Memulung Kejayaan

Memulung Kejayaan
Kisah 12 : Power Leveling (Bagian 6)


__ADS_3

"Apakah di rumah ada laptop?" tanya Kai dengan suara lantang.


'Dan juga WiFi?' tanya Kai dalam hati.


Jelas Kai akan malu apabila si Kika mendengar fakta bahwa Kai tidak tahu apakah di rumahnya ada WiFi atau tidak.


"Tidak ada Tuan," jawab Kristal


[Kalau WiFi ada.]


Jawab sistem.


Sekarang gantian. Yang ditanya Kristal, yang jawab malah Sistem. Sepertinya Sistem juga punya SOP untuk mengatur siapa yang harus menjawab pertanyaan dari Kai agar Kai tidak disangka orang gila yang suka bicara sendiri.


"Kalau begitu aku ingin beli laptop."


Kai terpikirkan sebuah cara untuk mencari uang yang lebih besar dan aman dibandingkan dengan berjudi togel. Cara ini sempat diajarkan oleh Kakek Arya secara sekilas.


Walaupun saat ini Kai belum benar-benar paham, tapi dengan menggunakan kemampuan spesial yang dia miliki, Kai yakin dia dapat melakukan strategi ini dengan sangat baik.


Tapi tetap saja, untuk menjalankan langkah ini Kai memerlukan setidaknya sebuah laptop.


"Baik Tuan," jawan Kristal.


"Bisakah kau antarkan aku ke toko yang menjual laptop?"


"Di sini saja Tuan," jawab Kristal menunjuk berbagai laptop yang berjajar di etalase.


Kai langsung merasa malu setelah mendengar jawaban tanpa belas kasih dari Kristal.


Dan benar saja. Dua orang pengunjung yang tidak sengaja mendengar percakapan mereka berdua langsung terdengar terkikik pelan.


"Oh... Aku tidak memperhatikan karena terlalu asyik bermain dengan Dede," jawab Kai ngeles.


Jawaban Kai tidak membuat dua orang yang barusan terkikik menjadi berhenti. Mereka kini terbatuk dan tersedak karena siapapun tahu kalau merek elektronik berbentuk buah ini terkenal karena produk handphone dan juga laptopnya.


'Yah... Aku ketahuan kampungannya ya?' tanya Kai dalam hati.


[Ya Host. Anda ketinggalan zaman sekali.]


'Bisa kamu ubah persepsi mereka?'


[Tidak perlu Host. Karena mereka beranggapan kalau Host adalah tipikal orang kaya yang super produktif yang hanya memikirkan pekerjaan hingga tidak memperhatikan trend masa kini sama sekali.]


'Terus kenapa mereka semua menahan tawa?'

__ADS_1


[Ya bagi mereka kelakuan Host ini lucu aja.]


'Bukankah seharusnya mereka segan mentertawakan orang kaya?' tanya Kai.


[Sekarang di Medsos sedang trend mentertawakan orang kaya Host.]


'Oh ya?'


[Ya Host. Ada orang kaya yang mendadak miskin dan dipenjara karena jadi afiliator judi online berkedok trading. Lalu ada pula Crazy Rich yang ditertawakan karena tidak pernah merasakan kesenangan orang miskin.]


'Oh... Seperti kesenangan saat memulung sampah dan kita mendapatkan timbangan yang bisa menghasilkan uang cukup untuk makan?' Kai mengenang masa lalu.


[Tidak semiskin itu juga?]


'Heran. Masih bisa makan rutin kok ngaku miskin...' Kai menyindir Author dan para pembaca semua.


"Baiklah, tolong carikan laptop yang paling cocok untukku," pinta Kai dengan wajah yang masih memerah setengah matang pada Kristal.


"Baik Tuan."


Beberapa belas menit kemudian Kristal kembali berbicara pada Kai dengan menunjukkan sebuah laptop dengan harga 90 juta rupiah.


“Apakah ini laptopnya?” tanya Kai pada Kristal.


“Ya. Model Laptop ini dibuat oleh khusus untuk profesional perusahaan. Dia mengusung desain tampilan yang elegan dan saya pikir akan sangat cocok untuk Tuan,” jelas Kristal.


Dua orang pengunjung yang semula tersedak karena merasa Kai begitu ‘kampungan’, kini kembali tersedak karena Kai dapat dengan ringannya mengeluarkan uang yang begitu besar.


Di dalam hati mereka semakin yakin dengan kesimpulan mereka di awal. Dan mereka balik memuji Kai yang sangat berduit namun tidak memperdulikan trend merek kekinian.


“Baik Tuan.”


