
Author's Note :
Novel ini tengah mengalami revisi total. Sehingga gue sarankan teman-teman untuk berhenti membaca sampai di sini.
Karena temen-temen tidak akan bisa mendapatkan kabar up. Temen-temen bisa membuka kembali Bab ini saat senggang.
Bila pesan ini menghilang, itu berarti gue udah melakukan update.
Update Terakhir : 4 Mei 2023
...— x —...
[Itu adalah menurut Host. Tapi sistem menilai hal yang berbeda.]
'Gila. Sistem ini sepertinya ingin membunuhku.
[Tidak mungkin Host. Sistem tidak akan melakukannya.]
"Hei... Kok diem aja?!" teriak salah satu Preman setengah menggoda.
"Sini-sini! Kalau kalian mau menyerahkan diri, nyawa kalian akan selamat!" teriak salah seorang preman sewaan Juragan Agung yang terus berjalan mendekat bersama kawan-kawannya.
'Ah iya! Masih ada satu cara!' Kai terbersit sebuah ide.
[Ide Host tidak biasa.]
Sistem membaca isi pikiran Kai.
'Tapi bisa kan?'
[Entahlah... Host coba saja. Sistem tidak bisa memberitahu Host.]
'Sudah kuduga!'
Lima belas langkah sebelum para Preman sampai ke tempat Kai dan Kika berdiri, Kai peluk pinggang Kika yang kini sedang menggendong Dede sambil gemetar ketakutan.
'Semoga ini bisa berhasil…' Kai berharap.
Kai menengok ke belakang. Yang dia lihat saat ini hanyalah ratusan batang pohon yang rindang dan juga besar. Kai dan Kika kini memang sedang berada di tengah hutan belantara.
Kai dalam hati berteriak, 'Pulung!'
Kai bergerak secara otomatis menjauhi gerombolan preman tersebut dalam kecepatan cahaya hingga seratus meter jaraknya. Kai tersadar saat kini dirinya tengah menggenggam bagian batang dari sebuah pohon besar yang barusan coba dia pulung.
__ADS_1
Kai menoleh ke samping dan menemukan sosok Kika yang pinggangnya sedang dia peluk tetap berada di di sana. Kai tersenyum karena idenya barusan bisa dia gunakan.
'Berhasil! Ternyata kemampuan ini juga bisa membuat orang yang kupegang ikut bergerak cepat bersamaku.'
[Ya Host! Benda ataupun makhluk hidup, selama kau sentuh, dia bisa ikut bergerak bersamamu.]
'Baguslah kalau begitu!' Kai senang. Saat ini setidaknya Kika dan Dede sudah berhasil Kai pindahkan ke lokasi yang lebih aman.
Seluruh preman sewaan Juragan Agung terkejut karena Kai tiba-tiba menghilang dari posisinya. Tapi karena persepsi mereka sedikit dimanipulasi oleh Sistem, sehingga mereka hanya menganggap kalau Kai dan Kika barusan telah berhasil berlari dengan sangat cepat.
'Cepat banget larinya...' begitu yang mereka semua pikirkan saat ini.
"Tunggulah di sini," ucap Kai pada Kika. Kai genggam erat kedua bahu Kika agar perempuan tersebut bisa menjadi lebih tenang.
"Baik," jawab Kika sambil memeluk Dede dengan lebih erat.
"Berhati-hatilah Kai," lanjut Kika. Kai jawab ucapan penyemangat Kika dengan senyuman tenang nan lebar.
Kika sudah hilang harapan. Satu-satunya harapan Kika yang tersisa adalah menggantungkan nasibnya pasa sosok pria kribo, legam, dan tampan bernama Kai.
'Pulung!', pekik Kai dalam hatinya.
Kai langsung menghilang dari sisi Kika. Seketika Kai tampak sedang memegang hidung milik salah satu anak buah Juragan Agung. Memang hidung pria ini sangat besar seperti sapi sehingga Kai dapat melihatnya dengan jelas bahkan dari jarak 100 meter.
Duagh!
"Akh!" preman tersebut menjerit sambil memegangi hidungnya yang terasa perih.
Tanpa mempedulikan korban pukulannya barusan yang sedang mengerang kesakitan, Kai langsung bergerak kembali. Kai langsung menoleh ke kanan, lalu dia kembali berteriak dalam hati, 'Pulung!'
Kini tangan kanan Kai tengah menggenggam kantung biji dari salah satu kelompok Preman tersebut.
Duagh!
