Memulung Kejayaan

Memulung Kejayaan
Kisah 20 : Kika yang Terlupakan (Bagian 3)


__ADS_3

“Eh! Kristal jangan masuk!” Mbak Ati refleks menghalangi Kristal saat perempuan cantik ini dengan polosnya akan membuka pintu. Mbak Ati yang mengerti merasa takut kalau kedatangan mereka saat ini akan mengganggu Kai yang sedang asyik dengan kegiatan percocok tanamannya.


“Tidak Nona… Tidak apa-apa. Tuan menyuuruh saya buat masuk begitu saya sudah sampai,” jawab Kika pada Kai.


“Tapi kan nggak mungkin kalau maksudnya Kai kamu masuk saat Kai sedang melakukan hal seperti begitu!” tegas Mbak Ati pada Kristal.


“Benar kok Nona… Maksud dari Tuan Kai memang memintaku masuk ke dalam kamarnya apapun yang sedang terjadi di dalam sana,” begitu jelas Kristal sambil membuka pintu tanpa Mbak Ati dapat mencegahnya kembali.


Mata Mbak Ati langsung terbelalak saat dia melihat pemandangan yang begitu vulgar di dalam kamar. Mbak Ati melihat dengan jelas bagaimana Kai sedang mengehentak-hentak di belakang seorang perempuan muda yang begitu cantik. Perempuan itu adalah Sila.


Sila kini sedang setengah tengkurap pasrah dengan bagian dada dan lutut yang dijadikan tempat bertumpu. Sila berteriak dalam pitch tinggi setiap kali Kai menghunjamkan singkong raksasanya dalam satu hentakan.


Kai dan Sila kini sedang bertempur di atas ranjang berornamen mewah yang memiliki ukuran lebih besar daripada ranjang King Size. Ranjang yang Kai gunakan saat ini bukan sekedar Sizenya saja yang untuk Raja. Tapi semua yang ada di ranjang ini benar-benar mencerminakan ranjang dari seorang Raja.


Selain ornamen ukiran dan juga ukurannya yang mungkin empat kali ranjang King size pada umumnya. Di keempat sisi ranjang juga terdapat tiang yang menjadi alat penyangga bagi kelambu sutra berwarna putih.


Melihat ranjang mewah di tengah ruangan. Tidak lantas membuat Mbak Ati memuji. Mbak Ati malah nyinyir di dalam hatinya, ‘Kok bisa-bisanya di dalam ruang kerja Kai ada ranjangnya?!’


“Eh! Kalian sudah datang?” sapa Kai saat melihat dua sosok perempuan di ambang pintu ruangannya.


Kai menyapa Kristal dan Mbak Ati tanpa berusaha meneruskan kegiatan berkebun di atas ladang yang tengah dilakukannya.


“Oh… Ini… Aku sedang kasih hadiah sama Sila karena dia sudah berhasil membuatku bangga,” Kai menjelaskan apa yang tidak perlu dijelaskan kepada Kristal dan Mbak Ati.

__ADS_1


“Ah! Kai… Hmh! Malu…!” ujar Sila pada Kai yang sama sekali tidak mengurangi kecepatan geraknya.


“Jadi mau udahan?” tantang Kai pada Sila.


“Nggak! Jangan! Teruskan! Sila suka!” jawab Sila yang tidak suka dengan ancaman dari Kai.


Mbak Ati meneguk ludahnya lalu berbalik badan mau pergi. Pemandangan yang kini terhampar di hadapannya tentu saja akan mengganggu stabilitas emosi dan hasratnya yang sudah berbulan-bulan tidak menemukan Petani yang cukup menarik untuk dibiarkan mencangkul kebun lembab miliknya.


‘Eh! Kristal!’ langkah Mbak Ati terhenti saking kagetnya.


Bagaimana tidak kaget! Tidak hanya dengan santainya Kristal masuk ke dalam kamar tersebut. Kristal juga turut menanggalkan pakaiannya sambil melangkah mendekati tempat Kai dan Sila beradu diri.


Mengetahui gadis kesayangannya sudah tiba. Kai semakin bersemangat. Dengan suka cita dia menikmati dua orang bidadari yang tersaji di atas ranjang miliknya.


Bagi Mbak Ati yang sudah terbiasa hidup dengan penjahat kelamin macam Juragan Agung. Pemandangan seperti ini sebenarnya bukan hal yang aneh. Tapi jika yang melakukannya adalah tiga sosok yang berdaya tarik sempurna. Tentu saja akan terasa sangat berbeda mengobok-obok dada.


