
Adi memacu motornya menuju ke tempat pak Warno di kecamatan Gandu. Masih belum jam kerja sebenarnya. Masih sepi. Hanya pak Warno yang sedang asyik mengulik tungku pembakar aspal nya.
Segelas kopi hitam besar tampak menemani nya di sisi tembok rumah salah satu warga.
Pak Warno masih belum menyadari kehadiran bos nya itu.
"Pagi pak Warno", sapa Adi pada pria paruh baya itu.
"Eh si bos, tumben pagi pagi sekali sudah sampai lokasi. Ada apa bos??", bukan menjawab tapi malah balik tanya Pak Warno nya.
"Yeeeeeh.. Apa ada aturannya kalau bos dilarang berangkat pagi pak? Gak ada kan?", jawab Adi sambil memandang kearah tungku api yang menyala-nyala.
"Ya gak ada bos, cuma gak biasa saja hehehehe", jawab pak Warno sambil menyeruput kopi nya.
Ting Ting
Sebuah notifikasi WA masuk ke ponsel pintar nya Adi. Dari Depi.
Mas Adi ada dimana?
Begitu bunyi pesan WA.
Adi baru ingat meninggalkan tempat Depi saat perempuan itu tertidur.
Aku di lokasi proyek. Ada apa?
Adi berpikir keras bagaimana cara menghadapi situasi ini.
Mas Adi, aku pengen ketemu.
Oke, nanti tak kabari.
Adi meletakkan ponsel nya ke dalam tas kecil. Kepalanya terasa sakit memikirkan situasi ini.
Dan hari itu, Adi menghabiskan waktunya di lokasi proyek pengaspalan jalan. Tidak seperti biasanya yang hanya melihat, hari ini Adi bekerja layaknya kuli bangunan. Dia menyapu jalan, menebar koral, mengicir aspal bahkan sampai menggantikan operator alat tumbuk.
Semua orang terheran heran melihat tingkah Adi. Sampai sampai sang operator alat tumbuk, Alan mendekati nya.
"Bang, kog semangat banget. Buat biaya nikah lagi ya?", seloroh Alan melihat Adi menyapu jalan.
"Wo ya jelas, nikah butuh biaya banyak loh", jawab Adi cuek saja.
Alhasil, lelahnya Adi membuat dia sedikit bisa melupakan masalah yang menimpa nya.
Saat beristirahat, Adi segera video call dengan Indri, sekedar memastikan bahwa perempuan itu baik baik saja.
Indri nampak antusias mengangkat video call dari Adi. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus saat Adi iseng menggoda nya dengan kata-kata rayuan.
Sementara Bu Sarmi yang melihat anaknya tersipu malu, penasaran.
Diam diam wanita paruh baya itu mendekat kearah Indri. Tanpa Indri sadari, Bu Sarmi sudah melihat wajah Adi di ponsel nya Indri.
Bu Sarmi tersenyum penuh arti.
Selepas jam istirahat sore, Adi bergegas pulang menuju ke habitat aslinya. Dia disambut Bu Siti dengan tatapan menyelidik.
__ADS_1
Adi memang tidak apa-apa cuma slebor depan Vixion kesayangannya pecah.
Adi lalu menceritakan tentang Indri dan kejadian yang terjadi kemarin malam.
"Le, dengarkan ibuk. Wanita itu tulang punggung keluarga nya. Selama dia belum bisa bekerja, tanggung jawab mu untuk mengganti duit yang harus dia dapatkan. Paham kamu?", tanya Bu Siti setelah mendengar cerita dari anak bungsunya itu.
"Iya buk, Adi paham kog. Cuma Indri terus menolak. Terus bagaimana aku bisa mencukupi kebutuhan nya selama beberapa hari ke depan?", tanya Adi yang masih bingung.
"Kamu itu mandor proyek, pintar urusan proyek tapi urusan begini saja bego. Ya belikan sembako atau kebutuhan pribadi nya dia. Uang SPP anaknya kamu bayar. Senilai hasil dia kerja di warkop. Kan beres to?", jawab Bu Siti sambil tersenyum.
"Atau kamu pengen hal yang lebih baik untuk menjamin kehidupan nya", sambung Bu Siti kemudian.
"Apa itu buk?", tanya Adi blo'on.
"Nikahi saja dia", ujar Bu Siti sambil tersenyum simpul.
Adi terbelalak saat mendengar perkataan Bu Siti. Rokok Diplomat favoritnya yang baru dia sulut langsung jatuh dari jemari tangannya.
"Ibuk kalau bercanda jangan keterlaluan", sungut Adi.
