
...• Bab 26 •...
...Altar Berdarah...
...– Bagian 5 –...
...•••...
...[Rating 21+]...
...Selain mengandung unsur kekerasan fisik dan juga kekerasan psikis, cerita ini juga dibumbui oleh hubungan tanpa ikatan pernikahan serta berbagai unsur yang berhubungan dengannya....
...Walaupun banyak referensi yang diambil dari fakta juga sejarah di dunia nyata. Tapi cerita ini merupakan sebuah kisah fiksi yang terjadi di alam semesta yang berbeda dengan dunia nyata....
...•••...
"Mbak udah aku buat perawan lagi. Tenang saja!" bisik Kai menghibur si Mbak. Tapi si Mbak hanya diam tak menjawab. Karena bukan itu masalah yang membuatnya kini merasakan trauma.
Tawa menjijikkan, pukulan, tendangan, cekikan, dan hentakan pinggul kasar. Semuanya masih tercitra dengan jelas di dalam ingatan si Mbak.
'Mudah-mudahan kamu bisa menghadapi ini semua,' bisik Kai dalam hati saat melihat kondisi si Mbak saat ini.
"Ya! Dialah pelakunya," Yono membenarkan.
Kai menghela nafas panjang. Kai memandangi si Mbak yang memiliki kecantikan di atas rata-rata.
Bagaikan seorang Psikopat. Kai malah bersyukur karena sang babysitter ini memang cantik. Sehingga para preman suruhan juragan Agung yang amatiran ini memutuskan untuk nyimpang dulu buat meraih kenikmatan sesaat.
Jika saja si Mbak ini tidak rupawan. Mungkin saat ini si Mbak sudah dibuang di sisi jalan, dan Dede sudah sampai di Cijagung.
Yono menggeram dalam diam. Dia kesal. Sebenarnya Yono sangat ingin untuk langsung menyerang Juragan Agung. Tapi Yono sadar kalau itu akan mengacaukan seluruh rencana yang sudah mereka rancang. Seperti yang Kai bilang, terlalu tergesa dalam bertindak hanya akan menimbulkan instabilisasi politik untuk ke depannya.
__ADS_1
Beberapa menit Kai hanya diam dan membiarkan emosi yang berkecamuk di dada Yono mereda.
"Yuk... Kamu harus segera menikah," kata Kai saat melihat Yono sudah lebih tenang.
Bukan Kai tidak pengertian. Tapi sebesar apapun masalah yang terjadi, seandainya sudah berhasil diselesaikan, ya sudah lupakan saja! Saatnya move on menghadapi sesuatu yang lain lagi.
"Yuk," jawab Yono sambil menggendong Dede. Sementara Kai memilih untuk menggendong si Mbak di punggungnya.
Bisa aja si Kai ini!
Saat berjalan meninggalkan ruang tersembunyi di ruko tersebut, Yono menelpon anak buahnya untuk mengambil motor yang barusan Yono gunakan. Sekaligus minta agar seluruh sisa-sisa pembantaian di TKP segera dibereskan. Malas juga kalau harus berurusan dengan pihak kepolisian.
Yono dan Kai pergi meninggalkan komplek ruko itu dengan memakai mobil van hitam milik para berandalan. Mereka meluncur dengan cepat untuk kembali ke istana milik Kai.
...•••...
Mobil yang dikendarai Kai dan Yono akhirnya sampai ke komplek Istana Kai. Walaupun sebelumnya Yono sudah memberitahukan Kika kalau Dede telah berhasil diselamatkan. Tapi mereka tetap saja menemukan Kika sedang menangis sesenggukan di kursinya.
DI sisi lain, Mbak Babysitter diraih oleh Kristal dari punggung Kai. Kai melihat bagaimana wajah Kristal menunjukkan ekspreai tidak suka saat Kai menggendong Mbak Babysitter. Tapi anehnya, ekspresi itu tak pernah tampak saat ia melihat Kai bermain panas bersama Sila, Yeyen, ataupun Mbak Ati.
"Aku akan mengantarkan Mbak ke kamarnya," izin Kristal pada Kai.
Kai mengangguk tanpa bersuara.
Yono berdiri memandangi Kika dan Dede dengan tubuh yang masih bersimbah darah. Dimana sebagian besar darah tersebut sekarang sudah terlihat mengering.
"Aku juga mau bawa Dede kembali ke rumah dulu," ujar Kika pada Yono.
Grep!
Gerakan Kika tertahan saat Yono terlihat menggenggam kuat bahu Kika.
__ADS_1
"A... Ada apa?" tanya Kika.
"Kita harus ke altar sekarang juga," ujar Yono dengan dingin.
"Kok gitu?!" Kika tentu saja langsung protes.
Tapi Kai mengerti apa yang dimaksud oleh Yono. Kai lalu mengambil Dede dari gendongan Kika untuk kemudian menyerahkannya pada Yeyen.
"Kai! Kok kamu juga sih! Setidaknya Yono harus mandi dan ganti baju dulu sebelum melakukan janji pernikahan kan?!" Kika semakin protes.
"Ka... Inilah sosok calon suamimu. Yang setiap hari akan terus bermandikan darah," ujar Yono sambil memalingkan muka untuk memandang ke arah altar.
"Mungkin... Suatu saat nanti kau tidak akan melihat aku bersimbah darah orang lain. Tapi oleh darahku sendiri," ujar Yono yang kembali menatap mata Kika tajam.
"Apakah kamu benar-benar mencintaiku dan kamu mau punya suami seperti aku? Kalau benar. Buktikanlah dengan tetap berjalan ke altar sekarang," tegas Yono pada Kika.
Kika menatap ke arah Dede yang tertidur. Lalu ke arah altar. Kika tersadar. Setiap hari Kika tentu akan menghadapi hal yang seperti ini. Keluarga Kika setiap hari tidak akan aman bila dia menikah dengan Yono.
Kika menatap ke arah Kai dan Kai membalas tatapan itu dengan senyuman penuh arti.
Kika mengusap derai air matanya.
'Benar. Jalan yang akan kami tempuh sejak bersama Kai, tak se pinky apa yang ada dalam khayalanku. Bukan! Memang sejak dulu. Hidupku penuh darah dan juga air mata! Kenapa aku sekarang malah ingin pernikahan yang indah bagaikan Cinderella?!' Kika bicara pada dirinya sendiri.
Yono langkahkan kakinya. Diikuti oleh Kika. Mereka berjalan perlahan menuju altar untuk mengikat janji suci. Kika tak lagi mempedulikan bau amis bercampur keringat yang terpancar dari tubuh Yono yang berlumuran darah kering.
'Ya! Inilah sosok suamiku!' Kika mempererat genggaman tangannya lurus menatap ke arah altar.
Sakral dan berdarah. Itulah suasana yang tercipta dalam pernikahan Yono dan Kika hari ini. Tapi, kecuali orang suci yang menunggu di atas altar. Tak ada penonton yang protes dengan suasana ini. Karena semua yang ada di sini akan hidup bersama darah dan air mata seumur hidup mereka. Bayaran setimpal untuk kejayaan yang mereka ingin dapatkan.
...• Bersambung •...
__ADS_1