“Baiklah… Nanti aku susul kalau udah selesai,” jawab Kai tanpa malu-malu. Kai harus berteriak saat menyampaikan pesannya karena kini di hadapannya ada dua orang wanita yang berteriak tanpa kendali.


‘Eh! Yeyen!’ baru tiga langkah meninggalkan ruang kerja Kai. Mbak Ati langsung terkejut saat melihat Yeyen yang sudah selesai mengantarkan seluruh barang bawaan turut masuk ke dalam ruang kerja Kai sambil membuka pakaian yang dia kenakan. Yeyen dengan sangat santainya turut bergabung dengan Kristal dan Sila seakan dia yakin kalau ketiga orang di sana tidak akan keberatan dengan bergabungnya Yeyen di sana.


“What?!” Mbak Ati terdiam mematung saat melihat dengan betapa lincahnya Kai dalam menggarap tiga lahan dalam waktu bersamaan. Terlebih lagi, ketiga lahan itu tidak hanya terlayani. Mereka semua meronta dalam jerit-jerit penuh kenikmatan.


Berapa orang wanitapun tak masalah bagi kemampuan spesial seorang gigolo yang Kai miliki. Bahkan saat ketiga orang ini berusaha keras untuk menolak gelombang kepuasan, mereka tidak akan sanggup untuk melakukannya. Setiap gerakan Kai begitu efisien, menyengat bagaikan listrik kepada ketiga bidadari dalam waktu yang nyaris bersamaan.

__ADS_1


“Eh! Mbak Ati bukannya mau nunggu di luar…?” tanya Kai yang tanpa sengaja melihat Mbak Ati masih tertegun di pintu kamar dengan tangan kanan di dada dan tangan kiri di bawah perutnya.


“Eh! Iya!” Mbak Ati yang terkesima tersadar dari keterkagumannya. Mbak Ati cepat-cepat hendak menutup kembali pintu ruang kerja milik Kai.


“Nggak usah ditutup Mbak! Di sini panas! AC nya nggak dingin!” kata Kai yang sudah bersimbah keringat.


“Ba… Baik…” Mbak Ati langsung berbalik dan sedikit berlari dengan wajah yang begitu memerah.


Mbak Ati berjalan menjauh dengan semakin cepat karena semakin jauh Mbak Ati melangkahkan kaki, suara ketiga wanita bak bidadari itu terdengar semakin keras.


➖ 📱📱📱 ➖


Mbak Ati menunggu cukup jauh dari ruang kerja Kai. Tepatnya di balkon Penthouse milik Kai. Mbak Ati yang sedang memegang segelas wine sambil memandangi pemandangan kota di malam hari mengindikasikan kalau Mbak Ati barusan sempat pergi ke bar Kai yang seperti biasanya. Selalu lengkap dengan berbagai jenis minuman keras bermerek dan mahal.


Mbak Ati menduga kalau jarak antara tempat dia berdiri dan Kai saat ini setara dengan ujung penthouse ke ujung penthouse lainnya. Tapi karena memang barusan pintu ruang kerja Kai dibiarkan terbuka begitu saja. Sehingga suara teriakan ketiga wanita cantik itu terdengar dengan begitu jelas oleh Mbak Ati saat ini.


Bahkan suara angin malam yang bergemuruh di telinga pun tidak bisa benar-benar menghilangkan suara lolongan para serigala betina.


‘Aduh… Sampai kapan sih?!’ keluh Mbak Ati yang uring-uringan sendiri karena Kai sudah menggarap tiga petak sawah selama lebih dari satu jam.


‘Pantas saja Kika seperti yang terlupakan oleh Kai begitu saja!’ simpul Mbak Ati kembali di dalam hati.


‘Bagi Kai yang bisa dengan mudahnya mendapatkan para bidadari yang siapa melayaninya seperti itu. Maka hanya cinta yang akan membuat Kai sulit melupakan seorang wanita. Yah… Berarti memang Kai tidak pernah mencintai Kika sedari awal.’ simpul Mbak Ati sebelum kembali mengusap-usap wajahnya dengan kasar karena suara teriakan ketiga bidadari terdengar semakin kencang.

__ADS_1


➖ Bersambung ➖


__ADS_2