Memulung Kejayaan

Memulung Kejayaan
Kisah 21 : Menggenapkan (Bagian 1)


__ADS_3

Penderitaan yang dialami oleh Mbak Ati. Sang wanita setengah baya yang sedang bete. Butuh tongkol. Berlangsung selama dua jam lebih sedikit. Dua gelas minuman keras dan setengah bungkus rokok Mbak Ati habiskan demi dapat menyamarkan gejolak yang terasa mempermainkan jiwanya.


‘Akhirnya…’ bisik Mbak Ati di dalam hatinya saat dia merasa bahwa suara yang terdengar dari dalam kamar berangsur menghilang setelah sebelumnya terdengar paduan suara teriak kenikmatan.


Beberapa menit kemudian Kai menyusul ke area balkon penthouse nya dengan sebotol minuman dan satu buah gelas berbahan kristal.


“Minum Mbak?” Kai yang sedang mengenakan sebuah kimono beludru yang bagian dadanya dibiarkan terbuka menawarkan diri untuk menuangkan Mbak Ati minuman keras mahal yang dia bawa. Kai hanya mengenakan sepotong celana pendek ketat di balik kimono tersebut. Yang tentu saja membuat pandangan mata Mbak Ati lurus tertuju ke bagian singkong papua itu bersembunyi.


“Terima kasih,” jawab Mbak Ati membiarkan Kai mengisi ulang gelasnya.


“Kemana yang lain?” tanya Mbak Ati.


“Ketiga perempuan itu sudah tertidur. Aku masih terlalu perkasa untuk mereka bertiga,” ujar Kai jumawa.


Mbak Ati tidak dapat memprotes kesombongan Kai. Karena saat tadi Mbak Ati sendiri. Dia dengan kerasnya memikirkan ‘sesuatu’ yang membuat Mbak Ati begitu terkesima dengan apa yang Kai lakukan pada ketiga bidadarinya. Sementara sebelumnya, dia sudah sering melihat Juragan Agung melakukan hal yang kurang lebih sama. Dan ‘sesuatu’ itu adalah permainan Kai yang tampak begitu aktif dan berusaha memberikan sentuhan dan juga kenikmatan tertinggi bagi para wanitanya.


“Lalu, kenapa kamu memanggilku kemari?” tanya Mbak Ati kepada Kai.


“Oh iya… Jadi sedari awal memang aku ingin membuat lima buah Laksa sebagai pondasiku dalam memulung kejayaan,” jelas Kai.


Mbak Ati sudah pernah mendengar perkara Laksa ini dari cerita Kika. Dan Mbak Ati juga seperti yang sudah terbiasa mendengar bagaimana kata Laksa ini kerap digaungkan oleh Kai dan kawan-kawan. Sehingga lebih kurang Mbak Ati tahu apa yang dimaksud oleh kai dengan Laksa ini.


“Lalu apa hubungannya dengan kamu yang memanggilku ke sini?” tanya Mbak Ati.


“Jadi aku ingin mendirikan Laksa yang bergerak di lima bidang yang berbeda. Laksa Perkasa adalah Laksa yang bergerak di dunia bawah. Bergerak di bidang bisnis ilegal,” Kai mulai menjelaskan.


Apa yang Kai katakan barusan sebenarnya Mbak Ati sudah mengetahuinya. Tapi Mbak Ati berpikir untuk menghargai Kai dengan membiarkannya menjelaskan kembali dari awal.


“Lalu ada Laksa Rembulan. Sebuah Laksa yang bergerak di bidang entertainment dan media. Laksa ini kuserahkan tanggung jawabnya kepada Kika,” lanjut Kai.


“Lalu untuk Udin, kuserahkan padanya Laksa Cahaya. Laksa ini bergerak di bidang keuangan dan perbankan. Dengan garapan utamanya adalah pemberian pinjaman. Target utamaku adalah memberikan pinjaman kepada suatu negara, lalu mengambil alih segalanya saat negara tersebut tidak bisa membayar,” jelas Kai sambil menyesap minuman kerasnya.

__ADS_1


“Apa yang bisa diambil alih dari sebuah negara yang berhutang?” tanya Mbak Ati sedikit penasaran.


“Aku bisa menguasai perusahaan milik negara, sumber daya alamnya, bahkan aku bisa mengatur nilai pajak, menguasai pasar, dan menentukan siapakah yang akan menjadi pemimpin dari negara tersebut,” Kai tidak keberatan menjelaskan apa yang dia tahu.


“Lalu berarti sekarang tinggal dua Laksa lagi yang belum ada?” tanya Mbak Ati pada Kai.


