Memulung Kejayaan

Memulung Kejayaan
Kisah 25 : Suganda (Bagian 2)


__ADS_3

"Kami bodoh saat kami bersedia menerima tawaran kalian. Jujur sajalah! Penyebab kalian rela datang ke sini adalah karena kalian takut pada kami!" lanjut Kai dengan nada suara ultra rendah.


"Oh... Bukan saja kau menolak tawaran kami?! Tapi kau menantang kami untuk berperang?!" tanya Pasal tersenyum lebar dari pipi ke pipi.


"Bukan sekarang. Tapi untuk berperang. Cepat atau lambat. Sepertinya itu akan segera terjadi," Kai menalikan kesepuluh jemari tangannya di atas dua sikut yang bertumpu.


"Ha ha ha ha ha!"


Mendengar jawaban tegas dari Kai. Pasal malah tertawa terbahak-bahak.


"Sesuai dugaanmu Frank! Jawaban nya sesuai dengan dugaanmu!"


Frank yang tahu soal Kai sebagai pemilik sistem, sudah menduga dua hal. Yang pertama, Kai pasti tidak akan tertarik dengan pembahasan soal warisan.


Karena memang akan percuma saja. Bagi Kai. Kekayaan keluarga prayoga tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kemampuan sistem yang Kai miliki.


Memang benar kalau sekarang warisan yang diturunkan Arya jumlahnya jauh lebih besar dari jumlah harta milik Kai. Tapi seiring dengan Kai yang akan terus berkembang bersama Sistem. Maka apa yang dimiliki keluarga Prayoga kini pasti cepat atau lambat akan tersusul juga.


Yang kedua. Frank menduga kalau Kai tidak akan mau melakukan gencatan senjata. Alasan utamanya jelas karena Kai saat ini lebih kuat dari manusia tanpa sistem yang manapun juga. Hanya imajinasi Kai lah yang bisa membatasi kekuatan yang Kai miliki.


Lalu dengan gencatan senjata. Tentu pergerakan dari Kai jadi terbatas. Apalagi bila mengingat kalau Keluarga Prayoga menguasai sebagian besar sumber penghasilan dunia bawah yang ada di Indonesia.


"Jadi apakah tidak ada jalan tengah demi terjaganya hubungan baik antara bagi kau dan keluargaku?" tanya Arya kembali.


"Ada Tuan," Frank menjawab.


"Apa itu Frank?" tanya Pasal.


"Kupikir akan lebih baik jika status Kai sebagai pewaris kekuasaan keluarga Prayoga dihapus saja. Dan kita kembalikan hak waris berikutnya kepada Nona Sila."


"Frank! Tapi itu adalah keinginan Papah tahu?!" Pasal marah karena merasa Frank tidak menghargai wasiat dari Arya.


"Iya Frank! Kai adalah orang yang sangar kredibel untuk mewarisi apa yang ditinggalkan Kakek," Sila turut protes. Dia sampai lupa akan janjinya kepada Kai untuk tetap memposisikan dirinya bukan bagian dari keluarga Prayoga pada pertemuan kali ini.


"Tapi Ini sangat masuk akal buatku," Frank bersikukuh pada pendapatnya.


Yono, Udin, Kika dan Mbak Ati hanya terdiam mendengar perdebatan tentang pembagian waris yang kini terjadi di dalam keluarga Prayoga. Hanya saja biasanya kan yang namanya pembagian waris itu semua orang berebut untuk memiliki harta warisan secara menyeluruh untuk diri mereka sendiri. Tapi perdebatan yang terjadi di sini malahan masing-masing dari Mereka menolak untuk mewarisi harta yang diturunkan oleh Arya Prayoga.

__ADS_1


"Jadi. Bagaimana menurutmu Kai? Apakah kamu tidak masalah jika harta Kakek angkatmu tidak akan turun kepadamu?" Frank bertanya langsung pada Kai.


"Aku setuju pada Frank."


"Kai?!" pekik Sila dan Pasal bersamaan.


"Bagiku akan lebih baik jika hak waris yang kini berada di tangan Paman Pasal akan diserahkan pada anak kandung Paman sendiri bila Paman nantimeninggal. Aku tidak mau mendapatkannya. Karena kalian berdua pasti sudah tahu kalau aku sudah memberikan cukup bukti bahwa suatu saat nanti aku akan melebihi keluarga Prayoga," jawab Kai sambil mengarahkan pandangannya pada Sila dan Pasal.


Frank tersenyum puas mendengar jawaban Kai. Sementara Pasal dan Sila melemas pasrah di kursi mereka.


"Jika itu yang diinginkan oleh mu Kai. Mau bilang apa lagi!" bisik Pasal pada Kai.


"Tapi, aku memiliki solusi lain yang bisa tetap menjaga hubungan baik yang sudah terjalin hingga saat ini," Frank kembali bersuara.


