
“Yon… Sudahlah… Jangan berpikir yang tidak-tidak,” Bibi tahu apa yang sedang Yono duga-duga saat ini.
“Tidak ada bukti yang menunjukkan kalau ini dilakukan oleh keluarganya Hakim. Semua ini murni adalah perbuatan dari Ayahmu. Semua barang bukti mengarah kuat ke sana,” jelas Bibi Yono.
Yono termenung masih memikirkan kok tega-teganya keluarga Hakim melakukan hal ini pada dirinya dan keluarganya.
“Ini adalah warisan yang ditinggalkan oleh Ayahmu,” Bibi Yono menyerahkan sebuah berkas yang berisi uang tabungan dan juga surat tanah.
‘Jika kamu menjual rumah itu sekarang, berarti total warisan yang kau dapatkan kurang lebih beberapa belas milyar,” lanjut Bibi Yono.
“Aku nggak paham kok bisa-bisanya Ayahmu yang keliatan miskin itu ternyata menanam banyak saham sejak puluhan tahun yang lalu,” kata Bibinya yang enggan memuji kegigihan Ayah Yono.
“Dengan kekayaan sebanyak itu, seharusnya Ayahmu bisa meloloskanmu dari penjara dengan sedikit pelicin ke sana sini,” dengus Bibinya sambil memandang Yono dari atas ke bawah, lalu ke atas lagi.
Yono tahu kalau Ayahnya tidak mungkin melakukan hal tersebut. Karena setahu Yono, Ayahnya adalah orang yang menjunjung tinggi kejujuran. Selain itu juga, Yono tahu bahwa bila harta Ayahnya berjumlah ratusan milyar sekalipun, tetap saja kesejahteraan dan pengaruh yang dimiliki oleh keluarganya tidak akan bisa menandingi kekayaan keluarganya hakim yang penghasilan perusahaannya mencapai milyaran rupiah per hari.
“Tugasku sekarang di sini udah selesai ya Yon… Jujur saja. Bibi agak takut datang ke sini. Dan Bibi harap kita tidak pernah bertemu kami lagi. Dan janganlah kamu anggap seluruh paman bibimu serta sepupu-sepupumu sebagai bagian dari keluargamu lagi. Karena kami telah sepakat untuk mencoretmu dari daftar anggota keluarga kami. Keberadaanmu merupakan kesialan bagi keluarga besar kami,” tutup Bibinya Yono pedas.
Bibinya kemudian langsung bangkit dan meninggalkan Yono yang menangis sesenggukan. Yang Yono rasakan saat ini bukanlah sedih apalagi pilu. Yono menangis akibat sebuah api dendam kini tengah berkobar kuat di dalam dadanya.
‘Keluarganya Hakim. Keluargaku. Akan aku balas semua rasa pahit yang aku rasakan saat ini,’ bisik Yono sambil menatap Bibinya yang sedang meninggalkan ruang jenguk LP Anak ini. dengan tajam.
__ADS_1
➖ 📱📱📱 ➖
Selama di dalam LP khusus anak. Tidak ada masalah berarti yang menerpa dirinya. Walaupun kerap disebut sebagai penjara, tapi Lembaga Pemasyarakatan bukanlah sebuah penjara. Sistem yang dibuat di dalamnya dibuat agar para penghuninya dapat merasakan kenyamanan saat melakukan berbagai pelatihan agar mereka siap bekerja sekeluarnya dari LP, Dan berbeda dengan LP untuk dewasa yang kerap berdesak-desakan di dalam sel, LP khusus anak memang dibuat dengan jauh lebih nyaman. Selain karena memang ada perlakuan khusus untuk anak di bawah umur, juga karena tidak banyak anak di bawah umur yang tertangkap karena melakukan tindakan kriminal hingga harus mendekam di balik jeruji besi.
Walaupun Yono merasa cukup nyaman saat berada di dalam penjara. Tapi dikarenakan ada dendam yang berkecamuk di dalam dadanya, Yono tetap menempa diriya untuk menjadi sosok yang berbeda. Yang siap untuk membalaskan dendam.