“Sepekan yang lalu memang dua lagi,” jawab Kai.


“Maksud kamu?” Mbak Ati nggak mengerti.


“Mbak lihat kan perempuan yang tadi?”


“Oh… Yang cantik banget itu… Yang aku lihat pas baru datang?”


“Ya. Namanya Sila. Dia baru menyelesaikan pelatihannya selama sepekan ini. Dialah yang menjadi pemimpin dari Laksa keempat. Laksa Harimau,” sahut Kai.


“Bidang apakah Laksa yang keempat? Bidang yang selama ini kugarap. Investasi dan Bisnis,” jelas Kai.


“Jadi yang barusan itu benar-benar hadiah kamu buat dia?” tanya Mbak Ati iseng.


“Ya. Dan Mbak Ati juga bisa mendapatkannya kalau mau,” Kai lidahnya sudah nggak ada remnya kayak truk butut.


“Nanti kupikirkan deh…” jawab Mbak Ati yang telinganya sudah terbiasa dengan kalimat yang bagi sebagian wanita akan dianggap sebagai pelecehan.


“Jadi kamu mau memintaku untuk menjadi pemimpin dari Laksa kelima?” tanya Mbak Ati.


“Ya Mbak. Laksa kelima kunamakan Laksa Kembang. Bergerak di bidang politik,” Kai mengamini.


“Kamu ingin menjadikanku politisi?” tanya Mbak Ati yang tekejut karena dia tidak tahu mengenai kelayakannya di bidang ini.


“Ya Mbak. Aku ingin kau menjadi pemimpin dari pemerintahan negara ini. Eh! Tidak! Aku ingin Mbak berhasil menduduki puncak tertinggi pemerintahan dunia,” sambut Kai yang dengan lugas mengemukakan keinginannya.

__ADS_1


Mbak Ati terdiam karena telah mendengar betapa tidak masuk akalnya keinginan dari Kai ini. Tapi sisi lain Mbak Ati sudah merasa kalau memang tidak ada satupun hal yang masuk akal dalam diri Kai. Jadi orang tak normal memang sudah pantasnya mengaharapkan sesuatu yang juga tidak normal.


“Lalu kenapa kau menilaiku sebagai orang yang cocok menjadi politisi. Aku hanya tahu sedikit-sedikit mengenai politik di dunia ini. Lagian Kai, aku sudah tua. Saat ini aku sudah kepala empat,” Mbak Ati mengungkapkan keraguan di dalam hatinya.


“Justru usia Mbak Ati ini termasuk muda untuk menjadi tokoh di dalam dunia politik,” jawab Kai.


“Bukankah banyak anak muda yang juga mengatakan kalau mereka udah bergabung dengan suatu partai politik?”


“Ya. Paling juga jadi simpatisan atau tim penggembira. Atau ya dijadikan korban. Tumbal. Untuk menjadikan mereka yang lebih atas terlihat baik atau tidak terlihat keburukannya,” jawab Kai lancar.


“Oh… Seperti itukah politik bekerja?”


“Bukan! Seperti inilah dunia bekerja. Dimana yang kuat akan mengendalikan yang lemah. Dan aku akan menjadikan sosok yang kuat di ranah politik dunia,’ jawab Kai.


“Bagaimana caranya?” tanya Mbak Ati.


“Uang,” jawab Kai santai.


‘Ah! Tentu saja itu jawabannya!’ Mbak Ati sadar kalau dia sudah menanyakan hal yang begitu bodoh.


Uang adalah jawaban dari semua permasalahan di metropolitan sistem seperti ini. Dan uang pula yang menjadi sumber kekuatan seseorang. Bahkan di mata Mbak Ati yang menilai Yono lebih kuat dari siapapun, merasa wajar saat Yono tidak berkutik di hadapan kekuatan uang Juragan Agung dan juga Kai.


“Dan ada satu hal lagi yang membuatku yakin kalau Mbak Ati ini cocok untuk terjun ke dunia politik,” lanjut Kai.


“Apa itu Kai?” tanya Mbak Ati penasaran.


“Mbak Ati itu orang yang cantik, menarik, dan karismatik,” Kai menjelaskan apa yang dia lihat dengan kemampuan spesial Talent Scout yang dia miliki.


“Begitu ya?” Mbak Ati geer-geer suka gimana gitu.


“Bagaimana Mbak? Apakah Mbak bersedia untuk menjadi pemimpin dari Laksa Kembang?” tanya Kai memastikan.

__ADS_1


➖ Bersambung ➖


__ADS_2