Memulung Kejayaan

Memulung Kejayaan
Kisah 24 : Laksa Utama dan Keluarga Prayoga (Bagian 3)


__ADS_3

"Ya Kai?"


"Kau lihat itu!"


"Ada apa di sana?"


"Itu adalah garasi sekaligus lift. Jadi nanti kalau kamu menggunakan mobil. Kamu dapat langsung naik ke sini tanpa harus turun dari mobil," Kai dengan bangga mengatakan apa yang Sistem katakan.


"Ya aku tahu! Penthouse Papah juga ada garasi model gitu," Kai langsung murung. Bukannya membuat Sila terkagum. Kesombongan Kai malah menunjukkan sisi bodoh dari dirinya.


➖ 📱📱📱 ➖


Malam hari pun tiba. Baik Sila ataupun Kai dengan cepat mulai beradaptasi dengan seluruh denah yang ada di Penthouse ini. Nggak sulit beradaptasi pada kenyamanan. Yang sulit adalah beradaptasi pada penderitaan.


Di salah satu ruangan di Penthouse yang nampaknya merupakan ruang keluarga. Kai terlihat sedang melamun. Walaupun pandangannya menatap TV yang menyala. Tapi melihatnya saja kita akan tahu kalau pikiran Kai tidak ada di sana.


Di meja panjang yang membatasi antara Kai dan TV. Terdapat sebotol anggur mahal dan juga sebuah gelas yang terisi penuh.


"Kai?"


"Hai Sil..."


Sila mendatangi Kai dengan hanya mengenakan sebuah T-Shirt lelaki yang kebesaran. Saking besarnya, T-Shirt itu menutupi badan Sila hingga mendekati lututnya.


Sila yang berpakaian ala kadarnya merupakan seratus persen kesalahan Kai dan juga Sistem.


Walaupun Penthouse ini dilengkapi oleh berbagai interior mewah dan juga tersedia berbagai macam kebutuhan sehari-hari. Namun untuk baju cewek, Sistem memang tidak membuatnya ada.


Sila duduk dengan sedikit menghempaskan bokongnya di sofa empuk hingga membuat tubuh Kai ikut begoyang karena gelombang yang disebabkan oleh Sila.


Glek!


Kai yang semula hanya melamun memikirkan langkah demi langkah yang harus dilakukan. Kini terganggu konsentrasinya karena sosok mega super duper ultra cantik yang ada di sebelahnya.


Walaupun Sila tidak berpakaian layak. Namun kecantikan Sila tetap tidak bisa tersamarkan apalagi tersembunyikan. Dan sebenarnya apa yang dikenakan Sila hanya membuat keseksian yang dimiliki semakin menonjol.


Ya iya lah menonjol...


Sila kan memang tidak membawa selembarpun pakaian ganti saat tiba di sini. Pakaian luar dan juga dalam. Otomatis, yang bisa Sila gunakan ya hanya berbagai pakaian pria yang ada di sini.


Dalaman pria tentu saja bukan pilihan yang bisa dipakai oleh gadis seperti Sila. Sedangkan luaran. Pilihannya tak banyak.


Celana Kai semuanya kebesaran. Kemeja...? Ada celah berbahaya di antara kancing-kancingnya. Sehingga hanya baju yang terlalu besar inilah satu-satunya yang bisa Sila kenakan.


Saat saya mengatakan satu-satunya. Memang benar-benar satu-satunya. Tanpa bawahan. Tanpa dalaman. Sehingga Kai bisa jelas melihat dua pucuk ceri tercetak di balik t-shirt miliknya yang dikenakan oleh Sila tersebut.


'Ini mah sekali tiup juga kelar semesta alam!' celetuk Kai dalam hati.

__ADS_1


Sila tahu Kai memperhatikannya. Sila tahu Kai tergoda olehnya. Sila peduli dengan kakunya suasana ini. Tapi... Sila harus tidak peduli.


Sila harus menunjukkan ekspresi seaka tidak peduli dengan melongonya mulut Kai.


"Nonton apa Kai?" tanya Sila tanpa melirik Kai. Pandangannya luruh ke arah TV.


"Nggak tahu! Aku nyalain TV biar nggak sepi aja," alasan Kai yang berusaha cepat mengalihkan pandangan dari arah Sila.


"Oh iya Sil..."


"Hmh?"


"Sekarang kamu sibuk apa?"


"Maksudmu?"


"Sebagai calon pewaris multi usaha yang dimiliki keluarga Prayoga tentu saja kamu memiliki banyak kesibukan bukan?"


