
Author's Note :
Novel ini tengah mengalami revisi total. Sehingga gue sarankan teman-teman untuk berhenti membaca sampai di sini.
Karena temen-temen tidak akan bisa mendapatkan kabar up. Temen-temen bisa membuka kembali Bab ini saat senggang.
Bila pesan ini menghilang, itu berarti gue udah melakukan update.
...β x β...
"Kai... Kika... Berhati-hatilahβ¦" Yono menggeram dalam hati. Dia benar-benar mengkhawatirkan keselamatan dari Kai dan Kika namun di sisi lain dia juga tidak bisa membantu Kai dan Kika tanpa perhitungan. Karena dia juga masih memikirkan keselamatan diri dan keluarganya.
Satu-satunya yang bisa Yono lakukan saat ini hanyalah mendoakan dan berharap keselamatan keselamatan bagi mereka berdua.
Yono lalu menunduk terdiam. Kemudian dia menengadahkan kepalanya memandang gelapnya langit malam karena beban yang memenuhi gudang pikirannya.
Kepala Yono kini tidak hanya terbebani oleh kekhawatiran akan nasib dari Kai dan juga Kika. Di dalam hatinya Yono juga merasa bimbang. Besok mereka semua akan segera pergi menyusul Kai ke Bandung. Dan Yono tidak bisa membayangkan seperti apakah nasib masyarakat Desa Cijagung setelah dia dan kawan-kawannya pergi dari sini.
Yono merasa yakin. Setelah Juragan Agung menyadari kalau dirinya telah pergi dari Cijagung. Maka Juragan Agung akan langsung menunjukkan sifat aslinya tanpa harus lagi ditutup-tutupi.
Tapi di sisi lain Yono sadar kalau mereka semua memang harus pergi. Hal ini karena Yono juga harus memikirkan keselamatan keluarga dan kawan-kawannya. Mereka semua sudah tidak aman jika terus berada satu tanah dengan Juragan Agung. Apalagi kalau Juragan Agung tahu kalau mereka semua telah membantu Kai dan Kika lari dari Cijagung.
'Aku berjanji. Nanti aku akan kembali lagi untuk menghancurkan bajingan itu," tekad Yono dalam hati.
Saat Yono mengepalkan tangannya dengan kebulatan tekad, Udin tiba-tiba nyeletuk.
"Yono... Hutang motorku sekarang udah dianggap lunas kan? Soalnya motorku tadi udah dibawa sama si Kai."
Udin memanfaatkan nama Kai di hadapan Yono demi lunasnya hutang yang dia miliki.
Urat di pelipis Yono mendadak muncul sambil berkedut-kedut. Yono yang malas menjawab, memilih untuk diam tak membuka bibirnya sama sekali.
"Kalau diam berarti lunas kan?" seenak jidat Udin menyimpulkan arti dari reaksi yang diberikan Yono.
Yono menjawab celetukan Udin tersebut dengan melotot tajam ke arah Udin. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ke ramah tamahan.
Glek!
Udin menelan ludahnya dalam-dalam.
"Oh... Berarti belum lunas ya?" bisik Udin sambil menundukkan pandangan.
Mau dibilang serius ataupun bercanda. Di tengah situasi seperti saat ini, apa yang dikatakan Udin agak-agak keterlaluan.
β π±π±π± β
Kai memacu motor trail yang dia pinjam dari Udin dengan secepat mungkin. Di belakangnya Kika dengan erat memeluk pinggang Kai. Sementara si Dede Kika gendong dan dihimpit di antara punggung Kai dan perut Kika agar sebisa mungkin terhindar dari terpaan angin.
Sambil memeluk erat Kai agar tidak terjatuh, Kika dengan berbagai cara berusaha membuat Dede agar tetap tidur dan tidak menangis.
Ada untungnya mereka tadi tergesa-gesa dan langsung pergi. Sehingga baik Kai ataupun Kika, tak satupun dari mereka yang membawa apa-apa lagi selain apa yang mereka kenakan saat ini. Dengan begini, Kai menjadi lebih mudah memacu motor yang ditungganginya tanpa harus menjaga keseimbangan barang bawaan.
'Ayooo... Cepaaat...!' Kai berharap motor Udin yang sudah dipacu dengan maksimal ini bisa meluncur dengan lebih cepat lagi. Karena saat ini nasib Kai dan Kika bergantung pada seberapa cepat mereka berdua bisa sampai ke kota Bandung.
β π±π±π± β
Dalam laju motor yang memacu, Kai memicingkan matanya saat dia melihat ada sesuatu yang janggal di depan mereka.
"Kenapa Kai?" tanya Kika saat Kai dengan bertahap mengurangi kecepatan motornya.
