
Semua kebulatan tekad yang dimiliki oleh Kai untuk memulai sebuah pergerakan yang begitu besar bersama dengan Frank dimulai tepat sebulan yang lalu lebih beberapa hari. Tepatnya di hari saat Kai baru saja menghabisi seluruh anggota dari ormas PMI. Termasuk sang ketua Sandi.
Tidak banyak yang melihat. Tapi di hari itu Kai dan Sila yang berlumuran darah dan berbau amis tampak terbang dengan cepat membelah langit kota Bandung yang sejuk.
Sila beberapa kali menatap ke arah Kai yang melakukan gerakan memulung angin dengan tangan kanannya. Dimana setiap kali Kai menggenggam angin, maka mereka tiba-tiba melesat dengan kecepatan yang sangat tinggi. Walaupun gerakan terbang Kai tidak seperti burung atau seperti orang yang sedang berenang selayaknya apa yang tergambar di benak Sila selama ini, namun Sila berjanji di dalam hati kalau pengalamannya hari ini benar-benar tidak akan dia lupakan seumur hidupnya.
“Kamarmu dimana Sil?” tanya Kai saat apartemen Sila tinggal berjarak sepuluh kali aktivasi kemampuan spesial pulung lagi.
Kai bertanya saat ini karena Kai berencana untuk langsung mendarat di dalam balkon kamar apartemen Sila. Bagaimanapun juga Kai bukanlah orang bodoh yang akan menunjukkan sosoknya yang berwarna merah seperti ini di hadapan banyak orang dengan cara masuk ke dalam apartemen melalui pintu depan.
“Lantai paling atas,” jawab Sila pada Kai.
“Kamar yang mana?”
“Kamar yang menghadap sunrise.”
Kamar teratas apartemen tentu merupakan kamar yang sangat mahal. Ditambah lagi, kamar itu adalah kamar yang menghadap ke arah matahari terbit. Pemandangan yang tidak biasa di pagi hari tentu membuat kamar tersebut memiliki harga yang semakin mahal.
Tapi Kai tidak heran saat mendengar Sila memiliki kamar apartemen yang paling mewah di sebuah gedung apartemen mewah. Mengingat keluarga Prayoga diam-diam merupakan keluarga terkaya di Indonesia. Seandainya bisnis gelap keluarga Prayoga dapat ‘dilihat’ oleh semua orang, tentu saja penyihir wanita dari Prians Group itu tidak akan berani untuk menyentuh anggota keluarga Prayoga. Bahkan memikirkannya pun dia tidak akan sanggup.
‘Tapi tetap saja! Frank dan seluruh anak buahnya tidak bisa mencegah aksi penculikan yang dilakukan oleh para cecunguk macam Sandi dan kawan-kawan!’ Kai meringis geram saat mengingat keteledoran dari pasukan elite yang dimiliki oleh keluarga Prayoga.
“Yang itu kamarmu?” tanya Kai pada Sila saat mereka berada tepat di hadapan sebuah gedung apartemen yang sangat tinggi.
“Ya. Benar,” jawab Sila sambil memicingkan matanya.
‘Pulung!’ cukup satu kali lagi Kai mengaktifkan kemampuan spesialnya. Sudah cukup untuk membuat mereka langsung sampai ke balkon kamar apartemen milik Sila.
Sila terkesiap karena Kai meluncur menuju apartemennya tanpa mengurangi kecepatan. Tapi herannya, mereka dapat mendarat dengan selamat tanpa terjadi benturan sama sekali.
Sila kemudian turun dari gendongan erat Kai. Menapakkan tubuhnya di lantai balkon. Tanpa berterima kasih atau mengucapkan apapun pada Kai, Sila langsung menghampiri sebuah benda berbentuk kotak yang berada di dekat gagang pintu pembatas area balkon dan kamar apartemen Sila.
__ADS_1
‘Ah… Apartemen ini menggunakan sidik jari sebagai kuncinya,’ tatap Kai penuh selidik.
Cklek!
“Masuk Kai!” ajak Sila yang langsung memasuki kamarnya begitu layar kecil di gagang pintu berubah menjadi hijau.
Kai mengikuti Sila masuk ke dalam kamar apartemen dengan sebuah pertanyaan. Untuk apa pintu yang berada di lantai teratas apartemen dilengkapi dengan kunci pengaman. Siapakah kira-kira orang yang bisa sampai ke atas sini jika mereka tidak memiliki kemampuan terbang atau kemampuan luar biasa lainnya?
“Terkadang ada sejumlah teloris dan tentara bayaran yang berniat membunuh para penghuni lantai teratas,” Sila berkata tanpa ditanya. Seakan bisa mendengar kalimat yang menggema di kepala Kai.
