Mandor Proyek Dan Janda Muda

Mandor Proyek Dan Janda Muda
Mukena Baru


__ADS_3

Adi sedang asyik menggigit cakar ayam potong yang dia dapat dari kuah soto ayam. Sejak acara walimah tadi, dia sudah di dapur. Mau makan malam, tapi dua putri nya masih rewel di depan TV.


Indri harus menemani tidur mereka, walaupun dengan perut kelaparan. Usai Dhea dan Cinta tidur, Indri menyusul ke dapur dan makan berdua dengan suaminya.


"Duhh mesranya manten anyar...


Lengket terus kayak perangko", ujar Jeng Retno yang baru dari depan nonton elekton plus.


Hehehehe


Adi hanya cengengesan sambil meneruskan makan ceker ayam nya.


"Kapan punya momongan? Jangan di tunda loh Di", tanya Jeng Retno sambil mengambil teh seduh di teko.


"Woh gak bakalan di tunda Bu Retno. Habis ini kita proses produksi yo yank", seloroh Adi yang langsung mendapat cubitan mesra ke pinggang nya.


"Mas apaan sih? Bikin malu aja", Indri memerah wajahnya seperti kepiting rebus.


"Hla kan gak pa pa, orang udah halal..


Eh anak anak sudah tidur yank??", tanya Adi sambil terus mengemut cakar ayam nya.


"Udah mas, tuh di depan tv. Emang kenapa mas??", Indri menatap wajah suaminya dengan penasaran.


Adi melirik ke arah Jeng Retno yang masih menikmati teh nya. Indri tersenyum tipis melihat suami nya tak segera menjawab pertanyaan nya.


Di luar dangdutan dari elekton plus masih rame. Semakin malam semakin sahdu. Bagio juga tidak mencari Adi karena Adi sudah menyerahkan bayaran elekton plus nya lewat transfer m-banking tadi sore begitu biduan dangdut nya datang.


Jam 23 acara dangdutan selesai. Semuanya nampak gembira. Malam semakin larut. Para pladen laki laki ada beberapa yang masih duduk di depan teras sambil bermain kartu remi. Sebagian besar sudah pulang ke rumah masing-masing.


Adi, Indri, Bu Siti dan Mas Hari membuka kotak buwuh di ruang tamu rumah Bu Siti. Sambil menata uang kondangan, Adi melihat catatan yang ditulis Ida dan Diah.


Ada nama Heni yang tertulis disana.


Adi buru buru mengedarkan pandangannya. Matanya terpaku pada sebuah amplop yang agak besar dengan H.W tanpa alamat yang sedang dipegang oleh Indri.


"Ini kog gak ada alamatnya mas? Siapa ini?", tanya Indri sambil membolak balik amplop itu.


"Dari Heni itu. H W itu singkatan Heni Wijayanti", jawab Adi sambil tersenyum dan mengebulkan asap rokok nya.


"Siapa Heni mas?", Indri penasaran.


"Itu loh, anak wanita yang tadi jagongan (berbincang) dengan kita Nduk. Yang pakai kebaya hijau", jawab Bu Siti mendahului Adi berbicara.


"Oh yang jutek itu", Indri langsung paham. Dengan penasaran Indri segera membuka amplop itu. Ada duit 100 ribu dan sebuah memo kertas kecil diantara lipatan duit.


"Selamat menempuh hidup baru. Semoga menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah"


Demikian bunyi memo kertas kecil itu. Indri mengerutkan keningnya.


Malam itu, total buwuhan mereka mendapat 13.850.000. Belum beras 12 karung, mie kering, gula dan minyak goreng. Indri sampai terkejut melihat banyaknya buwuhan yang di dapat Bu Siti.


Usai menghitung, Adi menyerahkan duit itu pada Bu Siti untuk di kelola. Ada 2 toko sembako yang melayani semua kebutuhan acara selama 3 hari ini. Besok Bu Siti harus totalan dengan 2 toko itu.

__ADS_1


Adi bergegas menuju kamar tidur nya bersama Indri. Ada puluhan kado pernikahan yang diterima. Satu persatu mulai mereka buka. Ada satu kado menggelitik dari Didik, kepala tukang Adi. Sebuah kotak kecil obat kuat!


Tulisan nya pun bikin tersenyum kecil.


"Gaspol bos, jangan kasih kendor!"


Adi senyum senyum sendiri membaca tulisannya itu.


Usai buka kado, mereka berdua menumpuk kertas pembungkus nya.


Adi merebahkan tubuhnya ke kasur tempat tidur nya. Indri segera menyusul suaminya setelah berganti baju dengan baby doll nya.


"Eh ada yang kelupaan yank", ujar Adi saat Indri ikut merebahkan tubuhnya di samping Adi.


"Apa mas? Perasaan sudah semua kado di buka", Indri menatap wajah Adi.


"Ini kado nya", ujar Adi sambil perlahan membuka kancing baju baby doll Indri.


