
Area mini Bar yang terletak di lantai satu istana tersebut tidak bisa disebut sebagai mini juga. Bar itu cukup panjang dengan lima buah bar stool di depannya.
Di area dalam Bar terdapat sebuah rak besar yang berisikan aneka merek minuman keras. Dan emuanya tidak bisa digolongkan sebagai minuman murahan.
Setelah mengambil sebotol minuman keras, Kai menuangkan minuman keras tersebut ke dalam gelas berisikan beberapa balok es.
"Ahhh..." Kai teguk minuman keras di dalam gelas dingin dalam satu kali angkatan.
Pikiran Kai yang sedang berkemelut membuat minuman keras menjadi obat terbaik untuknya saat ini. Setidaknya hanya itulah yang terpikirkan oleh Kai.
Sistem memang memberikan rumah ini sudah sangat lengkap. Selain perabotan dan juga berbagai peralatan rumah tangga, rumah ini juga sudah dilengkapi dengan berbagai kebutuhan sehari-hari seperti obat-obatan, makanan, bahkan rokok dan juga minuman keras.
Adanya rokok dan minuman keras seakan-akan menegaskan kalau memang rumah ini dibuat hanya untuk Kai dan juga kawan-kawan premannya yang gemar nongkrong, merokok, dan minum minuman keras.
Kai meneguk kembali minuman keras sambil bergumam dalam hati, 'Pada akhirnya aku hanyalah seorang pembunuh.'
Trak!
Kai sedikit membanting gelas dingin setelah selesai menenggak habis cairan berwarna dari dalamnya.
Tangan Kai yang sedang menggenggam gelas bergetar hebat saat dia mengingat teriakan dari para preman yang meminta ampun di saat-saat terakhir mereka.
"Ah! Sial!" kembali Kai dengan kalap menuangkan cairan memabukkan itu ke dalam gelas di tangannya sebelum kembali menenggak habis dalam satu angkatan.
[Host. Berhentilah bersedih.]
'Apa urusanmu? Pada kenyataannya aku memang sudah membunuh mereka semua.'
[Host. Kamu harus rela untuk menjadi kotor saat ingin membersihkan kotoran.]
Kai diam mendengarkan Sistem. Tumben banget ya si Sistem kasih nasihat sama si Kai. Biasanya dia cuek-cuek aja.
[Tidak mungkin orang menjadi kaya sebelum dia memiskinkan saingannya. Tidak mungkin seseorang menjadi Raja sebelum dia menaklukkan kandidat lainnya.]
[Dan....]
[Tidak mungkin datang kedamaian sebelum terjadi peperangan.]
Kai tak lagi menenggak minumannya. Rentetan kalimat yang dikatakan oleh sistem membuat Kai memilih untuk mempertahankan kesadarannya.
Zreeeg...
Kai menyeret asbak di atas Bar yang berjarak satu bentangan tangan hingga mendekat. Kai lalu menyalakan sebatang rokok kesukaannya.
__ADS_1
[Untuk memulung kejayaan, kamu harus merelakan jiwamu menjadi sedikit lebih kotor. Karena begitulah hukum di dunia ini.]
Lanjut Sistem.
'Berbuat kotor untuk memulung kejayaan? Terdengar seperti apa yang terjadi pada Prians Group,' Kai tiba-tiba teringat akan perbuatan Paman dan Bibinya yang berusaha menyingkirkan orang tua dan juga dirinya delapan tahun yang lalu demi merebut kejayaan yang dimiliki oleh keluarga Kai.
[Benar.]
'Apakah aku harus menjadi seperti mereka untuk memulung kejayaanku?'
[Kurang lebih. Ya!]
'Berarti kau ingin aku akan menjadi pecundang yang tega membuang seorang anak?'
[Ya. Kalau itu memang perlu dilakukan dan kau memang tega melakukannya. Apa salahnya.]
'Aku tidak ingin menjadi pecundang semacam itu,' jawab Kai sambil menghembuskan asap dari mulutnya.
[Apapun yang kau lakukan. Sekejam apapun kelihatannya. Semuanya tergantung pada tujuanmu.]
'Maksudmu?'
[Sebuah negara yang memulai peperangan untuk mempertahankan wilayah negaranya, tentu saja memiliki nilai kemuliaan yang berbeda dengan sebuah negara yang memulai peperangan untuk mengeksploitasi sumber daya alam dari negara jajahannya.]
