
Vrooom…
Deru mobil terdengar dari kejauhan. Tampak delapan buah mobil berjajar rapih membelah jalanan. Yono dan kawan-kawan pulang dengan kecepatan tinggi. Bukan karena mereka takut bila harus berhadapan kembali dengan geng jalanan, tapi itu hanyalah buah dari sebuah kebiasaan.
“Mereka sudah sampai,” ujar Yono pada Udin yang tampak sedang berdiri di sebelah Kai dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
Pintu gerbang istana milik Kai dibuka perlahan, mobil yang ditumpangi oleh Yono dan kawan-kawan satu per satu masuk ke area pekarangan. Walaupun seluruh mobil berwarna sama, tapi mobil MPV yang digunakan oleh Yono tampak begitu kontras sekali karena mobil yang lainnya bertipe sama.
Kai dan Udin langsung menghampiri menyambut Yono begitu pemimpin Laksa Perkasa itu turun dari dalam mobil.
“Apakah kalian baik-baik saja?” tanya Kai pada Yono dan keempat anak buahnya.
“Tidak ada luka serius,” jawab Yono.
“Kudengar kamu yang memberitahukan anak buahku di mana posisiku barusan,” Yono memastikan keterangan yang dia dengan dari anak buahnya yang tiba-tiba datang.
“Ya,” jawab Kai.
“Darimana kamu mengetahui kalau aku dalam bahaya? Terlebih lagi kamu juga bisa tahu tepatnya dimana posisiku barusan?”
“Insting,” jawab Kai asal.
Jelas saja jawaban dari Kai membuat Yono tidak mempercayainya. Logika paling sederhana adalah Kai memasang penyadap di pakaian ataupun mobil Yono, tapi Yono yang teliti sudah memeriksa semuanya. Dia tahu kalau Kai tidak memasang penyadap apapun pada dirinya. Yono semakin penasaran kenapa Kai bisa tahu kalau dia dalam bahaya dan dimanakah posisinya barusan.
“Mungkin tenaga dalam dan ilmu leluhur lagi,” bisik Udin pada Yono yang menangkap ekspresi penuh tanya dari Yono.
‘Ya. Untuk sekarang hanya itulah jawaban yang paling bisa dia terima,’ pikir Yono mengamini kesimpulan dari Udin.
Kai terpaksa tidak cerita banyak karena dia harus merahasiakan keberadaan Sistem. Sebenarnya, Kai bisa tahu kondisi Yono berdasarkan sinyal bahaya yang diberikan dari Sistem. Karena Yono adalah pemimpin Laksa yang juga sudah terkoneksi dengan sistem, sehingga Sistem akan berusaha memberikan keamanan maksimal kepada seluruh anggota Laksa dan Yono sebagai pemimpin mereka.
“Kalian sudah datang!” Kika berlari ke arah Yono dan keempat anak buahnya dengan ekspresi yang benar-benar khawatir. Yono langsung memalingkan wajahnya dari arah Kika dan memandangi langit.
“Kalian tuh ya…! Bikin orang khawatir aja!” pekik Kika yang juga membawa sekotak P3K.
Kekhawatiran Kika bukanlah tanpa alasan. Walaupun Yono mengatakan dirinya baik-baik saja. Tapi tetap saja mereka kini penuh dengan lebam dan juga luka goresan ringan.
Kika langsung bergerak mengobati keempat anak buah Yono yang memiliki luka paling parah. Kika terlihat cukup ahli dalam memberikan pertolongan pertama.
‘Padahal aku bisa menyembuhkan mereka sekarang juga,’ gumam Kai dalam hati namun juga membiarkan Kika melakukan apa yang ingin dia lakukan.
‘Mungkin Kika lupa,’ begitu simpul Kai.
Selesai mengobati keempat anak buah Yono, Kika mulai mendekati Yono. Dia dengan telaten mengobati beberapa luka di wajah Yono dengan lemah lembut.