Kembali tangan kiri Kai mengepal sebelum melancarkan sebuah serangan uppercut. Kini serangan tersebut Kai arahkan pada area terlemah yang dimiliki oleh kaum Adam.
"Asuw!" serangan ini langsung membuat Preman tersebut mengumpat karena sangat kesakitan.
Tidak hanya kesakitan. Ngilu yang terasa hingga ke ubun-ubun membuat Pria tersebut pun tumbang dalam kondisi terlentang. Pria itu langsung berguling-guling sambil memegangi kantung kelereng kembar.
‘Bagus! Satu sudah tumbang!’
“Hei! Kalian jangan bengong saja!” teriak salah satu Preman dengan tampang paling songong. Dari tampangnya, sepertinya pria itu adalah pemimpin dari mereka semua.
__ADS_1
Teriakan sang pemimpin membuat para Preman langsung tersadar. Walaupun Kai berpindah tempat dengan sangat cepat karena kemampuan spesial. Namun setiap kali melancarkan serangan, Kai bergerak masih selayaknya manusia normal.
"Kakinya memang cepat, tapi serangan dia tidak secepat kakinya!" pemimpin Preman memberitahukan anak buahnya tentang persepsi palsu yang dia dapatkan dari Sistem.
“Aaaa!” sebuah balok mengayun mengarah pada bagian belakang kepala milik Kai yang baru saja selesai melancarkan serangan kotor ke arah kantung kelereng kembar.
Kalau di 'Smackdown!', serangan ini disebut Low Blow.
‘Pulung!’ untung saja Kai sempat melihat sebuah tiang rambu lalu lintas yang berada agak jauh dari kerumunan para preman. Sehingga kini Kai sudah berada di luar kerumunan sambil memegang tiang rambu tersebut.
"Hosh... Hosh... Hosh..."
Baru melancarkan dua buah serangan, Kai sudah terengah-engah karena lonjakan adrenalin yang dialami oleh tubuhnya.
Mendapatkan dua buah serangan telak dari Kai, ke dua puluh preman yang ada di sana menjadi lebih waspada dengan kemampuan dan kecepatan gerak yang dimiliki Kai.
"Hebat juga kamu," puji pemimpin Preman.
Kai mencoba lebih menegakkan berdirinya. Dia berusaha untuk lebih menstabilkan hembusan nafasnya yang sudah tidak karuan.
"Kita lihat saja! Apakah kemampuan bertarungmu setara dengan staminamu!" ejek pemimpin preman melihat Kai yang sedang mengatur nafasnya.
Sementara ke delapan belas preman kembali mengatur formasi mereka bersiap untuk menghabisi Kai, salah seorang preman yang barusan dipukul oleh Kai kembali bangkit setengah menggeram. Siluman sapi itu memegangi hidungnya yang kesakitan namun tidak sampai patah apalagi berdarah.
Salah seorang preman tampak membantu preman yang barusan berusaha dihancurkan kelelakiannya oleh Kai untuk turut bangkit berdiri. Preman tersebut berusaha bangkit sambil memegangi area pangkal pahanya.
Dengan bangkitnya kedua orang yang barusan telah mendapatkan serangan dari Kai, berarti tidak ada satupun preman yang berhasil Kai tumbangkan. Mereka masih berjumlah sama. Dua puluh orang.
'Sial! Seranganku masih sangat lemah,' keluh Kai.
Kai teringat akan salah satu kata-kata bijak dari Kakek Arya. Kai pun menggumamkannya di dalam hati. 'Mungkin suatu saat nanti akan ada situasi dimana kamu harus memilih antara mati terbunuh atau tetap hidup sebagai seorang pembunuh.'
Kai sekarang sadar kalau dia tidak mungkin bisa tetap hidup hanya dengan memberikan cedera ringan atau luka yang biasa-biasa saja. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan oleh Kai adalah dengan membuat lawan-lawannya tidak bisa bangkit kembali. Bahkan bila itu berarti kalau Kai harus membuat mereka kehilangan nyawa yang dimiliki.
'Baiklah!' seru Kai memantapkan hatinya.
'Pulung!' Kai bergerak mengambil sebuah batu besar tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Seluruh preman yang menjadi lawan Kai mendadak siap siaga menyadari kalau Kai tengah mempersenjatai dirinya. Kai pindahkan batu tersebut ke tangan kirinya.
'Pulung!' tangan kanan Kai menggenggam bahu salah satu lawannya sebelum menumbuk wajah orang tersebut dengan batu yang berada di tangan kiri.
Duagh!
__ADS_1
➖ Bersambung ➖