Memulung Kejayaan

Memulung Kejayaan
Bab 26 Bagian 1


__ADS_3

...• Bab 26 •...


...Altar Berdarah...


...– Bagian 1 –...


...•••...


...[Rating 21+]...


...Selain mengandung unsur kekerasan fisik dan juga kekerasan psikis, cerita ini juga dibumbui oleh hubungan tanpa ikatan pernikahan serta berbagai unsur yang berhubungan dengannya....


...Walaupun banyak referensi yang diambil dari fakta juga sejarah di dunia nyata. Tapi cerita ini merupakan sebuah kisah fiksi yang terjadi di alam semesta yang berbeda dengan dunia nyata....


...•••...


Tak ada hal menarik yang terjadi sejak hari yang begitu penting dalam hidup Kai terlewati. Yaitu hari dimana keluarga Suganda akhirnya terbentuk. Hari saat Kai menjadi ayah angkat bagi orang-orang yang berusia lebih tua daripada dirinya.


Konyol? Memang! Tapi sebebas-bebasnya kehidupan seorang kriminal, tetap saja ada kode etik yang tidak boleh mereka langgar. Dan salah satu kode etik tersebut adalah hal yang bisa terbilang konyol ini.


Hari ini. Istana milik Kai yang biasanya terlihat bersuasana datar-datar saja. Kini tampak meriah dengan pekarangan rumah Kai yang begitu ramai oleh berbagai hiasan dan juga puluhan orang yang mondar-mandir sedang mempersiapkan segala sesuatunya.


Di antara orang-orang yang tampak sibuk tersebut, Yono terlihat sedang berdiri dengan tampilan jas putih rapi sambil melihat persiapan pernikahannya yang akan dilaksanakan tepatnya pada siang hari ini.


Yono ikut turut menyibukkan diri bukan sekedar untuk kepentingan dirinya sendiri. Karena di tempat yang sama pada malam harinya, akan menjadi giliran Kai dan Sila untuk mengikat janji suci mereka. Sehingga bisa dikatakan. Kalau Yono melakukan ini untuk kepentingan Kai juga.


"Yono!" Kika tiba-tiba mendatangi Yono dengan setengah berlari. Ada ekspresi wajah panik yang tersirat di wajah cantik milik Kika.


"Kenapa Ka?" tanya Yono keheranan.


"Tadi pagi kan Si Dede pergi jalan-jalan sama si Mbak seperti biasanya," jelas Kika mengawali.


Si Mbak yang Kika maksud adalah babysitter yang selama ini dia tugaskan untuk membantunya dalam mengurus dan merawat Dede. Anak semata wayangnya.


"Terus?" Yono belum paham apa yang Kika maksud.

__ADS_1


"Sampai sekarang si Mbak dan Dede masih belum pulang juga. Padahal seharusnya mereka sudah pulang satu jam yang lalu," jelas Kika.


"Udah kamu hubungi si Mbak?" tanya Yono.


"Iya... Kan biasanya kalau si Mbak mau nyimpang ke mana dulu selalu bilang ke aku. Tapi pas barusan aku coba menghubungi si Mbak. Ternyata gawainya tidak aktif," jelas Kika masih dengan nada panik.


"Mungkin hape si Mbaknya lagi habis batere aja kali!"


"Iya tahu... Aku juga pengennya nggak mikir macam-macam... Tapi tolong banget dong Yon... Feeling aku nggak enak banget nih..."


Mendengar permohonan dari Kika ditambah dengan alasan feeling kuat seorang Ibu yang Kika gunakan membuat Yono mulai sedikit menganggap masalah ini dengan lebih serius. Karena siapapun tahu. Kalau perasaan seorang ibu terhadap anaknya tidak bisa dipandang sebelah mata.


Tapi walaupun begitu. Yono tetap saja tidak boleh bertindak dengan tergesa setelah mendengar apa yang diceritakan oleh Kika. Yono memilih untuk tetap tenang dan membaca situasinya terlebih dahulu.


"Kamu... Kesini!" Yono memanggil salah satu anak buahnya.


"Ya Boss?"


"Tolong kamu kerahkan seluruh teman-temanmu untuk mencari keberadaan Dede dan Mbaknya. Karena sampai sekarang nggak ada kabar dari mereka."