__ADS_1
Kika sama sekali tidak bisa menyembunyikan ekspresi yang penuh dengan kekhawatiran. Padahal luka Yono bisa dikatakan sebagai luka yang sangat ringan. Bahkan untuk ukuran lelaki yang senang berkelahi, bisa dibilang Yono tidak terluka sama sekali.
Sementara Kika dengan hati-hati mengoleskan obat di wajah Yono, Yono hanya menolehkan wajahnya tidak berani memandang Kika. Mungkin Yono sadar akan kedekatan yang terjalin antara Kika dengan Boss nya saat ini.
Kai sedang mengobrol ringan dengan Kristal dan Udin saat Kika mengobati Yono. Kai bersyukur karena memang sesuai dugaannya, Yono akan baik-baik saja.
‘Apa?!’ namun Kai langsung terkejut saat dia tanpa sengaja melihat ke arah Kika yang sedang mengobati Yono.
Penglihatan Seorang Detektif yang dimiliki oleh Kai menunjukkan sebuah keterangan yang sama sekali tidak Kai duga.
‘Oh… Pantas saja… Kalau kayak gini sih semuanya jadi wajar…’ simpul Kai di dalam hatinya setelah membaca dengan detail keterangan yang ditunjukkan oleh Penglihatan yang dia miliki tersebut.
“Oh iya Yon…” Udin berteriak pada Yono.
Yono tidak menjawab. Dia hanya menoleh.
“Mobil MPV kamu sudah bukan punya kamu lagi. Mulai hari ini, itu mobil kamu,” Udin menunjuk sebuah mobil Rolls Royce Panthom yang terparkir bersama dua mobil lain bertipe sama.
“Benarkah Kai?” tanya Yono tak percaya apa yang baru dia dapatkan.
“Benar Yon… Mulai hari ini mobil aku, Udin, dan kamu berjenis dan berwarna sama,” jawab Kika mewakili Kai.
Yono merasa wajahnya menjadi kaku saat mendengar kalimat yang diucapkan oleh Kika.
“O… Oh… Gi… Gitu…?” Yono tergagap. Memang nggak enak rasanya berbicara terlalu banyak dengan pasangan Bossnya ini.
Satu hari pun akhirnya berlalu. Pasca Yono dan kawan-kawan dipastikan pulang dengan selamat. Kai, Udin, Yono, dan Kika kembali pada kesibukan mereka masing-masing. Sementara Kai kembali mengeksploitasi saham, kawan-kawannya kembali mempersiapkan langkah selanjutnya untuk mengembangkan Laksa yang mereka pimpin. Mereka semua kompak lembur tanpa ada yang mengkomando. Mereka semua bekerja begitu keras.
Pekerjaan yang tersisa semalam, langsung mereka lanjutkan begitu pagi datang. Hal ini menyebabkan suasana rumah Kai begitu ramai walaupun matahari baru saja terbit. Walaupun beban pekerjaan yang cukup berat, namun baik Kai, Yono, Udin, dan juga Kika tetap melakukan semuanya dengan suka cita. Tak jarang mereka tampak bercanda di tengah kesibukan mereka.
Berbeda dengan suasana rumah Kai yang super sibuk namun penuh senyum dan juga tawa, Di tempat lain yang cukup jauh dengan lokasi istana milik Kai. Kita dapat melihat sebuah ruangan yang kotor dan kelam mirip dengan gudang.
Akan tetapi, dari susunan furnitur di ruangan tersebut kita tahu kalau itu adalah sebuah kantor dan bukan gudang.
Di tengah ruangan tampaklah pemimpin anak jalanan yang kemarin mengeroyok Yono sedang duduk tertunduk di hadapan seorang pria yang duduk malas di balik meja jati. Asap rokok yang mengepul dari mulutnya membuat aura intimidasi semakin dirasakan oleh sang pemimpin geng jalanan.