Bu Siti terkekeh geli melihat ulah Adi barusan.
"Yo ben, wong kamu di suruh nikah sulitnya setengah mati. Aku itu sudah tua le, sudah lelah merawat kamu dari kecil sampe setua ini. Cinta juga butuh kasih sayang seorang ibu. Kamu kerja terus gak pernah liburan. Bagaimana bisa Cinta sayang sama kamu sedangkan kamu tidak pernah punya waktu untuk dia.....", dan Bu Siti menceramahi Adi seperti ustadzah wanita yang suka nongol di TV saat subuh.
Adi hanya diam. Biasanya dia tidak ambil pusing omongan ibu nya, tapi entah kenapa kali ini, omongan ibu nya benar benar tertanam di dalam pikiran nya.
"Le kamu melamun?", tanya Bu Siti melihat Adi terdiam.
Wanita paruh baya itu mengibaskan tangannya ke depan wajah Adi. Namun tatapan mata Adi kosong.
Plak
"Diajak ngomong orang tua malah ngelamun. Mandi sana", ujar Bu Siti sambil berlalu meninggalkan Adi.
Adi garuk-garuk kepalanya yang terasa gatal. Pria itu segera masuk ke kamar nya dan mengambil handuk. Kemudian dia melangkah ke kamar mandi.
Usai mandi dan sholat ashar, Adi membuka tas besar nya dan mengecek detail lay out pekerjaan di masing masing proyek sambil menghitung progres yang dia dapat.
Adzan magrib terdengar merdu dari mushola di lingkungan RT nya. Adi memasukkan kembali berkas berharga nya ke dalam tas. Selepas sholat magrib, Adi berganti baju dan jaket parasit nya.
"Mau kemana le?", tanya Bu Siti.
"Nengok Indri buk, sekalian mau beli sesuatu di minimarket", jawab Adi sambil mengancingkan helmnya.
"Nitip gula sama sabun cuci ya le?", ujar Bu Siti kemudian.
"Duitnya?", tangan Adi terbuka di depan Bu Siti.
"Halah kamu itu sama orang tua kog pelit. Pakai duitmu lah", ujar Bu Siti sambil meninggalkan Adi.
'Sudah ku duga'
Adi memacu kuda besi nya menuju kearah rumah sakit daerah. Di depan pom, Adi membeli 4 bungkus nasi goreng spesial. Setelah pesanan nya jadi, Adi segera memacu motornya menuju rumah sakit daerah.
Selepas memarkir kendaraan di parkiran luar, Adi masuk ke halaman rumah sakit. Seorang satpam seumuran Adi mengenali Adi.
__ADS_1
"Halo bro, gimana kabarmu?", ujar satpam bernama Udin dengan cepat.
"Halo Din, Alhamdulillah baik. Kamu kerja disini ya sekarang?", tanya Adi. Udin dulu adalah kenalan Adi waktu masih muda, karna mereka punya hobi yang sama. Nge-band.
"Alhamdulillah bro, aku baik juga", jawab si Udin.
Udin dulu bassist yang cukup handal dan punya nama di kalangan pecinta musik di kota Patria. Mereka bertemu saat festival musik di kecamatan Demang. Vokal Adi yang gahar, mengalahkan band Udin di laga final.
Mereka tidak bermusuhan setelah kejadian itu, malah berteman baik. Adi akrab dengan Udin, karna sedikit banyak sifat Udin yang mirip dengan Adi kecuali fisik yang jelas berbeda. Adi tinggi besar dengan tinggi 178 cm dan bobot 75 kg, sedangkan Udin hanya 165 cm dengan bobot 60 kg.
"Ada keluarga mu yang sakit bro?", tanya Udin menyelidik.
"Gak kog, bukan keluarga yang sakit", jawab Adi tersenyum tipis.
"Kalau bukan, ngapain pecicilan di rumah sakit? Mau godain suster disini?", tanya Udin kepo.
Adi tertawa kecil mendengar kata kata si Udin.
'Ni orang hobi banget ngurusi hidup ku. Dari dulu gak pernah berubah', batin Adi.
"Ada teman baru kecelakaan. Mau nengok aku", jawab Adi kemudian.
"Teman? Pake bawa bungkusan gitu? Teman apa teman?", Si Udin tersenyum mengejek.
Adi menjawab sambil berlalu.
"Kepo"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bagaimana kisah selanjutnya? Apa Adi akan memikirkan permintaan ibunya?
Simak terus kelanjutan ceritanya guys
__ADS_1
jangan lupa dukung author dengan like vote dan komentar nya
Selamat membaca 😁😁😁😁