Memulung Kejayaan

Memulung Kejayaan
[S2] Si Cacat dan Hamba Sahaya


__ADS_3

Fragmen 1 : Mansion Tua


Mobil Honda Civic putih milik Kai meluncur membelah jalanan menuju Cijagung. Jarak antara Gaharu Hill dan Cijagung tidaklah jauh. Hanya 15 menit perjalanan saja.


“Sistem.”


[Ya Tuan?]


"Buka Shop!"


[Shop terbuka.]


“Carikan aku rekomendasi tempat tinggal terbaik yang ada di Cijagung.”


[Berikut daftarnya Tuan.]


Berkat Driving Grade M yang dimilikinya, Kai dapat mengemudi sambil membaca tampilan Sistem tanpa kesulitan yang berarti.


"Mansion ini cukup menarik."


[Harganya hanya 5 Juta Haipur Tuan.]


"Dengan harga semurah itu, tampaknya Mansion tua ini sudah tidak layak untuk ditempati."


[Tuan benar. Bisa dikatakan Tuan hanya membeli tanahnya saja.]


"Tapi aku sangat menyukai lokasinya yang cukup jauh dari TPA Cijagung. Apakah aroma sampah masih tercium dari sana?"


[Tidak Tuan.]


"Aku beli Mansion ini saja."


[Mansion telah dibeli.]


Desa Cijagung tidak hanya memiliki TPA Sampah saja. Di desa ini juga terdapat sebuah waduk besar yang dijadikan lokasi bagi ribuan tambak sekaligus area wisata bagi para pemancing. Mansion Kai berada di sisi waduk tersebut.


'Kupikir pemandangan di sana akan terlihat indah," bisik Kai merasa puas dengan pembeliannya.


...— Bersambung —...


Fragmen 2 : Revitalisasi


Sesampainya di Mansion Tua yang Kai beli, Kai menemukan bila Mansion ini kondisinya sangatlah tidak layak. Tidak ada satupun bagian dari Mansion ini yang dapat ditempati. Hanya tembok Mansion saja yang masih terlihat kokoh tegak berdiri.


Kai membuka Toko Sistem untuk kemudian mengontrak pemborong guna merenovasi Mansion miliknya. Kai tidak ingin merubah apapun. Dia hanya ingin merevitalisasi Mansion ini agar kembali terlihat seperti baru.


Selesai mengontrak pemborong. Kai harus segera menemukan tempat tinggal sementara. Oleh karena itulah Kai langsung menyewa sebuah Penthouse yang terdapat pada satu-satunya apartemen di Cijagung. Kebetulan apartemen itu berada tidak jauh dari Mansion milik Kai.


"Apakah yang itu Apartemennya?


[Benar Tuan.]


"Aku akan menyewa selama tiga bulan penuh."


[Selesai.]


'Terima kasih Sistem.'


[Sama-sama Tuan.]


Kai duduk di atas kap mobil Honda Civic Putih miliknya. Kai kemudian menyalakan rokok filter favoritnya. Kai bersantai sejenak menikmati angin segar yang berhembus dari arah Waduk Cijagung.

__ADS_1


Ah... Kai... Terus Kai...


Suara gurih nikmat milik Laela terdengar dari Handphone mahal berwarna gelap. Untuk menggoda Laela, Kai sempat mengganti ringtone handphone nya dengan rekaman suara Laela saat bercinta.


'Ah... Aku lupa mengganti ringtoneku,' bisik Kai yang baru ingat kalau dia belum mengembalikan ringtone nya ke setelan awal.


Cklek.


"Ya. Halo?"


"Halo Pak. Selamat Siang."


"Siang."


"Saya pemborong yang Bapak kontrak."


"Ya Pak. Ada apa?"


"Saya sudah melihat video dan foto yang Bapak kirim. Kalau melihat kondisi Mansion Bapak. Saya perkirakan proses renovasi baru akan selesai dalam satu setengah tahun," Sang Pemborong menjelaskan.


Kai memaklumi tenggat waktu yang diminta oleh Pemborong karena Mansion Kai amat sangat luas. Selain bangunan berlantai empat yang megah. Mansion ini juga memiliki area taman, kolam renang, dan dua buah lapangan tenis.


"Saya siap membayar Bapak sepuluh kali lipat asalkan Mansion ini dapat selesai dalam jangka waktu tiga bulan," Kai memberikan penawaran.


Sang pemborong terdiam. Entah karena ragu ataukah karena terkejut dengan angka yang Kai tawarkan.


"Ba... Baiklah Pak... Saya akan membawa lebih banyak pekerja dan peralatan. Saya akan usahakan renovasi bisa selesai dalam tiga bulan. Untuk RAB nya akan saya kirimkan segera."


"Oke. Saya tunggu Pak."


"Baik Pak. Selamat siang."


"Siang."


