
Sandi dan anak buahnya terlihat memasuki sebuah ruangan yang terdapat di markasnya. Ruangan ini dibuat jauh lebih rapi dari ruang kantornya sendiri karena ruangan ini memang dipergunakan untuk menerima tamu dan juga para calon client nya.
Begitu pintu dia buka, Sandi melihat ada seorang pemuda dan juga seorang perempuan setengah baya yang sedang duduk di atas Sofa.
Sandi perhatikan kalau perempuan tersebut memiliki dandanan yang super duper menor. Tapi tetap saja. Dandanannya yang tebal sama sekali tidak bisa menutupi wajahnya yang sama sekali tidak cantik.
Ya! Perempuan itu adalah Tante dari Kai. Dialah penyihir wanita yang dengan tega membuang seorang anak berusia sepuluh tahun di pinggir jalan. Dialah nenek lampir yang sanggup membunuh Kakak Lelaki serta Kakak Iparnya sendiri demi memulung kejayaan yang saat ini sudah dia miliki.
Walaupun busuk. Namun dengan dia menyingkirkan seluruh keluarga dari satu-satunya saudara yang dia miliki. Dia kini memiliki segalanya. Uang yang tak terbatas. Kehormatan. Serta suami yang menjabat sebagai seorang CEO perusahaan.
Yah… Walaupun dibalik segala sesuatu yang sudah dia dapatkan. Tapi Tante Kai satu-satunya ini tidak pernah mempercayai kesetiaan yang dimiliki oleh suaminya. Bagi sang Tante, suaminya hanya merupakan pajangan demi terciptanya prestige di mata kawan-kawannya. Demi dia bisa berkata, “Suamiku adalah seorang CEO dari sebuah group perusahaan terbesar ketiga di Indonesia.”
Oleh karena itulah, perempuan setengah baya ini akhirnya melakukan hal yang kurang lebih sama dengan suaminya. Berselingkuh dan hobi jajan kenikmatan ranjang.
Dan tentu kita semua bisa menebak siapakah pemuda yang datang bersama Tantenya Kai ini. Siapa lagi kalau bukan sepupu Kai satu-satunya. Orang yang begitu Kai benci. Seorang remaja bernama Gugun Apriansyah.
Dibalik kebengalan dan juga kesombongan yang dimiliki oleh Gugun sejak kecil, sebenarnya Kai sendiri tidak pernah memiliki masalah dengan Gugun. Namun karena ‘demi mengangkat status Gugun menjadi pewaris tunggal Prians Group’ adalah alasan yang digunakan sang Paman dan Tante dalam melenyapkan dia dan keluarganya. Kai menjadi turut membenci lelaki yang berusia tiga tahun lebih muda darinya itu.
Sandi memperlambat langkahnya saat memasuki ruangan. Dia melihat ada perdebatan yang terjadi antara Ibu dan Anak tersebut. Ada baiknya bagi Sandi untuk membaca sejenak situasi yang akan dihadapinya tak lama lagi.
“Mamih… Plisss…” rengek Gugun.
“Nggak bisa!” jawab perempuan tersebut dingin.
__ADS_1
“Tolonglah Mamih… Kita pulang lagi ya… Mamih bisa kan batalkan ini semua?” Gugun meminta Ibunya untuk membatalkan seluruh rencana yang sudah disusun.
“Tidak bisa. Aku sudah memutuskan!” tegas perempuan jelek tersebut.
“Tapi Mamih… Aku masih mencintai Sila..!” Gugun ungkap alasan dibalik rengekannya.
“Kamu tuh ya! Kayak gak ada cewek lain aja. Dia tuh udah bikin keluarga kita malu tahu! Cewek cantik di dunia ini tuh banyak banget tahu! Lagian nih ya… Mamih juga tahu kalau kamu tuh udah seneng bercocok tanam sama cewek random sejak kamu masih SMP kan?! Apa salahnya kamu kehilangan satu lahan buat bercocok tanam,” ujar Mamihnya Gugun yang merasa kalau alasan anaknya yang suka bermain perempuan ini sangatlah tidak sejalan dengan kebiasaannya.
Ya! Gugun memang adalah seorang anak remaja ‘nakal’. Bisa dikatakan dia adalah seorang penjahat kelamin. Dengan tumbuh berkembang di tengah kedua orang tua yang juga gemar jajan kenikmatan semalam, tentu Gugun pun akan tumbuh dan berkembang menjadi sosok yang kurang lebih sama. Tapi memang sedikit mengherankan kalau wanita ini seakan meng ACC anaknya yang senang jajan perempuan.
