Memulung Kejayaan

Memulung Kejayaan
Kisah 16 : Unjuk Gigi (Bagian 2)


__ADS_3

Sesampainya Yono di parkir basement Trans Mall. Mereka langsung memparkir mobil mereka di area parkiran Z-154.


Siapapun pasti tidak akan menyangka kalau ada area parkir Z-154 di basement Mall ini. Mengingat saat inu area parkir tersebut benar-benar sepi. Ada beberapa mobil yang ditutupi terpal terparkir di sana. Sepertinya mobil-mobil itu sudah berada di sana dalam jangka waktu yang sangat lama.


Yono lalu kembali menelepon nomor orang yang tidak dikenalnya dengan menggunakan ponsel misterius yang sedari tadi ada di tangannya.


"Di dekat situ ada tempat sampah. Bentar lagi bakalan ada yang buang sampah. Ambil kantong plastik warna kuning yang dia buang," tanpa menunggu Yono berkata-kata. Pria di seberang sana langsung menjelaskan dengan cepat sebelum menutup teleponnya kembali.


Namun beberapa menit berlalu, jangankan orang yang secara spesifik membuang sampah berwarna kuning, bahkan orang yang membuang sampah di tempat sampah yang berada di dekat mereka pun tidak muncul satu orangpun.


"Boss? Dimana?" tanya anak buah Yono.


"Tenang dan bersabar lah!" tegur Yono pada anak buahnya.


"Siap Boss!"


Dengan sabar Yono dan keempat anak buahnya kembali menunggu hingga sepuluh menit lamanya.


"Boss!" tegur salah satu anak buah Yono.


"Ya. Aku tahu!"


Mereka akhirnya melihat ada seseorang yang akan membuang sampah di tempat sampah yang dari tadi mereka pelototin.


Sosok pembuang sampah itu adalah sosok seorang nenek-nenek dengan penampilan pengemis yang lusuh . Nenek itu kemudian membuang tiga buah kantong plastik. Dua kantong plastik berwarna hitam. Dan satu kantong berwarna kuning.


"Tunggu!" tegur Yono saat anak buahnya hendak langsung mengambil kantong plastik di tempat sampah tersebut.


"Kenapa Boss?"


"Jangan terburu-buru! Kita tunggu nenek tersebut pergi dulu," jelas Yono pada anak buahnya.


"Baik Boss!"


Yono memperhatikan sosok nenek yang berjalan dengan gontai tersebut akhir nya menghilang dari pandangan.


"Ambillah sekarang!" titah Yono yang langsung dituruti oleh salah satu anak buahnya.


Anak buah Yono langsung menuju tempat sampah itu untuk mengambil kantung plastik berwarna kuning. Anak buah Yono kemudian mengintip isi dari kantung plastik besar itu.


"Isinya boneka beruang Boss," ujar anak buah Yono.

__ADS_1


'Ok!' Yono memberikan kode isyarat dengan mengatupkan telunjuk dan jempolnya.


Anak buah Yono langsung membawa plastik tersebut ke dalam mobil lalu berkata pada Bossnya itu, "Boss! Biarkan aku saja..."


Yono dan ketiga anak buah Yono yang lain langsung mengerti dan menjauhi mobil mereka. Tanpa menutup pintu mobil demi menghilangkan kecurigaan Yono dan yang lainnya, Anak buah Yono yang berada di dalam mobil tampak merobek boneka beruang di dalam mobil itu dengan sangat hati-hati.


"Betul Boss," anak buah Yono mengacungkan segepok uang yang dibungkus oleh plastik bening yang dia ambil dari dalam boneka beruang.


"Sip!" ujar Yono yang langsung mendekati mobil diikuti anak buahnya yang lain.


"Kalian naiklah dulu!"


"Siap Boss!" seluruh anak buah Yono langsung memposisikan duduk mereka di dalam mobil dan mensisakan satu kursi kosong untuk Yono.


Di luar mobil Yono lalu menelpon untuk yang ke terakhir kalinya.


"Senang bekerja sama dengan anda," ujar Yono.


"Sama-sama," jawab suara pria misterius di seberang dan telpon kembali ditutup.


Sebelum Yono naik ke atas mobil, dia terlebih dahulu dia menyimpan handphone nokia jadul itu di bawah ban mobil mereka.


Sehingga saat mobil pergi, handphone jadul itu langsung digeleng hingga remuk. Tidak terlalu hancur lebur memang, tapi setidaknya itu bisa merusak penerima sinyal yang ada di dalam handphone tersebut.


