
"Karena bisnis inilah yang paling menguntungkan," jawab Kai sederhana.
"Bisnis bawah tanah apa saja yang ingin kau garap?" tanya Yono kembali.
"Biasanya bidang apa saja yang kau geluti?"
"Selain investasi judi yang kulakukan bersamamu. Aku selama ini bergerak di bidang keamanan dan ketertiban."
"Lanjutkan. Dan coba kembangkan dengan merambah bisnis lainnya."
"Termasuk Narkoba?" Yono selama ini selalu tertarik untuk berbisnis Narkoba. Namun dia sadar kalau bisnis ini akan menghancurkan sebuah generasi. Dia tidak ingin menghancurkan generasi di Negara nya sendiri. Kalaupun mau berbisnis Narkoba, Yono ingin menjualnya ke luar negeri.
"Narkoba adalah bisnis yang bagus. Tapi tetap bukan yang terbaik," jawab Kai.
"Maksudmu?" Yono tidak mengerti maksud dari Kai.
"Pasar narkoba sudah dikuasai oleh Sinaloa Cartel. Total Enam puluh persen peredaran narkoba di seluruh dunia di bawah kendali mereka," jawab Kai mengungkapkan apa yang selama ini dia pelajari dari Kakek Arya.
"Ya. Aku tahu Sinaloa Cartel," jawab Yono langsung paham.
Walaupun percakapan ini tidak akan dimengerti oleh Udin dan Kika. Tapi Kai tetap melanjutkan perjalannya.
"Dan Kau tahu... Dari jajaran Cartel terbesar di dunia. Mereka termasuk urutan ke berapa?"
Semua yang ada di sana diam tidak bisa menjawab.
"Ke delapan. Dari tujuh Cartel lain yang berada di atas mereka, hanya Ndrangheta yang menjadikan Narkoba sebagai bisnis yang utama?"
"Ndrangheta?" bisik Udin. Dia baru mendengar nama yang disebutkan Kai barusan.
"Baru denger?" tanya Kai merasa wajar.
"Ya," jawab Udin jujur.
"Mereka berpusat di Calabria, Italia. Dan saat Ndrangheta bisa berada di atas Sinaloa dalam segi penghasilan. Itu berarti ada logika yang terbalik bukan? Penguasa pasar narkoba terbesar di dunia, masih kalah penghasilannya dengan Cartel narkoba lain yang menguasai pasar lebih kecil."
"Kok bisa?" giliran Kika yang selama ini tidak tahu menahu dengan dunia Cartel, menjadi tertarik dengan berbagai trivia yang diceritakan Kai.
"Hal itu terjadi karena Mafia Italia ini juga menggarap bidang lain dan tidak hanya mengandalkan Narkoba saja."
"Berarti yang ke enam dan seterusnya juga gak main narkoba?" tanya Kika kembali.
"Ya main... Tapi bukan yang utama."
"Kalau boleh tahu, urutan keenam cartel terbesar di dunia itu apa saja?" tanya Udin. Walaupun dia yakin kalau dia tidak akan hafal. Tapi pembicaraan ini cukup menarik bagi Udin.
"Ada Yamaguchi-Gumi di urutan ke enam."
"Yakuza?" tanya Kika.
"Aku tahu mereka. Salah satu associates mereka juga menjalankan bisnis di Indonesia," jelas Yono.
"Bisnis mereka di seluruh dunia. Hanya skalanya saja yang berbeda-beda," Kai membenarkan.
"Apa yang membuat mereka besar?" tanya Udin.
"Ya yang aku bilang barusan. Mereka sangat unggul karena mereka memiliki ribuan keluarga lain sebagai associates mereka."
"Jadi itulah kenapa kamu ingin menjadikan kami Associatesmu?" tanya Yono kritis.
__ADS_1
"Ya. Aku terinspirasi mereka," jawab Kai jujur.
"Lalu ada siapa lagi?" tanya Kika kembali.
"Solntsevskaya Bratva."
"Darimana mereka? Namanya aneh," Udin jujur.
"Rusia."
"Oh... Pantes namanya susah... Lalu?" tanya Udin kembali. Udin sering mendengar istilah Mafia Rusia. Tapi Udin baru dengar nama mereka sekarang.
"D-Company."
"Namanya kayak perusahaan korea yang menghasilkan boyband," celetuk Kika.
"Ya. Nama mereka memang nyentrik. Tapi mereka bukan kelompok sembarangan. Mereka adalah Cartel India. Merekalah yang menguasai seluruh bisnis kotor di India," jelas Kai kemudian.
"India punya Cartel?" Udin bertanya-tanya. Setahu Udin, India punya Bollywood dan bukan Cartel.
"Ada lah... Nama pemimpin mereka adalah Dawood Ibrahim. Dia adalah orang nomor tiga paling dicari oleh CIA saat ini."
