
Depi terus menangis tersedu-sedu saat Adi bergegas pergi meninggalkan lesehan itu.
'Maaf Dep, ada saatnya aku harus kejam pada mu'.
Motor Adi melesat menuju proyek jembatan CV Barata Konstruksi.
20 menit kemudian, Adi sudah memarkir motornya di samping puluhan motor para pekerja. Dunia konstruksi selalu penuh dengan pemandangan seperti ini. Motor motor tua yang hanya lengkap surat dan spion mereka, sudah cukup menjadi alat mereka mengais rejeki.
Adi tersenyum tipis.
Dengan langkah kaki tegap, Adi melihat ke arah para pekerja yang sedang sibuk memasang leneng jembatan itu. Proyek jembatan ini memang prestisius. Dam sungai di bawah nya yang membuat frustasi Adi beberapa waktu kemarin.
"Halo bos, tumben kesini",tanya Paino tukang batu yang berumur 45 tahun.
"Ya kontrol aja pak No, kalau selesai atau tinggal ngecat kan bisa di bagi orang nya", jawab Adi sambil menyulut rokok Diplomat favoritnya.
"Lha ada proyek dimana lagi to bos?", Paino antusias. Dia tentu saja senang mendengar Adi mendapat proyek lagi. Biaya sekolah anak nya pasti aman.
"Dam sungai di utara gilingan koral kecamatan Gandu. Jauh Lo pak, masih mau??", Adi menyelidik.
"Lah Yo Ndak papa to bos, asal masih masuk wilayah kota Patria, saya siap", jawab Paino semangat.
"Iyo bos, nganggur gak enak. Istri ku ngomel terus kalau aku nganggur. Wes to pokok Bose ada pekerjaan, aku ikut bos", timpal Wiji, seorang kuli bawaan Paino.
Adi tersenyum mendengar kata kata mereka. Kata kata mereka tulus. Tidak mengharapkan lebih. Hanya bekerja sekuatnya untuk terus bertahan hidup.
"Eh Didik kemana?", tanya Adi kemudian. Dari tadi Adi tidak melihat kepala tukang nya itu.
"Tadi disini bos, setelah dapat telpon dari rumah, dia pulang. Katanya Paklik nya meninggal dunia", jawab Paino.
"Innalilahi wa Inna ilaihi rojiun..., Ya sudah gak apa apa. Yang penting meski tanpa pengawasan dari Didik, kalian tetap bekerja sesuai jam kerja", ujar Adi sambil memandang kearah para pekerja.
"Pak No, titip orang orang ya.. Kalau nanti ada yang nyari aku, pak No tinggal telpon saja".
"Siap bos", ujar Paino.
Adi meletakkan rokok nya buat mereka. Sekedar penghilang letih sesaat untuk para pengais rejeki.
Setelah selesai mengecek jembatan, Adi meninggalkan tempat itu. Motor Vixion kesayangannya gas pol menuju ke proyek talud CV Multi Guna.
5 proyek sekaligus adalah batas Adi kontrol. Lebih dari itu dia gak sanggup. Dulu mengerjakan 6 sekaligus, dia auto drop. Habis itu kapok dia.
15 menit kemudian, dia sudah sampai di proyek talud CV Multi Guna. Tadi pak Basuki sempat kirim pesan singkat. Kalau butuh duit, suruh kirim foto progres pekerjaan.
Begitu selesai memarkir kendaraan bermotor nya, Adi segera mengeluarkan ponsel pintar nya. Lalu memotret pekerjaan nya via aplikasi WA.
Dua menit kemudian, pak Basuki mengirim emoticon jempol 2.
Saat hendak mendekati molen, M-banking nya berbunyi. Di transfer 10 juta oleh pak Basuki. Adi tersenyum lebar.
Antok sedang asyik memasang batu kali di atas trap yang baru mereka buat. Beberapa pekerja sibuk meratakan tanah uruk dengan cangkul.
Mereka bersemangat, hari ini Jumat dan besok Sabtu. Waktu nya kasbon besar hehehehe.
"Tok, ketebalan pasangan mu jangan sampai kurang loh.. Team inspektorat kabupaten sekarang pintar cari perkara", ujar Adi sambil menunjuk ketebalan pasangan yang sedikit kurang.
"Siap bos", ujar Antok sambil terus menata batu batu kali itu. Untung saja molen beton mereka sama sekali tidak rewel hingga hari ini. Jadi pekerjaan mereka bisa lancar.
"Eh iya Tok, nota penerimaan barang untuk material dari pak Bakri sudah kamu selesaikan?", tanya Adi kemudian.
__ADS_1
"Ada di tas bos, apa mau di cek sekarang bos?", Antok balik bertanya.
"Boleh, mumpung aku lagi gak ada kerjaan nih", jawab Adi sambil berlalu menuju bawah pohon rindang di seberang jalan.
