Memulung Kejayaan

Memulung Kejayaan
Kisah 11 : Kenyataan Pahit (Bagian 4)


__ADS_3

Dengan bimbingan dari sistem, tak perlu berapa lama akhirnya mereka berdua sampai di dalam dapur yang sangat mewah yang terletak di lantai satu.


Kika langsung cepat beradaptasi dengan membuka kulkas, memilih bahan makanan, lalu memasak. Walaupun bahan makanan di dalam kulkas sangat lengkap, tapi Kika memilih untuk memasak masakan yang sederhana dan cepat saji karena mereka berdua kini sangat kelaparan.


Selang beberapa menit, masakan sudah siap. Mereka berdua makan dengan lahap di dalam dapur hingga tidak bersisa.


Seharusnya sih mereka berdua makan di ruang makan yang berada tak jauh dari dapur. Akan tetapi karena mereka ingin cepat-cepat makan. Ditambah dapurnya juga udah cukup luas buat sekalian dipakai untuk ruang makan. Mereka memilih untuk makan di tempat dengan dibalut suasana yang lebih santai dan juga akrab.


"Kai… Boleh aku cerita?" setelah kenyang, akhirnya Kika mulai bersedia untuk bercerita pada Kai.


"Boleh dong…" ujar Kai sambil bersiap untuk mendengarkan dengan seksama. Tidak lupa Kai menyalakan dan menghisap rokoknya.


Yah... Buat perokok seperti Kai, ada anekdot yang mengatakan, "Wis mangan ora udud eneg!"


"Jurahan itu munafik Kai... Kelihatannya aja dia baik. Tapi dibalik itu semua dia adalah lebih iblis daripada iblis sekalipun," buka Kika.


Kai sudah menduga hal ini sejak lama. Dan menjadi semakin yakin lagi saat bertemu dengan Juragan Agung bersama dengan Yono kemarin. Apalagi sekarang! Setelah Kai melihat bagaimana Juragan Agung melakukan perbuatan semena-mena kepada Kika yang cantik jelita.


Kalau cowok bener aja, saat cewek cantik bilang dia salah jadinya salah. Apalagi kalau cewek cantik sama sekali tidak salah.


"Aku kerja di Juragan Agung udah tujuh tahun,” lanjut Kika.


“Udah lama juga ya…”


“Yah… Lumayan…”


“Kenapa kamu bisa kerja sama Juragan Agung?” tanya Kai.


“Jadi dulu kedua orang tuaku meninggal dunia saat aku masih berusia tiga belas tahun karena kecelakaan lalu lintas."


“Turut berduka cita,” ujar Kai. Kika hanya mengangguk sambil memberikan gestu yang berkata, ‘Gak papa kok…’


Kika lalu lanjut bercerita, "Sejak saat itu, Aku tinggal sama nenek aku yang sudah tidak bisa kerja berat. Dan untuk menyambung hidup kami, Aku yang ditawari kerja di Juragan Agung langsung menerima tanpa berpikir dua kali."


“Apakah selama itu kamu…?” Kai bertanya dengan hati-hati.


“Tidak, pada awalnya Juragan Agung baik sekali sama aku. Sama lah… Kayak gimana dia memperlakukan kamu dan pemulung yang lain.”


“Terus?”


"Terus Nenek aku meninggal dunia pada saat aku berusia 15 tahun.”


Kai masih diam menyimak.

__ADS_1


“Dan karena aku saat itu sudah sebatang kara dan benar-benar tidak punya siapa-siapa lagi, Iblis itu menunjukkan wajah aslinya.”


Kai menggeram karena dia bisa menduga apa yang akan diceritakan oleh Kika selanjutnya.


“Juragan Agung mengambil kesempatan buat memperkosa aku. Keperawananku dia rebut dengan paksa,” Kika sedikit terisak saat menceritakan bagian ini. Kai ambil kesempatan untuk membelai kepala Kika penuh kelembutan.


“Dan… Tidak puas hanya sekali, dia secara rutin menjadikanku sebagai pemuas nafsunya."


“Lalu… Apakah kamu melawan?”


“Tidak bisa Kai. Aku tidak seberani itu. Pilihan yang diberikan Juragan Agung hanya dua, aku bersedia memuaskan nafsunya secara rutin, atau nyawaku melayang.”


“Sialan memang si Agung itu!” Kai mengeratkan genggaman tangan kanannya.


“Sekitar lebih dari satu tahun yang lalu, aku hamil si Dede. Si Dede adalah anak dari Juragan Agung.”


“Apa?! Bukankah itu adalah anak dari suamimu yang kabur dan tidak bertanggung jawab itu?”


