya Cinta.
Astaghfirullah. Niken apa kabarnya??
Baik mbak Et. Eh mbak bisa minta tolong gak?
Begini, saya mau kirim hape untuk Cinta. Biar kalau kangen, bisa langsung ke Cinta.
Woh boleh, kirim saja. Nanti tak kasih ke Cinta.
Iya mbak makasih untuk bantuan nya.
Ya sudah saya tutup dulu ya Mbak.
Wassalamu'alaikum
Walaikumsalaam
📞**
'Cinta, bantu ibumu mendapatkan hati ayahmu lagi ya nak', batin Niken sambil segera bergegas ke konter HP Android di sebelah rumah nya.
**
Sementara itu, Adi yang baru selesai makan bakso dengan Heni, bermaksud ke lokasi proyek talud tikungan.
"Hen, terimakasih untuk traktiran nya ya", ujar Adi sambil tersenyum.
"Iya mas, mumpung lagi gajian. Oh iya habis ini mas Adi mau kemana? ", tanya Heni seperti berharap sesuatu.
"Ya balik kerja lagi Hen, orang masih jam kerja ini hehehehe", Adi mulai memakai jaket kulit nya.
"Hem ya sudah kalau begitu. Hati hati kerja nya ya Mas", Heni tersenyum manis.
Adi segera berjalan keluar di ikuti Heni yang baru membayar bakso mereka.
Saat mereka keluar, tak sengaja sebuah mobil Pajero melintas. Kebetulan, si penumpang melihat Adi dan Heni berjalan beriringan. Mata si penumpang memandang kearah mereka dengan tatapan mata geram.
Heni memandang kearah perginya Adi yang menggeber motornya menuju ke arah barat.
'Kapan aku bisa memiliki mu mas', batin Heni.
Guru SMA itu segera memakai helm nya dan menjalankan motor matic nya menuju ke arah timur.
Adi terus memacu motornya menuju ke proyek talud tikungan. Saat tiba di lokasi, jam sudah menunjuk angka 15.20.
Setelah memarkir kendaraan nya, Adi bergegas menuju ke arah molen beton nya. Adi tersenyum tipis melihat hasil pekerjaan Antok dan orang orang nya. Dia puas.
Meskipun tanpa pengawasan full, tapi proyek talud tikungan ini lancar nyaris tanpa halangan berarti. Dasar rejeki kalau waktunya datang selalu ada saja jalan nya.
Bu Rini, juragan nya pekerjaan di kecamatan Gandu baru saja mengirim pesan, besok di suruh ke rumah. Adi yang hapal bahasa kode dari juragan nya yang satu ini, tersenyum tipis. Pasti kasih pekerjaan lagi nih orang.
Penawaran dari CV Barata Konstruksi juga sudah pasti. Sebuah proyek drainase tepi jalan raya di kecamatan Sambi. Adi cuma berdoa semoga sehat selalu, agar bisa bekerja sebaik-baiknya.
__ADS_1
Antok melihat raut wajah bos nya tersenyum seketika mendekati nya.
"Ada apa bos? Kog senyum senyum sendiri?", tatapan mata Antok seakan menyelidik.
"Gak papa", jawab Adi singkat padat dan jelas.
"Wahhh bahaya ini. Si bos mulai gak beres ini", Antok mulai ngeselin.
"Sialan kamu. Bosen kerja ikut aku ya?", Adi mendelik tajam.
"Yaahhh marah. Bercanda bos bercanda. Sensitif amat", Antok ketakutan akhirnya.
"Yo ben. Besok cari orang baru aja untuk garapan drainase di kecamatan Sambi", Adi mengambil sebatang rokok Diplomat favoritnya dan menyulut nya.
"Yah jangan to bos. Ampun bosku", Antok menghiba.
"Salah mu sendiri bikin masalah", Adi masih pura pura marah.
"Iya bos maaf. Kan aku cuma bercanda bos", Wajah memelas Antok benar benar lucu.
Adi akhirnya tak tahan tertawa terbahak-bahak. Perutnya sampai terasa sakit.
"Guyon Tok, bercanda hehe".
"Eh si bos, bikin saya hampir jantungan deh", Antok mengelus dadanya.
"Kalau ini selesai, nanti kamu pindah ke drainase Tok. Didik biar ke dam sungai dari program propinsi. Atau kamu mau tukar tempat sama Didik?", Adi menatap Antok.
"Gak bos, saya ikut apa kata bos saja. Lagian saya juga belum berani garap kali bos", jawab Antok sambil angkat tangan.
