
"Ke... Keluarga Prayoga datang..." ujar anak buah Yono dengan begitu hebohnya.
"Oh... Kirain ada apa?" jawab Kai santai.
Memang salah Kai dan para pemimpin Laksa di sini yang belum memberitahukan para anggota Laksanya kalau ada dua anggota keluarga Prayoga yang tinggal di istana ini. Yakni Sila dan Kai.
Dalam sepengetahuan para anggota Laksa. Laksa Perkasa utamanya. Keluarga Prayoga adalah musuh bagi mereka semua.
"Siapa saja yang datang?"
"Pemimpin keluarga, komandan mereka dan beberapa ratus orang anak buahnya," jawab anak buah Yono menjelaskan kalau mereka yang datang adalah Pasal, Frank, dan rombongannya.
"Perlakukan mereka dengan baik. Dan tolong minta mereka untuk menunggu sejenak di ruang tamu," titah Kai pada anak buah Yono.
"Ta... Tapi..." anak buah Yono melirik ke arah Yono. Yono jawab lirikannya dengan sebuah anggukan yang diartikan sebagai 'Ya! Kamu tidak salah dengar!'
Anak buah Yono langsung berlari kembali meninggalkan ruangan yang digunakan untuk rapat yang sangat penting tersebut.
"Ok. Rapat kali ini kita sudahi dulu. Yang penting semuanya sudah tahu tugas masing-masing kan?"
"Ya."
"Aku mengerti."
"Siap."
"Baik. Sekarang tolong kalian semua bersiap. Kita ada tamu penting yang harus kita temui. Dan Sila!"
"Ya Kai?"
"Di pertemuan nanti. Untuk sementara waktu tolong jangan kau posisikan dirimu sebagai anggota keluarga Prayoga ya..."
"Tenang. Aku paham kok..."
"Bagus." Kai berdiri dari kursinya. Diikuti oleh para pemimpin Laksa yang lain. Mereka pun meninggalkan ruangan dengan kompak.
Selesai satu pertemuan. Mereka langsung menuju ke pertemuan yang lain.
➖ 📱📱📱 ➖
Kai memasuki ruang pertemuan dengan keluarga Prayoga terlebih dahulu. Diikuti oleh Kristal, Sila, Udin, Kika, dan Mbak Ati. Yono yang berjalan paling belakang bediri di depan pintu. Menunggu seluruh kawan-kawannya di kursi mereka masing-masing.
Yono memasuki ruangan. Lalu...
Brug!
__ADS_1
Yono berlutut begitu melewati pintu masuk.
"Ngapain kamu?" Udin bersuara.
Kai dengan gestur tangannya menahan Udin agar tidak mengintervensi tindakan dari Yono lebih lanjut.
"Guru! Tuan Pasal! Selamat datang!" Yono bersujud kepada dua orang di antara sedikit orang yang paling berjasa bagi hidupnya.
"Guru sih guru... Tapi soal bisnis kamu nggak ragu buat bersaing dengan kami," cibir Frank pada Yono.
Hanya Sila dan Kika yang tertegun melihat pemandangan tersebut. Sedangkan Kai hanya tersenyum. Udin terdiam mengerti. Dan Mbak Ati sudah menangis karena haru.
"Yono muridnya Papah?" bisik Sila pada Kai.
"Dia muridnya Frank," jawab Kai.
"Oh ya?"
"Dan kalau saja dia tetap bersama Kakek lebih lama. Dia mungkin sudah menjadi paman angkatmu juga..." lanjut Kai.
"Iya... Kakek memang orang yang seperti itu," Sila mengenang sifat dari Kakek tercinta.
"Sulit percaya orang," ujar Kai.
"Namun kalau sudah percaya," sambung Sila.
Sila dan Kai berkaca-kaca. Mereka memiliki pemikiran yang sama tentang sosok manusia luar biasa yang bernama Arya Prayoga.
"Maaf guru! Maaf tuan! Aku harus melakukannya!" jawab Yono semakin membenamkan kepalanya.
Sebenarnya Yono enggan dan takut bila harus berhadapan dengan Frank dan seluruh anggota keluarga Prayoga. Tapi Yono kini adalah pemegang tanggung jawab besar sebagai pemimpin dari Laksa Perkasa. Seandainya Yono harus berhadapan dengan dirinya sendiri sekalipun, Yono tetap melakukan segala hal yang sudah dia lakukan pada keluarga Prayoga hingga saat ini.
"Berdirilah!" titah Pasal pada Yono.