Begitu telepon ditutup, sebuah dering notifikasi terdengar di kepalanya.


Tring!


[Main Quest diterima.]


'Wah... Akhirnya dapat Main Quest lagi,' bisik Kai dalam hati.


Semenjak Kai menyelesaikan Main Quest di Gaharu Hill, Kai tidak mendapatkan dering notifikasi apapun dari Sistem. Sehingga selama kurang lebih sebulan terakhir Kai hanya fokus pada proses penyembuhan dan juga pemulihan saldo Bank nya saja.


Tapi belum dua jam Kai sampai di Cijagung, sebuah misi baru sudah diterimanya. Kai lalu membaca dengan seksama keterangan dari Main Quest tersebut.


[Jual sampah daur ulang ke Tempat Pengepulan Sampah.]


'Kok Questnya gini sih Sistem?!


Baru baca kalimat pertama, Kai sudah merasa kecewa pada Sistem. Di saat dia ingin meninggalkan dunia memulung sampah, ternyata Sistem tetap menginginkannya untuk menjadi seorang pemulung sampah.


[Kemampuan terbaik Tuan sebelum terkoneksi dengan Sistem adalah memulung sampah. Misi ini akan sangat cocok dengan keahlian Tuan.]


Jawaban Sistem memang benar adanya. Namun di telinga Kai, jawaban ini terdengar seperti sebuah hinaan yang mengoyak harga dirinya.


...— Bersambung —...


Fragmen 3 : Monster Pincang


Seorang pria berkulit hitam dengan setelan jas mahal tampak menggendong sebuah karung putih besar. Dia dengan telaten mencari sampah yang bisa di daur ulang dari salah satu tumpukan sampah di sisi jalan.

__ADS_1


Pemulung berjas. Dua kata lucu yang bisa mengibaratkan sosok Kai saat ini.


'Eh... Dia sepertinya...?'


Kai melihat seorang lelaki berpakaian compang-camping sedang mendorong gerobak sampah yang sudah penuh. Jalannya pincang dan badannya juga bongkok.


'Bisa kan Sistem?'


[Bisa Tuan.]


Kai berpikir untuk membeli sampah dari pemulung itu lalu menjualnya ke pengepul terdekat. Dengan begini Kai dapat menyelesaikan misi tanpa mengotori tangannya lebih jauh lagi.


'Eh! Itu seriusan?!' Kai seketika terkejut.


Dengan Talent Scout Grade F yang dia miliki, Kai dapat melihat keterangan [Unknown Talent SSS.] berpendar di atas kepala pemulung pincang itu.


Dia memiliki bakat hanya satu tingkat di bawah Kai. Mengingat Kai mendapatkan keterangan [Unknown Talent M] hanya karena sudah terkoneksi dengan Sistem, maka sebagai manusia normal, si pincang ini adalah seorang monster.


"Hei kamu!" panggil Kai pasa Si Pincang.


"Ya Mas?" Si Pincang mendelik aneh saat melihat seorang berpenampilan perlente sedang mengais sampah.


"Aku Kai. Kai Prayoga. Siapa namamu?"


"Udin Mas. Udin Tajirin."


"Boleh nggak aku beli semua sampah yabg sudah kau kumpulkan ini?"


"Buat apa Mas?"


"Tiktok," jawab Kai asal.


Mendengar jawaban dari Kai, Udin jadi menemukan alasan mengapat Kai yang terlihat kaya kini sedang mengaisi sampah.


'Ternyata dia lagi ngonten toh...' simpul Udin.


"Boleh Mas."


"Berapa?" tanya Kai.


"Seratus aja Mas," jawab Udin.


Jawaban Udin membuat sebelah alis Kai terangkat. Berdasarkan pengalamannya. Isi gerobak Udin ini bisa dijual di harga 150. Kai pada awalnya menduga Udin akan menjual dengan harga 200 atau bahkan 500.


"Ya sudah. Ini 5.000 Haipur untuk kamu," Kai serahkan lima lembar uang seribu kepada Udin.


"Ini sih gede banget Mas!" Udin celingukan mencari kamera.


'Apakah ngontennya sudah dimulai?' Udin curiga.


"Ambil saja."


"Te... Terima kasih Mas... Terima kasih banyak," jawab Udin sambil bersujud.


Memang benar uang ini sangat banyak bagi Udin. Tapi dia pun tidak merasa kalau dia perlu bersujud. Berhubung Kai bilang dia lagi ngonten, Udin memberikan acting terbaiknya agar video Kai bisa menjadi viral.


"Ng... Nggak usah sampai begini Mas... Nggak enak dilihat orang," jawab Kai pada Udin yang sedang menciumi sepatunya.


Tapi Udin tak peduli. Dia terus memberikan reaksi terbaik yang bisa dia lakukan saat ini.


...— Bersambung —...

__ADS_1


__ADS_2