Memulung Kejayaan

Memulung Kejayaan
Kisah 11 : Kenyataan Pahit (Bagian 1)


__ADS_3

"Ka... Kai..." suara Kika sedikit bergetar. Dia terduduk lemas sambil tetap berusaha memeluk Dede erat. Setelah melihat betapa menyeramkannya pertempuran yang terjadi, Kika sudah tak sanggup lagi untuk berdiri.


Di hadapan Kika kini mengepul asap yang begitu tebal. Kepulan asap yang membumbung tinggi itu berasal dari mobil dan juga motor yang sudah berubah menjadi serpihan rongsokan.


Trap Trap Trap...


Kai dengan perlahan berjalan keluar dari gumpalan asap tebal di hadapan Kika.


Kai berjalan dengan sedikit gontai. Dengan susah payah Kai menyeret tubuhnya yang dipenuhi oleh berbagai jenis luka.


Kai menunjukkan gurat ekspresi yang sangat datar. Kai menatap lurus ke depan dengan bola mata yang berubah menjadi abu. Kosong. Bola mata Kai terlihat tidak memiliki jiwa.


Kai berjalan dengan sangat perlahan. Ada perasaan aneh yang memenuhi sanubari Kai pasca menghabisi seluruh preman yang menghadangnya.


"Kamu nggak papa Kai?" tanya Kika sambil berusaha berdiri guna menyambut pria yang telah menyelamatkan dirinya tersebut.


"Aku nggak papa. Kalau kamu?" jawab Kai singkat.


"A... Aku nggak papa," Kika berhasil bangkit dan mengalungkan lengannya pada lengan Kai. Kai dapat merasakan tubuh Kika yang bergetar karena begitu ketakutan.


Kai kemudian berbalik menatap kepulan asap yang berasal dari tempat bekas area pertempuran.


Asap yang tebal perlahan menipis sebelum kemudian benar-benar menghilang.


Kai dan Kika langsung terkesiap saat mereka lihat lautan merah terhampar di hadapan mereka.


Kai tersadar kalau dia baru saja membunuh orang. Bukan satu, dua, atau tiga orang. Kai telah membunuh ke dua puluh orang yang tergeletak tanpa nyawa di depan sana.


Sadar dengan apa yang telah dia perbuat, tatapan kosong Kai menjadi semakin kosong.


Dengan wajah tanpa ekspresi Kai berkata pada Kika, "Peluk aku erat-erat. Jangan pernah dilepaskan!"


Kika bengong tak mengerti apa yang diinginkan oleh Kai. Kai pun tidak mengatakan apapun untuk menjawab ekspresi bengong dari Kika


Tapi saat Kai melihat kondisi jalanan di depan mereka yang sudah sangat hancur berantakan. Kai menyimpulkan mereka tidak mungkin bisa melanjutkan perjalanan menggunakan motor Udin.


Namun di sisi lain, tetap saja Kai tidak bisa kembali lagi ke desa Cijagung. Untungnya saat ini Kai terpikirkan sebuah solusi agar bisa sampai ke Kota Bandung dengan selamat.


"Apakah kau pernah mencoba untuk terbang?"


"Belum," jawab Kika.


"Bersiaplah, mungkin pengalaman pertamamu akan sedikit bikin pusing."


Kai mengatakan kalimat seakan dia sudah pernah mencoba untuk terbang untuk sekedar menenangkan Kika. Padahal ini juga merupakan pengalaman pertamanya. Ditambah lagi, Kai belum tahu apakah idenya ini akan berhasil atau tidak.


"Peluk saja aku seerat mungkin, kita akan terbang sekarang."


"Apakah maksudmu kau akan membawaku dengan ilmu peringan tubuh seperti yang barusan aku lihat?" tanya Kika.


"Bisa dikatakan begitu."


Kika mempererat gendongan Dede lalu menalikan kedua tangannya pada leher Kai. Sementara kedua kakinya Kika lilitkan pada kaki Kai.


"Apakah begini cukup?" tanya Kika.

__ADS_1


Kai mengangguk. Karena Kai berencana akan menggunakan kedua tangannya, sehingga nanti Kai tidak akan bisa memegangi Kika.


"Sudah siap?" tanya Kai pada Kika.


"Aku siap," Kika mengangguk mantap.


Kai kemudian melemparkan batu kerikil sekuat-kuatnya ke angkasa.


'Pulung!' Kai dan Kika pun langsung mengangkasa.


Kai dengan cepat pindahkan batu kerikil di tangan kanan ke tangan kirinya, lalu dia lemparkan lagi batu tersebut sejauh mungkin.


'Pulung!' Kai dan Kika berhasil bergerak maju di angkasa saat Kai memulung batu kerikil yang dilempar Kai barusan.


Sebelum mereka terjatuh, Kai kembali pindahkan kerikil ke tangan kiri. Lalu dia lemparkan kerikil itu lagi.


'Pulung!'


Zap!