Sila dan Pasal tampak memasang telinga. Mereka penasaran akan apa yang hendak dikatakan oleh Frank selanjutnya.


"Aku ingin menawarkan agar keluarga Prayoga dan juga Kai menjalin kerjasama sebagai aliansi. Atau lebih tepatnya sebagai associate. Di mana di sini keluarga Prayoga merupakan Associate dari keluarga Kai."


"Jadi maksudmu... Posisi Keluarga Prayoga nantinya berada di bawah keluarga Kai."


"Benar!"


"Bagaimanapun juga keluarga Prayoga adalah keluarga dengan kekayaan terbesar di Indonesia. Keluarga dengan kekuasaan bawah tanah terluas di Indonesia. Bahkan keluarga Prayoga adalah kartel yang terbesar ketiga se-Asia. Bagaimana mungkin keluarga sebesar Keluarga Prayoga berada di bawah nama Kai yang belum satu tahun berkecimpung di dunia bawah tanah," protes Pasal yang tergores harga dirinya.


"Apakah yang Tuan maksud adalah kedudukan Keluarga kita yang lebih besar daripada Keluarga Kai?"


"Tentu saja!"


"Untuk berapa lama?!" sambar Frank.


"Maksudmu?"


"Untuk berapa lama keluarga Prayoga memiliki kedudukan lebih tinggi daripada keluarga Kai? Satu tahun? Sepuluh tahun? Atau hanya satu bulan?" jawab Frank sinis.


"Saya yakin kalau Tuan sendiri menyadari potensi yang sangat besar yang dimiliki oleh keluarga Kai. Dimana cepat atau lambat Kai akan menjadi jauh lebih besar dari keluarga kita," tutup Frank.


Apa yang dijelaskan oleh Frank semuanya tepat sasaran. Membuat Pasal terdiam seribu bahasa.

__ADS_1


Dipuji sedemikian rupa di tengah perdebatan barusan. Tidak membuat Kai mawas diri. Kai malah tampak mengurut kepalanya yang tiba-tiba berdenyut.


"Kau benar..." Pasal yang tersadar pada akhirnya terpaksa setuju dengan pemikiran dari Frank.


"Bagaimana Kai? Apakah kau bersedia untuk mengangkat Kami. Keluarga Prayoga sebagai Associate dari keluargamu?" tawar Pasal pada Kai.


Kai menghela nafas panjang. Dia tidak menyangka kalau pada akhirnya semuanya akan berakhir seperti ini.


"Baiklah... Aku setuju! Aku menerima keluarga Prayoga sebagai Associateku," jawab Kai.


Untuk saat ini memang keluarga Prayoga tentu akan banyak membantu Kai dalam segala urusannya. Tapi untuk ke depannya, baik Kai, Pasal ataupun Frank yakin kalau Kay lah yang nantinya akan banyak membantu keluarga Prayoga.


Jadi tentu saja ini adalah sebuah hubungan simbiosis mutualisme.


Dan apa yang baru saja terjadi saat ini tentu saja begitu mengejutkan bagi Yono, Udin, Kika, dan Mbak Ati. Bagaimana tidak?! Mereka yang saat ini masih bukan siapa-siapa bila dibandingkan dengan keluarga Prayoga, malah kini harus menjadi atasan dari keluarga Prayoga.


Yang lain terkejut. Tapi Sila tampak begitu senang. Hal ini berarti hubungan yang terjadi antara keluarga Prayoga dan Kai juga akan tetap berjalan dengan baik.


"Bagus..." Frank tersenyum penuh kemenangan.


"Lalu Kai... Kamu akan menamai keluargamu apa?"


"Menamai keluargaku? Maksudmu aku menjadi Godfather bagi mereka gitu?" tanya Kai asal sambil menunjuk para pemimpin Laksanya.


"Ya!" Kai tidak menyangka kalau Frank akan mengiyakan kalimat asal bunyi nya.


Terasa agak aneh juga kalau Kai harus dipanggil Ayah oleh Mbak Ati yang usianya dua kali lipat dari usianya.


Tapi walaupun Kai tidak suka. Bila memang aku harus melakukannya. Berarti dia akan tetap melakukannya. Namun Kai malah bingung karena nama belakangnya juga Prayoga. Nggak mungkin kan kalau Kai harus menamai keluarganya Prayoga juga.


"Bagaimana kalau Prayoga satu dan Prayoga dua," giliran Udin yang nyeletuk sambil tunjuk Pasal lalu tunjuk Kai.


Semua yang di sana dapat mendengar dengan jelas celetukan dari Udin. Tapi tak satupun dari mereka yang menanggapi.


"Bagaimana kalau Suganda?" usul Pasal tiba-tiba.


"Suganda?" Kai memastikan apa yang dia dengar.

__ADS_1


➖ Bersambung ➖


__ADS_2