
Fragmen 50 : Habisi Dia
Ketiga ratus orang yang berada di sana mulai siaga karena merasa bila Kai bukanlah orang yang tak sengaja lewat.
Orang ini datang untuk mencari masalah.
Kai berjalan meninggalkan gerbang. Semakin dalam ke lapangan yang dipenuhi oleh orang-orang garang.
"Habisi dia!" teriak salah seorang Mafia yang diikuti oleh teriakan Mafia yang berlari menyerbu Kai.
'Cuman lima orang!'
[Quebracho Style Snake Flow Grade M diaktifkan.]
Rangkaian serangan yang cepat dan kuat langsung mementalkan kelima orang tersebut.
'Oke... Gini dong!' bisik Kai dalam hati saat melihat lebih dari sepuluh orang menyerang serentak.
[Quebracho Style Snake Flow Grade M diaktifkan.]
Setiap serangan yang dilancarkan dapat Kai tahan dengan sempurna. Lalu dengan beberapa hentakan yang bertenaga. Satu per satu para Mafia itu tumbang tak sadarkan diri.
Melihat kehebatan Kai membuat para Mafia yang semula diam menunggu, menyerang serempak. Mungkin hampir seratus orang yang tergerak akibat kelihaian yang dimiliki oleh Kai.
"Gitu dong..." Kai tersenyum dari pipi ke pipi.
Lihai berstrategi. Kai mengarahkan pandangannya ke salah seorang Mafia yang berada paling dekat dengan gedung sekolah.
[Pulung Grade F diaktifkan.]
Kai bergerak otomatis menghindari serangan hingga akhirnya tangan Kai menggenggam kepala target yang dituju.
Duag!
Kai gunakan lututnya untuk menghantam wajah dari dia yang Kai pegang kepalanya.
Berhasil keluar dari kerumunan, Kai kini berada di posisi yang cukup strategis untuk melancarkan rangkaian serangan berikutnya.
Angin berputar mengelilingi Kai saat dia mencoba mengontrol Jalan Prana miliknya.
'Akh... Terlalu banyak yang bocor!' keluh Kai.
'Peduli lah! Segini juga lumayan.'
Kai melesat ke arah kerumunan Mafia.
[Quebracho Style Snake Flow diaktifkan.]
"Uwooo!" bagaikan sedang berperang menghadapi seribu pasukan, para Mafia berteriak menyemangati diri mereka.
Tidak bisa dihindari lagi.
Kai kini tenggelam di tengah kerumunan para Mafia yang juga turut berlari ke arahnya.
...— Bersambung —...
Fragmen 51 : Boss Dungeon
Di dalam salah satu ruangan kelas Kakak pertama tampak sedang mengatur strategi di sebuah papan tulis tua.
"Pasukan utama akan ikut bersamaku ke Villa. Sedangkan yang lain akan bertugas menutup akses keluar masuk di sekitar villa."
"Kau di sini."
"Kau di sini."
"Dan Kau di sini."
Ujar Kakak Pertama mengarahkan Kakak Kedua hingga Kakak Keempat.
"Mudah-mudahan Keluarga Prayoga tidak datang," harap Kakak Keempat.
__ADS_1
"Keluarga Prayoga saat ini sedang berkabung. Sudah sebulan lebih mereka tidak terlalu aktif. Selama kita bisa menutup seluruh akses komunikasi. Aku yakin kita akan aman," sahut Kakak Kedua.
"Uwooo!" suara teriakan ratusan anggota mereka di lapangan sekolah.
Kakak Ketiga melihat ke arah lapangan depan sekolah dari jendela kelas.
"Wah wah wah... Lihat itu siapa yang datang?" komentar Kakak Ketiga saat dia lihat Kai sedang berjibaku melawan para anak buahnya.
"Dia hebat juga," sahut Kakak Keempat yang turut mengintip ke jendela.
"Prananya cukup tinggi. Tapi kontrolnya sangat buruk," Kakak Kedua ikutan menonton.
"Ya. Terlalu banyak yang bocor," Kakak Keempat setuju.
Kakak Pertama yang sedari tadi diam lalu berkata, "Target kita sudah ada di sini. Kita turun ke bawah. Bila dia tidak tahu dimana Boss berada, kita habisi saja dia."
Kakak Pertama pun keluar dari dalam kelas diikuti ketiga Kakak lainnya.
...— Bersambung —...
Fragmen 52 : Berani atau Ceroboh
Kurang dari seratus orang Mafia berdiri mengelilingi Kai. Wajah Kai tampak bonyok dan berdarah-darah. Salah satu tulang rusuk Kai kini telah patah.
Kai terengah menyembunyikan rasa sakit. Kemampuan recovery super yang Kai miliki tidak lantas membuat luka yang dideritanya sembuh.
[Luka terlalu parah. Kemampuan Recovery tidak bisa mengimbangi.]
[Stamina sudah terkuras. Kemampuan Recovery tidak bisa mengimbangi.]
[Jalan Prana mengalami kebocoran. Stamina akan semakin cepat terkuras.]
Prok Prok Prok
Terdengar suara tepuk tangan dari dalam gedung sekolah. Keempat Kakak yang sedari tadi hanya menonton akhirnya keluar dari persembunyiannya.
