
"Ya?"
"Bangunan itu sudah selesai," Udin menyampaikan.
"Maksudmu yang kupesan untuk dibangunkan bulan lalu?"
"Ya! Tidak hanya sudah selesai. Tapi juga sudah lengkap dengan segala sehinggaperabotannya saat ini sudah siap huni," jelas Udin kembali.
Bulan lalu memang Kai meminta Udin untuk membangunkannya sebuah rumah dua lantai yang cukup luas dan mewah. Walaupun tentu saja secara luas dan segi kemewahan masih di bawah bangunan utama yang kini mereka gunakan sebagai tempat bernaung.
Tapi demi menjaga privasinya, Kai berencana untuk menggunakan bangunan ini sebagai rumah tinggal bagi dirinya untuk ke depannya.
Dengan dana luar biasa yang digelontorkan. Tentu saja Kai dapat menyelesaikan rumah barunya itu dalam jangka waktu satu bulan lebih saja.
Dan bukan cuman rumah Kai saja! Di komplek istana ini sekarang sudah berhasil dibangun tujuh bangunan baru dalam hanya dalam jangka waktu ratusan hari saja.
"Pas sekali. Selesai saat aku pulang," Kai tampak sumringah senang.
Kai lalu memandang Kristal untuk kemudian meminta Kristal agar mengatur ulang kembali pembagian bangunan dan ruangan di istana ini.
"Tapi pastikan aku pindah dari bangunan utama ini ke bangunan baru yang di sana," Kai menunjuk arah rumah barunya berada.
"Tapi Tuan... Bangunan itu kan lebih kecil dan kalah nyaman..."
"Lebih kecil iya. Kalau masalah nyaman. Mungkin lebih nyaman di sana. Karena aku ingin sedikit privasi."
"Baiklah..." Kristal lalu dengan cepat mengatur semuanya. Dia menuliskan banyak hal di tabletnya. Sementara yang lain dengan sabar menunggu hasil perhitungan Kristal yang biasanya paling objektif.
"Okey... Semuanya dengar," tiga menit kemudian Kristal sudah mendapatkan keputusannya.
Dibilang begitu. Semua yang ada di sana langsung diam mendengarkan Kristal. Termasuk Kai juga turut diam.
"Yang pertama, tentu Tuan Kai tinggal di rumah baru."
"Lalu Tuan Yono dan anaknya Tuan Muda Gilang. Serta Nona Kika dan anaknya Tuan Muda Dede tinggal di satu rumah terpisah berlantai satu yang ada di sana!"
"Loh... Kami satu rumah?"
"Kenapa memangnya?" tanya Kai heran.
__ADS_1
"Kami kan belum menikah. Mana boleh tinggal serumah!" Kika beralasan.
"Halah... Tiap malam ngah ngih nguh ngah ngih nguh. Masih mikirin tata krama!" celetuk Udin sinis.
Yono hanya menggaruk dagunya yang tak gatal tak bisa membantah sindiran Udin.
"Lanjut!" ujar Kai.
"Tapi..."
"Lanjutkan! Jutkan! Jutkan!" Udin menyela Kika sambil mengibas-ngibaskan tangannya ke arah Kristal agar dia tidak menghiraukan protes dari Kika.
"Nanti juga enak..." bisik Mbak Ati pelan sekali. Namun suaranya cukup untuk di dengar semua orang yang ada di sana. Nggak ada yang menyangka Mbak Ati akan berkata demikian.
"Ok lanjut!" Kristal memecah keheningan.
"Tuan Udin dan seluruh keluarganya juga akan tinggal di rumah tersendiri. Nggak papa ya Tuan... Bangunannya yang paling jauh dari gerbang," jelas Kristal.
"Nggak masalah. Oke aja aku mah..." ujar Udin sambil tersenyum penuh arti.
"Lalu di bangunan utama ini. Lantai empat akan digunakan oleh aku, Yeyen, Nona Sila dan Nona Melati. Lantai tiga akan dijadikan ruang kerja Laksa Utama dan Laksa Kembang. Sedangkan Lantai dua tetap digunakan oleh Laksa Perkasa, Laksa Cahaya, dan Laksa Rembulan."
"Lalu untuk di lantai satu. Tidak akan dialih fungsi. Tetap digunakan sebagai tempat penerimaan dan memanjakan tamu."
