Memulung Kejayaan

Memulung Kejayaan
Kisah 18 : Cinta Seorang Yono (Bagian 4)


__ADS_3

Seperginya si anak buah dan pria besar Kakek itu kembali berkata-kata.


“Apakah kau suka hadiahku?” tanya si Kakek pada Yono kembali.


Yono terdiam. Dia tidak tahu apakah dia bahagia ataukah sedih. Di satu sisi, dia bisa menganggap kalau seluruh dendamnya akan terbalaskan. Bila melihat sifat Kakek ini. Mungkin balasannya jauh lebih kejam daripada apa yang diterima oleh anggota keluarganya.


Tapi di sisi lain. Izin yang diberikan oleh Yono barusan telah merubah Yono mejadi seorang pembunuh. Tidak hanya membunuh satu orang. Yono telah menjadi orang yang terga menghabisi nyawa dari dua buah keluarga besar.


“Sekarang… Setelah kamu mendapatkan segalanya. Aku ada satu permintaan untukmu,” si Kakek tahu apa yang dipikirkan oleh Yono. Tentu saja dia juga sangat membenci sensasi dari membunuh manusia untuk pertama kali dalam hidupnya.


“Apa itu Kakek?” tanya Yono sambil bergidik membayangkan sesuatu yang mengerikan. Kalau sekedar jadi tukang pijit atau tukang disuruh-suruh Yono masih sanggup melakukannya. Tapi kalau pada akhirnya Yono diminta untuk jadi pemuas nafsu, tentu Yono akan memilih untuk mengakhiri hidupnya saja.


“Maukah kau bergabung ke dalam kelompokku?”


“Maksud Kakek?” Yono mendengarnya. Tapi Yono tidak percaya dengan makna dari perkataan Kakek tersebut.


Yono sedari kemarin samar-samar sudah mendengar gosip tentang Kakek yang ada di depannya ini. Dia adalah pemilik jaringan kartel yang sangat besar di Indonesia dengan bisnis utama di seputar bisnis pelacuran dan juga narkoba.


Beberapa dari kawan satu sel Yono mengatakan Yono cukup beruntung bisa mengobrol dengan Kakek ini. Bagaimana tidak! Kakek ini sebenarnya selama ini menjalankan hukumannya di sebuah rumah yang yang dia sewa tidak jauh dari lokasi LP. Tapi beberapa hari yang lalu, Kakek ini harus kembali ke dalam sel tahanan karena hendak ada pemeriksaan periodik yang akan dilakukan oleh tim dari pusat.


Kebobrokan sistem penjara ini merupakan sebuah rahasia umum. Tapi melihatnya langsung seperti sekarang ini cukup membuat Yono jadi melongo.


Kakek kemudian menceritakan pada Yono tiga alasan yang membuat dia tertarik pada Yono. Yang pertama tentu karena Yono masih muda. Sehingga bila Yono dilatih dengan tepat, maka Yono akan menjadi orang yang benar-benar berbeda. Yang kedua karena Yono memiliki ketenangan berpikir yang seharusnya tidak dimiliki oleh seorang remaja biasa. Dan yang terakhir tentu karena bakat bela diri yang dimiliki oleh Yono.


Tidak peduli seberapa kerasnya Yono berlatih dua tahun ini, menjadi mahir dan ahli bela diri dalam jangka waktu hanya dua tahun bukanlah sebuah perkara yang mudah untuk dilakukan.


“Bagaimana Yon? Apakah kau tertarik bergabung denganku?” tanya Kakek kembali menegaskan keinginannya.


“Baiklah Tuan… Dengan senang hati…” Yono senang bukan main. Bergabung dengan kelompok sebesar kartel yang dimiliki oleh Kakek akan membuat dirinya dengan mudah dapat memiliki banyak kemakmuran dan kemudahan hidup.


“Pilihan yang bijak. Untuk ke depannya, kami akan melatihmu agar nanti saat kamu keluar dari sini. Kamu sudah menjadi sosok yang lebih kuat lagi daripada ini. Kamu bersedia kan? Pelatihan yang akan kami lakukan tentu akan keras sekali,” tegas Kakek.


“Ten… Tentu saja Kakek…” jawab Yono antusias. Walaupun dendam yang dimilikinya kini sudah terbalaskan. Entah mengapa kini Yono begitu suka sensasi menjadi sosok yang kuat dan jago berkelahi. Bisa dibilang, Yono telah terkena adiksi kekuatan.

__ADS_1


“Ayah!” seorang pria setengah baya menyapa sang Kakek sambil berjalan menghampiri meja di kafertaria.


Di belakangnya mengikuti sepasang pria dan wanita yang lebih muda tampak sedang menggendong seorang anak perempuan berusia dua tahunan.


“Oh… Kalian sudah datang…” sambut Kakek sumringah.


“Kau pergilah dulu. Nanti kita bakal ngobrol lagi,” ujar sang Kakek pada Yono.


“Aku pamit Kek… Pak…” Yono menundukkan kepalanya pada Kakek dan Anak Kakek.