Tidak hanya pria di balik meja yang memancarkan intimidasi. Seluruh pria lain yang juga berada di dalam ruangan itu, juga berdiri menatap pemuda yang bonyok itu dengan begitu geram.
“Maafkan aku Boss Sandi…” ujar pemuda itu lirih.
“Menghabisi lima orang saja kalian tidak bisa?!” hardik Sandi tanpa meninggikan suaranya.
“Ta… Tapi Boss… Mereka berlima sangatlah kuat,” jawab pemuda tersebut beralasan,
__ADS_1
“Terus… Uang yang aku kasih kemarin, apakah kalian bisa kembalikan?” tanya Sandi penuh penekanan.
“Ma… Maaf… Tapi semuanya sudah kami pakai Boss…”
Tentu saja memblokir jalanan serta menciptakan kemacetan demi mengarahkan Yono agar sampai ke lokasi yang mereka inginkan tentu bukanlah kegiatan yang bisa dilakukan dengan asal-asalan. Butuh biaya yang tidak murah untuk dapat melakukannya.
Trap Trap Trap
Setelah mematikan rokoknya, Sandi berjalan mendekati pemuda tersebut.
Duagh!
Pemuda tersebut langsung tersungkur saat sebuah pukulan keras mendarat di pipinya.
“Bangsat!” hardik Sandi pada pemuda tersebut.
Pemuda tersebut langsung dipaksa bangun oleh para pria lain yang sepertinya merupakan anak buah dari Sandi.
“Ma… Maafkan aku Boss…” pemuda tersebut menangis. Dia benar-benar takut.
Berawal dari keinginan untuk naik tingkat dari geng motor anak jalanan menjadi geng sungguhan, pemuda tersebut menerima tawaran kerjasama yang diberikan oleh Sandi beberapa hari yang lalu. Sandi sendiri bukanlah orang sembarangan. Dia merupakan pemimpin dari Gangster berbentuk ormas yang dia namai seperti ekskul kesukaan dia waktu SMA.
Namanya adalah PMI, singkatan dari Pemuda Mandiri Indonesia. Walaupun namanya norak, tapi PMI merupakan sebuah geng lokal terbesar yang ada di kota Bandung. Skala lokal loh ya… Bukan skala Nasional, apalagi Internasional.
Walaupun begitu, untuk ukuran organisasi kriminal yang berada di Kota Bandung, PMI hanya kalah dari Prayoga Cartel yang notabene merupakan organisasi kriminal terbesar ketiga di Asia.
“Pegangi dia!” ujar Sandi sambil mengenakan sebuah knuckle di tangannya. Sandi benar-benar kesal karena modal yang sudah dia keluarkan kemarin tidaklah kecil. Sandi benar-benar berniat untuk menghabisi nyawa anak muda ini.
Brak!
“Boss! Gawat! Kita kedatangan tamu!” seorang pria berkata setengah mendobrak pintu. Peluh tampak mengucur di keningnya.
“Siapa? Apakah mereka orang yang penting?” tanya Sandi yang tampaknya memaklumi kekurang ajaran anak buahnya tersebut.
“Sangat penting Boss!”
“Hei! Katakanlah hari ini kamu beruntung. Aku tidak ingin mengotori tanganku sebelum bertemu dengan tamu yang penting,” bisik Sandi pada pemuda tersebut.
“Te… Terima Kasih…” ujar pemuda tersebut masih menangis.
“Siapa mereka?” tanya Sandi pada anak buahnya sambil mengenakan jas berwarna hitam miliknya.
“Mereka dari keluarga Apriansyah. Keluarga terkaya ketiga di Indonesia,” jawab anak buahnya.
__ADS_1
“Wah… Apa yang menyebabkan keluarga sepenting mereka datang ke markas geng kecil seperti kita ya…?” Sandi penasaran.
➖ Bersambung ➖