"Duduklah di kursimu! Kau memang muridku. Selamanya kau adalah muridku. Tapi di pertemuan ini kau adalah rival setaraku," lanjut Frank pada Yono.
"Terima kasih Guru! Terima kasih Tuan!" ujar Yono pada Pasal dan Frank.
Lalu dengan gestur yang sangat santun, Yono duduk di kursi yang telah disediakan.
Ada banyak orang luar biasa di dunia ini. Dan setiap orang luar biasa terlahir dari seorang guru yang luar biasa pula. Seluar biasa luar biasanya seseorang. Dia hanya akan menjadi seorang bedebah sampah jika melupakan jasa dari guru dan juga orang-orang yang telah menolong dirinya.
Dan Yono bukanlah seorang bedebah sampah.
➖ 📱📱📱 ➖
__ADS_1
"Ada apa Paman sampai jauh-jauh mau datang ke sini?" tanya Kai pasa Paman angkatnya tersebut.
"Ya. Ini mengenai hubunganmu dengan Papah."
"Aku dan Kakek?" tanya Kai memastikan.
"Ya."
Mendengar nama Arya disebut Yono langsung menyatukan kedua alisnya. Tak sekalipun Kai pernah menceritakan kalau dia sempat berhubungan dengan keluarga Prayoga. Terlebih lagi dengan Kakek Arya.
"Kenapa Paman?"
"Aku sudah meminta Frank untuk memastikan perkara hubunganmu dengan Papah."
"Jadi Paman ingin membahas soal wasiat Kakek?"
"Ya. Saat ini aku ingin membahas tentang status mu sebagai pewaris tunggal seluruh kekayaan Keluarga Prayoga yang dipilih langsung oleh Papah."
Kecuali Sila. Semua anggota Laksa terkejut mendengar itu. Mbak Ati dan Udin memang pernah mendengar kalau Kai mengetahui siapakah keluarga Prayoga. Tapi Kai tidak pernah cerita kalau Kai memiliki hubungan sedekat ini.
Dan... Pewaris tunggal?! Yang benar saja?!
Di saat semua orang begitu terkejut. Kai hanya diam tak tertarik tentang topik yang akan diangkat oleh Pasal.
"Alasanmu dipilih untuk menjadi pewaris tunggal adalah karena kondisiku saat itu yang sudah sakit-sakitan dan tidak akan hidup lama. Tapi berkat kedatanganmu ke rumah sakit waktu itu. Situasinya kini sudah berubah. Kini aku masih hidup dan bahkan aku kini menjadi sangat sehat."
"Sejujurnya aku berhutang nyawa padamu."
"Tapi dengan hidupnya aku. Maka sepertinya kau tidak akan menerima warisanmu dalam waktu dekat. Tapi kau tetap akan menerima warisanmu setelah aku meninggal dunia."
Kai menyandarkan punggungnya sambil memijat kedua matanya. Dia benar-benar tidak suka dengan topik perbincangan ini.
"Sbagai permintaan terima kasihku padamu. Hari ini keluarga Prayoga menawarkan gencatan senjata. Keluarga kami tidak akan mengganggu bisnismu. Tapi dengan catatan kamu dan seluruh Laksamu juga tidak mengganggu bisnis kami," Pasal mulai berkata dengan nada dingin. Menatap Kai. Lalu menatap Yono dalam jangka tatapan yang lebih lama.
Sama seperti yang diceritakan oleh Frank. Keluarga Prayoga memang menganggap Kai dan kawan-kawan sebagai ancaman bagi mereka. Kai memang merasa senang karena dia dan seluruh Laksanya kini masuk ke dalam radar ancaman bisnis keluarga Prayoga.
Tapi gencatan senjata?! Yang benar saja!
"Aku tidak masalah dengan semua perkataanmu soal warisan. Tapi Maaf. Untuk gencatan senjata. Aku menolak untuk melakukannya."
Apa yang dikatakan Kai membuat Yono seakan rontok seluruh tulang-tulangnya. Yono tidak menyangka kalau Kai akan berani untuk menantang langsung keluarga Prayoga di depan pemimpin tertingginya.
Yono tidak sendirian. Bahkan para pemimpin Laksa yang lain pun sama terkejutnya dengan Yono. Mereka semua tahu betapa berkuasanya keluarga Prayoga di Indonesia saat ini.
Terlebih lagi saat mereka melihat bagaimana dengan beraninya Kai menatap dingin ke arah pasal dan juga Frank bergantian.
__ADS_1
➖ Bersambung ➖