Mandor Proyek Dan Janda Muda

Mandor Proyek Dan Janda Muda
Mie Ayam Ceker


__ADS_3

Indri langsung tersenyum manis mendengar ucapan suaminya. Dia tidak menyangka bahwa suaminya itu ternyata bisa bersikap manis seperti itu.


Setelah sarapan, semua pladen laki dan rewang mendapat sebungkus nasi dengan lauk pauk juga sebungkus plastik berisi beras dan sabun sebagai ucapan terimakasih atas bantuannya selama berlangsungnya acara.


Hari ini Bu Siti dan Adi menyelesaikan semua kewajiban pada toko sembako tempat mengambil segala kebutuhan. Kekurangan mereka ditutup dengan beras 6 karung.


Selesai kewajiban tinggal terop dan sound. Adi sudah memberikan uang panjar, jadi dengan duit buwuhan masih ada sisa 8 juta rupiah.


"Alhamdulillah akhirnya semua nya beres Yo Le, kita tidak punya hutang", ujar Bu Siti siang hari itu.


"Iya buk, yang penting jangan punya tanggungan sesudah acara", Adi tersenyum tipis. Indri yang baru menjemput Cinta, langsung ikut nimbrung.


"Eh Nduk, ini rencananya kamu tinggal di sini atau tetap di rumah ibu mu?


Ibu lebih suka loh jika kamu tetap di sini sama ibuk", Bu Siti menatap wajah Indri dengan penuh harap.


Indri segera tersenyum manis.


"Saya itu istri nya mas Adi buk. Apa kata dia saya ikut saja. Sebelum akad nikah kemarin saya juga sudah bilang ke ibuk Mi, bahwa nanti setelah menikah saya akan ikut kemanapun Mas mengajak saya tinggal", jawab Indri sambil melirik ke arah Adi.


"Alhamdulillah,


Jadi ibu tidak kesepian. Hari kan tinggal agak jauh dari sini. Kalau kamu bersedia untuk disini, ibuk bersyukur banget", Bu Siti tersenyum penuh arti.


"Tapi saya masih boleh kan buk mengunjungi ibuk di desa Marga?", tatap Indri pada Bu Siti.


"Yang melarang kamu siapa? Dia ibu mu loh, juga ibu mertua Adi. Kewajiban kalian untuk merawat dan menjaga nya. Minimal seminggu sekali kalian harus menengoknya", ujar Bu Siti kemudian.


Indri lega mendengar jawaban itu.


Siang itu Adi mengajak Indri keluar rumah, sekalian biar tahu sekeliling desa Mande dan sekitarnya. Mereka berempat naik motor Vixion Adi. Persis konvoi kampanye pas Pilkada.


Pertama mereka ke Desa Selo tempat tinggal adik almarhum bapak Adi yang bungsu. Namanya Maman. Lalu ke Bulik nya yang bernama Mus.


Menjelang sore, Adi membawa keluarga nya membeli mie ayam ceker di desa Jati.


"Mbak, mie ayam nya 4 ya.


Minumnya sek sebentar,


Yank mau minum apa?", Adi menatap Indri yang sedang mencari tempat duduk.


"Apa aja mas, yang penting dingin", jawab Indri sambil mendudukkan tubuhnya di kursi kayu di salah satu meja dekat TV.


"Es jeruk mau?", tanya Adi kemudian.


"Boleh mas", jawab Indri sambil tersenyum tipis.


"Es jeruk dua ya mbak sama pop es coklat 2", Adi memandang kearah mbak pelayan warung mie ayam ceker itu.


"Pakai ceker ayam semua pak?", tanya si mbak pelayan itu segera.


"Iya mbak, yang penting cepet. Keburu lapar ini hehehe", Adi cengengesan lalu menuju meja tempat duduk Indri.


Kebetulan warung mie ayam ceker itu lagi ramai, selain murah juga enak. Satu mangkok cuma 8000 rupiah, di jamin kenyang. Porsi genderuwo kalau mereka bilang.


Sambil menunggu pesanan nya jadi, Adi membuka kripik usus yang ada di meja. Ada juga gorengan seperti weci dan tahu isi jamur.


20 menit kemudian, pesenan mereka datang.

__ADS_1


"Mbak kelupaan,


Satu porsi lagi di bungkus ya", ujar Adi pada mbak pelayan warung mie ayam ceker itu. Si mbak hanya mengangguk sambil berlalu.


Saat Adi dan keluarganya asyik menikmati hidangan mie ayam ceker, dari arah pintu warung Heni muncul di temani Dian sahabat lamanya.


Mata Heni langsung terpaku pada Adi yang nampak bahagia dengan keluarga kecilnya.


Seketika itu Heni langsung balik badan. Hatinya begitu panas melihat pemandangan itu. Dian sahabat nya langsung paham dengan Heni.


"Yang ikhlas Hen", bisik Dian pada Heni.