Yono sudah melihat berbagai kebebasan yang dimiliki oleh Kakek luar biasa ini. Dan kini Yono juga menyaksikan bagaimana dengan seenak udelnya keluarga dari Kakek bisa masuk ke dalam penjara. Tanpa harus menunggu di dalam ruang jenguk, keluarga Kakek bisa masuk dengan mudahnya ke dalam ruang kafetaria. Bukan cuman itu saja. Keluarga ini juga masuk ke dalam penjara dengan dikawal oleh beberapa orang sipir penjara. Pengawalan yang bisa dikatakan sangat mewah untuk ukuran di dalam LP.


Anak yang barusan menyapa Kakek hanya memandangi Yono pergi dengan dingin tanpa mengatakan sepatah katapun. Dia penasaran dengan apa yang baru saja dibicarakan oleh Ayahnya dengan anak tersebut. Sang anak hanya berharap kalau Ayahnya tidak geser otaknya jadi penyuka anak laki-laki.


➖ 📱📱📱 ➖


“Boleh aku pangku cucuku?” tanya Kakek pada satu-satunya perempuan di tempat itu.


Kakek senang sekali saat mantunya meletakkan cucu perempuan mungil nan lucu itu ke atas pangkuannya.


“Dia sedang mengurus sesuatu sebentar lagi juga kembali,”


“Dasar kamu Pasal! Frank mulu yang di omongin! Kamu udah geser ya?” sindir Kakak dari pria yang dipanggil Pasal.


“Enak aja! Aku punya istri! Emangnya kamu Kai! Udah kepala empat tapi masih jomblo!” balas adiknya pada Kai.


“Biarpun jomblo, ini aku gak lumutan! Mungkin lebih sering dipake daripada kamu,” balas Kai kembali sambil memandang benda menonjol di bawah ikat pinggangnya.


“Sila udah bisa apa?” tidak peduli dengan pertengkaran kecil yang terjadi antara anak sulung dan anak bungsunya, Arya Prayoga hanya fokus bermain dengan cucunya tersebut dibantu oleh satu-satunya mantu yang ia miliki.


“Ayah… Aku sudah mengurus semuanya. Pemeriksaan rutin LP sudah selesai. Jadi Kakek bisa kembali lagi ke rumah,” ujar Kai pada Arya nyuekin adiknya yang bersungut-sungut karena kalah debat.


Memang di mata Pasal, sosok Kai adalah sosok yang sempurna. Yang lebih dari dirinya dalam segala hal. Pasal adalah fans berat Kai yang pertama. Kai yang kuat serta pintar, tentu saja membuat Pasal yang penyakitan serta berotak biasa saja menjadi begitu terkagum pada Kakaknya itu.

__ADS_1


“Oh… Bagus deh…” Arya tidak peduli dan masih asyik bermain dengan cucunya yang tertawa terbahak dalam pelukannya.


“Tapi, aku punya permintaan Kai,” ujar Arya pada Kai anaknya.


“Ada apa Ayah?”


“Aku ingin membawa juga anak yang barusan ke rumah. Aku berencana untuk melatihnya. Dia memiliki bakat yang bagus,” jelas Arya pada anaknya.


“Baik Ayah,” jawab Kai.


➖ 📱📱📱 ➖


Kembali ke masa kini. Mbak Ati dan Kai terbengong mendengar cerita dari Udin.


“Yono sempat bergabung dengan Keluarga Prayoga?” tanya Mbak Ati pada Udin memastikan.


Keluarga Prayoga bukanlah keluarga yang sembarangan. Bahkan Mbak Ati pun mengetahui betapa mengerikannya keluarga Prayoga.


“Mbak Ati tahu keluarga Prayoga?” tanya Kai.


“Ya. Aku tahu.”


“Darimana Mbak tahu?” tanya Kai kembali.


“Keluarga Prayoga adalah salah satu Patron dari mantan suamiku,” jawab Mbak Ati kembali.


‘Gawat!’ bisik Kai. Kedekatan Juragan Agung dengan Keluarga Prayoga membuat seluruh kekayaan dan juga kuasa yang dimiliki oleh Juragan Agung jadi terasa wajar. Tapi di sisi lain, ini tentu akan mempersulit mereka untuk merebut kembali Cijagung.


“Bahkan Kai… Aku juga sempat menduga kalau orang tua kamu pasti ngefans sama keluarga Prayoga, karena nama kamu itu sama dengan nama almarhum anak pertama keluarga Prayoga yang meninggal delapan tahun yang lalu.”


Selama puluhan jam terakhir ini, sosok Kakek Arya yang lemah lembut begitu menghantuinya. Yang pertama adalah karena Kakek Arya ternyata merupakan orang yang tidak sebaik yang Kai tahu. Yang kedua, Yono ternyata sempat bekerja dengan Kakek Arya. Lalu kini Kai tahu kalau Keluarga Prayoga merupakan patron dari Juragan Agung.


‘Kakek… Kakek tuh sebenernya udah meninggal belum sih?’ bisik Kai bertanya dalam hatinya.

__ADS_1


➖ Bersambung ➖


__ADS_2