"Kata siapa Kai? Kakek dan Papah selalu memanjakanku. Yang aku tahu hanya diam. Duduk manis sambil nunggu warisan datang," celetuk Sila nggak suka dengan kenyataan hidupnya.


"Benarkah? Apa mereka tidak mengajarkanmu seluk beluk bisni mereka?"


"Oh... Mereka memang mengajarkanku. Tapi mereka tidak melibatkanku," jawab Sila.


"Berapa banyak yang Kamu tahu mengenai bisnis keluargamu?"


"Berarti kamu nggak sibuk nih?"


"Nggak sama sekali."


"Mau nggak kamu bantuin aku buat ngurus bisnisku?"


"Bisnis apa?" Sial bertanya balik.


"Bisnis investasi dan saham."


"Bisnis besar ya?"


"Nggak terlalu besar juga sih... Nilai investasi dan sahamnya untuk saat ini hanya berkisar 500 triliyunan. Dengan nilai dividen harian 50 milyaran."


"Eh! Gila lu ya?!" Sila kaget.


Kai bengong.


"Nilai saham kamu itu sepertiganya APBN negara kita tahu! Segitu tuh bisa ngebiayain satu negara tahu! Lagian 50 milyar per hari itu kan sama hampir 20 triliyun per tahun! Masak segitu dibilang cuman!" Sila jadi sewot sendiri.


"Tapi kan aset keluarga Prayoga pasti di atas itu..."

__ADS_1


"Iya sih... Tapi jangan pake kata cuman dong!"


"Aset kamu tuh senilai seperenam asetnya orang terkaya di dunia tahu!"


"Iya. Aku tahu. Tapi kan aku belum jadi orang terkaya di dunia," Kai beralasan.


Memang benar yang Kai katakan. Walaupun nilai asetnya terbilang besar. Tapi itu belum membuatnya jadi orang terkaya di dunia. Yang berarti belum membuat Kai berada di posisi yang diidamkannya.


Terlebih lagi. Sekaya-kayanya manusia terkaya sedunia saat ini. Nilainya hanya satu per empat puluh kekayaan VOC di masa kejayaannya. Sekaya-kayanya VOC di masa lalu, kekayaannya masih jauh di bawah kekayaan orang-orang yang menguasai dunia dari balik bayangan saat ini.


Sedangkan yang ingin Kai tuju adalah ranah para bayangan. Ranah yang tak terlihat. Dunia yang di isi oleh para penguasa dunia yang sesungguhnya.


"Bagaimana Sil? Kamu bersedia?" tanya Kai memastikan jawaban dari Sila.


"Aku bersedia sekali. Tapi walaupun aku sudah cukup paham seluk beluk investasi dan saham karena dulu sering diajarkan oleh kakek. Tapi untuk nilai sebesar ini. Aku tetap butuh bantuanmu untuk mengajarkan aku seluk beluk bisnismu terlebih dahulu."


"Sebenarnya aku sepaham dengan kamu. Memang aku berencana untuk melatihmu terlebih dahulu," jawab Kai senang.


"Jadi deal ya?" lanjut Kai sambil mengulurkan tangannya.


"Deal!" jawab Sila menyambut uluran tangan Kai.


Kai sambut uluran tangan Sila dengan mata yang beberapa kali terlihat traveling melirik dua pucuk ceri di dada Sila.


[Apakah Host akan membuat Laksa baru?]


Sistem mendeteksi niatan Kai setelah obrolan ringan antara Sila dan Kai selesai dengan sebuah kesepakatan.


'Ya. Aku ingin membuat Laksa baru.'


[Nama apa yang Host pilih?]


'Aku menamainya Laksa Utama.'


[Selamat Host. Laksa Utama telah dibuat.]


[Pemimpin Laksa. Sila Prayoga.]


➖ 📱📱📱 ➖


Beberapa malam tanpa terasa telah berlalu. Kai memberikan Sila apa pun yang dia tahu mengenai dunia investasi juga bisnis.


Memang betul apa yang Sila katakan tentang Kakek Arya yang sudah mengajarkan diri nya banyak hal seputar investasi dan saham.


Sehingga hal ini membuat Kai sama sekali nggak mengalami kesulitan saat menyampaikan ilmu-ilmunya.


Alhasil. Hanya dalam sepekan saja. Sila sudah menjadi cukup ahli di bidang bisnis, saham, dan investasi. Ditambah lagi. Tentu saja Kai bantu Sila dengan menanamkan insight yang berkaitan dengan investasi juga bisnis.

__ADS_1


➖ Bersambung ➖


__ADS_2