Memulung Kejayaan

Memulung Kejayaan
Kisah 24 : Laksa Utama dan Keluarga Prayoga (Bagian 1)


__ADS_3

Di sebuah jalanan dimana terdapat banyak puing-puing bangunan di atasnya. Tercipta sebuah bola angin yang berputar. Bola tersebut mengecil sejenak kemudian melebar dengan cepat menghasilkan sebuah ledakan ringan. Tepat di tengah bekas ledakan angin itu berdirilah seorang pemuda berkulit legam dimana jari telunjuk kanannya tertanam di salam satu lubang hidung. Sementara tangan yang lain bergerak menggaruk pantatnya.


'Oh... Begini toh sensasinya..." bisik Kai di dalam hatinya.


Walaupun tanpa pengalaman sebelumnya. Dan ini adalah teleportasi yang pertama kali dipraktekkan oleh Kai. Ternyata dia berhasil melakukan teleportasi ini dengan sangat baik.


Ya iyalah berhasil! Wong semuanya juga berkat bantuan serba instan yang diberikan oleh Sistem! Kai mah cukup ngupil juga semuanya udah dijamin beres.


Kai yang kurang dari sedetik yang lalu masih berada di gunung salak. Kini telah berada di tengah-tengah Kota Bandung yang tampak porak poranda. Tepatnya di distrik dimana apartemen Sila berada.


"Wah... Kalau begini sih aku kemana-mana bisa sampai lebih cepat dari semua orang dong!" bisik Kai yang dengan bangganya membayangkan kalau si Frank masih dalam penerbangan ala Superman nya.


Sementara itu di tempat lain sebuah bulu halus dari seekor burung hinggap ke hidung Frank yang sedang melesat terbang dengan cepat.


"HAZEUM!" bulu tersebut menyebabkan gatal yang memancing Frank untuk bersin.


Tak ada orang yang bersin bisa sambil melek. Bahkan Frank juga begitu. Frank seketika terkejut saat dia membuka matanya.


"Argh! Hampir saja!" kehilangan konsenstrasi, Frank yang sedang terbang menjadi oleng dan nyaris menabrak sebuah tower pemancar seluler.


"Bangsat! Siapa yang ngomongin aku sih?!" umpat Frank yang kembali melesat cepat setelah memperbaiki lintasan terbangnya. Jari kirinya sibuk menggaruk hidung nya yang terasa begitu gatal.


Kalau yang ngomongin sih sebenarnya nggak ada! Kalau yang mikirin sih iya ada!


Sementara Frank melanjutkan penerbangannya yang sempat terganggu, di tengah kota Bandung yang porak poranda terlihat Kai sedang berdiri tenang sambil mencari sosok Sila.


'Itu dia!' tak jauh dari tempat Kai berdiri. Kai melihat Sila tengah berdiri menghadap bukan ke arah dirinya. Sehingga Sila tidak menyadari kehadiran dari Kai di dekatnya


Kai perhatikan Sila sedang celinguk kanan, celinguk kiri tampak seperti sedang mencari sesuatu. Kai tersenyum karena menduga kalau sang bidadari sedang mencari dirinya.


"Hai Sil..." Kai menyapa Sila.


Sila menoleh ke arah sumber suara. Wajah Sila tampak menunjukkan sebuah sirat ekspresi penuh kekhawatiran.

__ADS_1


"Eh Kai!" sahut Sila yang langsung memeluk sosok pahlawan di dalam hatinya itu.


Sebagai lelaki normal. Kai sih langsung menerima dengan senang hati pelukan yang diberikan oleh wanita yang kecantikannya tiada tara tersebut. Bahkan Kai harus menahan diri karena hampir saja dirinya melakukan tindak lanjutan daripada sebuah pelukan kekhawatiran.


"Nyari siapa Sil?" tanya Kai menatap wajah Sila yang tinggi badannya hanya mencapai dada bidang Kai.


"Nyari kamu lah!" protes Sila sambil mengerucutkan bibirnya. Lucu.


"Kamu khawatir padaku?" tanya Kai pura-pura tidak mengerti.


"Ya iyalah...! Jadi kan barusan pas Frank memukul kamu. Aku tuh terkejut banget karena efek dari pukulan Frank langsung bikin apartemen aku hancur porak poranda. Gila aja kan si Frank kekuatannya udah kayak Super hero aja. Tapi aku terus sadar kalau ternyata itu bukan akibat dari pukulan Frank. Tapi karena kebetulan aja barusan terjadi gempa dahsyat di waktu yang berbarengan sama Frank mukul kamu."


"Terus?"


