Memulung Kejayaan

Memulung Kejayaan
Kisah 14 : Membangun Pondasi (Bagian 5)


__ADS_3

Sila begitu terkejut saat mendengar Kai memanggil dirinya dengan sebutan Adik Sepupu.


"Adik sepupu? Maksudmu apa Tuan Muda?" Sila menjawab Kai dengan suara rendah. Dia tidak ingin Gugun mendengarnya.


"Ya, Adik Sepupu angkat lebih tepatnya," jawab Kai.


'Adik sepupu angkat? Apakah maksudnya dia anak angkat Paman pertama? Atau cucu angkat Kakek?' Sila bertanya-tanya di dalam hati.


"Apakah Kakekmu adalah Arya Prayoga?"


"Ya. Benar."


"Apakah Kakekmu pernah menghilang untuk sekian lama?"


"I... Iya... Benar," Kai memberikan berbagai pertanyaan berdasarkan apa yang dia lihat dengan penglihatan detektifnya.


"Jadi... Kakek Arya saat menghilang dan memilih hidup sebagai seorang pemulung, mengangkatku sebagai cucunya."


"Be... Benarkah?" Sila teringat akan berbagai kalimat yang diucapkan oleh kakeknya sesaat sebelum seorang Arya Prayoga pamit dan menghilang.


➖ 📱📱📱 ➖


Samar-samar Sila masih ingat. Waktu itu kalau tidak salah Paman tertua baru saja meninggal dunia. Kakek Arya tiba-tiba mengajaknya berbicara.


"Sila... Kakek akan pergi. Mungkin untuk waktu yang cukup lama," ujar Kakek Arya pada Sila yang waktu itu masih berusia enam tahun.


"Kakek mau kemana?"


"Kakek mau mencarikanmu saudara baru," ujar Kakek Arya.


"Asyiiik... Aku mau punya adik?"


"Kakek belum tahu. Apakah adik, kakak, ataukah pamanmu," jawab Kakek Arya.


"Ih... Kakek nggak jelas deh!" keluh Sila.


Pada intinya, setelah kepergian anak pertamanya. Dan anak keduanya yang sakit-sakitan, Arya memerlukan seorang putra yang bisa meneruskan Cartel yang Ayahnya rintis.


Sebagai keturunan kedua, Arya tak ingin Cartel Prayoga habis dan bubar saat berads di bawah kepemimpinan nya.


'Seandainya Tuhan tak memberikanku keturunan yang layak, maka aku akan menciptakannya sendiri,' begitu pikir Arya saat itu.


Setelah bercengkrama dan bercanda seharian, Arya benar-benar meninggalkan cucu satu-satunya. Setelah saling melambaikan tangan, Sila tidak lagi mendengar kabar dari Kakeknya hingga tiga tahun lamanya.


➖ 📱📱📱 ➖


Lalu saat Sila sudah berusia 9 tahun, Kakek Arya tiba-tiba muncul kembali.


Tidak lama, hanya sehari saja. Kakek Arya muncul hanya untuk mengunjungi Sila juga Pasal. Selain itu dia juga memberitahukan mereka kalau dia sudah menemukan saudara baru untuk Sila.

__ADS_1


Dan Sila ingat kalau saat itu Kakek Arya bilang kalau saudara baru Sila adalah seorang Kakak Sepupu. Dan namanya pun sama dengan nama Paman Tertua.


➖ 📱📱📱 ➖


"Aku dengar dari Paman Frank, kalau cucu angkat Kakek menghilang tanpa jejak. Jadi, apa bukti kamu adalah cucu angkat Kakek?" bantah Sila.


Srek.


Kai menunjukkan sebuah liontin pemberian Kakek Arya yang selalu dia bawa. Sebuah liontin berbahan perak dengan ukiran lambang keluarga Prayoga di atasnya.


Ada tulisan Kai Prayoga di sisi lain liontin itu. Kai menduga kalau liontin warisan dari Kakek Arya ini bisa membantunya di saat seperti ini.


"I... Ini?" Sila memperhatikan liontin tersebut.


Lalu Sila membuka liontin yang dia kenakan untuk membandingkan liontin yang diserahkan oleh Kai dengan liontin yang dia miliki.


Setelah membandingkan bentuk dan tekstur kedua liontin tersebut, Sila yakin kalau memang liontin yang dimiliki Kai adalah liontin yang hanya diturunkan di dalam keluarga Prayoga saja.


Sila menjadi begitu yakin kalau liontin itu memang adalah liontin yang dimiliki oleh paman tertua.


"Kamu dapatkan ini dari Kakek?" tanya Sila memastikan.


"Ya," ujar Kai.


Mereka masih berbicara dan mengobrol dengan suara yang sangat pelan dan memastikan agar Gugun tidak mendengar mereka.


