Memulung Kejayaan

Memulung Kejayaan
Kisah 18 : Cinta Seorang Yono (Bagian 3)


__ADS_3

“Nggak Pak! Kami sedang latihan saja,” Yono beralasan sambil membantu pria besar yang barusan hendak membunuhnya tersebut untuk bangkit.


Pisau yang barusan digunakan oleh pria tersebut pun kini sudah tidak tahu ada dimana. Kemungkinan besar saat dia membanting pria tersebut barusan pisau itu tanpa sengaja terlempar sangat jauh.


“Benar kan?” ujar Yono sambil memukul ubun-ubun kepala pria tersebut satu kali.


“Iya Pak… Kami sedang latihan,” jawab lelaki laksana babon itu tidak berkutik.


“Oh… Ya sudah! Lain kali jangan berisik ya…!” tegur sipir penjaga sambil berlalu pagi setelah memperhatikan ekspresi kedua pria yang tampaknya memang telah mengatakan yang sebenarnya.


Sementara itu di kejauhan, Seorang pria tua tampak tersenyum melihat kesimpulan akhir dari perkelahian yang terjadi antara Yono dan Si Babon besar. Karena pria tua ini memperhatikan setiap detail kejadian dari awal, dia benar-benar tahu apa yang sedang terjadi di sudut lapangan itu sesungguhnya.


“Hei! Siapa anak itu?” tanya pria tua yang sedang duduk santai itu kepada anak buahnya yang kini sedang berdiri di belakangnya.


“Sepertinya dia anak baru Tuan. Kalau gak salah baru beberapa hari yang lalu dia tiba di LP ini,” jelas sang anak buah kepada Tuannya.


“Aku tertarik dengan dia. Bisakah kau atur pertemuanku dengan dia? Aku melihat dia memiliki potensi yang tidak bisa dianggap remeh. Jika aku telat menjadikannya kawan, aku yakin dia akan membahayakan kita sebagai lawan,” jelas si Kakek.


“Baik Boss… Mungkin pagi besok saat waktu sarapan di cafetaria adalah saat yang tepat,” ujar pria tersebut.


“Terserahmu lah…” jawab si pria tua.


Mendengar jawaban dari Kakek bukan kaleng-kaleng, anak buah itu langsung berjalan menuju ke ujung lapangan untuk mengobrol dengan Yono.


➖ 📱📱📱 ➖


Pagi hari keesokan harinya di cafetaria LP.


“Jadi siapa namamu barusan?” Yono duduk di sebuah meja makan sambil menghadap seorang pria tua dengan sebatang cerutu di tangannya. Di depan pria tersebut terdapat segelas kopi giling yang segar.


Dari apa yang terhidang di atas meja, jelas pria yang sedang bicara pada Yono ini bukanlah orang biasa. Karena tidak banyak orang yang bisa membeli rokok di kantin penjara. Harganya sangat mahal, bisa sepuluh sampai dua puluh kali lipat harga normal. Apabila rokok saja harganya bisa sampai ratusan ribu rupiah. Apalagi harga cerutu dan juga kopi giling. Yah… Untuk cerutu tentu saja tidak dijual di kantin. Dia dibeli dari awal dan harus melewati beberapa pemeriksaan dan pembayaran pajak agar bisa sampai di tangan narapidana.


“Yo… Yono Kek…” jawab Yono tergagap. Wajahnya tertunduk karena segan.

__ADS_1


“Nama lengkapmu siapa Yon?” tanya si Kakek kembali.


“Raja Sugiono Perkasa Kek...” jawab Yono yang gemetaran karena aura mengerikan yang dipancarkan oleh Kakek di hadapannya ini.


“Hmm… Nama yang menarik. Perasaan aku pernah dengar nama itu. Tapi darimana aku lupa,” ujar sang Kakek setengah berbisik.


“Oh iya… Aku ada hadiah buat kamu Yon…” ujar Kakek tua itu demi lebih mengakrabkan diri dengan Yono.


“A… Apa itu Kek?” tanya Yono.


“Bawa dia kemari!” titah sang Kakek tua pada anak buah setianya.


“Baik Tuan,” jawab si anak buah tanpa sedikitpun membantah.


Tak lama kemudian datanglah anak buah Kakek sambil membawa pria berbadan besar yang barusan hendak membunuh Yono. Yono lihat pria itu kini tidak hanya babak belur. Bentuk wajah yang dimiliki pria tersebut tampak sangat mengenaskan.


“Ini hadiahmua,” ujar sanga Kakek dingin.