"Ya yang jadi masalahnya kalian berdua langsung menghilang setelah terjadi gempa! Kan aku khawatir. Aku dari tadi nyari-nyari. Manggil-manggil. Tanya sini tanya situ. Takutnya kalian terjatuh atau tertimpa reruntuhan."


Kai tersenyum simpul, "Makasih udah khawatir. Barusan kami berdua emang terjatuh. Tapi kami tidak apa-apa kok."


Kai enyimpulkan kalau seluruh pertarungan yang terjadi antara Kai dan Frank memang terlalu cepat untuk ditangkap oleh penglihatan manusia biasa. Sehingga walaupun seluruh kejadian dimulai tepat di hadapan Sila. Tapi Sila sama sekali tidak bisa menangkap detail kejadian yang sesungguhnya.


"Aku di sini," jawab Frank yang baru saja mendarat. Frank menatap Kai dengan tatapan heran karena tadi dia tidak melihat Kai melewatinya.


Sadar dengan tatapan keheranan Frank. Kai memberikan Frank gestur mengikuti meme mindblowing untuk sekedar mengejek Frank.


Frank tidak peduli dengan sikap kekanak-kanakan Kai dan lebih memilih untuk membersihkan debu yang menempel di pakaian Sila.


"Nona nggak papa?"


"Nggak papa."


"Kalau begitu saya permisi dulu Nona... Saya harus memeriksa kondisi Tuan Pasal."


"Oh iya... Kudengar dia terakhir sedang berada di Kabupaten Cianjur. Dan gempa ini kalau nggak salah katanya sih memanjang sampai melewati Kabupaten Cianjur. Dan memang aku dari tadi nggak bisa menghubungi Papah," jelas Sila mendetail pada Frank.

__ADS_1


"Tuan sedang di Cianjur? Ngapain?!" Frank terkejut karena sepengetahuannya Pasal sedang berada di Jakarta.


"Iyah... Katanya Papah pengen mancing di Cirata. Udah kelamaan koma. Jadi kangen sensasi mancing."


"Baiklah! Aku akan segera mengabari Nona bila sudah mendengar kabar dari Tuan," Frank berkata dengan nada yang cukup datar. Tapi dari gerakan kornea Frank, Kai tahu kalau Frank merasa kaget karena kondisi Tuannya saat ini dalam tanda tanya besar karena kesemena-menaan yang telah Frank lakukan pada Kai barusan.


'Nah loh Frank... Gegabah sih lu...!' ledek Kai di dalam hati.


"Sil... Yuk..." setelah Kai lihat Frank meninggalkan mereka dengan sedikit berlai, Kai kemudian mengajak Sila pergi meninggalkan tempat yang berantakan ini.


"Mau ke mana kita Kai?" tanya Sila penasaran.


Mulut Sila memang bertanya dengan nada sangsi. Namun gestur tubuh Sila seakan berkata,'Kemanapun kamu pergi. Tolong bawa serta aku Kai...'


"Beli Penthouse yuk!" Kai mengajak Sila untuk membeli tempat tinggal baru yang dapat mereka tempati.


Sila melongo mendengar kalimat bernada santai yang diucapkan oleh Kai. Kai berniat membeli Penthouse. Tapi dari nada kalimat tersebut. Kai membeli Penthouse kayak yang mau beli sebungkus kacang sukro seharga dua ribuan.


"Kamu aslinya mau beli penthouse sekarang?"


"Iyah..."


Dari raut ekspresi yang Sila berikan, Sila berkata pada Kai, 'Seriusan?!'


Menangkap pertanyaan yang dilontarkan wajah cengo itu, Kai lalu menjawab, "Kan apartemenmu baru saja hancur berantakan. Ya wajar banget lah kalau kita langsung beli Penthouse baru untuk kita tinggali."


Kai yang dahulu kala terbiasa sedikit hemat dan cenderung pelit karena sering tidak punya uang. Kini sedang berusaha untuk menyamakan cara pandangnya dengan Sila yang super kaya.


Tapi yang Kai gagal paham, Kakek Arya bukanlah orang yang boros. Sehingga walaupun berharta jauh lebih banyak dari harta Kai di luar yang masih ada di Sistem. Alasan yang diberikan Kai tetaplah tidak masuk akal.


Lagian ya... Sekaya-kayanya orang kalau baru kena bencana begini paling banter nya bakal kepikiran buat nginep di hotel. Bukan nya langsung kepikiran beli penthouse baru saat itu juga kan?!


Walaupun dalam kepala Sila tengah berkecamuk berbagai pertanyaan dan rasa heran. Tapi Sila tetap saia pasrah mengikuti ke mana Kai akan pergi.

__ADS_1


➖ Bersambung ➖


__ADS_2