"Bisnis mereka apa sampai-sampai pemimpinnya begitu dicari oleh CIA?"
"Berawal dari opium. Sekarang Perdagangan senjata. CIA mencarinya karena berbagai organisasi teloris dunia membeli senjata melalui D-Company."
"Pantas..." bisik Yono.
"Berikutnya adalah La Cosa Nostra," Kai melanjutkan.
"Perasaan pernah denger?" tanya Kika yang entah sering mendengar nama ini walaupun tidak menguasai dunia kriminal.
"Oh iya! Kayak film Godfather yang sering ditonton Juragan Agung!" Kika tiba-tiba teringat.
"Betul sekali. La Cosa Nostra inilah Mafia yang menginspirasi film Godfather. Berdiri di Sicilia, Italia pada tahun 1800 an. Kini mereka sudah memiliki lebih dari seperempat juta afiliasi. Dengan penghasilan tahunan 50 miliar dollar."
"Wow... Mafia yang begitu terkenal itu ternyata hanya urutan ketiga. Lalu yang kedua siapa?" tanya Udin penasaran.
"Gulf Cartel."
"Baru denger juga," sambar Udin cepat.
"Organisasi kriminal tertua yang masih ada di Meksiko hingga saat ini."
"Lalu yang pertama?" Yono penasaran dengan nama Cartel dengan penghasilan terbesar di dunia.
"Triads."
"China?" Yono bertanya sambil mengurut dagunya.
"Ya. Mereka memusatkan kelompoknya di Hongkong, Macau, China."
"Mereka lah yang berpenghasilan terbesar?" Yono mengkonfirmasi setengah tak percaya.
"Ya."
"Kok bisa?" tanya Yono penasaran.
"Karena bisnis utama mereka adalah atau perdagangan manusia."
__ADS_1
"Pantas saja," Kika memaklumi jika mengingat kalau manusia adalah komoditi termahal di dunia saat ini.
"Jadi... Bidang bisnis utama apa yang harus kita garap?" tanya Yono.
"Apapun selain Narkoba."
"Kenapa kamu memilihku untuk melakukan ini? Bukankah kamu bisa menjalankan ini dengan tanganmu sendiri?"
"Aku tidak ingin menjadi seperti Madelin Cartel," jawab Kai pada Yono.
"Pablo Escobar?"
"Ya. Sempat memiliki penghasilan 480 juta dollar per pekan, Pablo Escobar seharusnya sekarang bisa menjadi Cartel terbesar di dunia. Tapi sayangnya dia harus hancur karena satu kesalahan saja."
"Apa itu?"
"Trust Issue. Escobar memutuskan segalanya sendiri. Sehingga dia sama sekali tidak memiliki penerus Cartelnya. Berbeda dengan Cartel-Cartel yang kusebutkan barusan."
"Aku ingin kamu menjadi otakku di dunia gelap. Aku ingin percayakan semuanya padamu," tutup Kai.
"Baiklah aku setuju," Yono mengangguk bersemangat.
"Lalu Udin."
"Ya?!" Udin terhenyak saat namanya di sebut.
"Kamu adalah pemimpin Laksa Cahaya."
"Apa itu Kai?"
"Kau akan kupercayakan untuk membuat berbagai institusi keuangan."
"Maksudmu aku kau minta membuat Bank?"
"Salah satunya. Tapi aku ingin kamu mulai dari yang kecil dulu. Mulai saja dari Koperasi. Dengan begitu kamu bisa belajar terlebih dahulu," jelas Kai pada Yono.
"Jadi nanti sebagai Bank, aku akan memodali Yono dong?" Udin sombong. Kapan lagi dia punya kesempatan untuk berkedudukan lebih tinggi dari Yono.
"Gak perlu. Yono aku yang akan kasih modal langsung," bantah Kai.
"Lalu? Kepada siapa aku harus kasih pinjaman?"
"Mulailah dari Usaha Mikro, lalu Perusahaan Besar. Target tertinggiku..."
Kai menjeda kalimatnya hingga membuat mereka semua terdiam.
"Bisa memodali sebuah negara."
"Seperti Rockefeller?" Udin menanggapi. Kai cukup terkejut mendengar Udin mengetahui perihal Rockenfeller.
"Benar sekali. Target terbesarku adalah memberi hutang pada suatu negara. Lalu menguasai negara tersebut sepenuhnya."
"Rockenfeller kan bisa sebesar ini setelah melakukannya dalam beberapa generasi," keluh Yono merasa keberatan dengan target yang diberikan Kai.
"Ya... Buatlah keturunan," sahut Kai santai.
"Keturunan?" Udin baru menyadari kalau memiliki keturunan adalah hal yang sepenting ini.
➖ Bersambung ➖
__ADS_1