Setelah beberapa menit Kristal bertransaksi dengan penjaga toko, akhirnya Kai kembali mendapatkan notifikasi bila dirinya kembali naik level. Kali ini hanya satu level.


➖ 📱📱📱 ➖


Selesai membeli berbagai peralatan elektronik mereka lalu bersantai sejenak dengan menikmati es krim. Walaupun begitu, ada beberapa beban pikiran yang masih menggelayuti Kai. Kai sedang merencanakan dengan serius berbagai langkah yang harus dia lakukan untuk beberapa bulan ke depan.


Terutama bagaimana caranya agar dia bisa memaksimalkan keberadaan Yono, Udin, dan juga Kika.


Setelah beberapa menit terdiam sambil sesekali menyesap manisnya es krim, Kai membuka pembicaraan yang lumayan serius dengan Kika.


“Kika…” sahut Kai pada Ibu muda di sebelahnya.


“Ya Kai?” jawab Kika yang sedang asyik menggoda anaknya dengan menyodorkan es krim tapi tidak kunjung dia berikan.

__ADS_1


Tanpa sepengetahuan Kika, si Dede bertekad untuk cepat gede dan membalas perlakuan Ibunya tersebut.


“Seandainya kamu diberikan kesempatan untuk mulai berbisnis, kamu ingin bisnis apa?” tanya Kai.


“Hmm... Aku ingin punya jongko di pasar,” jawab Kika singkat.


“Terus... Kamu pengen jualan apa?” tanya Kai kembali.


“Daleman wanita,” jawab Kika tanpa banyak berpikir.


‘Bisnis yang bagus,’ puji Kai dalam hati.


Kai merasa ini adalah bisnis yang bagus bukan dari potensi bisnisnya, melainkan karena barang yang dijual adalah hal yang sangat menarik bagi lelaki seperti dirinya.


“Kenapa kamu terpikirkan untuk berjualan daleman wanita?” tanya Kai kembali.


“Beda sama laki-laki, perempuan tuh bakalan sering banget beli daleman. Walaupun keuntungan nya gak begitu besar, tapi perputarannya sangat tinggi,” Kika menjelaskan konsep bisnisnya dengan baik.


Kika mendapatkan informasi ini dari obrolan ringan dengan penjual daleman di pasar.


“Sepertinya ini ide bisnis yang bagus,” kini Kai mengatakan pujian dengan lantang karena Kai memang merasa model bisnis yang Kika ajukan cukup bagus. Bukan semata-mata karena Kai adalah seorang ‘lelaki’.


“Apakah kamu terpikirkan bisnis lain selain berjualan di Pasar?”


“Apakah ideku buruk Kai?” Kika pikir kalau Kai ini lumayan ahli dalam berbisnis. Terbukti dengan seluruh harta yang Kai miliki saat ini.


Kika sebenarnya ingin sekali bertanya pada Kai. Seandainya dia memiliki harta sebanyak ini, mengapa dia kemarin memalsukan identitas untuk menjadi seorang pemulung. Apakah Kai ingin mencari wanita cantik yang rela menerima Kai apa adanya seperti dirinya saat ini?


“Kan sudah kubilang, kalau idemu ini sangat bagus. Tapi apa salahnya kalau kita memiliki beberapa jenis usaha sekaligus kan?” Kai ingin mendorong pola pikir Kika jauh dari sekedar ‘menjaga jongko’. Karena modal yang dimiliki oleh Kai saat ini bisa dibilang tidak terbatas.


“Malu…” jawab Kika dengan wajah yang benar-benar menunjukkan ekspresi malu.


“Bilang aja…” desak Kai.


“Eeeee... A... Aku... Ingin jadi artis,” jawab Kika.


“Wah… Untuk perempuan secantik kamu, menjadi artis adalah pilihan yang cukup baik.”


“Benarkah?”


“Beneran!” Kai meyakinkan Kika.


“Emangnya kenapa kamu menanyakan hal seperti ini kepadaku?” tanya Kika penasaran.


“Karena aku tidak ingin kamu melakukan hal-hal selayaknya pembantu lagi. Mau bagaimanapun juga kamu adalah temanku. Orang yang rela menerimaku walaupun aku hanyalah seorang pemulung,” jawab Kai.

__ADS_1


‘Tuh… Kan… Ini mah beneran kayak kisah-kisah Cinderella di Novel Toon. Kai ini ternyata benar-benar Crazy Rich yang nyamar jadi orang miskin biar bisa dapat orang-orang yang paling dapat dia percayai,’ simpul Kika asal.


➖ Bersambung ➖


__ADS_2