MENANTI SENJA BERSAMAMU

MENANTI SENJA BERSAMAMU
KEAJAIBAN ITU NYATA


__ADS_3

“Nisa akan urus berkas kepindahan Abang” wanita itu berlalu setelah berpamitan menuju ruang resepsionis untuk menanyakan kesiapan berkas kepindahan sang abang ke Rumah sakit pusat.


Wanita tua itu duduk terpekur sendiri setelah melepas kepergian putri bungsunga, masih dengan tangan yang memegang gawai dan tasbih yang tidak pernah lepas dari genggamannya.


Gawai itu berbunyi nyaring, sebuah nama tertera disana. Nama yang selalu dia nantikan. Ini keajaiban, bagaimana dia bisa menghubungi di detik kepindahan sang Anak. Tanpa membuang waktu wanita itu menggeser layar. Bahagia tidak bisa digambarkan


“assalamulaikum Fira,,, Alhamdulillah,,,terima kasih Ya Allah ahirnya engkau menjawab doaku” wanita itu bercucuran air mata. Pun dengan sang memantu, terlihat air mata itu sama derasnya.


“waalaikum salam,,,maafkan fira bu baru baca pesan ibu”jawaban sang menantu


“tidak apa-apa ibu senang, ibu sangat bahagia. Lihat suamimu nak,,,sudah berhari-hari dia berbaring tidak berdaya. Ibu hanya berharap dia akan bangun kalau mendengar suara Rania”ucap sang mertua penuh pengharapan.


“eyang,,,bunda Rania kangen” suara gadis kecil itu menambah haru diantara mereka, cucu dan anak kesayangan di keluarga kecil itu.


“eyang juga kangen sama Rania, ayo panggil ayah nak” hanya itu satu-satunya cara agar anaknya sadar, sesuai anjuran dokter.


“ayah kenapa bunda?” wajah polos sang cucu bertanya.


“ayah sakit, panggil ayah ya,,,suaranya yang keras” suara sang menantu mengarahkan anaknya.


“ayah bangun,,,,” suara disebrang. wanita tua itu mendekatkan gawainya ketelinga laki-laki yang masih terbaring lemah.


“panggil lagi sayang” pintanya kesedihan dan harapan menjadi satu dalam keharuan dengan cucuran airmata yang masih mengalir walau tidak deras lagi.


“Ayah bangun jangan tidur” suara lemah


“yang keras nak...”pinta sang bunda


“Ayah,,,ayah,,,ayah,,,”suara Rania begitu keras, tapi belum mendapat respon Dari sang ayah.


“panggil lagi nak, Rania jangan menyerah ya,, ayo sayang” pinta sang nenek.


“Ayah bangun, Rania kangen ayah, jangan lama-lama boboknya” suara itu melemah, sepertinya Rania mulai putus asa. Kilat kecewa terpampang di layar.


“ayo nak, yang keras suaranya” pinta sang nenek lagi dengan penuh semangat..


“ayahhh,,,,bangunnn....”bocah itu berteriak keras, suaranya terdengar memburu

__ADS_1


“ayah bangun nanti kalu ayah sakit Rania main sama siapa?” suara Rania mulai parau dia tidak bisa lagi berteriak.


Keajaiban, nenek Rania melihat tangan Amir bergerak, dia terbelalak tidak percaya.


“panggil lagi sayang, tangan ayah mulai bergerak” pinta sang nenek lagi dengan nada penuh semangat.


“ayah,,, bangun,, ayo cepat bangun,,,Rania kangen ayah” suara Rania terdengar sangat menyentuh siapapun yang mendengarnya.


Ibu Ratih tidak bisa lagi membendung air matanya, pun dengan sang bunda. Wanita itu terisak lebih dalam mendengar suara Rania. Rasa bersalah menyusup pelan, dia merasa ikut andil dengan kekacuan hidup Ayahnya Rania.


"bangun nak.... ini ada Rania" bisik sangat ibu di telinga anaknya.


“Ra....ni....a” suara pelan terdengar bibir sang ayah. Ibu Ratih menekan tombol darurat yang ada diruangan itu. Selang beberapa lama, tiba-tiba beberapa dokter masuk bersama perawat.


Mereka memeriksa kondisi pasien dengan segera.


Ibu Ratih keluar Ruangan, dengan gawai yang masih terhubung dengan menantu dan cucu kesayangannya.


“terima kasih nak , ahirnya doa ibu terkabul. Ibu tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Rasanya terima kasih saja tidak cukup untuk membalas kebahagiaan ibu hari ini” ucap wanita itu.


“tidak usah berterima kasih bu, Justru Fira yang harusnya minta maaf. Karena yang menyebabkan ini semua. Fira pergi, tidak kuat harus menanggung rasa sakit lagi” wanit itu terisak dari sebarang.


Anisa berlari, hatinya cemas dia melihat dokter dan beberapa perawat masuk keruang perawatan sang abang. Hatinya diliputi ketakutan tidak biasa, dalam benaknya berpikir bahwa hal buruk terjadi pada kakaknya.


Berlari menghampiri sang ibu yang berada di luar ruangan.


“apa yang terjadi bu” tanyanya dengan tatapan cemas


“abangmu sadar, dokter sedang menangani abangmu” Nisa bernafas lega. Ketakukan itu hilang berganti bahagia yang tak dapat dia bendung.


“ounty nisa,” suara gadis kecil dari gawai yang masih menyala


“Rania,,,” ucapnya tidak percaya, wanita ini sekarang paham. Mengapa abangnya tersadar.


