Memulung Kejayaan

Memulung Kejayaan
Kisah 22 : Sebulan yang Lalu (Bagian 2)


__ADS_3

Kai menggengam gagang pintu kamar mandi dimana di dalamnya terdengar suara guyuran air shower yang sangat kencang. Kai lalu mendekatkan telinga kirinya pada pintu. Kai tidak ingin mencuri dengar ataupun mengintip. Dia hanya ingin bertanya sesuatu pada Sila.


“Sil…!” panggil Kai pada Sila.


“Hmm?!” jawab Sila dengan nada sedikit kesal karena kegiatan mandinya terganggu.


“Aku bisa minta minuman nggak?” tanya Kai dengan sedikit berteriak.


“Ada di kulkas!” jawab Sila yang juga dengan setengah berteriak.


“Kulkas yang di dapur?!”


“Oh… Kamu sudah tahu?”


“Ya. Tadi aku sempat berkeliling.”


“Iya. Di kulkas yang itu. Tapi maaf ya… Aku cuman sedia yang kalengan aja! Nggak ada yang bermerek di sini.”


“Oh iya nggak papa. Cuman buat ngilangin pusing aja kok…”


“Betewe Sil?” Kai menyambung kembali kalimatnya.


“Hmh?!” selain suaranya meninggi dikarenakan kesal. Sila juga merasa khawatir pria berkulit legam tersebut akan merangsek masuk ke dalam kamar mandi.


“Kalau kamu mandinya masih lama?” entah kenapa pertanyaan nggak penting seperti ini meluncur dari mulut Kai.


“Nggak kok. Sebentar lagi. Kenapa emangnya?”


“Aku pesenin GoPud ya…! Takutnya kalau kamu masih lama nanti makanan pesenanku keburu dingin.”


“Chimaek ya…!” jawab Sila yang ingin mengkombinasikan bir dinginnya dengan ayam panas ala drakor-drakor gitu.


“Siap! Aku nanti nunggu di balkon. Kamu nyusul aja ya…”


“Siap!”


Kai lalu meninggalkan ambang pintu kamar mandi sambil membuka aplikasi GoPud untuk mencari menu ayam goreng yang lokasinya paling dekat dengan Apartemen Sila.


➖ 📱📱📱 ➖


Setengah jam kemudian menu makanan yang Kai pesan telah sampai dan kini sudah tersaji hangat di sebelah Kai. Namun, Sila yang bilang mandinya tinggal sebentar lagi barusan, belum juga menyelesaikan kegiatan mandi dan bersoleknya.


Enggan menunggu Sila yang entah bakalan siapnya kapan. Kai langsung minum sambil menyantap ayam goreng yang dipesannya sambil menikmati angin malam yang menyapu balkon apartemen Sila.


Sila mensetting balkonnya menjadi taman mini yang asri. Hal ini terlihat dari banyaknya pot dan juga tanaman hidroponik yang mengelilingi Kai. Chimaek, angin malam, pemandangan indah, serta tanaman hijau yang kini sedang menebarkan racun membuat suasana yang terbangun menjadi sangat nyaman.


“Eih! Duluan aja!” Sila memasuki area balkon sambil bersungut sedikit protes.


“Masih anget kok!” jawab Kai santai.

__ADS_1


Sila kemudian duduk memparkir boncengannya di sebelah Kai. Dibatasi oleh meja outdoor kecil yang di atasnya terdapat beberapa kaleng bir dan se bucket ayam panas.


Menyusul Kai. Sila langsung menikmati birnya disertai Ayam yang dijual terpisah.


“Wah… Nikmatnyaaaa…” pekik Kai saat meneguk bir dingin di tangannya.


Kai tidak berkata apapun untuk menanggapi, Kai hanya tersenyum sambil menatap dalam kecantikan alami yang dimiliki oleh Sila.


“Kai… Makasih ya…” raut wajah Sila mendadak serius.


“Hmh?” Kai berpura-pura tak mengerti.


“Makasih karena kamu sudah nyelamatin aku.”


“Kebetulan sekali kamu adalah sepupuku. Dan aku tidak akan membiarkan siapapun untuk melukai sepupuku.”


“Sepupu angkat Kai…” bisik Sila tiba-tiba sambil memalingkan muka dengan cepat. Sila merasa kalau wajahnya tersipu karena terasa sedikit kaku.


Kai tersenyum geli lalu berkata pelan, “Kalaupun bukan sepupu angkat masih bisa menikah kan?”


“Ohok Ohok! Apa-apaan sih Kai! Aku nggak ngomong apa-apa kok!” Sila langsung terbatuk karena Kai bisa menduga isi pikirannya dengan akurat.