Wajah Indri langsung merona merah. Jantung nya langsung berdetak kencang. Tangan Adi perlahan merayap kemana mana. Menyentuh dan meremas.


Dengan segera Adi bergerak cepat.


Malam itu kembali mereka mengulang kembali kejadian semalam. Adi seperti tidak ada bosannya. Indri sampai lemas dan pasrah menerima nya suaminya.


Jam 2.30 pagi Dhea terbangun dari tidurnya. Gadis kecil itu tolah toleh menatap sekelilingnya. Langsung saja tangisannya pecah.


Adi yang hampir menyelesaikan babak keempat pertarungan seketika menghentikan aksinya.


"Yank, Dhea...", Adi langsung menyambar sarungnya dan segera membuka pintu kamar dan berlari ke depan TV. Indri buru buru memakai baby doll nya dan menyusul Adi keluar.


Adi segera mengulurkan sanggan pada Dhea. Gadis kecil itu segera menghambur ke Adi minta gendong.


"Sudah Ya, jangan nangis. Ayah disini.


Cup cup cup..", ujar Adi sambil menenangkan Dhea. Dia menggendongnya keluar rumah ke arah Kang Min, Rio, Kholik dan Memet yang masih bermain kartu remi.


Cinta yang sempat terbangun, segera tidur lagi saat Indri dengan lembut memeluk nya. Indri akhirnya ketiduran di depan TV bersama Cinta.


Setelah hampir setengah jam, akhirnya Dhea tertidur pulas di gendongan Adi. Pria itu segera masuk ke dalam rumah, dan hanya geleng-geleng kepala melihat Indri yang sudah tidur di depan TV bersama Cinta. Perlahan Adi menidurkan Dhea di samping Indri. Dia sendiri menyusul tidur di samping Indri.


Adzan subuh berkumandang. Suaranya membangunkan Bu Siti. Perempuan paruh baya itu segera menuju kamar mandi untuk berwudhu. Rasa ingin tahu, membuat Bu Siti melongok ke arah depan TV usai berwudhu. Melihat Adi dan keluarganya tidur berempat, rasa bahagia menyeruak masuk ke dalam hati nya.


"Ya Allah, terimakasih atas semua nikmat dan karunia yang telah Engkau berikan. Jagalah keluarga mereka tetap bersama dan jadikan mereka keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Aamiin", doa Bu Siti dalam hatinya.


Perempuan paruh baya itu segera kembali ke tempat tidur nya. Meraih mukena dan sholat subuh dengan khusyuk.


Indri membuka matanya perlahan, dia tersenyum tipis melihat tingkah suaminya yang sedang tidur dengan memeluk nya.


"Ini rumah mertua, aku harus cepat bangun", ujar Indri yang segera memindahkan tangan Adi. Dia bergegas menuju ke arah kamar mandi setelah mengambil handuk di kamar Adi.


Usai mandi dan berwudhu, Indri keluar dari kamar mandi dan berpapasan dengan Bu Siti yang baru selesai sholat subuh.


"Buk maaf, Indri ketinggalan mukena. Boleh pinjam punya ibu gak?", tanya Indri sambil menunduk.

__ADS_1


Bu Siti tersenyum simpul dan kembali masuk ke dalam kamar tidur nya. Perempuan itu mengambil mukena baru yang dia dapat dari Hari beberapa bulan yang lalu. Dia belum pernah sekalipun memakai nya. Segera dia memberikan mukena bordir itu pada Indri.


"Loh ini kelihatannya seperti masih baru Buk", ujar Indri sambil memegang mukena bordir yang masih terbungkus rapi di dalam plastik bening.


"Sudah pakai saja, mukena ibu banyak. Padahal butuh nya cuma satu", jawab Bu Siti sambil tersenyum.


"Tapi buk..."


"Gak ada tapi tapi. Pakai saja. Kamu baru saja menjalani kehidupan yang baru. Sudah sewajarnya kamu melepaskan yang lama dan menerima yang baru. Anggap saja itu hadiah pernikahan mu dari ibu. Udah sana sholat, nanti keburu habis waktunya", ujar Bu Siti kemudian.


Indri begitu terharu mendengar ucapan Bu Siti. Dia segera memeluk ibu suaminya itu.


"Terimakasih banyak Buk, terimakasih banyak".


Setelah memeluk Bu Siti, Indri bergegas menuju ke kamar tidur Adi dan menggelar sajadah.


Sementara itu, Bu Siti tersenyum simpul. Tiba-tiba dia teringat putranya yang masih tidur.


Segera dia bergegas menuju ke depan TV dan membangunkan Adi.


"Le bangun,


Tidur kog kayak kebo"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Author mengucapkan beribu terima kasih atas dukungan kakak reader tersayang semuanya pada cerita ini ❤️❤️❤️

__ADS_1


Temani author sampe tamat yak 🙏😁🙏


Selamat membaca😁😁


__ADS_2