Bukannya tenang, si Heni malah ngeloyor pergi meninggalkan warung mie ayam ceker.


"Mau kemana Hen?", tanya Dian sambil mengikuti langkah Heni menuju motornya yang di parkir di timur warung mie ayam.


"Pindah. Males makan disini", ujar Heni sambil men-start motor matic nya.


"Lah kok gitu, tadi mau kesini", Dian segera naik ke boncengan motor Heni.


"Udah gak mood", ada nada ketus di suara Heni.


Motor matic Heni melaju cepat menuju ke arah pasar kecamatan Selo. Dian sampai takut di boncengan Heni saking banter nya.


"Hen, jangan gila kamu. Aku belum nikah o'on", teriak Dian dari belakang.


Mendengar teriakan Dian, Heni mengurangi kecepatan motor nya. Sesampainya di depan pintu pasar kecamatan Selo, Heni berbelok ke arah penjual seblak di depan pasar.


Begitu berhenti, dia langsung memanggil penjual nya.


"Mbak, seblak pedes dua porsi pedes pol", ujar Heni pada si mbak penjual seblak segera.


"Kamu mau bunuh aku ya? Aku kan gak boleh makan pedas Hen", Dian mendelik tajam kearah Heni .


'Astaga Heni kesurupan setan darimana? Seblak pedes dua porsi? Biasanya seporsi aja gak habis ni anak', batin Dian sambil melotot sesaat kemudian.


"Mbak saya seporsi seblak, jangan pedes ya. Asam lambung ku gak mengijinkan maem pedas", Dian memesan seblak lantas menyusul Heni yang sudah lebih dulu duduk di kursi plastik.


"Minumnya apa mbak?", tanya si mbak penjual seblak itu menatap mereka berdua.


"Es jeruk", jawab Heni.


"Aku es teh", Dian menyusul kemudian.


Sambil menunggu pesanan mereka jadi, Dian kembali mencoba menasehati Heni.


"Hen, maaf nih. Bukan aku lancang, tapi mbok kamu ikhlas. Yakin Allah sudah memilih jodoh yang lebih baik buat kamu", ujar Dian sambil memegang tangan Heni. Ada raut khawatir pada wajah gadis hitam manis itu melihat sahabatnya masih gagal move on.


"Yan, kamu enak ngomongnya.


Hati aku yan, hati aku. Setiap kali melihat perempuan itu, sakit banget rasanya.


Gak, pokoknya aku gak terima Yan", jawab Heni penuh emosi.


"Lha terus kamu mau apa? Dia itu sah loh istri nya mas Adi", Dian merasa tidak percaya dengan omongan Heni barusan.


"Pokoknya aku tidak terima. Akan ku rebut mas Adi Yan, akan ku rebut dia", mata Heni berkilat seperti menyimpan dendam.


"Astaghfirullah hal adziimmm..

__ADS_1


Istighfar Hen, kamu gak boleh seperti itu. Dosa Hen, dosa besar. Kamu jangan nekat. Ingat Hen, kamu itu guru. Kamu itu teladan.


Jangan pernah menuruti hawa nafsu mu saja", ujar Dian terus mengingatkan Heni.


"Kamu itu teman siapa sih Yan? Kog kamu malah belain dia, bukan aku?", Heni mendelik sewot kearah Dian.


"Aku itu teman kamu Hen, makanya aku ngingatin kamu, jangan sampai salah jalan", ujar Dian sambil memegang tangan Heni.


Si mbak penjual seblak yang baru mengantarkan pesanan mereka, sedikit menguping pembicaraan mereka.


"Kalau kamu teman aku, kamu harus dukung aku dong..


Dah, jangan bahas lagi. Ayo kita makan", ajak Heni dengan sengit. Dian hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Heni yang tiba-tiba terasa berubah 180 derajat. Dalam hati dia berdoa semoga Heni tidak melaksanakan niatnya untuk merusak rumah tangga Adi.


Sementara itu, Adi dan Indri serta dua bocil mereka segera bergegas keluar dari warung mie ayam ceker usai membayar.


Saat Adi hendak menjalankan motor nya, si mbak pelayan warung mie ayam ceker berlari ke arah Adi.


"Pak, ini mie ayam ceker nya belum di bawa", ujar si mbak.


Adi dan Indri kompak terkekeh geli melihat itu.


"Padahal kita hanya makan ceker ayam loh yank, kog bisa pikun ya?", ujar Adi sambil memandang Indri yang menerima mie ayam yang dibungkus itu.


"Hla iya mas, harusnya kalau brutu (pangkal ekor ayam) itu baru bikin pikun mas", jawab Indri sambil tersenyum.


"Yuk pulang mas", ajak Indri.


Adi tersenyum tipis lalu berkata,


"Assiaapp Bu Bos,


Berangkaaatttt....."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Maaf jika telat update nya, ada repot sedikit author nya 😁😁🙏😁😁


Selamat membaca guys 😁😁😁


__ADS_2