__ADS_1
"Turunlah!" titah Kai pada Kika.
Kika menurut lalu turun dari motor disusul oleh Kai yang menstandarkan motor trail tersebut. Kika seketika terdiam saat dia sadar alasan dibalik Kai yang menghentikan laju motor tersebut.
Kika lihat kini tepat di hadapan mereka. Ada sekitar dua puluh orang yang berdiri di sisi kiri dan kanan bahu jalan. Bila melihat posisi sebuah mobil Jeep dan beberapa motor yang juga terparkir di sana. Sepertinya itu adalah kedaraan mereka.
Ke duapuluh orang tersebut saling memberi kode lalu berjalan dengan angkuh mendekati Kai dan juga Kika.
Tring!
[Misi berbahaya telah didapat.]
βββββ
β’ Melarikan Diri
Kalahkan ke dua puluh preman sewaan Juragan Agung. Bila Host melarikan diri maka misi akan dinyatakan gagal.
Hadiah Misi :
β’ [Kemampuan Spesial] Dokter Sihir
β’ [Kemampuan Spesial] Ahli Bela Diri Kuno
β’ [Item] Kartu Kesempatan (x5)
Hukuman Misi :
β’ Host meninggal dunia
β’ Nasib tragis bagi Kika dan Dede
βββββ
[Benar Host. Saat ini Host berada dalam situasi antara hidup dan mati. Sistem memberikan ini sebagai apresiasi bila Host berhasil bertahan hidup.]
'Kenapa kau tidak menyelamatkanku saja?'
[Hidup dan mati Host berada di tangan Host sendiri. Bukan di tangan sistem.]
'Kalau aku kabur, berarti aku gagal?'
[Ya Host.]
'Kalau aku gagal. Berarti aku mati.'
[Betul Host.]
'Padahal kan kabur juga adalah solusi dari situasi ini?'
[Kalau Host kabur, Mereka akan tetap dapat menemukan Host dan juga membunuh Host.]
'Hmm... I see...'
'Terus yang lebih parahnya lagi, kalau aku gagal, maka nasib tragis akan diterima oleh Kika dan juga Dede?'
[Betul Host.]
'Sistem.'
__ADS_1
[Ya Host?]
'Apakah mereka akan menderita seumur hidup mereka atau hanya sementara waktu saja?'
[Mereka akan dibuat menderita selama sisa hidup mereka. Hanya Host yang dapat menyelamatkan mereka berdua.]
'Tapi kalau aku berhasil...'
Kai membaca keterangan hadiah dari misinya. Dengan mengalahkan ke dua puluh orang tersebut, Kai akan mendapatkan dua kemampuan spesial dan lima kartu kesempatan. Hadiah yang sebetulnya cukup sepadan dengan resiko yang ada.
βββββ
Penyimpanan Sistem :
β’ Kartu Kesempatan (x1)
βββββ
'Aku sudah memiliki satu kartu kesempatan, berarti dengan begini aku bisa memiliki enam kartu kesempatan bila menyelesaikan misi ini?'
[Ya Host.]
'Baiklah... Tidak ada jalan lagi.'
[Berhati-hatilah Host!]
Sistem memberi peringatan pada Kai.
'Hehe... Kau meremehkanku... Aku mempunyai satu cara untuk keluar dari situasi ini.'
[Oh ya? Bagus Host. Sistem dapat merasakan rasa percaya diri yang tinggi dari dalam diri Host.]
'Gunakan kartu kesempatan!' teriak Kai dalam hati
[Eh?]
Sistem terkejut sejenak dengan apa yang Kai katakan.
'Kok bengong? Bukankah kartu kesempatan bisa kugunakan untuk meloloskanku dari situasi yang sulit?'
[Host benar.]
'Kalau begitu Aku benar-benar ingin menggunakan kartu kesempatanku!'
[Kartu Kesempatan Telah Digunakan!]
'Semoga saja sebuah kemampuan bela diri tingkat tinggi untuk mengalahkan mereka semuannya, Kai berharap.
[Selamat Host!]
[Host telah mendapatkan sebuah rumah dengan harga dua puluh milyar yang terletak di pinggiran Kota Bandung.]
[Rumah tersebut mempunyai luas empat ribu meter persegi. Dan memiliki empat tingkat lantai.]
'A... Apa?! Kok rumah?!'
[Sistem mendeteksi kalau saat ini Host sangat membutuhkan rumah di Bandung.]
'Tapi masak aku memang membutuhkan ini sih?! Yang paling aku butuhkan sekarang adalah cara untuk mengalahkan mereka semua!'
__ADS_1
β Bersambung β