‘Masuk akal!’ Kai mengakui.
Para penghuni lantai teratas apartemen ini tentulah bukan orang sembarangan. Kalau bukan orang yang sangat penting, mereka bisa jadi orang yang sangat kaya, atau kalaupun tidak keduanya, pastilah dia orang yang sangat terkenal. Apapun predikat mereka bagi masyarakat, yang pasti keselamatan nyawa mereka di atas segala-galanya.
➖ 📱📱📱 ➖
Beberapa menit Kai menatap berkeliling apartemen yang megah ini karena ditinggalkan Sila masuk ke dalam kamar.
Tidak hanya handuk. Sila yang tahu kalau Kai tidak membawa apapun selain yang dia kenakan saat ini, juga turut membawakan sepasang pakaian pria dan juga sepasang dalaman yang tampaknya juga masih terbungkus plastik.
‘Kenapa Sila memiliki baju ganti laki-laki di kamar apartemennya?’ Kai menerima apa yang diberikan oleh Sila dengan wajah yang menyiratkan sebuah kalimat tanya.
“Aku menyiapkan pakaian pria untuk sewaktu-waktu bila Ayah atau Gugun menginap,” Sila dengan akurat dapat menangkap pertanyaan di dalam lubuk hati Kai.
“Oooh…” wajah penuh tanya Kai seketika menghilang setelah dia mendengar pernyataan dari Sila.
“Dimana kamar mandinya?” tanya Kai seraya mengakui kalau dirinya memang sedang butuh mandi.
“Kau bisa menggunakan kamar mandi yang ada di ujung ruangan ini,” Sila menginfokan sedikit denah apartemennya kepada Kai.
‘Lalu, kau mandi dimana?’ entah berawal darimana, tapi pertanyaan itu muncul begitu saja di kepala Kai. Untung saja Kai masih bisa menahan diri untuk tidak mengucapkannya keras-keras.
__ADS_1
“Dan aku tidak akan memberitahukanmu di mana aku akan mandi!” tegas Sila yang untuk ke sekian kalinya seperti bisa membaca pikiran dari Kai.
‘Apakah tadi aku mengucapkannya keras-keras?’ Kai mendadak ragu pada dirinya sendiri.
[Tidak Host! Tadi kau mengucapkannya hanya di dalam hati.]
‘Oh… Syukurlah!’
➖ 📱📱📱 ➖
Beberapa menit kemudian Kai telah selesai mandi. Tubuhnya telah kembali wangi dengan balutan pakaian kasual yang masih bau pabrik. Dari merek yang tertera di kerah baju tersebut, siapapun langsung paham kalau baju itu tidaklah murah. Walaupun dari tingkat kenyamanan mungkin tidak akan jauh berbeda dengan t-shirt kawe yang dijual di pasar tradisional.
Merasa tidak tahu harus ngapain setelah selesai mandi. Kai kembali memandang berkeliling. Iseng-iseng Kai mengaktifkan kemampuan spesial penglihatan seorang detektif untuk mencari tahu cerita di balik setiap benda antik yang tak sengaja Kai lihat di dalam apartemen tersebut.
‘Sila mandi di mana ya?’ Kai yang bosan mengelilingi apartemen akhirnya memutuskan untuk mencari kamar mandi yang dipakai oleh Sila.
‘Kenapa sih kalau cewek mandi tuh lamamya suka nggak normal? Aku sebagai lelaki yang bertanggung jawab kan jadi khawatir!’ bisik Kai di dalam hatinya.
Setelah dua kali mengelilingi seluruh denah apartemen. Kai tidak kunjung juga menemukan kamar mandi yang digunakan oleh Sila mandi.
Bukannya menemukan apa yang dia cari, Kai malah menjadi mengetahui kalau apartemen ini totalnya memiliki dua buah lantai dengan lima buah kamar tidur. Apartemen ini juga cukup lengkap dengan sebuah ruang tamu, sebuah ruang kerja, sebuah dapur. sebuah ruang makan, dan sebuah ruang keluarga. Sedangkan kamar mandi yang Kai temukan ada empat. Dua di lantai bawah dan dua di lantai atas.
Dan sialnya! Dari keempat buah kamar mandi tersebut. Kai tidak menemukan Sila di dalamnya.
‘Eh!’ Kai tanpa sengaja mendengar suara shower dari salah satu sudut apartemen.
Kai yang penasaran menemukan kalau ada sebuah kamar mandi yang cukup tersembunyi di sini.
‘Kenapa dari tadi aku melewatkannya ya?’ bisik Kai sambil menggenggam gagang pintu kamar mandi tersebut.
➖ Bersambung ➖
__ADS_1