"Keren... Keren sekali..." puji Kakak Ketiga sambil nyengir kuda.
"Hei Bocah! Kemana Boss kami?" tanya Kakak Keempat.
Kai tidak mengerti siapakah Boss yang mereka maksud?
"Pura-pura gak tahu! Bukankah kamu menemui Boss kami di motel yang berjarak tiga puluh menit dari sini?" Kakak Keempat menjelaskan.
Mata Kai tanpa sengaja membulat karena tersadar bila ini semua ada hubungannya dengan Kakek yang dia bunuh lebih dari satu bulan yang lalu.
Blar!
"Ekspresimu sudah mengatakan segalanya," bisik Kakak Pertama yang tiba-tiba sudah berada tepat di hadapan Kai. Tangan Kakak Pertama terkepal. Meluncur deras ke arah wajah Kai.
[Rush Grade F diaktifkan.]
Kai merasakan dunia di sekitarnya tiba-tiba melambat. Termasuk dengan Sang Kakak Pertama yang tengah menyeringai mengerikan.
Kai kemudian berusaha menghindari pukulan dari Kakak Pertama yang tinggal sedikit lagi menyentuh wajahnya.
Tapi sayangnya...
Tinju yang dilancarkan Kakak Pertama tetap berhasil sedikit menyerempet pipi Kai.
Duagh!
[Rush Grade F dibatalkan karena Tuan terkena serangan yang sangat kuat.]
Walaupun pukulan itu hanya menyerempet wajahnya, namun kekuatan yang sangat dahsyat itu berhasil membuat tubuh Kai berputar beberapa kali bagaikan baling-baling.
[Rush Grade F diaktifkan.]
Curiga bila bahaya yang datang belum sepenuhnya berakhir, Kai mengaktifkan Rush Grade F tatkala tubuhnya masih berputar tak terkendali.
Dan benar saja!
__ADS_1
Kakak Kedua hingga Keempat kini sudah berjarak selangkah lagi dari Kai. Hendak melancarkan serangan selanjutnya.
Kai lalu mengarahkan pandangannya pada salah seorang Mafia yang tengah menggenggam senjata api.
[Pulung Grade F diaktifkan.]
Tubuh Kai bergerak dengan otomatis. Menyeimbanhkan diri di udara, lalu berlari dengan cepat hendak mengambil senjata api yang berada di tangan sang Mafia.
Kai berhasil mengambil pistol tersebut dan berbalik hendak menembak ke arah empat jawara.
'Apa?!'
Kai saat ini sedang mengaktifkan Skill Rush yang berarti Kai tengah bergerak seratus kali lebih cepat. Namun keempat Kakak yang tampak bergerak seperti slow motion itu kini sudah berada di dekat Kai.
'Gila! Mereka mampu mengimbangi kecepatan gerakku!'
[Pulung Grade F diaktifkan.]
Kai langsung bergerak otomatis menuju anak buah Mafia yang berada paling jauh darinya. Sambil bergerak otomatis, Kai menodongkan pistol ke arah keempatnya.
Dor! Dor! Dor!
Empat buah tembakan Kai luncurkan. Namun entah mengapa keempatnya tiba-tiba bergerak lebih cepat dari sebelumnya dan berhasil menghindari peluru yang melesat.
'Gila! Mereka menggunakan prana dengan sangat efisien!' pekik Kai begitu melihat gerakan tak masuk akal yang keempat jawara itu lakukan.
Ilmu beladiri keempatnya sangatlah tinggi hingga bisa mengimbangi kecepatan Kai yang dibantu oleh Sistem.
'Gawat!' pekik Kai saat melihat ujung kaki Kakak pertama menyentuh permukaan tanah.
Duash!
Benar saja! Begitu menemukan tumpuan, tubuh Kakak Pertama langsung bergerak lebih cepat dari percepatan yang dihasilkan oleh Rush.
Buagh!
Sebuah tendangan berputar mendarat di tengkuk leher Kai.
[Rush Grade F dibatalkan karena Tuan terkena serangan yang sangat kuat.]
Kai langsung merasa pusing dan nyaris kehilangan kesadaran sebelum akhirnya ia jatuh tersungkur.
Sraaaak...
Wajah tampan berkulit gelap itu melukis sebuah garis panjang di atas tanah. Hidung Kai berantakan. Gigi Kai rontok berjatuhan.
"Mati Kau!"
Kai belum sempat bangkit dari posisinya. Keempat Kakak sudah kembali menerjang ke arahnya.
Kai menyesal tidak mengikuti saran dari Sistem. Kai menyesal karena dia tidak bisa membedakan antara berani dan rasional.
Kai lupa kalau di setiap Dungeon pasti ada Boss yang sangat kuat. Dan dari yang Kai lihat, mungkin kekuatan mereka berempat hampir setara dengan kekuatan Yono.
Tapi...
'Aku belum boleh mati...' tekad Kai kuat.
[Peringatan!]
[Bahaya!]
[Jalan Prana mengalami kebocoran besar.]
[Peringatan!]
[Bahaya!]
Boom!
Sebuah ledakan terjadi di tempat Kai tengah berbaring. Membuat keempat Kakak terpaksa terbang menjauh.
__ADS_1
...— Selesai —...