Winda memang mengatakan yang sebenarnya kalau seorang Gugun Apriansyah bisa mendapatkan wanita manapun untuk dia tiduri. Namun yang tidak dipahami oleh wanita buruk rupa bernama Winda Apriansyah ini adalah Sila memiliki kecantikan yang sempurna. Dimana tidak banyak perempuan yang seberuntung Sila. Sehingga walaupun Gugun bahkan bisa menikmati tubuh dari para model Victoria Secret sekalipun, tetap saja tidak akan banyak wanita yang bisa menggantikan ‘rasa’ dari seorang Sila.
“Wah… Ada ribut-ribut apa nih?” tanya Sandi kepada Winda dan Gugun.
“Winda Apriansyah pemilik dari Prians Group!” tanpa menjawab pertanyaan Sandi. Winda mengenalkan dirinya.
“Ada apa nih… Kok bisa-bisanya seorang Nyonya besar dari Prians Group jauh-jauh datang kemari?” tanya Sandi pada Winda sambil tersenyum lebar.
“Bisakah kamu habisi anak ini?” tanpa basa-basi, Winda mengeluarkan sebuah foto dari tasnya dan menunjukkan foto Sila kepada Sandi.
“Mamih… Plis… Bisa kan Mamih batalin semuanya?” Gugun masih memohon agar Ibunya membatalkan niatan dia untuk menghabisi Sila. Tapi Ibunya tampak tidak peduli. Jangankan Sila, bahkan Kakak kandungnya juga dengan tega mampu dia habisi.
“Sila Prayoga?” tanya Sandi yang mengenali sosok yang ada di foto tersebut.
__ADS_1
“Ya!” jawab Winda.
“Kenapa kalian ingin menghabisinya?”
“Dia sudah macam-macam dengan anakku,” memang begitulah alasan yang diungkapkan oleh Winda. Padahal yang sebenarnya adalah Winda merasa kalau keluarganya sudah dipermalukan oleh Sila. Tidak hanya dipukuli, namun kini Sila juga berani mencampakkan anak dari trah keluarga Apriansyah.
“Sebenernya aku sih sanggup-sanggup aja kalau sekedar untuk membunuh seorang perempuan seperti Sila. Tapi masalahnya hanya satu saja. Sila ini adalah anak dari pemimpin keluarga Prayoga. Bapak Pasal Prayoga,” jawab Sandi yang tidak hanya mengenali Sila tapi juga mengenali Ayahnya.
“Tapi dia lagi sakit kan? Kudengar dia mau mati,” jawab Winda tanpa basa-basi.
“Tapi belum kan?” balas Sandi.
Sandi memang merasa segan dengan Pasal yang merupakan pemimpin keluarga Prayoga. Tapi yang paling Sandi takuti adalah sosok Frank. Orang kepercayaan dari almarhum Arya Prayoga yang kini menjadi pemimpin sementara dari keluarga Prayoga.
“Jangan takut, kami jauh lebih kaya daripada keluarga Prayoga. Kami bisa saja melakukan segalanya sendiri. Tapi kami sama sekali tidak ingin mengotori tangan kami,” jawab Winda beralasan.
“Bukankah biasanya begitulah cara kalian orang-orang kaya dalam melakukan pekerjaan kotor?” sindir Sandi.
“Tapi tetap saja. Walaupun kalian lebih kaya dan berkuasa daripada keluarga Pryaoga, dengan resources yang aku punya, tentu saja aku tidak akan sanggup kalau harus berurusan dengan keluarga Prayoga,” lanjut Sandi kembali.
“Hei! Apakah kalian pernah membaca berita! Keluarga Apriansyah adalah keluarga terkaya ketiga di Indonesia. Sedangkan mereka hanya peringkat sepuluh. Tenang saja! Kalau soal resources, kami akan menyediakannya untuk kalian. Berapapun yang kalina butuhkan. Ditambah lagi, kalau pekerjaan ini berhasil kalian selesaikan, kami akan memberikan perlindungan kepada kalian semua,” desak Winda penuh rasa percaya diri.
Satu hal yang Winda tidak paham. Dalam segi bisnis halal, keluarga Prayoga memang jauh berada dibawah keluarga Apriansyah. Tapi berbeda dengan keluarga Aprianyah yang hanya bisa menyewa orang lain untuk bermain kotor. Keluarga Prayoga adalah sebuah keluarga yang memang berani turun langsung untuk bermain kotor.
__ADS_1
Apalagi Winda memang benar-benar tidak tahu kalau Keluarga Prayoga adalah sebuah keluarga yang mengurusi sebuah Kartel besar. Dan satu fakta lain yang terlewati oleh Winda adalah dia tidak tahu kalau bisnis haram keluarga Prayoga faktanya berkali lipat lebih menguntungkan bila dibandingkan dengan bisnis halal yang keluarga ini jalani.
➖ Bersambung ➖