
...• Bab 26 •...
...Altar Berdarah...
...– Bagian 3 –...
...•••...
...[Rating 21+]...
...Selain mengandung unsur kekerasan fisik dan juga kekerasan psikis, cerita ini juga dibumbui oleh hubungan tanpa ikatan pernikahan serta berbagai unsur yang berhubungan dengannya....
...Walaupun banyak referensi yang diambil dari fakta juga sejarah di dunia nyata. Tapi cerita ini merupakan sebuah kisah fiksi yang terjadi di alam semesta yang berbeda dengan dunia nyata....
...•••...
Di dalam gang. Yono melihat ada sebuah pintu kecil berbahan besi yang tersembunyi. Yono memejamkan matanya sambil meraba pintu tersebut seakan sedang merasakan sesuatu.
Yono lalu mencium tangan yang barusan merabai pintu besi bagaikan seekor anjing pencari jejak.
'Sepertinya mereka memang benar-benar ada di dalam sini!' bisik Yono dalam hati.
By the way... Yono kok jadi aneh begini...? Emangnya insight apa sih yang ditanamkan Sistem pada Yono barusan?
Dang dang dang!
Yono memukul-mukul pintu besi dengan kencang.
Dang dang dang!
Tak ada jawaban. Yono kembali menggedor pintu besi tersebut. Yono berhenti menggedor saat dia secara samar-samar mendengar ada suara langkah kaki mendekati pintu.
Srak!
Di dalam pintu besi itu sepasang mata seketika terlihat di celah intip yang tiba-tiba terbuka.
"Ada apa?!" tanya pria tersebut.
"Apakah benar ini tempatnya Tuan Francis?" Yono asal menyebutkan nama.
"Bukan! Kau salah tempat!" ujar orang tersebut.
Srak!
Celah intip tersebut kembali tertutup dengan rapat.
__ADS_1
"Sial... Padahal aku udah siapin uangnya... Dasar Tuan Francis penipu! Nyiapin uang lima ratus juta bukan perkara yang mudah untuk dilakukan tahu..." teriak Yono sambil menendang angin dengan kesal.
Srak!
Celah intip kembali terbuka.
"Ada keperluan apa kamu mencari Tuan Francis?' tanya sepasang mata yang kembali muncul di sana.
'Dasar amatiran!' Yono tersenyum dalam hati saat melihat sepasang mata tersebut muncul kembali.
"Aku ingin membayarkan uang yang Tuan Francis minta," jelas Yono dengan mata kucing penakut. Jago juga aktingnya si Yono ini!
Yono sangat yakin kalau penculik Dede dan si Mbak adalah para preman amatiran. Karena bila mereka adalah penculik profesional, tentu mereka tidak akan mampir dulu ke tempat ini hanya untuk menyalurkan hasrat sesaat mereka.
Bagi seorang kriminal profesional, menyelesaikan tugas secepat dan serapi mungkin adalah perkara yang utama. Jauh lebih penting daripada menikmati kepuasan sesaat.
"Dimana uangnya?!" tanya orang tersebut.
"Ada di dalam mobilku," jawab Yono cepat.
"Tuan Francis bilang, sebaiknya kamu bawa uang itu ke sini segera!" jawab orang dibalik pintu.
'Fruncas Francis... Giliran denger duit langsung ijo lu!' ejek Yono dalam hati.
"Tapi tadi kamu bilang kalau nggak ada yang namanya Tuan Francis di sini..." sambar Yono dengan nada mengalun.
"Oh... Ta... Tapi aku takut kalau harus membawa uangku sendiri. Aku ingin ada yang menjagaku saat mengambilnya..." jawab Yono dengan kemampuan akting tingkat dewanya.
Mendengar jawaban dari Yono, sepasang Mata itu tampak terdiam berpikir sejenak.
"Sebentar!"
Srak!
Kedua bola mata itu kembali menutup celah intip pada pintu lalu samar terdengar suara langkah kaki menjauhi pintu.
Yono menduga kalau pria itu sedang berdiskusi dengan kawan-kawannya. Jelas terlihat dari cukup lamanya celah intip tersebut tertutup.
Grak! Grak!
Terdengar pintu besi tebal itu sedang berusaha dibuka. Yono yang berada dibalik pintu kembali mengurut bagian lipatan majalah di tangannya yang barusan sudah dia asah.
