Memulung Kejayaan

Memulung Kejayaan
Kisah 21 : Menggenapkan (Bagian 2)


__ADS_3

“Baiklah… Bila itu maumu… Tapi sebelumnya apakah kau akan mengajarkanku segala hal yang bisa membantuku bertahan di dunia yang kejam itu?” tanya Mbak Ati kemudian.


“Tentu saja,” jawab Kai.


“Baiklah kalau begitu. Aku setuju!”


[Laksa baru terbentuk.]


[Laksa Kembang berhasil dibuat.]


[Melati Asmara telah diangkat menjadi pemimpin dari Laksa Kembang.]


Notifikasi dari Sistem langsung bermunculan begitu Mbak Ati menyatakan kesetujuannya.


“By the way Kai… Aku memang tahu sedikit banyak soal politik dunia saat ini. Tapi bisakah kamu jelaskan dulu kepadaku secara garis besarnya?” mohon Mbak Ati sambil kembali menyesap minuman keras di tangannya.


“Mbak Ati tahu kan kalau sekarang di dunia kita ini ada satu pemerintahan yang membawahi seluruh negara?”


“Tahu dong, mereka adalah pemerintahan dunia yang berpusat di Amerika Serikat,” jawab Mbak Ati lugas.


“Ya. Dan walaupun kita hidup di masa modern. Tapi baik Indonesia maupun seluruh dunia saat ini menganut sistem monarki,” Kai membenarkan lalu menambahkan.


“Terus kenapa kok seluruh negara saat ini menganut sistem monarki? Bukankah dunia kita seperti yang stagnan dari waktu ke waktu?” tanya Mbak Ati.


“Ya itu karena pemerintahan dunia tidak membiarkan paham lain berkembang di seluruh dunia. Hanya pemerintahan dengan sistem monarki yang diperbolehkan bertahan,” jawab Kai kemudian.


“End of Day!” pekik Mbak Ati pelan.


“Ya. Mereka akan mengerahkan Biro untuk menembakkan senjata pemusnah massal bagi negara yang tidak menuruti keinginan mereka.” Kai turut menundukkan wajahnya.


“Apa yang menyebabkan mereka hanya membiarkan Sistem Monarki? Bukankah dengan Sistem Monarki sebuah kekuasaan jadi tidak tergoyahkan? Seperti Indonesia yang saat ini sudah dikuasai oleh kerajaan yang sama selama puluhan tahun. Walaupun secara nasib, kita seperti yang jalan di tempat,” Mbak Ati mengungkapkan apa yang dia pikirkan.

__ADS_1


“Sistem Monarki memang membuat sebuah kekuasaan tidak bisa digoyahkan. Tapi Sistem Monarki tidak akan melarang siapapun untuk membangun kekuatan politik dan militer selama mereka sanggup. Jadi sistem ini sesungguhnya akan sangat rawan peperangan dan perpecahan,” jawab Kai menjelaskan kembali.


“Dengan banyaknya peperangan dan perpecahan…” Mbak Ati memutus kalimatnya.


“Pemerintahan dunia menjadi semakin tidak tergoyahkan karena semua Raja dan Ratu sibuk mengurusi keamanan dalam negeri dan sama sekali tidak memikirkan keberadaan pemerintahan dunia,” simpul Kai.


Kai suka sekali dengan setiap jawaban dari Mbak Ati yang menurut pengakuannya sendiri barusan, dia polos terhadap dunia politik di dunia saat ini.


“Tapi Mbak… Dengan sistem ini, Mbak Ati dapat menjadi Ratu sekarang juga kalau Mbak mau dan rakyatnya memang ada,” jawab Kai.


“Iya, Aku tahu… Bahkan jika aku mendirikan kerajaan dengan luas seluas rumahmu juga bisa… Tapi siap-siap aja diberangus oleh Gubernur setempat!” jawab Mbak Ati yang kembali menatap pemandangan kota Bandung.


“Tidak akan terjadi kalau kita cukup kuat!” bantah Kai pada Mbak Ati.


“Oh iya… Aku lupa! Kamu ada uang!” lanjut Mbak Ati.


“Jadi secara garis besar bagaimana rencanamu ke depannya?” Mbak Ati mencoba untuk mengeluarkan rencana yang lebih visioner.


“Pertama-tama tentu kita akan menjalankan masa persiapan bagaikan di neraka. Paling cepat satu pekan.”


“Habis itu…” Kai diam seperti sedang berpikir.


“Kalau nggak salah, Juragan Agung dekat dengan Kades Cijagung ya?” tanya Kai pada Mbak Ati.


“Ya. Mereka sangat dekat.”


“Kita akan mulai dengan merebut Cijagung dari Juragan Agung dan Kades bonekanya,” lanjut Kai.