"Biasanya mereka berdua suka jalan ke mana ya Bu?" tanya anak buah Yono yang belum menganggap masalah ini terlalu serius. Menurutnya mencari Dede dan si Mbak adalah hal yang mudah untuk dilakukan.


"Biasanya mereka cuman jalan ke taman-taman dekat sini! Paling jauh juga ya ke Minimarket yang ada di dekat Terminal," jelas Kika.


"Pokoknya kamu coba cari aja dulu di lokasi yang biasanya Dede dan si Mbaknya datangi. Tapi Aku sarankan kamu dan teman-teman juga harus coba mencarinya ke lokasi-lokasi yang lain," Yono mendetailkan perintahnya.


"Siap Bos!" anak buah Yono tersebut langsung mengajak ngobrol temannya yang lain. Dan temannya yang lain itu langsung mengajak ngobrol temannya yang lain lagi. Kemudian terlihat beberapa dari mereka mulai meraih telepon untuk menghubungi teman mereka yang sedang berada di luar.


Memang begitu luar biasa koordinasi yang terbentuk di antara anak buahnya Yono. Dalam sekejap saja, seluruh anak buah Yono sudah bergerak untuk mencari keberadaan Dede dan si Mbak.


...•••...


Setelah lima belas menit terlewati tanpa satupun kabar positif mengenai keberadaan Dede. Yono pun mulai merasa khawatir dan juga gelisah. Ternyata memang feeling Kika tidaklah salah.


Ini bukan sekedar masalah lupa memberikan kabar yang biasa-biasa saja.

__ADS_1


Berhubung tidak ada kecelakaan atau kejadian menghebohkan apapun yang terjadi di seluruh area yang sudah ditelusuri oleh anak buah Yono. Hanya ada dua kemungkinan yang Yono duga terjadi. Yang pertama adalah si Mbak telah melakukan upaya penculikan terhadap Dede. Yang kedua, si Mbak telah menjadi korban penculikan bersama dengan Dede.


Ya. Penculikan adalah satu-satunya kemungkinan yang bisa Yono pikirkan. Karena saat Yono mau memikirkan kemungkinan yang lain yakni baru saja terjadi pembunuhan. Yono tidak kuat untuk memikirkannya.


"Kamu tunggu di sini Ka!" ujar Yono setelah mendapatkan telepon yang mengatakan kalau mereka yang di seberang telepon tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Dede dan si Mbak.


"A... Apa yang terjadi sebenarnya Yon?" tanya Kika yang semakin khawatir saat melihat wajah Yono yang berubah pucat pasi.


"Tunggu di sini! Dan jangan kemana-mana!" sekali lagi Yono mengingatkan Kika.


Yono tidak mau Kika bertindak sembrono. Salah salah... Yang menghilang nantinya bukan cuman si Dede dan si Mbak. Kika juga malah jadi ikut menghilang saat mencari keduanya. Kan jadi repot banget kalau begitu...


"Yan..." Yono memanggil Yayan.


"Ya Tuan?"


"Pastikan dia tidak meninggalkan rumah ini!" ujar Yono pada Yayan sambil menunjuk batang hidung Kika.


"Siap Tuan!" Yayan langsung mengerti apa yang Yono maksudkan.


Tidak mau terjebak oleh macet. Yono langsung menghampiri anak buahnya yang tampak sibuk dengan telepon genggamnya. Sedang mengecek pergerakan teman temannya dari kejauhan.


"Kunci motor!" ujar Yono pada anak buahnya tersebut.


"Kuparkir di sana Bos!" anak buah Yono menunjuk sebuah motor trail setelah menyerahkan kunci motor miliknya.


"Apakah perlu ditemani Bos?"


"Kau cukup di sini kontrol semuanya dari kejauhan dan kabari aku kalau ada perkembangan!"


"Siap Bos!"


Yono langsung naik ke atas motor milik anak buahnya tersebut. Dalam sekali hentakan Yono langsung memacu motor itu dalam kecepatan yang sangat tinggi.


Di atas motor yang melaju. Sejujurnya Yono nggak tahu dia harus pergi ke mana. Yono bingung. Yono panik. Yono nggak tahu harus ngapain. Yang pasti Yono begitu kesal mengapa hal seperti ini bisa terjadi di hari pernikahannya. Hari yang seharusnya begitu membahagiakan bagi dirinya.

__ADS_1


...• Bersambung •...


__ADS_2