
“Lalu apa untungnya bagiku bila aku nanti membantu kalian untuk melenyapkan gadis ini?” tanya Sandi yang sebenarnya mengetahui betapa mengerikannya keluarga Prayoga dan juga Kartelnya.
Yah… Walaupun seorang Sandi tidak bisa menilai dengan baik seberapa besar kekuatan sesungguhnya yang dimiliki oleh keluarga prayoga. Sandi tidak tahu kalau Kartel Prayoga adalah kartel terbesar di Asia Tenggara. Nomor tiga terbesar di seluruh Asia.
“Yang pertama aku akan membayarmu dengan uang yang sangat besar untuk ukuran geng kecil seperti kalian ini,” tidak hanya sombong, namun Winda dengan seenaknya turut menghina Sandi dan gengnya.
Tapi Sandi memilih diam. Bagaimanapun juga Winda merupakan calon klien yang begitu menguntungkan bagi dia dan gengnya.
“Selain itu… Aku akan berikan kalian sebuah posisi yang strategis di bawah jaringan bisnis keluarga Apriansyah jika kalian bisa menyelesaikan tugas ini dengan baik,” tambah Winda terus memberikan penawaran yang terlalu menggiurkan untuk ditolak.
Sementara Winda bernegosiasi dengan Sandi. Di sebelahnya Gugun masih menangis tidak percaya dengan apa yang akan Ibunya lakukan pada mantan kekasih yang begitu dia cintai.
“Hmmm… Menarik… Baiklah! Aku menerima pekerjaan ini selama kalian bisa menyediakanku resource yang cukup untuk menyelesaikan tugas ini,” Sandi akhirnya bersedia dengan sedikit syarat.
“Bagus!” tentu saja bagi keluarga Apriansyah, syarat yang diberikan oleh Sandi sangat mudah untuk diselesaikan.
“Tapi sebelumnya… Jangan lupa… Ini beda ya…” ujar Sandi sambil menggesekkan jempol dan telunjuknya menandakan kalau antara resource yang harus disediakan dan uang jasanya adalah dua kuitansi yang berbeda.
“Oh… Tentu saja kami sudah menyiapkannya. Ini uang mukanya. Pelunasannya nanti kalau tugas ini sudah selesai,” Winda mengeluarkan sebuah amplop tebal yang berisikan uang.
“Terima kasih,” ujar Sandi sambil mengintip isi dari amplop coklat tebal itu.
“Untuk resource yang dibutuhkan, kamu bisa menghubungi asistenku,” ujar Winda sambil menyerahkan sebuah kartu nama.
“Baik Nyonya,” jawab Sandi sambil menganggukkan kepala.
“Anggap saja sudah tidak ada lagi gadis bernama Sila di dunia ini,” tambah Sandi sambil mengulurkan tangannya.
“Senang berbisnis dengan seseorang yang optimis seperti anda,” jawab Winda menerima uluran tangan dari Sandi.
Winda lalu keluar ruangan dengan wajah yang sangat senang. Sedangkan Gugun berjalan lemah di belakangnya dengan wajah yang tampak begitu sedih sekaligus ketakutan saat membayangkan nasib yang akan diterima oleh sang mantan. Bagaimanapun sikap buruk yang ditunjukkan oleh Gugun pada Sila. Gugun tetaplah seorang pria normal yang tergila-gila pada kecantikannya Sila.
➖ 📱📱📱 ➖
__ADS_1
Gugun duduk di sebuah bar stool. Kepalanya terkulai lemas di atas Bar. Matanya menerawang kosong. Gugun kini sedang berada di sebuah bar eksklusif. Gugun langsung mengunjungi Bar ini di sore hari selepas dia meninggalkan markas PMI.
Perasaan sedih karena hendak ditinggal selamanya oleh orang yang benar-benar dicintainya membuat Gugun terpaku di dalam Bar hingga malam pun tiba. Pikirannya benar-benar kalut penuh dengan kebingugan. Entah sudah berapa kali Gugun berkata di dalam hati, ‘Sepertinya aku harus memberikan peringatan pada Sila!’
Dan entah sudah berapa kali pula Gugun membatalkan niatannya tersebut dengan sebuah pertanyaan, ‘Tapi bagaimana caranya?’
Tahu kalau anaknya cukup nekad. Winda memberikan penjagaan ekstra ketat kepada Gugun. Sekarang saja Gugun didampingi oleh empat orang bodyguard sekaligus. Tidak hanya menjaganya dari marabahaya. Para bodyguard ini juga ditugaskan oleh Winda untuk menghalanginya menghubungi ataupun menemui Sila barang sedetikpun.
Gugun kembali meneguk birnya karena jiwanya kini terasa begitu galau dan juga penuh dengan kebingungan. Gugun tadinya berpikir kalau bir ini akan menghilangkan kabut di hatinya. Tapi ternyata dia salah. Kabut itu terasa semakin tebal seiring dengan semakin banyaknya minuman keras yang dia teguk.