Yono mengikuti beberapa kegiatan ekstra kurikuler yang dapat membuatnya jauh lebih kuat lagi. Selain fitness. Yono juga menyempatkan diri untuk berlatih beberapa bela diri yang diajarkan di dalam penjara. Selain itu, Yono juga memfokuskan diri pada pelatihan keahlian kerja yang mengandalkan kekuatan fisik. Sebenarnya Yono sempat berpikir untuk turut juga memperluas pengetahuannya dengan mengikuti klub membaca dan menulis. Tapi Yono pada akhirnya memilih untuk hanya memfokuskan diri pada memperkuat kekuatan fisiknya saja.
Seandainya Yono gagal untuk fokus. Yono berpikir kalau nantinya dia tidak akan menjadi ahli di bidang yang sekarang sedang didalaminya. Lebih baik ahli di satu bidang saja, tapi memiliki banyak bisa di berbagai bidang namun tak satupun di antaranya yang didalami hingga menjadi seorang ahli.
➖ 📱📱📱 ➖
Yono masih anak-anak saat dia masuk ke dalam penjara. Dan saking lamanya hukuman yang dia terima. Sehingga Yono baru akan keluar dari dalam penjara saat setelah dia sudah dewasa. Yono pun tahu. Seandainya ketidakadilan yang dia alami ini terekspos oleh media, tentu apa yang terjadi pada Yono akan menjadi sorotan dari netizen serta menuai banyak hujatan dari sana-sini.
Tapi di dunia ini kekayaan adalah segalanya. Selama keluarganya hakim memiliki uang. Maka keluarga tersebut bisa dengan begitu mudahnya membungkam media yang berencana untuk mengangkat kasus Yono.
➖ 📱📱📱 ➖
Yono yang sudah berusia tujuh belas tahun kini tampak sedang berlatih pull up di sebuah tiang melintang yang ada di dalam LP. Dan karena saat ini adalah saat istirahat. Maka para narapidana kini sedang tidak berada di dalam selnya. Hanya mereka yang kurang tidur dan juga mereka yang kurnag dapat bergaul saja yang memilih untuk diam di dalam sel tahanan.
Salah seorang pria di antara para narapidana tampak mendekati Yono yang kebetulan berada agak jauh dari perhatian orang-orang yang rata-rata berkumpul di Masjid dan di tengah lapangan. Tiang melintang yang Yono gunakan untuk berlatih terletak di salah satu sudut lapangan utama.
__ADS_1
Setelah cukup dekat, pria tersebut tampak mengeluarkan sebuah pisau lipat dari dalam lengan pakaiannya. Tanpa bersuara ataupun berlama-lama, pria tersebut langsung mengayunkan pisau di tangannya hendak menusuk perut Yono.
‘Eh!’ untungnya sudah dua tahun terakhir ini Yono fokus mempelajari beberapa seni bela diri di penjara anak. Silat, Judo, Tae Kwon Do, dan Boxing semuanya dia pelajari dalam dua tahun ini. Dan saking seringnya Yono berlatih, sehingga insting Yono akan bahaya menjadi muncul.
Yono langsung berayun dan melompat menjauhi pria tersebut.
‘Sial!’ bisik pria tersebut di dalam hati.
Merasa sasarannya telah berhasil lolos dari terkaman pertamanya, sang pria berbadan besar itu langsung melancarkan serangan kedua, ketiga, dan keempat secara berturut-turut. Tapi sayang… Seluruh serangan yang dilancarkan oleh pria tersebut semuanya bisa Yono hindari.
Di kejauhan tampak pria setengah baya memperhatikan pemandangan tidak wajar yang terjadi di salah satu sudut lapangan utama.
Merasa putus asa karena seluruh serangannya meleset. Yono langsung mengeluarkan jurus Judonya hingga pria besar tersebut langsung ambruk. Padahal selain mereka berbeda usia sangat jauh. Ukuran tubuh Yono juga jauh lebih kecil daripada ukuran tubuh pria yanga hendak membunuhnya tersebut.
“Apakah kamu disuruh oleh keluarganya Hakim untuk membunuhku?” tanya Yono yang dijawab pria tersebut dalam diam.
“Hei! Ada apa ini?!” salah satu petugas sipir penjara langsung menghardik Yono setelah Yono berhasil membanting lawannya.
Sementara lawan tarungnya kini sedang berbaring sambil mengaduh memegang pinggangnya, Yono yang terkejut langsung berpikir bagaimana caranya dia bisa lolos dari situasi yang buruk ini.
➖ Bersambung ➖
__ADS_1