
'Sistem,' bukan pemilik Sistem namanya kalau nggak ngurusin beginian tanpa di bantu oleh cheat code.
[Ya Host?]
'Tolong pilihkan aku penthouse yang paling nyaman sekaligus privat di kota Bandung.'
[Baiklah.]
[Selesai.]
Tidak sampai satu detik. Sistem langsung membelikan apa yang diminta oleh Kai dengan sangat cepat.
Sistem sudah benar-benar berubah. Dia benar-benar sudah menjadi sebuah Sistem yang manut, mau diajak bekerja sama, dan melayani dengan sangat baik.
[Penthouse baru milik Host ada di lokasi ini.]
Sebuah peta kecil hologram muncul di sudut kiri atas pandangan mata Kai dengan titik merah berkedip di salah satu bagiannya.
[Nanti Host tinggal datang dan bisa masuk pake sidik jari. Selain sidik jari Host. Sidik jari Kristal, Yeyen, dan Yayan juga turut terdaftar di Penthouse itu.]
'Daftarkan Sila juga!'
[Selesai.]
'Dan nanti tolong kau bimbing aku. Aku nggak mau malu di depan Sila karena ketahuan gaptek,' pinta Kai pada Sistem.
[Dengan senang hati.]
Lokasi Penthouse baru Kai nggak jauh dari lokasi gempa. Eh. Bukan gempa! Tapi lokasi bekas pertarungan antara Kai dan Frank. Tapi walaupun dekat. Gedung apartemen mewah ini tidak terkena dampak bencana alam bernama 'Frank Sableng' sama sekali.
"Jalan kaki gak papa kan?" tanya Kai pada Sila.
"Kuy... Santuy aja!" jawab Sila.
Dikarenakan sebagian jalanan Kota Bandung kini sudah hancur berantakan. Kota Bandung menjadi sangat macet. Bisa dikatakan macet total. Hal ini akhirnya menyebabkan Kai dan Sila memutuskan untuk berjalan kaki untuk menuju lokasi tujuan mereka.
➖ 📱📱📱 ➖
Setelah berjalan bahu membahu menembus Kota yang sedikit berantakan. Akhirnya Kai dan Sila sampai juga ke area yang tidak terdampak oleh efek pertarungan antara Frank dan juga Kai.
"Mau beli Pemthouse di situ Kai?" Sila menduga kalau Kai akan membeli penthouse di sebuah gedung apartemen yang memiliki kelas setingkat di atas apartemen Sila.
"Betul."
Sila terkagum seketika setelah Kai menjawab pertanyaan nya dengan ringan. Seakan gedung tersebut bukanlah apa-apa.
"By the way... Kita nggak akan membelinya loh..."
"Eh. Tadi katanya?"
"Iya. Aku sudah membelinya."
"Loh kapan?"
"Barusan. Asisten ku yang mengurus semuanya."
'Asistennya? Perasaan tadi si Kai nggak angkat telpon sama sekali? Apa Kai pake pager? Masak zaman sekarang masih ada yang pake pager?' tanya Sila yang lupa kalau pager tidak sekuno itu. Karena dia bisa memanggil makhluk luar angkasa. Seperti saat Nick Fury yang memanggil Captain Marvel.
__ADS_1
Akhirnyaaa Kai dan Sila masuk ke dalam area gedung apartemen yang terkenal mahal itu. Di area parkir tidak ada satupun hal yang mencolok terjadi. Tapi saat mereka memasuki gedung apartemen.
"Selamat datang Tuan Kai," sambut seorang pria setengah baya pada Kai.
"Pri... Pria muda inikah orangnya?" tanya seorang wanita yang berada di sebelah pria tersebut.
"Ya benar. Tuan Kai ini adalah pemilik baru dari apartemen ini," jelas pria setengah baya itu kepada rekan kerjanya.
'Pemilik gedung?!' dalam hati Kai dan Sila serempak terkejut.
Kai tidak tahu kalau yang dibeli oleh Sistem adalah gedungnya. Dan bukan salah satu penthouse yang ada di sana.
'Benarkah kau membeli gedung ini Sistem?'
[Benar Host.]
'Kok kamu gitu sih?'
[Host tidak suka? Sistem bisa menjualnya kembali.]
'Bukan! Bukan begitu maksudku. Bukankah aku memintamu untuk membeli Penthouse?'
[Ya. Benar.]
'Kenapa kamu menyimpulkan aku meminta satu gedung?'
