Memulung Kejayaan

Memulung Kejayaan
Kisah 14 : Membangun Pondasi (Bagian 6)


__ADS_3

Sila tampar Gugun. Gugun benar-benar sudah kelewat batas. Gugun hanya ingin mendapatkan jepitan serabi Sila. Dan karena nafsu semunya itu Gugun dengan ringan mengatakan hal yang kurang ajar seperti ini.


“Dasar cewek kurang Ajar!” Gugun membalas Sila dengan mengangkat tangannya hendak menampar Sila.


Sila memejamkan matanya saat tangan itu diayun sekuat tenaga.


Grep!


Dengan kemampuan spesial pulung, Kai menangkap dan menggenggam kuat tangan Gugun. Gugun terkejut. Tenaga si anak manja sama sekali tidak bisa membuatnya melepaskan diri dari genggaman kokoh Kai.


“Jangan begitu sama perempuan…” ujar Kai dingin pada Gugun sambil melepaskan genggaman tangannya.


"Kurang ajar!" Gugun berbalik hendak menghajar Kai.


Kai tahu dengan dia melepaskan Gugun, maka Gugun akan menyerangnya dengan membabi buta.


Tapi seluruh serangan Gugun dapat Kai hindari dengan bahkan dengan mata terpejam.


Kemampuan Spesial Bela Diri Kuno untuk pertama kalinya Kai pergunakan untuk mempermainkan sepupunya tersebut.


"Bruak!"


Hanya dengan sedikit menggerakkan bahunya saja, Kai langsung membuat Gugun terpelanting hingga menimpa meja bakso.


"Itu Boss!" seru salah seorang dari tiga orang kekar yang sedari tadi diam di dekat mobil jeep yang terparkir di sebelah mobil Kai.


Melihat Gugun dalam masalah, mereka langsung berlari mendekat. Sepertinya mereka adalah bodyguard pribadi Gugun.


"Mau kemana kalian?" suara Kristal tiba-tiba muncul dari belakang mereka bertiga.


Gerakan Kristal sangat cepat hingga mereka tak menyadari pergerakan dari gadis tersebut.


"Sejak kapan kau?" salah satu dari ketiga bodyguard Gugun memekik ketakutan.


Duag! Srak! Duag!


Tiga buah serangan sederhana namun cepat dilancarkan Kristal hingga memuat tubuh ketiga pria besar itu melayang ke udara


Brak! Krak! Gomprang!


Dua orang pria jatuh menghancurkan meja. Sedangkan seorang pria melayang paling jauh hingga menimpa wajan panas.


"Uaaaaagh!" pria itu berteriak kepanasan.


Dua pria yang jatuh menimpa meja langsung bangkit.

__ADS_1


"Dasar Kuntilanak!" teriak salah satu dari mereka sambil bergerak hendak menyerang Kristal bersama kawannya.


"Sudah kubilang. Gak boleh kasar begitu sama perempuan," ujar Kai sambil memegang bahu kedua pria besar itu.


Mereka berdua heran sekaligus takut. Karena hanya dengan dipegang bahunya seperti ini. Mereka sama sekali tidak bisa bergerak.


Bak! Buk!


Dua serangan ke arah tengkuk dilancarkan oleh Kai. Membuat kedua pria itu langsung tumbang mencium tanah.


"Ayo!" ajak Kai pada Sila yang mematung di tempat.


Sila sudah sering melihat kekerasan juga perkelahian yang terjadi di depan matanya. Tapi Sila tidak pernah melihat yang seperti ini. Sila tahu bagaimana kualitas ketiga bodyguard yang dimiliki oleh Gugun. Dan di hadapan Kai dan juga kristal, ketiga orang ini bagaikan seorang anak kecil saja.


"Ba... Baik..." Sila langsung mengikuti ajakan Kai untuk segera meninggalkan tempat itu.


"Sila! Keluarga mu tuh gak ada apa-apanya dibandingkan keluargaku! Kamu tahu akibat dari perbuatanmu kali ini?!" ancam Gugun yang sedang berusaha berdiri. Gugun paling tidak suka pada penolakan.


Sila tahu betul akibat dari perbuatannya hari ini. Tapi baginya, harapan akan keselamatan Ayahnya jauh lebih penting.


Gugun lalu memandang Kai sengit, 'Dasar kau Anj..."


Duagh!


Kai dan Sila terdiam kaget melihat apa yang terjadi. Kristal barusan meluncur cepat sebelum menendang biji kembar Gugun. Gugun langsung tak sadarkan diri dengan mulut berbusa.


