
"Itu adalah nama keluarga istrinya Tuan Arya. Tapi nama keluarga Suganda sudah terputus sampai ke Istri Tuan Arya dan sampai saat ini sudah tidak ada lagi penerus bagi keluarga Suganda," Frank menjelaskan.
"Karena tidak ada turunan lelaki?" Kai penasaran.
"Ya," jawab Pasal.
"Kalau itu adalah nama keluarga dari istrinya Kakek, tentu aku akan mengambilnya sebagai nama keluargaku," jawab Kai senang.
Kai menganggap kalau apa yang dia lakukan ini bisa menjadi penghormatan bagi Kakek Arya.
"Syukurlah..." Pasal senang karena Kai bersedia mengambil nama keluarga dari Ibunya.
"Kris, tolong kamu buatkan kami identitas yang baru!" Kai meminta Kristal untuk membuatkan identitas baru bagi mereka semua.
"Siap."
"Selesainya berapa lama kira-kira?"
"Kalau kita memaksimalkan uang pelicin. Aku yakin akan selesai dalam dua hari," jawab Kristal.
"Okey."
"Tuan mau nama baru apa?" tanya Kristal. Kai tidak langsung menjawab.
"Apakah Kai Suganda sudah cukup?"
"Sebenarnya sudah cukup, tapi aku ingin tetap menggunakan nama Kakek di namaku."
"Bagaimana kalau kau gunakan saja nama Arya," usul Pasal.
"Oh iya... Kalau begitu nama baruku adalah Kai Arya Suganda. Bisa Kris?" simpul Kai.
"Bisa Tuan!" jawab Kristal pasa Kai.
"Lalu untuk Tuan Yono berarti menjadi Raja Sugiono Perkasa Suganda," Kristal menunjuk Yono.
"Tidak masalah buatku," jawab Yono.
"Nona Kika menjadi Kartika Wulandari Suganda."
"Jadinya namaku lebih panjang dong ya..."
"Lalu untuk Tuan Nurdin menjadi Udin Nurdin Suganda," lanjut Kristal.
"Aku tidak setuju!" jawab Nurdin cepat.
"Apa lagi sih Din?!" nada bicara Kai terdengar sedikit kesal.
"Mumpung Kita semua mau ganti nama aku pengen mengganti namaku menjadi lebih keren. Lebih Inggris gitu deh..."
"Kamu ingin namamu jadi apa memangnya?" tanya Kai.
"Bagaimana kalau jadi Yudain Nardain?" Udin hanya mengeja namanya dengan ejaan Inggris.
Kai tak menyatakan penolakan. Tapi tidak mengiyakan. Kai hanya mendiamkan usulan dari Udin.
__ADS_1
Walaupun tidak setuju dengan nama baru yang Udin usulkan, tapi Kai memikirkan dengan serius keinginan Udin untuk mengganti namanya.
"Din... Bagaimana kalau dihilangkan saja Udinnya?" Kai mengusulkan.
"Jadi Nurdin Suganda ya? Aku setuju!" jawab Udin.
"Lalu kalian akan memanggilku apa?" tanya Udin pada Kai.
"Udin!" jawab Kai, Yono, Kika, dan Mbak Ati kompak.
Sila tertawa melihat kekonyolan tingkah teman-teman barunya.
"Baiklah... Tuan Udin jadi Nurdin Suganda. Lalu... Noba Melati menjadi Melati Asmara Suganda," lanjut Kristal kembali mencatat.
"Hilangkan Asmaranya. Cukup Melati Suganda," usul Mbak Ati pada Kristal.
"Baiklah..." jawab Kristal.
"Mbak Ati sudah... Berarti sisanya tinggal Sila," tutup Kai.
Berbeda dengan kawan-kawan Kai yang lain, Sila berasal dari keluarga Prayoga. Kai merasa tidak enak kalau harus mengganti juga nama belakang dari Sila. Ditambah lagi... Karena status Sila yang saat ini merupakan pewaris tunggal dari Keluarga Prayoga. Mengganti nama belakang Sila adalah hal yang tidak mungkin dilakukan.
"Kamu memikirkan soal status Sila sebagai pewaris tunggal ya Kai?" tebak Frank.
"Benar," Jawab Kai.
"Apakah tidak bisa kalau aku membiarkan nama Sila menggunakan nama belakang Prayoga?"
"Bisa saja. Tapi itu melanggar kode etik Keluarga Kartel," jawab Pasal.
"Ya, tidak akan ada yang namanya Papi atau Godfather jika kode etik ini tidak penting," jawab Frank.
Sementara Kai tak berhasil terpikirkan jalan keluar bagi masalah ini. Pasal malah terlihat merekahkan senyuman.
"Ah... Aku ada ide!" Pasal kembali menggebrak meja karena senang.
"Apakah itu Paman?" tanya Kai.