[Bukankah tadi tuan meminta Penhouse nyaman yang ada di Kota Bandung?]
Sistem balik bertanya pada Kai.
'Ya benar.'
'Kenapa kau tidak mengatakannya begitu barusan? Kan aku bisa geser ke opsi lain.'
[Karena ada sebuah Penthouse yang tersisa. Kebetulan itu ada di gedung ini. Tapi sayangnya dia tidak dijual untuk umum.]
'Lalu?'
[Karena Penthouse itu hanya diperuntukkan bagi pemilik gedung ini...]
'Jadi kamu memutuskan untuk membeli satu gedung ini?!'
Kai menyimpulkan dengan melanjutkan kalimat dari Sistem.
[Betul Host. Apakah Sistem melakukan kesalahan?]
'Bukan begitu! Tapi ini sih namamya minta hati dikasih jantung!'
[Walaupun Sistem menilai kalau peribahasa itu terbalik. Tapi terima kasih. Sistem anggap itu adalah pujian.]
'Ya. Aku memang memujimu.'
[Terima kasih Host.]
Kai dan Sila berjalan dengan ditemani alunan pujian dari lelaki penjilat berusia setengah baya tersebut. Sedikit mengganggu. Tapi ya sudahlah.
Pria setengah baya dan rekan kerja wanitanya mengikuti Kai hingga Kai juga Sila memasuki sebuah lift yang cukup mewah dengan interior lift khas abad pertengahan.
__ADS_1
[Tekan bagian yang berada di atas deretan nomor itu.]
Sistem mengajarkan Kai agar tak terlihat bodoh di mata Sila.
'Di sini?'
Kai mengarahkan jarinya pada nomor teratas.
[Bukan. Ke atas lagi.]
Kai menggerakkan tangannya perlahan.
'Di sini?'
[Bukan. Ke atas lagi.]
'Di sini nggak ada nomornya!' Sistem menyuruh Kai untuk menekan bagian besi kosong yang berada di atas deretan nomor.
[Tekan saja Host.]
Walaupun Kai kebingungan dan ingin ajak Sistem berdebat karena dia merasa sedang dibodohi. Kai tetap mengikuti petunjuk dari Sistem.
Ding!
Besi tak berwarna itu tiba-tiba berpendar hijau setelah menangkap cetak sidik jari Kai.
'Eh!'
[Benar kan?]
'Iya. Canggih loh ini!'
Kai tampak seperti orang udik. Tapi keudikannya itu berhasil ia tutupi dengan hanya melakukannya di dalam hati saja. Sehingga hanya sistem yang tahu kalau Kai ini kampungan.
Keterkejutan Kai semakin menjadi saat lift dengan kesan eropa kuno itu mendadak berubah menjadi kaca transparan begitu masuk ke dalam bagian Penthouse yang kini sudah menjadi miliknya. Kai ingin sekali berdecak kagum seperti halnya Sila saat melihat area dalam Penthouse yang sudah memiliki interior yang sangat lengkap. Dimana semuanya merupakan interior yang berkelas.
'Bila Penthouse milik Sila merupakan Penthouse kelas satu. Maka Penthouse ku ini bisa dibilang merupakan Penthouse yang lebih daripada kelas satu,' simpul Kai bangga dalam hati.
Bagaimana tidak! Penthouse ini terletak di lantai teratas yang tidak terdaftar dalam daftar lantai gedung apartemen ini. Selain itu, dia memiliki luas sama dengan satu lantai gedung ini apartemen ini. Ditambah lagi, tidak hanya luas. Penthouse ini juga terdiri dari beberapa tingkat.
[Host.]
Sistem menegur Kai yang hampir tanpa sengaja membuka mulutnya.
[Lihat di sana!]
'Kenapa di sana?'
[Itu adalah garasi Host.]
'Garasi? Bukankah ini di lantai teratas?!'
[Benar Host. Itu adalah garasi sekaligus lift. Jadi nanti kalau Host menggunakan mobil. Host dapat langsung naik ke sini tanpa harus turun dari mobil.]
'Wah... Beneran!'
Kai menoleh ke arah Sila yang begitu terkagum pada penampakan Penthouse ini. Mungkin dari semua orang yang pernah Sila kenal hingga saat ini. Mungkin hanya Kakek Arya lah yang Sila pikir sanggup untuk membeli ini semua.
__ADS_1
"Sil!" tegur Kai pasa Sila begitu mereka keluar dari lift transparan itu.
➖ Bersambung ➖