“Lalu kita akan membesarkan status Cijagung tidak hanya sebagai sebuah Desa, melainkan sebuah kerajaan,” tutup Kai.


“Tapi Kai… Dengan begitu kita akan berada di tengah wilayah kekuasaan Indonesia. Dan kalau kita menyatakan diri kalau kita telah mendirikan kerajaan baru. Maka kita akan dengan cepat diratakan kembali!”

__ADS_1


“Apakah kau lupa Mbak?” jawab Kai dingin sambil meneguk minuman kerasnya.


“Oh iya… Ada kamu!” Mbak Ati menjawab keraguannya sendiri.


➖ 📱📱📱 ➖


Sebulan berlalu semenjak kedatangan Mbak Ati ke penthouse mewah ini. Tak ada yang Mbak Ati rasakan di Penthouse ini selain yang namanya penderitaan. Selain dari pelatihan yang keras yang Kai lakukan. Setiap malam beberapa jam sekali Mbak Ati harus menahan gejolak diri ingin dibelai karena terdengar teriakan dari ketiga wanita lain di rumah ini.


Bahkan tidak sekali atau dua kali Mbak Ati mempergoki mereka berempat sedang saling memanjakan di tempat terbuka. Yang otomatis Mbak Ati jadi menonton mereka dengan begitu jelasnya.


Untungnya hingga saat ini Mbak Ati bisa menahan diri. Ya iyalah dia harus menahan diri. Toh tidak sekalipun Kai beraksi menjamah tubuhnya ataupun menawarkan ‘pelayanan spesial’ kepada Mbak Ati.


‘Mungkin Kai bukan tipikal orang sebar-bar Juragan Agung yang main tindih sana tindih sini tanpa menunggu persetujuan yang ditindihnya,’ begitu pikir Mbak Ati. Sebenarnya… Mbak Ati tentu tidak akan menolak bila Kai melakukan aksi pada dirinya. Dan Mbak Ati belum sampai hati untuk meminta Kai menggarap sawah miliknya.


Berbagai pertarungan khas suami istri yang terjadi di seantero Penthouse ini sebenarnya sudah hampir membuat Mbak Ati mengatakan kalimat khas yang diucapkan para artis biru Jepang saat meminta pelayanan dari lelakinya.


“Mbak… Sepertinya Mbak sudah siap,” ujar Kai yang selain telah membantu Mbak Ati memahami seluk beluk strategi politik dan kepemimpinan, juga telah menanamkan banyak insight yang akan membantu perjuangan Mbak Ati di kancah politik nantinya.


“Akhirnya…” ujar Mbak Ati senang sambil menghempaskan buku Mein Kampf karya Adolf Hitler yang merupakan pemilik sistem sebelumnya.


“Sekarang tolong buka baju Mbak Ati,” pinta Kai tanpa tedeng aling-aling.


‘Wah… Akhirnya kamu meminta tubuhku juga ya Kai…’ bisik Mbak Ati senang.


‘Tolong Kai… Puaskan aku seperti yang kau lakukan pada Sila, Kristal, dan Yeyen…’ lanjut Mbak Ati di dalam hatinya.


Sudah sebulan ini Mbak Ati tinggal bersama Kai, Kristal, Yeyen, dan juga Sila. Hal ini membuat Mbak Ati sudah membentuk keakraban dengan ketiganya. Tidak sekali dua kali mereka berempat mengobrol ataupun bersenda gurau bersama. Sebagai lelaki satu-satunya di penthouse ini tentu saja Kai membiarkan saja bila para wanita itu sedang meluangkan waktu bersama-sama.


“Aku akan membuatkan Mbak Tattoo sebagai pertanda kalau Mbak sudah resmi menjadi pemimpin Laksa,” ucapan Kai langsung menghancurkan harapan yang sudah membumbung tinggi di dalam hati Mbak Ati.


‘Tattoo seperti punya Sila ya?’ ucap Mbak Ati sembari memendam kekecewaan.

__ADS_1


Karena tidak sekali dua kali Mbak Ati memergoki Sila sedang bermain becek-becekan sama Kai, sehingga dia tahu kalau di punggung Sila terdapat ukiran tattoo harimau sumatra yang sangat indah sekali. Dan Mbak Ati juga memang beberapa kali pernah tanpa sengaja melihat Yono dan Udin berlatih tanpa pakaian. Sementara Yono memiliki tattoo naga hitam yang begitu gagah, Udin memiliki ukiran tattoo Dewi Ameterasu yang sangat cantik. Kika juga cerita kalau Kai telah mengukirkan di punggungnya sebuah tattoo Dewi Artemis. Dan semua tattoo yang Mbak Ati lihat begitu detail dan juga indah.


➖ Bersambung ➖


__ADS_2