Yono terdiam tak ingin membayangkan apa yang baru saja terjadi pada pria besar ini.


“E… E… A… Ada Kek… A… Apakah kamu diperintahkan keluarganya Hakim yang memang dendam padaku?” ditodong kesempatan besar, Yono malah sempat tergagap sesaat.


Pria itu hanya diam seribu bahasa. Enggan menjawab pertanyaan dari anak ingusan seperti Yono.


Melihat pria itu hanya diam tidak mejawab. Si Kakek yang sedang menyeruput kopi lalu membalik gelas kopi panas itu tepat di atas kepala si pria besar. Dengan perlahan air kopi mengalir membasahi kepala dan wajah pria besar itu.


“Jawab aja sih… Apa susahnya…?” ucap si Kakek dengan suara yang sangat pelan.


“I… Iya… A… Aku hanya melaksanakan tugas.” si Kakek tidak perlu usaha yang keras untuk memberikan intimidasi kepada pria tersebut. Padahal dari segi ukuran badan dan usia, secara kasat mata orang-orang akan menilai kalau kemampuan si Kakek jelas berada jauh di bawah pria yang kini sedang berada di bawah pengaruh intimidasinya.


“Bisakah kamu menceritakan pada kami dengan lebih mendetail?” tanya si Kakek pada pria besar tersebut.


“Ba… Baiklah…” jawab pria tersebut.

__ADS_1


Pria berbadan besar laksana seekor babon itu kini mencicit seperti seekor tikus. Dia menceritakan segala yang dia ketahui tentang Hakim, Keluarga Besar Hakim, dan mengapa keluarga Hakim begitu dendam pada Yono.


“Mengenaskan sekali nasibmu Nak…” si Kakek berempati pada Yono.


Yono hanya diam. Dia sudah menduga kalau memang keluarganya dibunuh oleh keluarganya Hakim. Tapi mendengarnya langsung seperti ini benar-benar menyakitkan. Apalagi Yono kini tahu kalau Bibinya dan sebagian keluarganya turut terlibat dalam pembunuhan ini. Yono gemetaran saat dia menyadari kalau kekuatan uang adalah segalanya di dunia ini.


“Bisakah kau urus keluarga laknat itu. Habisi sampai ke akar-akarnya!” titah sang Kakek pada anak buahnya. Yono terkejut karena Kakek di hadapannya ini bersedia untuk terlibat dalam urusan pribadinya. Mencoba untuk membalaskan dendam Yono.


“Baik Tuan!”


“Oh iya… Yono… Sedekat apa sih kamu dengan keluargamu?” tanya Kakek pada Yono tiba-tiba.


“Ti.. Tidak terlalu dekat Kek…” jawab Yono tak paham apa yang dimaksud dari pertanyaan Kakek.


“Habisi seluruh sanak keluarga Yono yang terlibat pada pembunuhan keluarga Yono,” tambah Kakek Arya. Yono ingin melarangnya. Tapi saat Yono ingat bagaimana keluarganya sudah berbuat begitu keji pada Ayah, Ibu, dan Adik-Adiknya, Yono mengurungkan kalimatnya.


“Baik Tuan, jawab si anak buah kembali. Sang Kakek tersenyum puas akan kesigapan yang dimiliki oleh anak buahnya.


“Oh iya Boss,” tambah si anak buah kepada Kakek.


“Ya. Ada apa?” Kakek sedikit terganggu karena barusan dia hendak berkata sesuatu pada Yono.


“Hari ini Keluarga Tuan akan datang berkunjung,” sang anak buah mengingatkan.


“Oh iya… Apakah cucu dan menantuku juga ikut?” tanya si Kakek tiba-tiba antusias.


“Ya Tuan… Mereka semua akan datang,” jawab anak buah Kakek.


Rasa kangen dan sayang pada putra, menantu, dan cucunya membuat senyum kehangatan tiba-tiba terpancar di wajah yang sedari tadi menampilkan raut wajah yang menyeramkan.


“Oh iya… Karena aku sedang senang, biarkan dia hidup. Tapi awasi dia, Jangan sampai melakukan yang macam-macam lagi di sini!” tutup sang Kakek pada anak buahnya.


Anak buah Kakek langsung mengangguk dan pergi setengah menyeret si pria besar itu.

__ADS_1


“Te… Terima kasih Boss besar… Terima kasih…” sambil diseret pergi, pria besar tersebut berterima kasih berkali-kali karena telah dibiarkan hidup.


➖ Bersambung ➖


__ADS_2