“Tuan Muda! Sekarang sudah jam tiga pagi. Anda harus pulang, dan kupikir anda sudah terlalu banyak minum,” ujar salah satu bodyguard yang menjaga Gugun.
“Hei! Memangnya siapa kamu?! Ibuku?!” hardik Gugun pada bodyguarnya tersebut.
Sebenarnya mereka sedari tadi sedang menunggu Gugun tak sadarkan diri dikarenakan mabuk. Tapi ternyata… Gugun merupakan seorang peminum yang kuat. Gugun yang dari sore tadi terus menerus minum seperti ikan membuat para bodyguard ini merasa sangat khawatir.
“Maaf Tuan… Tapi kalau tuan melanjutkannya, kesehatan Tuan akan terganggu,” kembali bodyguard itu memberikan peringatan. Dia khawatir kalau empedu Tuan mudanya itu akan pecah di sini karena kebanyakan minum. Dan kalau itu terjadi, tentu saja mereka semua yang akan disalahkan. Tidak hanya akan kehilangan pekerjaan. Bila hal yang mereka takutkan itu benar-benar terjadi, seluruh hidup keluarga mereka juga akan turut terancam.
“Beri…”
Sebuah pukulan mendarat di punduk Gugun yang membuat sang tuan muda langsung tidak sadarkan diri.
“Maafkan aku Tuan…” gumam sang bodyguard lirih.
“Bawa dia!” perintah sang bodyguard kepada bodyguard yang lain.
Salah seorang bodyguard lalu membawa sang Tuan Muda yang telah mereka buat tidak sadarkan diri dengan cara menggendongnya keluar dari dalam Bar. Bodyguard itu diikuti oleh dua bodyguard yang lain.
“Ini!” salah seorang bodyguard yang masih tinggal memberikan sebuah kartu kredit berwarna hitam kepada pemilik bar.
“Baik,” jawab pemilik Bar tersebut.
Setelah menyelesaikan pembayarannya, sang bodyguard langsung menyusul teman-temannya keluar dari dalam bar. Dia melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul tiga dini hari.
__ADS_1
“Gila, bocah ini minum selama lebih dari sepuluh jam,” bisik sang bodyguard setengah terkagum dengan kekuatan minum Gugun sekaligus merasa ngeri. Kalau saja mereka terlambat sedikit saja, bisa jadi bocah manja itu sudah masuk ke dalam rumah sakit sekarang.
➖ 📱📱📱 ➖
“Jangaaaaan!” terdengar teriakan dari dalam kamar Kai pada jam yang sama dengan saat Gugun dipingsankan. Kai terbangun sambil mengingat mimpi buruk yang baru saja dia alami.
Kai melihat dirinya kini sedang tidak berpakaian. Dia kemudian menolehkan kepalanya ke sebelahnya hanya untuk menemukan sosok Kristal yang juga sedang tidak berpakaian.
“Kenapa Tuan?” tanya Kristal yang turut terbangun akibat begitu kerasnya teriakan dari Kai.
“Tidak apa-apa, aku hanya mimpi buruk!” gerutu Kai pelan.
Kai dalam hati yang sadar kalau mimpi buruknya barusan bisa terjadi gara-gara apa yang baru saja Kai ketahui secara tidak sengaja melalui Penglihatan Seorang Detektif nya sore tadi.
‘Tapi… Kalau memang itu memang sudah jalan takdirnya, kenapa aku harus memaksakan kehendakku?’ ujar Kai menghibur dirinya sendiri sambil mengurut dadanya yang terasa sakit.
‘Sakit sekali! Sepertinya memang aku harus memastikan ini segera!’ simpul Kai kemudian.
“Kris… Tidurlah di sini… Aku mau keluar dulu!” ujar Kai pada Kristal.
“Tuan mau ke mana?” tanya Kristal yang penasaran.
“Aku ingin turun ke bawah sejenak,” jawab Kai.
“Aku ingin menanyakan langsung pada Kika tentang apa yang kulihat melalui Penglihatanku tadi sore,” jawab Kai.
“Apakah harus sekarang?” Kristal yang langsung mengerti karena baru dibisikkan pengetahuan oleh Sistem bertanya kembali.
“Ya!” jawab Kai.
Dia sebenarnya tahu kalau menanyakan hal ini di jam segini akan sangat mengganggu kenyamanan orang lain. Tapi rasa sakit di hatinya benar-benar tidak bisa dia tolerir lagi.
“Aku benar-benar penasaran apakah benar Kika dan Yono saling mencintai?” lanjut Kai pada Kristal sambil berlalu begitu saja. Dia langsung turun ke bawah dengan cepat penuh emosi.
__ADS_1
➖ Bersambung ➖