Kriet...
Pintu besi perlahan terbuka. Yono lihat sedikit celah terbentuk dari pintu yang sedang ditarik dari dalam.
__ADS_1
Duagh!
Yono tendang keras pintu besi tersebut hingga terbuka lebar. Membuat sosok yang ada di balik pintu turut terpelanting cukup jauh.
Yono langkahkan kakinya memasuki ruangan tersebut. Sesuai dugaannya. Dia melihat Mbak Babysitter terbaring di sebuah meja tanpa pakaian. Kakinya tampak melebar dan terjuntai. Di hadapan Mbak tampak seorang pria yang terbengong dengan batang yang masih menancap.
Dari kerumunan pria tak berpakaian di sekitarnya, terlihat jelas kalau si Mbak telah menjadi korban dari sebuah tindakan pemer kaos an yang dilakukan oleh para penculiknya.
Tak berniat untuk menerjang langsung ke arah para penggarap lahan milik si Mbak. Yono langsung mencari dimanakah letak calon anak sambungnya.
'Ah! Untunglah!' bisik Yono lega.
Yono melihat kalau di atas sofa, si Dede tampak sudah tidak sadarkan diri. Entah dibius atau kenapa. Yang pasti. Dengan masih hidupnya si Dede saja. Sudah sangat cukup untuk membuat Yono merasa bersyukur.
Namun bukan penculik amatir namanya kalau pekerjaan mereka dapat dilakukan dengan rapih dan tanpa kekerasan yang tidak perlu.
"Kurang ajar!" Yono menggeram dalam hati ketika dia lihat di tangan Dede ada sedikit luka akibat cengkraman yang begitu kuat.
'Mudah-mudahan nggak sampai patah,' Yono hanya bisa berharap.
Yono melihat berkeliling. Dia sedikit berhitung. Di sebelah Dede yang sedang terbaring di atas sofa ada seorang pria yang sedang merokok dan ngopi. Orang tersebut tengah terkejut melihat temannya yang barusan terjengkang. Selain satu orang yang sedang menancapkan batang, ada tiga orang lagi yang sedang mengelilingi Mbak Babysitter. Semuanya tanpa pakaian.
'Enam orang!' Yono simpulkan kalau ada ada enam orang yang harus dia hadapi sekarang.
"Kurang Ajar!" orang yang barusan terdorong dan terpelanting langsung bangkit dan menyerang ke arah Yono. Yono yang melihat ini tidak bergetar. Dengan lipatan majalah di tangannya Yono langsung menyabet leher orang itu hingga darah menyembur dari tenggorokan bagaikan hewan qurban.
Darah segar yang menyembur seketika itu juga membasahi wajah Yono dan jas putih yang dikenakannya.
Yang benar saja! Selembar kertas majalah?! Itu adalah sebuah senjata yang sama sekali tidak diduga-duga.
Yono menoleh ke arah sofa lalu menerjang. Yono genggam tangan pria yang sedang merokok di sebelah Dede lalu Yono masukkan tangan tersebut ke dalam mulut si Preman.
"Hmph!" bara api rokok terdengar berdecis dari dalam rongga mulut pria tersebut. Preman tersebut meronta ingin memuntahkan batang rokok di mulutnya. Tapi apa daya. Yono menahan mulut orang tersebut hingga tak dapat dibuka.
"Rokok tak baik bagi kesehatanmu!" Yono menasihati pria itu yang melotot menahan sakit.
"Tapi kalau kopi. Sekali-kali bolehlah..." ujar Yono sebelum mengayunkan gelas kopi ke ubun ubun pria tersebut.
Prang!
Gelas di tangan hancur berantakan. Menyisakan gagang gelas di genggaman tangan Yono. Tak puas. Yono tancapkan gagang itu hingga menusuk kedua bola mata si pria. Lalu Yono lempar tubuh orang itu sejauh mungkin.
"Jangan sampai darah kotormu mengenai putraku!" kata Yono saat sekuat tenaga melemparkan preman itu.
Yono tidak sembarangan melempar. Karena begitu mendarat, sebuah besi tajam terlihat menancap menembus jantung sang Preman.
__ADS_1
...• Bersambung •...