➖ 📱📱📱 ➖


"Ditutup lagi?" tanya Yono saat kembali mobil yang dinaikinya tersebut berhenti.


"Ya Boss," jawab anak buah Yono yang sedang berusaha untuk memutar balik mobil mereka.


Yono merasa kalau di sepanjang perjalanan dia terlalu banyak menemukan kemacetan karena jalanan ditutup di banyak tempat. Ada yang mulai karena perbaikan jalan, ada kawinan, ada kecelakaan, sampai karena ada pejabat yang berkunjung.


Yono merasa kalau jumlah pemblokiran jalan hari ini sangatlah tidak wajar.


"Siapkan diri kalian!" Yono memberikan peringatan kepada anak buahnya.


"Baik Boss!" anak buah Yono langsung memeriksa berbagai jenis senjata yang mereka bawa saar ini.


Yono merasa kalau seluruh pemblokiran jalan ini merupakan perbuatan yang disengaja dan hanya diperuntukkan untuk mobil mereka saja. Dia merasa kalau mobil mereka sedang diarahkan ke suatu tempat.


➖ 📱📱📱 ➖

__ADS_1


Empat puluh menit kemudian sampailah mereka di salah satu tempat yang sangat sepi yang berada di pinggiran kota Bandung.


"Kurangi kecepatan mobil! Kita berhenti di depan," ujar Yono pada supir mobil.


Yono menilai jika saja dia yang ditugaskan untuk mengarahkan seseorang ke suatu tempat agar mudah dihabisi, maka tempat di pinggiran kota Bandung ini adalah tempat yang paling cocok untuk melakukan eksekusi tersebut. Sehingga Yono merasa kalau para eksekutor akan segera mendatangi mereka.


"Semuanya turun dan bersiaga!" titah Yono kembali pada seluruh anak buahnya.


"Siap Boss!" Yono dan keempat anak buahnya langsung menuruni mobil yang mereka gunakan.


Vrooom...


Vrooom...


Vrooom...


Benar saja! Tak lama begitu mereka berlima turun dari mobil dan memposisikan diri mereka dalam formasi berjajar. Belasan motor langsung berdatangan dari depan dan belakang mereka.


Motor-motor tersebut langsung terparkir mengelilingi mobil mereka. Untuk menambah tekanan pada calon korban mereka. Motor-motor itu dibiarkan menyala. Bahkan beberapa di antaranya digerung-gerung demi agar lebih berisik.


"Hahahaha... ATM berjalan udah di sini nih!" teriak salah satu pemuda di antara gerombolan geng motor itu.


'Hmm...' Yono menghitung di dalam hati.


Bila melihat dari jumlah motornya. Ditambah lagi dengan kondisi tadi hampir semua motor tersebut digunakan dengan berboncengan bahkan beberapa di antaranya ada yang bonceng tiga dan empat. Maka Yono duga kalau jumlah geng motor ini sekitar tiga puluh orangan lebih.


"Serahkan uang yang barusan kalian dapat!" teriak salah seorang dari mereka. Dari aura yang Yono lihat, tampaknya pemuda pendek tersebut adalah pemimpin mereka semua.


"Ya! Orang tua seperti kalian nggak tahu caranya menghabiskan uang sebanyak itu. Sebaiknya serahkan saja pada kami," timpal salah satu di antara berandalan itu.


"Bandar judi sialan!" kutuk salah satu anak buah Yoni


"Bukan. Kita memang sedari tadi sudah diikuti. Menurutku bandar sudah ikut prosedur pencarian yang aman dan juga rapi. Hanya saja aku duga di antara staff bandar tersebut ada yang sudah bocorin soal pencairan dana ini," jelas Yono.


"Gimana nih Boss?" keluh salah seorang anak buah Yono.


"Yah... Gimana lagi... Apakah kalian mau pemanasan?" tanya Yono pada keempat anak buahnya yang langsung menyeringai menakutkan.


Walaupun ini berbahaya. Namun Yono merasa kalau mungkin sekarang adalah saat yang tepat bagi mereka untuk unjuk gigi.


Apalagi... Sebagai mantan penguasa sebuah desa, Yono dan kawan-kawan memang perlu untuk menunjukkan siapa mereka yang sesungguhnya di Kota yang baru mereka injak ini.

__ADS_1


➖ Bersambung ➖


__ADS_2