Hubungan darah itu tidak akan mampu terhapuskan sekalipun terkikis jarak yang jauh.


Hanya dengan mendengar suara Rania, abangnya bisa terbangun dari tidur panjangnya.

__ADS_1


“Rania kapan pulang, nanti ounty ajak makan eskrim “ tanya nya dengan binar penuh bahagia.


“bunda kapan pulang” gadis kecil menoleh pada sang bunda tatapannya meminta jawaban. Tapi gadis kecewa, hanya gelengan kepala yang didapat sebagai jawaban.


“boleh ounty bicara sama bunda?”


“oke ounty” gadis itu mengangguk pelan,


“sebentar kak, kita di panggil dokter”setelah mendengar suara panggilan dokter.


“jangan dimatikan telponnya nis kakak mau dengar” ucap sang ipar dari sebrang. Nisa berjalan dengan gawai yang masih terhubung. di memegang benda segi empat itu dengan menggantung tangannya dibawah.


“ini keajaiban bu, Dan kita mendapatkannya didetik terahir, setelah ini kita putuskan akan merawat pak amir disini. Semoga setelah ini kondisi pasien semakin membaik, dan secepatnya bisa dipidahkan ke ruang perawatan biasa” ucap sang dokter.


“terima kasih kerja kerasnya sudah membantu anak saya dok. Saya tidak tahu harus berkata apa lagi” ucap sang ibu ikhlas.


Nisa mundur setelah mendengakan penjelasan sang dokter. Ada hal yang ingin dia sampaikan untuk kakak iparnya.


“kak, terima kasih sudah membantu kami, setidaknya abang sudah keluar dari penderitaanya. Ini langkah awal untuk kesembuhan abang” ucapnya tulus mata itu mengembun. Dia tahu Iparnya adalah perempuan baik. dia tidak ingin mencampuri kehidupan rumah tangga mereka.


“harusnya kakak yang minta maaf, sudah membawa kalian dalam permasalahan kakak, sampaikan permintaan maaf kakak untuk ibu, dan terima kasih masih menyayangi kami disini” ucap sang ipar.


“tidak apa-apa kak, ibu tulus melakukan ini semua. Sebagai seorang ibu dia akan melakukan apapun demi abang. Hanya saja kak, Nisa tidak tega melihat ibu. dia selalu memegang tasbih dan gawai kemanapun pergi. Ibu tidak ingin kalau kak Fira menghubungi tidak terjawab katanya. Nisa yang putus asa ibu yang selalu berdoa penuh harap” penjelasan wanita muda ini membuat linangan air mata yang tidak terbendung. Sakit mendengar penjelasan sang Adik ipar.


Dia ingin bersujud mohon pengampunan untuk wanita yang telah melahirka suaminya itu. apa daya jarak yang membentang tidak bisa terjangkau. Hatinya bisa merasakan kesakitan. Dia wanita dan juga seorang ibu yang anaknya baru saja keluar dari rumah sakit. Bukan hanya badannya yang lelah psikisnya jauh lebih terpuruk daripada itu.


“sekali lagi sampaikan permintaan maaf kakak untuk ibu Nis,,, kakak akan pulang ketika waktunya tepat, sementara ini kakak ingin menyiapkan diri untuk menghadapi semuanya” mata mereka sama berkacanya. Obrolan itu hanya ,mereka berdua sang ibu pergi menemui putranya yang masih lemah setelah bangun dari tidur panjangnya.


“Nisa minta maaf atas nama abang kak...mudah-mudahan kedepannya kalian akan menemukan kebahagiaan walaupun tidak lagi bersama, jangan pisahkan abang dengan Rania” wanita itu menangis, air mata lebih deras lagi. Bahunya terguncang hebat. Sambungan itu ditutup tanpa permisi.


Sang adik tidak kuasa membayangkan kakaknya kelak akan berpisah dengan orang yang sangat dia sayangi. Anisa mencintai sang ipar seperti kakak kandungnya sendiri. wanita itu sempurna sebagai ibu dan sebagai istri. Bahkan sebagai kakak Ipar yang kasih sayangnya mengalahkan abangnya sendiri.


Wanita yang membiyai kuliah Nisa sampai selesai, bahkan rekening banknya terisi tanpa harus menunggu sang abang gajian. Di tolakpun percuma wanita itu akan terus memasukkan angka-angka itu tanpa persetujuan darinya. Tidak ada yang salah dari iparnya, hanya saja Tuhan menguji rumah tangga mereka lewat orang ketiga, badai itu datang di tahun ke tujuh pernikahan mereka.


Miris memang, tapi dia dan ibunya tidak bisa berbuat apa-apa. Wanita itu dengan paksa masuk kedalam rumah tangga sang abang. Merampas kebahagiaan yang nyaris sempurna. Menghancurkan keharmonisan yang mereka bangun selama ini.


Amir sudah cerita latar belakang kepergian kakak iparnya, salah paham memang, semua mengerti. Tapi sudah sangat terlambat, menantu kesayangan sudah pergi membawa pergi cucu kebanggaan keluarga mereka.

__ADS_1


Tak seorangpun menyalahkan Syafira, sakit hati dan trauma adalah dua hal yang masih melekat usai penghianatan itu berahir. Amir kehilangan kepercayaan sepenuhnya dari sang istri tercinta.


Butuh waktu untuk mengobati semua, laki-laki itu paham benar. Ketidak terbukaannya, keterlambatannya untuk menjelaskan semua adalah kebodohan kesekian. Menyisakan sakit yang membekas dalam benak perempuan yang mengisi seluruh hatinya.


__ADS_2