Sila paham kalau maksud dari Kai memanggilnya ke meja ini dan tidak mengobrol di depan Gugun, adalah karena pembicaraan ini sangat penting dan rahasia.


Sila kecewa karena Kai bukan betul-betul bisa menyelamatkan Ayahnya.


"Tapi bukan cuman karena ini," Kai menggoyang liontin miliknya lalu menyakukannya kembali.


Sila diam menyimak.


"Aku benar-benar bisa menyembuhkan Paman Pasal," Kai menggunakan sebutan Paman agar kesan kalau Kai memang bagian dari keluarga Prayoga semakin dapat dirasakan oleh Sila.


"Caranya?" Sila sangat senang dengan harapan yang datang. Namun dia penasaran bagaimana cara Kai dapat melakukannya.


"Aku telah mempelajari sebuah seni kedokteran kuno. Sehingga aku bisa menyembuhkan penyakit apapun," jawab Kai mantap.


"Termasuk penyakit Ayah yang tidak ada obatnya?" tanya Sila kembali.


"Tentu saja," Kai terus menjawab dengan penuh keyakinan.


"Seberapa yakin kamu?" tanya Sila penuh selidik.


“Kupertaruhkan seratus milyar jika aku tidak bisa menyembuhkan Paman Pasal," Kai memberikan pertaruhan yang tidak kecil pada Sila agar gadis ini percaya.


Sila memang sedari awal sudah tertarik pada metode pengobatan yang akan dilakukan oleh Kai. Toh semua dokter juga sudah angkat tangan terhadap keselamatan Ayahnya.

__ADS_1


'Kurang dari sebulan lagi Ayah akan meninggal. Seandainya Ayah wafat gara-gara pria ini, tidak ada ruginya,' begitu pikir Sila.


Baik dengan jaminan uang sebesar itu ataupun tidak, tetap saja Sila akan menerima tawaran pengobatan dari Kai tersebut.


Sedikit harapan tetap lebih baik daripada tidak ada harapan sama sekali.


“Baiklah aku setuju,” ucap Sila.


“Kalau begitu, bagaimana kalau kita temui Paman Pasal sekarang?”


"Sekarang?" tanya Sila yang sudah bersiap bertukar nomor dengan Kai.


"Iya. Sekarang juga," jawab Kai sedikit memaksa.


“Baiklah…”


Sebenarnya barusan Sila sempat berpikir untuk mempertemukan sepupu angkatnya itu dengan Ayahnya besok saja. Tapi berhubung kondisi Ayahnya yang sedang gawat darurat, bila dapat dilakukan lebih cepat, tentu akan lebih baik.


Dan untuk Kai sendiri. Alasan yang membuatnya ingin menemui Paman Pasal sekarang juga adalah karena Kai ingin menyelesaikan misi ini secepatnya. Selain itu, Kai ingin memisahkan Sila dengan Gugun.


Kai ingin memberikan sedikit tamparan dengan memancing kekecewaan pada diri anak manja ini.


"Kalau begitu tunggu sebentar..." Sila pamit pada Kai sebelum kemudian menghampiri meja makan Gugun.


“Gun… Aku akan kembali lagi ke rumah sakit,” izin Sila pada Gugun.


“Apa?!” Gugun menaikkan nada bicaranya.


"Pria itu tampaknya benar-benar bisa menyembuhkan Ayah," jawab Sila mantap.


"Bagaimana kalau dia menipumu?!" tanya Gugun meragukan kemampuan Kai.


"Kalau Ayah mati di tangan pemuda itu. Tentu Paman Frank akan membunuhnya," Sila berusaha meyakinkan Gugun.


Frank adalah ketua dari Cartel Prayoga sejak Kakek menghilang. Hanya Paman Frank yang tahu dimanakah Kakek selama Kakek menghilang.


Frank adalah manusia yang paling setia pada Kakek Arya.


“Terus aku gimana?!”


'Ya gak gimana-gimana!' Sila jawab nyinyir dalam hati.


“Tapi aku ingin mempertemukan dia sama Ayahanda secepatnya. Aku ingin Ayah..." Sila menghentikan kalimatnya.


Di dalam hatinya dia tahu tak ada harapan tersisa untuk Ayahnya. Dia hanya berharap pada harapan fiksi yang dihantarkan oleh Kai.


“Emangnya kalau gak diobatin sekarang, Ayah kamu bakalan mati?! Besok emang gak bisa?!” Gugun mulai keterlaluan. Sila bergetar saat mendengar Gugun menyelesaikan kalimatnya.


"Lagian kata dokter Ayah bakalan mati kan?! Ngapain kamu susah-sus..."

__ADS_1


Plak!


➖ Bersambung ➖


__ADS_2