“Suami mana? Kami hanya mengarangnya saja.”


Kai terhenyak atas sebuah fakta yang sudah bisa diduga oleh Dikha Aterashu pembaca setia cerita ini.


“Jadi sebenarnya siapakah yang mengarang cerita ini?” tanya Kai penasaran.


“Aku.”


“Juragan sebenarnya meminta agar aku menggugurkan Dede. Tapi sebagai seorang Ibu, aku gak tega. Aku minta untuk diperbolehkan menjaga kehamilan dan melahirkan Dede ke dunia.”


“Ya… Semua Ibu yang normal akan berpikir demikian.”


“Dan Juragan membolehkan aku untuk tetap hamil dan melahirkan Dede. Tapi…”


“Tapi apa lagi?” kesel juga si Kai dengan begitu banyaknya tapi dalam cerita Kika. Juragan Agung ini ternyata orangnya memang gemar kasih syarat.


“Tapi aku harus tinggal di rumah Juragan tanpa keluar sedikitpun selama satu tahun. Dan Juragan Agung tidak akan pernah mengakui Dede sebagai anaknya.”


“Aku bersedia loh mengakui Dede sebagai anakku…” celetuk Kai.


Kika memilih untuk tidak menanggapi dan melanjutkan ceritanya, “Dan selama setahun ini aku serasa hidup di dalam neraka. Juragan mempunyai fetish pada wanita hamil. Sehingga dia selalu menggunakanku sehari hingga beberapa kali dengan cara yang sangat barbar. Alhasil, si Dede beberapa kali hampir keguguran karena pendarahan.”


“Untung saja Dede anak yang kuat,” sambung Kai.


“Ya, untung saja dia kuat,” Kika mengakui.

__ADS_1


“Dan saat Dede berusia enam bulan, aku akhirnya keluar dari persembunyian ku bersama Dede. Dan untungnya semua orang di Cijagung percaya dengan cerita yang aku karang.”


“Ada yang tidak percaya,” jawab Kai.


“Yono. Yono dan Dikha Aterashu sudah menduga semuanya,”


“Dikha Aterashu sudah aku baca komennya dan memang dia sudah bisa menduga semuanya, tapi kalau Yono aku baru tahu.”


“Lalu aku datang?” Kai ingin skip cerita ke saat dia datang ke Cijagung.


“Kau datang tiga bulan setelah aku dan Dede keluar dari persembunyian,”


‘Oh… Berarti Dede sudah berusia sembilan bulan,’ simpul Kai dalam hati.


“Dan yang luar biasanya kamu datang sambil memberikanku harapan baru dengan semua uang yang kamu kasih padaku setiap hari,” lanjut Kika.


“Sebesar itukah pengaruh kehadiranku dalam kehidupanmu?”


“Ya Kai… Kau memberikanku secercah harapan agar aku bisa mengumpulkan uang sebelum lari dari Juragan Agung untuk selamanya.”


“Kalau boleh aku tahu, kan kamu melakukannya di dalam rumah Juragan Agung, Apakah istrinya Juragan Agung tahu?” Kai penasaran.


“Dia tahu. Bahkan tidak sekali dua kali dia bergabung bersama kami,” jawab Kika.


‘Woh… Ternyata memang Juragan Agung ingin membuat istana haremnya sendiri,’ Kai terkagum dengan bagaiman Juragan Agung dapat mewujudkan fantasi para pria dalam kehidupannya.


“Berarti istrinya Juragan Agung adalah orang yang berkelakuan sama dengan Juragan Agung?”


“Tidak, dia baik. Dia sudah seperti Kakak bagiku. Bahkan dialah yang membantuku untuk melarikan diri.”


“Lalu kenapa dia tidak lapor?”


“Sama dengan alasanku. Dia takut.”


Kai mengangguk mengerti.


“Lagian Kai… Selain aku dan istri Juragan, masih ada tiga orang gadis lain yang suka Juragan jadikan pemuas nafsu,” lanjut Kika semakin menegaskan kebejatan dari Juragan Agung.


Kai kemudian berpikir…


‘Sebenarnya berapa banyak uang yang dikeluarkan oleh Juragan Agung untuk politik pencitraan yang dia lakukan. Karena semakin busuk isi aslinya, maka tentu semakin mahal sampul yang harus dia buat,’ bisik Kai dalam hati


“Ngomong-ngomong nih… Boleh gak nanya nih…” ada pertanyaan iseng terlintas dalam benak Kai.

__ADS_1


“Apa? Tanya aja…”


➖ Bersambung ➖


__ADS_2