[Tapi jika ada orang yang melakukan hal yang kurang lebih sama demi memberikan kesejahteraan atau menyelamatkan banyak orang. Tentu maknanya akan jauh berbeda.]
'Cih! Itu alasan yang picik! Cara yang salah tetap tidak dapat menjadi benar karena sebuah tujuan yang mulia. Pembunuh ya pembunuh. Pencuri ya Pencuri,' walaupun Kai sedikit banyak setuju dengan Sistem, tapi Kai terus mencoba untuk mendebat Sistem. Kai hanya ingin menjadi semakin yakin.
[Tahukah Host kenapa seorang Raja yang dikenal bijaksana suka memenggal pengkhianat kerajaan bersama seluruh keluarganya hingga tidak tersisa?]
'Untuk memutus rantai dendam?' Kai jawab asal.
[Ya.]
[Sekarang coba Host pikirkan, apa yang terjadi jika Host tidak menghabisi seluruh Preman yang ada di sana?]
Kai tiba-tiba teringat kalimat Kika saat menciumnya dikala mereka terbang barusan.
'Aku akan mati. Kika dan Dede akan menderita selamanya.'
[Ya. Dan apakah kau rela mati sebagai seseorang yang hanya pasrah saat nyawanya terancam? Hanya diam saat orang yang terkasih akan menerima nasib buruk?]
'Tentu tidak!'
__ADS_1
[Host melakukan ini semua untuk menyelamatkan nyawa Host. Demi masa depan yang lebih baik untuk Kika dan juga Dede.]
'Kau benar.'
Kai memang menyesal. Tapi dia tidak sepenuhnya salah. Dia boleh terpukul. Tapi dia tidak boleh terpuruk. Seburuk apapun pengalaman hidup dan kesalahan dalam hidupnya. Hidup harus terus berjalan.
'Kau memang salah Kai, tapi kau semakin salah kalau kau terpuruk hanya karena menyesali perbuatanmu,' Kai bicara pada dirinya sendiri.
'Kau memang pembunuh. Terima saja predikat itu! Dan hiduplah dengan predikat itu!' ujar sisi Kai yang lain.
'Kau membunuh bukan untuk merampok atau bertindak semena-mena. Kau membunuh demi tetap hidup. Kau membunuh bukan untuk dirimu sendiri. Kau membunuh demi hidup yang lebih baik bagi orang-orang di sekitarmu.'
'Bahkan Thanos pun mempunyai pembenaran atas 'snap' yang dia lakukan. Dan dia sama sekali tidak pernah menyesali pilihan hidupnya,' simpul Kai.
'Tapi sistem...'
[Ya Host?]
'Kenapa hatiku masih terasa mengganjal?' tanya Kai.
[Kau butuh menangis Host.]
'Bolehkah?' Kai merasakan sesak di dada telah berpindah ke tenggorokannya.
[Menangislah!]
Kai akhirnya berteriak keras sekali. Menumpahkan seluruh ganjalan yang di dalam hatinya. Dia menangis dengan jeritan yang terasa begitu memilukan.
Tanpa sengaja di dalam kamar, Kika dapat mendengar teriakan pilu yang dijeritkan oleh Kai. Kika yang sedang menyusui Dede turut meneteskan air matanya.
'Maafkan aku Kai. Maafkan aku dan juga Dede,' bisik Kika dalam hati.
➖ 📱📱📱 ➖
Hampir dua jam berlalu, Kika akhirnya keluar dari kamar menuju ke area Bar setelah yakin kalau si Dede telah tidur nyenyak.
Dalam perjalanan menuju area bar Kika tanpa sengaja melihat sebuah kotak P3K. Kika berinisiatif untuk mengambil kotak tersebut untuk menyembuhkan luka yang diderita oleh Kai dan juga Kika.
'Eh... Kok?!' gumam Kika.
Kika agak terkejut saat dia memperhatikan kalau seluruh luka yang diderita oleh Kai tampak sudah sembuh total. Terlihat dari kulit wajah legam Kai yang sudah tampak mulus kembali seperti sedia kala.
Tanpa sepengetahuan Kika, barusan Kai sudah menyembuhkan lukanya menggunakan kemampuan spesial Dokter Sihir. Kai memang sejak awal sudah berencana untuk menyembuhkan Kika dengan menggunakan kemampuan spesial Dokter Sihir.
__ADS_1
➖ Bersambung ➖