Kai kembali tersenyum sambil memalingkan mukanya dari Sila. Saat melakukan gerakan tersebut, Kai sempat memutar matanya setengah lingkaran ke arah atas. Lalu Kai tutup gerakan ringan namun nyelekit bagi Sila itu dengan sebuah tegukan bir yang ringan.


“Oh iya Sil…” Kai membuka topik baru kepada Sila.


“Ya Kai?” Sila menoleh ke arah Kai dengan mata membulat bersiap untuk mendengarkan apa yang ingin Kai katakan.


“Hampir setiap saat, tapi tidak selalu. Kenapa emangnya?”


“Setahuku. Kualitas yang dimiliki oleh Frank dan para anak buahnya di atas rata-rata. Kenapa kok para berandal itu bisa menculikmu di tengah penjagaan super ketat yang kau miliki?”


“Seperti kataku barusan. Hampir selalu. Tapi tidak setiap waktu.”


“Jadi apakah saat itu kamu sedang tidak dalam penjagaan?”


“Ada. Tapi tidak seketat biasanya.”


“Loh… Kok bisa?”


“Frank sedang keluar negeri untuk urusan yang sangat penting. Frank membawa para anak buah terbaiknya. Ditambah lagi. Ayah juga sedang menjalankan sebuah perjalanan bisnis dimana Ayah juga membawa banyak anak buah Frank yang tersisa,” jelas Sila panjang kali lebar.


“Oh… Pantas saja!” jawab Kai sedikit memaklumi kejadian yang dialami oleh Sila.


“Sepertinya memang mereka memiliki orang dalam,” simpul Kai setelah sempat memikirkan alasan dibalik betapa pasnya momen yang dipilih oleh Sandi dan kawan-kawan untuk menculik Sila.


“Sepertinya begitu.”


“Lalu mereka yang menjagamu saat itu?”

__ADS_1


“Mereka terbunuh dengan begitu mudah.”


“Sudah kuduga,” setelah merasakan sendiri kualitas yang dimiliki oleh Sandi dan para komplotannya, Kai yakin kalau ‘sisa-sisa’ pasukan Frank tentu tidak akan sangat mudah Sandi tumbangkan.


“Apakah kau sudah memberitahu Frank?” tanya Kai penasaran bagaimana reaksi Frank jika mendengar kabar ini.


“Sudah!” Kai dan Sila langsung menoleh ke arah asal suara yang dingin tersebut.


Kai begitu terkejut melihat sosok Frank yang katanya sedang di luar negeri itu kini tengah duduk santai di sisi kiri pagar pembatas balkon apartemen Sila.


“Tadi sepertinya kamu menelponku saat di kamar mandi ya Nona?” Frank mengkonfirmasi pernyataannya pada Sila.


Sila terdiam membeku. Sila tahu siapa Frank. Dan Sila tidak pernah melihat Frank menunjukkan ekspresi yang begitu menyeramkan seperti ini.


“Dia sudah memberitahukan semuanya… Hmmm… Sepupunya Sila kan?!” Frank turun dari pagar pembatas berjalan pelan menghampiri Kai.


Frank lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Kai untuk kemudian membisikkan beberapa kalimat yang begitu mengejutkan bagi Kai.


“Kau pikir aku tidak sanggup menjaga Nona dari cecunguk macam Sandi?”


Kai meneguk ludahnya dalam-dalam setelah merasakan hawa dingin di setiap suku kata yang keluar dari bibir Frank.


“Aku sengaja melakukannya untuk memancingmu. Hmm… Pemilik Sistem yang baru?!”


Bagaikan tersambar geledeg seluruh tubuh Kai terasa merinding.


‘A… Ada yang mengetahui soal Sistem? Dan… O… Orang itu adalah Frank?’


[Sistem pada dasarnya memang merupakan sebuah rahasia besar yang dipendam. Tapi ada banyak yang mengetahui soal keberadaan dari Sistem.]


Sistem menjawab pertanyaan Frank.


Kai merapikan kembali keberaniannya yang sudah berantakan lalu balas berkata pelan, “Oh… Kau mengetahuinya ya Bonar?”


Giliran mata Frank yang membulat. Hanya ada satu orang yang mengenalnya dengan nama Bonar. Dan orang itu adalah Kai. Cucu angkat dari almarhum tuan yang sangat dicintainya.


“Hahahahahaha…” Frank tertawa keras sambil menengadah dan menutup kedua matanya dengan sebelah tangannya.


“Menarik! Menarik sekali!”


“Sila! Boleh kupinjam dulu pahlawan mu ini ya?” Frank meminta izin kepada Sila.


“Pin… Pinjam?” Sila tidak mengerti.


“Kami ingin mengobrol sejenak!” jawab Frank sambil menggemeretakkan kedua kepalan tangannya. Kiri dan kanan.


“F… Frank! Ja… Jangan!”


BLARRRR!!!

__ADS_1


➖ Bersambung ➖


__ADS_2