"Ya wes terserah kamu saja. Eh ini sudah jam 4 kurang 15 menit. Tuh orang orang suruh istirahat", Adi melihat jam tangannya.
Antok segera ke diesel molen beton nya. Mematikan nya. Begitu mesin diesel berhenti, seluruh pekerja segera mengumpulkan alat kerja.
Pak Wito yang mau mengangkut sisa semen ke tempat penitipan, di cegat Adi.
"Mau kemana mas bos?", tanya pak Wito.
"Sudah ikut aja", jawab Adi sambil memakai helm KYT putih half facenya.
"Tapi saya masih kotor mas", Pria sepuh melihat pakaian nya yang penuh cipratan adonan semen.
"Gak papa, ayo naik", Adi men-start motor Vixion kesayangannya. Pak Wito bergegas naik meski sedikit sungkan.
Motor Adi melaju cepat menuju sebuah toko kelontong tak jauh dari lokasi proyek. Pak Wito segera turun, Adi melepas helmnya dan bergegas masuk sementara pak Wito menunggu di luar.
"Butuh apa mas?", tanya penjaga toko kelontong itu heran. Dandanan Adi yang membuat nya sedikit bingung.
"Beras 10 kg yang kualitas bagus, Minyak goreng 5 liter, Mie kering 2 kotak sama rokok 1 slop. Sama teh gelas 2 kotak", jawab Adi sambil memandang sekeliling toko.
Penjaga toko kelontong segera menyiapkan semua pesanan Adi. Memasukan beras, minyak, dan mie kering dalam dus besar.
Adi membayar semua nya, kemudian memanggil pak Wito untuk mengangkut barang pesanan nya. Penjaga toko kelontong mengenali pak Wito.
Saat Adi memutar motor nya, pria itu bertanya pada pak Wito.
"Itu siapa Kang Wit? Kog gak pernah lihat".
"Bos ku itu mas, yang punya proyek plengsengan itu loh", jawab Pak Wito sambil mengangkat dus besar.
Selesai menata, Pak Wito memangku dus duduk di jok belakang. Motor Adi melesat menuju ke arah rumah Indri.
Sampai di halaman rumah Indri, Pak Wito segera turun sambil meletakkan dus besar di lantai teras.
Bu Sarmi melihat Pak Wito dan Adi kaget. Buru buru mendekati mereka. Indri yang memakai kruk nya ikut mendekat.
"Loh apa ini Le?", tanya Bu Sarmi kebingungan.
"Sedikit sembako Bu, kata Indri kemarin mau slametan", ujar Adi santai.
__ADS_1
"Kog merepotkan saja to", Bu Sarmi malu malu.
"Tolong di terima ya Bu, maaf gak bisa kasih banyak.
Pak Wito, tolong ini di bawa masuk ya".
Pak Wito segera membawa masuk dus besar itu ke dalam.
Ibu ibu paruh baya yang di dapur langsung heboh melihat pak Wito masuk. Terutama Bu Yati istrinya.
"Dari siapa pak?", tanya wanita itu penasaran.
"Dari mas bos", Pak Wito berjalan keluar. Ibu ibu yang di dalam dapur mengekor di belakang nya.
"Wooo itu to calon mantu mu Yu Mi", ucap seorang wanita berambut putih.
"Aamiin", Bu Sarmi segera mengamini.
Mendengar suara itu, wajah cantik Indri langsung merona merah. Apalagi Dhea yang langsung menghambur ke arah Adi minta gendong benar benar membuat Indri salting berat.
"Lah Dhea saja sudah lengket gitu. Buruan saja Ndri, kami siap kog kalau rewang (membantu) lagi hehehehe", sambung Yu Nem tetangga depan rumah.
Indri semakin merah wajah nya.
Adi menyalami pak Wito. Ada duit 50 ribu disana.
"Makasih ya pak Wit"
"Sama sama mas bos", ujar Pak Wito yang segera pulang.
Bu Yati penasaran dengan tangan Pak Wito yang menggenggam sesuatu, segera memburu suaminya. Setelah agak jauh dia bertanya.
"Apa itu pak?", pandangan nya melirik tangan suaminya. Pak Wito dengan santai menjawab,
"Upah mengantar calon mantu"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya guys
Jangan lupa untuk dukung author terus semangat menulis dengan like vote dan komentar nya 👍👍👍
Selamat membaca 🙏👍😁
__ADS_1