"Gampang saja. Bagaimana malau kau menikahi anak ku Kai? Dengan begitu, nama belakang anakku akan otomatis berubah jadi Sila Suganda!" ujar Pasal sambil tersenyum lebar.
"Me... Menikah?!" pekik Kai terkejut.
Tidak hanya Kai. Semua orang di sana tampak sangat terkejut oleh betapa ringannya Pasal mengucapkan hal tersebut.
Bahkan Sila sendiri ikut terkejut. Walau wajahnya tampak memerah karena tersipu malu.
Melihat reaksi luar biasa dari semua orang. Pasal melirik ke arah Frank sambil mengacungkan jempol seakan berkata, "Bagus kan usulan aku?"
Frank jawab dengan menunduk kan kepala dan mengurut jidatnya.
"A... Apakah aku nggak salah dengar Paman?" tanya Kai kembali.
"Ya Kai... Kamu nggak salah dengar. Sejak aku sekarat, aku merasa kalau aku membutuhkan keturunan. Aku bersyukur kemarin Gugun di eliminasi jadi calon menantuku. Karena seluruh keturunanku harus berasal dari bibit unggul. Nah... Soal bibit unggul... Kurang unggul apa lagi bibit dari kamu Kai?" Pasal menjelaskan secara gamblang tanpa malu-malu. Membuat Frank membenamkan wajahnya lebih dalam sambil menggelengkan kepala.
Sementara itu... Sila yang sudah melambung karena mendengar akan menikah dengan pria pujaannya hanya cengengesan tak mendengarkan.
__ADS_1
Kai sebetulnya tidak masalah dengan pernikahan ini. Terlebih lagi getaran yang Kai rasakan saat pertama kali bertemu dengan Sila terasa begitu berbeda bila dibandingkan dengan getaran saat dia bertemu dengan wanita-wanita cantik yang lain.
Jadi... Getarannya tuh ada di hati. Bukan di batang berbiji...
Namun Kai tetap saja sedikit tersinggung karena Pasal membuat pernikahan yang akan Kai lakukan terdengar seperti perkawinan antara dua kuda pacuan.
Melihat Kai hanya diam. Pasal kembali berbicara.
"Bagaimana kalau kau anggap saja ini adalah pernikahan politik. Sebagai bukti kalau keluarga Prayoga dan keluarga Suganda kini telah bersatu dan tak mungkin terpisahkan lagi."
Kai terdiam tampak berpikir sejenak. Sementara seluruh pemimpin Laksa juga turut membisu menunggu jawaban dari Kai.
"Baiklah... Aku setuju."
Brug!
Sila terjatuh dari Kursi. Pingsan dengan wajah sangat matang.
"Tolong bawa bocah ini ke kamarnya," titah Pasal pada Frank.
Frank langsung membopong Sila yang bergumam, 'Menikah sama bidadara seperti Kai... Hamba yang rendah ini...'
"Kris... Biar Yeyen saja yang antar Sila," ujar Kai yang wajahnya jadi bersemu ke geer an setelah melihat reaksi berlebihan dari Sila.
"Baik Tuan," jawab Kristal yang langsung menelepon Yeyen.
Tak lama kemudian Yeyen pun datang mengambil Sila dari pangkuan Frank.
"Jadi kamu benar setuju menikahi anakku?" tanya Pasal memastikan setelah Sila pergi. Kini dengan nada yang lebih serius.
"Ya. Tapi sebelumnya. Ada yang harus menikah sebelum diriku," jawab Kai.
"Takut ngelangkahin? Emangnya kamu punya Kakak? Kukira kamu sebatang kara," berondong Pasal dengan nada kecewa.
"Sebelum aku menikah. Yono harus menikah dengan Kika terlebih dulu!" tegas Kai memandang ke arah Yono dan Kika.
"Apa?!" teriak Kika.
"Serius Kai?" tanya Yono dengan senyum kesengsem.
"Ya. Aku serius dan aku memaksa!" jawab Kai pada mereka berdua.
"Te... Terima kasih Kai... Kau telah bersedia memikirkan kami juga..."
"Sudah tugasku," jelas Kai tanpa ekspresi.
Yono dan Kika merasa begitu terharu atas apa yang dikatakan oleh Kai. Pada awalnya Kika dan Yono sebenarnya merasa tidak enak dengan hubungan yang mereka berdua jalin selama ini.
Yang pertama karena mereka takut kalau Kai menaruh perasaan pada Kika. Walaupun pada akhirnya kita semua tahu kalau Kai nggak ada perasaan apa-apa sama Kika.
Dan yang kedua karena mereka tidak tahu aturan berlaku tentang hubungan dua jenis di dalam struktur yang dibentuk oleh Kai.
Dan berkat Kai dengan gamblang telah menunjukkan kebijaksanaannya. Kini Kika dan Yono mengukirkan nilai-nilai kesetiaan yang lebih lagi kepada Kai.
➖ Bersambung ➖
__ADS_1