"Dek… Ini gimana?" penjual pecel lele hampir menangis melihat warung pecel lele miliknya hancur lebur.


"Oh iya! Aku sarankan Emang segera pergi dari sini kalau nggak mau ada masalah," jawab Kai.


Akan gawat kalau pria tua ini masih berada di sini saat petugas keamanan datang.


"Kristal. Berikan emang ini empat ratus juta. Seratus juta untuk satu orang korban," ujar Kai pada Kristal sambil menunjuk keempat orang yang sudah tidak sadarkan diri.


"Ta... Tapi nanti polisi bakalan nyari saya..." lirih Emang penjual pecel lele sambil menerima uang yang diberikan oleh Kai.


Uang kompensasi sebesar apapun akan terasa percuma saja kalau pada akhirnya dia harus dipenjara karena permasalahan ini.


"Selama Bapak pergi sekarang juga, saya yakin nggak akan ada masalah," jawab Kai.


Kai yakin kalau polisi tidak akan berani ikut campur atas perselisihan yang terjadi di antara sepuluh keluarga terkaya di Indonesia.


"Ba... Baiklah..." Emang penjual pecel lele langsung pergi meninggalkan tempat itu dengan motornya. Untungnya kemacetan sudah terurai sehingga Emang penjual pecel lele bisa langsung menghilang dari pandangan.


'Selamat menikmati dana pensiunmu,' bisik Kai sambil tersenyum.

__ADS_1


Kai, Kristal, serta Sila juga langsung ikut pergi juga meninggalkan lokasi kejadian Mereka tidak mempedulikan orang-orang yang memanggil-manggil mereka.


Sementara Sila tampak menelepon dan meminta bantuan pada Paman Frank untuk membereskan semuanya.


➖ 📱📱📱 ➖


Selang setengah jam kemudian Mereka sudah sampai di rumah sakit tempat Paman Pasal dirawat. Jaraknya memang tidak terlalu jauh dari lokasi mereka makan barusan.


Kai dan Kristal terus mengikuti Sila hingga memasuki sebuah lift. Bukannya menekan tombol di lift tersebut, Sila mengeluarkan sebuah ID Card lalu dia tempelkan pada scanner tersembunyi.


Lift pun langsung bergerak naik. Kai menduga kalau lift itu akan mengantarkan mereka ke sebuah ruangan yang tidak biasa.


Dan benar saja! Begitu lift berhenti. Kai menduga kalau satu lantai itu hanya disewa keluarga prayoga saja. Kai lihat ada banyak pria dan wanita berpakaian formal serba hitam. Seperti sebuah seragam.


"Nona Sila datang," ujar salah seorang di antara orang-orang tersebut.


Mendengar peringatan tersebut, semua orang di sana langsung berdiri berjajar rapi. Mereka menundukkan kepala mereka menyambut kedatangan Sila dan kawan-kawan.


"Nona Sila!" seorang pria bertubuh terlatih langsung menyambut Sila tepat di depan ruang perawatan Paman Pasal.


"Gimana Paman?" tanya Sila.


"Semua sudah diurus Nona," jawab Frank cepat.


Kai tampak sedikit mengerutkan dahi saat melihat wajah Frank.


"Kenapa bisa sekacau itu?" tanya Frank merujuk betapa berantakannya lokasi mereka bertarung barusan.


"Ceritanya panjang," jawab Sila malas. Sila enggan mengingat betapa kurang ajarnya Gugun barusan.


"Siapa ini?" tanya Frank menunjuk Kai dan Kristal.


"Paman tidak mengenalnya?" tanya Sila.


Frank hanya diam sambil memandang Kai dalam.


"Cucu angkat Kakek. Kai Prayoga!" Sila sedikit memberikan penekanan saat menyebut nama Kai.


Frank terlihat mengerutkan dahinya tapi tak bertanya lebih banyak lagi.


Frank sangat mengenal wajah Kai. Karena dia sudah beberapa kali bertemu dengan Kai. Itulah mengapa barusan Kai pun merasa kalau dia seperti mengenali wajah Frank.


Dan Frank ingat betul bagaimana dia sebulan yang lalu telah menghabisi orang yang Frank duga telah menghilangkan nyawa Kai Prayoga yang dia kenal. Walaupun bagi seseorang seperti Frank, selama jenazah belum ditemukan, maka harapan hidup masih ada.


Frank lebih suka menyebut Kai telah menghilang daripada telah meninggal.

__ADS_1


"Mau nengok Paman Pasal?" tanya Frank dingin pada Kai. Kai meneguk ludahnya karena intimidasi tak biasa yang dilakukan oleh Frank.


➖ Bersambung ➖


__ADS_2