'Pulung!'


Zap!


'Pulung!'


Zap!


Kai dan Kika terlihat melayang-layang terbang di udara dengan kecepatan yang cukup tinggi. Tapi dikarenakan kekuatan lemparan Kai tidak begitu bertenaga. Kai tidak melaju dengan kecepatan yang sesuai dengan harapan Kai.


Dari atas sana Kai melihat atap rumah penduduk yang berjarak ratusan meter di depan mereka.


'Pulung!'


Zap!


'Ah. Berhasil!' pekik Kai.


Kai lalu melemparkan kerikil di tangannya ke udara.


'Pulung!'


Dari ketinggian, jarak pandang Kai menjadi semakin luas. Lalu saat Kai lihat sebuah tower sinyal seluler yang berjarak beberapa kilometer di depannya, kembali dia mengaktifkan kemampuan spesialnya.


'Pulung!'


Dengan memanfaatkan kemampuan spesial pulung, kecepatan tempuh perjalanan mereka berdua menjadi jauh lebih cepat daripada saat mereka naik motor trail milik Udin.


Kai menyesal. Seandainya Kai menggunakan cara ini dari awal, mungkin Kai tidak akan dihadang oleh para preman dan berubah menjadi seorang pembunuh.


"Aku seorang pembunuh..." bisik Kai sambil melemparkan kerikil di tangannya kembali.


Kika yang tanpa sengaja mendengar bisikan suara Kai mencoba untuk memeluk Kai dengan lebih erat agar Kai menjadi lebih tenang.


Namun Kai tetap bersikap dingin. Berkonsentrasi tanpa ekspresi. Merasa pelukan tak cukup membuat Kai tenang, Kika serta merta mencium bibir Kai dengan penuh kelembutan.

__ADS_1


"Terima kasih Kai... Kau telah menyelamatkanku dan juga Dede," kata Kika


Kai mendengar kejujuran asa yang disampaikan oleh Kika. Namun Kai tidak memperdulikannya dan kembali bergumam, "Aku adalah seorang pembunuh."


Kika meneteskan air matanya. Dia merasa bersalah karena telah menyebabkan Kai berada pada kondisi mental seperti sekarang ini.


"Tolong jangan menyalahkan dirimu Kai. Kamu adalah penyelamat hidupku dan juga Dede," bisik Kika pada Kai.


Kai tetap tak menjawab. Dia terus berkonsentrasi dalam diam saat mengaktifkan kemampuan spesial miliknya.


➖ 📱📱📱 ➖


Dalam waktu kurang dari 10 menit, akhirnya mereka telah sampai di pinggiran Kota Bandung.


'Apakah itu rumahnya?' tanya Kai pada Sistem.


[Betul Host.]


Berdasarkan petunjuk dari Sistem, Kai diarahkan untuk menuju ke rumah barunya. Rumah tersebut sangat tidak pantas untuk disebut sebagai sebuah rumah. Dia lebih pantas untuk disebut sebagai sebuah istana.


'Pulung!'


Kai dan Kika berteleportasi tepat ke depan pintu istana. Akhirnya mereka sudah sampai juga ke lokasi tujuan mereka.


"I... Ini rumah siapa Kai?" tanya Kika terkagum.


"Rumah aku," jawab Kai.


"Ka... Kamu beli rumah ini untuk kita tinggali?" tanya Kika.


"Bisa dikatakan begitu," Kai berbohong. Wajah Kika bersemu merah.


'Dimana kunci rumahnya?' tanya Kai pada Sistem.


[Rumah menggunakan face recognition lock. Buka saja!]


'Baiklah.'


Cklek!


Dengan mudah Kai membuka pintu rumah yang diam-diam sudah memindai wajahnya tersebut.


Kai dan Kika masuk ke dalam rumah yang sangat luas dan juga megah. Begitu masuk, Kai dan Kika langsung disambut oleh berbagai perabotan yang juga terlihat super mewah.


"Wow... Kai... Rumah ini luar biasa sekali..." Kika kembali terkagum.


Kai masih merasakan ganjalan besar di dalam hatinya. Dengan nada datar, Kai berkata pada Kika, "Kamu harus menidurkan Dede secepatnya. Kamu bisa menggunakan kamar manapun yang kamu suka."


Kika dapat turut merasakan pedih yang tengah dirasakan oleh Kai. Kika hanya mengangguk perlahan.


"Aku akan menunggumu di sana. Lukamu harus segera diobati," lanjut Kai sambil menunjuk sebuah bar tak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Baiklah," jawab Kika setengah berbisik.


Kika pandangi sejenak Kai yang berjalan perlahan menuju Bar. Lalu dia pun berbalik badan mencari kamar yang bisa dia gunakan di istana super megah ini.

__ADS_1


Kika yang belum hafal denah rumah ini akhirnya memutuskan untuk memilih kamar pertama yang berhasil dia temukan.


➖ Bersambung ➖


__ADS_2