Antok segera naik ke sebelah molen beton. Mencuci tangan pada drum aspal wadah air kerja. Kemudian menyusul Adi dengan membawa tas punggungnya. Antok lalu menyerahkan nota pengiriman barang nya. Perlahan Adi mengecek nota itu dengan teliti.
Beres. Tidak ada cacat. Seperti nya didikan Adi pada Antok benar-benar berhasil.
"Tok besok orang orang kasih kasbon berapa?", tanya Adi menatap Antok serius.
"Terserah ente deh bos, ente kan bos ane", Antok menirukan gaya ngomong orang Arab di tv.
"Semprul kamu, di tanya jawab nya malah gaya Wan Abud", Adi kesal.
"Hehehehe, ane memang turunan Arab bos", Antok bergaya seperti artis keturunan Arab di tv swasta.
"Iya kamu turunan Arab. Arapatigenah (Plesetan Ora Pati Genah \= Gak begitu jelas) hehehehe", Adi terkekeh geli.
Antok melengos tanpa berkata.
Usai bercakap sebentar, Adi kemudian memakai jaket dan helm KYT putih half facenya.
"Mau kemana bos? Masih mau kontrol lagi?", tanya Antok kepo.
"Kontrol ke rumah mertua", ujar Adi sambil memacu motornya menuju ke arah rumah Indri.
Antok hanya melongo mendengar kata kata Adi.
'Sejak kapan si bos nikah?'.
Adi tersenyum tipis saat melepas helm nya. Dhea sedang asyik bermain dengan sepupu nya, anak nya Wawan. Indri juga sedang asyik menonton YouTube film Drakor untuk mengurangi kebosanan nya. Begitu melihat Adi, si gadis kecil Dhea langsung menghambur ke arah Adi dan minta gendong. Dengan gemas Adi mencium pipi gembul bocah itu.
"Sengaja tak bikin cepat", jawab Adi singkat.
"Lah kog bisa om?", Indri memandang Adi dengan penasaran. Kaki nya yang masih di gips membuat nya tidak bisa bergerak leluasa.
"Apa sih yang Adi gak bisa?", ilmu sombong Adi keluar lagi.
"Iya iya percaya mentang mentang juragan proyek..
Tapi serius om Ganteng, di buat cepat buat apa??", Indri masih juga ngeyel.
"Ya agar bisa ngapelin kamu lebih lama lah", gombalan maut dari si Duren sukses membuat si Jamu klepek klepek.
Wajah Indri memerah seperti kepiting rebus.
"Duh ni orang pintar banget bikin aku melayang'
"Ihh si om ganteng apaan sih?", Indri menunduk malu. Meski tak seganteng Lee Min Ho dan sekeren Tom Cruise, pesona duda beranak satu itu memang lebih di banding cowok cowok yang pernah mendekati Indri.
Tik tok tik tok
Tik tok tik tok
Suara bakso keliling menggugah jiwa jajan Dhea.
"Ayah bakso"
"Ayok ayah belikan", Adi menggendong gadis kecil itu menunggu bakso keliling.
__ADS_1
Tak berapa lama kemudian, si mas mas penjual bakso itu mendekat.
"Mas bakso nya 2 porsi ya.. Yang seporsi pentol aja. Jangan pakai saos atau cabe", ujar Adi sama si mas mas penjual bakso.
"Siap mas", jawab si mas penjual bakso.
"Nyonya Adi, mau bakso gak?", teriak Adi dari jalan.
'Apa? Dia menyebut ku apa tadi? Nyonya Adi?', Indri melongo mendengar suara itu.
"Mas sebentar ya, itu perempuan kelihatan nya perlu periksa ke THT deh", ujar Adi ke mas penjual bakso lalu bergegas mendekati Indri sambil tetap menggendong Dhea.
Indri masih diam.
"Woy, kalau ditanya jawab dong! ", gerutu Adi.
"E-eh iya iya, emmmm", Indri tergagap berbicara.
"Ah eh ah eh, dengar gak tadi aku ngomong apa?", Adi menyelidik.
"Nyonya Adi", Indri menjawab dengan polos.
"Habis itu??", tatapan mata Adi masih menyelidik.
"Anu apa ya?? Mboh lupa..", Indri menunduk jengah. Ekspresi wajah nya benar benar membuat Adi gemas.
"Makanya jangan banyak melamun.
Mau bakso gak?', tanya Adi kemudian.
Indri menganggukkan kepalanya pelan. Adi bergegas kembali ke mas penjual bakso yang menunggunya. Indri menggerutu dalam hati.
'Aku begini karna siapa coba?'
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hayo karena siapa?
Ada yang tau?
Ikuti terus kisah selanjutnya guys, jangan lupa untuk dukung author terus semangat menulis dengan like vote dan komentar nya 👍👍
__ADS_1
Selamat membaca 😁😁