"Sedangkan untuk bangunan yang saat ini digunakan sebagai beskem dan asrama bagi anggota dari ketiga Laksa pertama. Tidak akan dialihfungsikan. Bahkan untuk beskem Laksa Perkasa sepertinya akan memerlukan perluasan kembali karena anggota nya bertambah dengan cepat."
"Ya. Aku setuju. Udin. Bisa kau urus?"
"Walaupun bidangku keuangan. Tapi nambah yang beginian sih bukan masalah berarti."
"Ok berarti ya...?"
"Siap lah!"
"Dan sepertinya harus tambah bangunan untuk jadi beskem dan titik kumpul anggota Laksa Kembang dan Laksa Utama," lanjut Kristal.
"Mungkin tidak perlu besar-besaran pembangunannya. Sesuaikan saja dengan banyaknya anggota kedua Laksa ini. Bisa ?mulai dieksekusi sebulan lagi. Setelah kedua Laksa ini mulai aktif."
"Siap Tuan."
__ADS_1
"Nanti biar Udin yang urus.
"Siap!" Udin dan Kristal menjawab kompak.
"Baiklah... Silahkan kalian semua berkemas dan pindah ke lokasi yang sudah ditentukan oleh Kristal," tutup Kai.
"Dan jangan ada yang protes lagi!" Kai memandang Kika dalam.
Kika memang sahabat Kai. Kika memang wanita yang mengambil malam pertama Kai. Tapi Kika tidak boleh lupa kalau posisi Kai di sini adalah atasannya..
"Ba... Baik Kai..." Kika sedikit takut karena tatapan tajam khas pemimpin yang ditunjukkan oleh Kai pada dirinya.
"Bagus. Yuk bubar!"
Serempak mereka semua meninggalkan ruangan mengikuti komando dari Kai.
➖ 📱📱📱 ➖
Di kegelapan malam Kai tampak berjalan sendirian menusuri jalan setapak yang dibuat dari batu-batu kerikil yang disusun mengular membelah taman.
Kai memang barusan tidak harus beres-beres dan melakukan persiapan untuk pindah atap. Karena Yayan dan Yeyen sudah membantu Kai untuk melakukannya. Tapi walaupun Kai tidak harus melakukan apapun. Kai barusan malah jadi asyik saat melihat teman-temannya yang lain sibuk beres-beres.
Dan walaupun kegiatan ini tampak sederhana. Tapi nyatanya mereka baru selesai beres-beres rumah saat malam tiba.
Tanpa terasa Kai berjalan. Kai kini sudah memasuki area pekarangan rumahnya yang tidak berpagar. Hanya dibatasi jalan setapak cantik yang melingkar di sekitar pekarangan rumah.
Cklek!
Dengan pemindai sidik jari yang diletakkan di gagang pintu, Kai bisa langsung masuk ke dalam rumahnya tanpa melakukan ritual apapun untuk membuka kunci. Selama Kai yang memegang gagang pintu. Maka kunci akan terbuka dengan sendirinya. Dan begitu pintu tertutup, maka dia akan langsung terkunci.
Kai memandang seluruh desain interior yang dibuat oleh Udin. Semuanya sesuai dengan keinginan dari Kai. Disamping itu, denah dari rumah baru berlantai dua yang akan ditinggali oleh Kai ini juga dirancang berdasarkan keinginan dari Kai.
Di lantai satu terdapat sebuah ruang tamu dengan beberapa sofa dan juga sebuah meja kopi berbahan kayu jati. Tak ada ruang pribadi di lantai satu. Hanya ada sebuah ruang kerja. Sebuah ruang untuk Kai gunakan menyalurkan hobi dan keahliannya dalam mematung. Dan sebuah ruang bersantai dengan sebuah perapian serta internet TV yang menggantung di dinding atas perapian.
Berbeda dengan lantai satu.2 Lantai dua lebih bersifat pribadi. Dua pertiga dari lantai itu adalah sebuah kamar tidur luas yang menyatu dengan kamar mandi mewah berfasilitas mewah dan lengkap dengan jacuzzi yang nyaman.
Sepertiga bagian lantai dua Kai gunakan sebagai gym pribadi yang dilengkapi dengan berbagai perlengkapan latihan bela diri.
Sudah jauh hari Kai sadar. Walaupun dengan segala kelebihan yang dia punya. Tapi berolahraga adalah kegiatan yang baik untuk melepaskan penat. Baik olahraga di gym seperti ini. Ataupun olahraga tandem yang paling enak kalau dilakukan di atas ranjang.
__ADS_1
➖ Bersambung ➖