
Hari sudah sore ketika mereka sampai dirumah. Setelah Irene merengek minta di temani jalan-jalan sambil nonton. Mumpung rame katanya. Segampang itu mereka akrab. Fatih tidak menyangka, manjanya Irene masih seperti anak sekolah, gadis itu tidak pernah berubah. Pikirannya belum dewasa. Bahkan mengaku takut pacaran. Ada-ada saja.
Anisa bergegas membersihkan diri. Meskipun masih dalam suasana canggung. Fatih melaksanakan shalat berjamaah. Mencium tangan dan mengusap kening setelahnya sudah dilakukan Anisa. Tanpa drama seperti di awal. namun, debaran itu masih terasa dengan jelas, setiap tangan Fatih menyentuh keningnya, dan mengusap kepalanya
Rumah sepi, hari kedua setelah mereka menjadi suami istri. Suasana ramai riuh rendah dengan suara orang-orang kini menjadi sunyi. Anisa turun kebawah, dia mencari Ibunya. Bahkan Mbak Mina pun tidak kelihatan. Mungkinkah mereka istirahat setelah sibuk menyiapkan pernikahan Anisa.
“Mumpung sepi kita ke kamar” Fatih tahu ucapnnya akan mengundang pemahaman lain Anisa.
“Ingat, tidak ada sentuhan fisik” Nah, kan. Isi kepala Anisa sama seperti apa yang dipikirkan Fatih.
“Ck, kita perlu bicara. Atau kamu berharap kita melakukan lebih, saya dengan senang hati melayani” Wajah jahilnya muncul, Fatih menahan diri agar tidak melepaskan tawa didepan Anisa.
“Ingat peraturan nomor dua” Menggoda istrinya sepertinya masih menjadi pilihan terbaik untuk menaikkan mood Fatih.
“Tahu, ayo” Fatih menarik tangan Nisa ke kamarnya. Wanita itu waspada. Tatapan penuh selidik pada laki-laki yang menyeretnya.
“Peraturan kedua, ganti nama panggilan. Aku tidak suka aku kamu atau anda saya. Kamu harus memanggilku Abang, aku memanggilmu sayang. Tidak ada bantahan. Kalau kamu salah sebut, siapkan bibirmu sebagai hukumannya” Fatih tersenyum smirk, dia membuang muka. Tidak ingin Nisa melihat senyumannya. Mereka duduk di tepi ranjang. Membicarakan hal yang sudah lama ingin Fatih rubah. Panggilan terlalu formal yang membuatnya seperti terlihat membangun benteng pertahanan terlalu kokoh. Baginya itu sudah lewat, status suami sitri yang disandang mereka sudah meruntuhkan benteng itu.
Nisa menutup mulut dengan kedua tangannya, matanya terbuka lebar. Hukuman macam apa yang di maksud Fatih, sangat menjijikkan menurutnya. Tiba-tiba Nisa bergidik, matanya terpejam, dengan kepala yang bergerak kekanan dan kekiri dengan cepat. Dia tidak bisa membayangkan kalau itu benar-benar terjadi.
“Bagaimana, hukumannya cukup ringan bukan. Abang jadi curiga jangan-jangan nanti malah pura-pura salah sebut”
“Tidak akan, saya tidak akan membuat kesalahan” Katanya tegas, tatapannya menantang sang pemilik peraturan tak tertulis. “Hukuman yang aneh” Gerutunya, Nisa harus lebih hati-hati sekarang. Kalau tidak, kehormatannya jadi taruhan.
__ADS_1
“Bagus, coba sekarang. Panggil dengan merdu” Fatih bersedekap. Tatapannya mengarah pada istrinya. Entah mengapa dia berharap Anisa salah menyebut panggilannya. Meskipun dia tidak akan memberikan hukuman itu sekarang, paling tidak dia akan puas melihat wajah ketakutan istrinya.
“Baiklah,,,” Jeda, menarik nafas panjang “A,,,bang” Nisa geli mendengar nama panggilan itu keluar dari bibirnya. Di menutup mulutnya sekali lagi. Apa tidak ada panggilan lain, nama misalnya. “Panggil nama kayaknya lebih enak didengar” mencoba bernegosiasi, setelah panggilan Abang itu meluncur.
“Apa bibirmu sudah siap, sampai menantang mengganti nama panggilan. Sepertinya kamu memang sengaja memancingku. Baiklah istriku mumpung tidak ada orang, kita mulai sekarang” berjalan mendekati Anisa yang ada di pinggir ranjang.
Anisa bergeser ke tengah, tangannya bergetar. Dadanya berdebar hebat. Apakah laki-laki ini akan memaksanya seperti biasa. Matilah Anisa sekarang, mana rumah sepi lagi.
“Baiklah Abang, sepertinya itu lebih cocok. Saya suka panggilan itu, sangat suka” Dengan senyum yang dipaksa mengembang. Tapi ketakutan di matanya tidak bisa dibohongi. Membayangkan hal buruk terjadi padanya, mengalah jauh lebih baik sekarang. Lelaki didepannya ini tidak bisa ditebak. Bisa saja dia berbuat nekat, apalagi rumah keadaan sepi.
Mengapa teman-temannya mengatakan menikah itu indah, sejauh ini tidak ada keindahan apapun yang ditemukannya. Selain berdebar ketika bersentuhan itu saja.
Fatih tahu, suara Nisa bergetar. Istrinya ketakutan. Tapi itu yang dia harapkan. Hiburan di sore hari melihat wajah dengan mata bulat yang terbuka lebar, terlihat waspada. Fatih bisa membayangkan istrinya tidak akan tidur nyenyak seperti semalam. Dia akan terjaga melihat wanitanya gelisah seperti kemarin. Sebenarnya kasihan, tapi dia tidak punya pilihan. Tidur di kamar lain hanya akan mengundang tanya dari mertua dan iparnya.
“Kemana” mengurungkan niat untuk membersihkan wajahnya.
“Tentu saja kencan, ini kan malam minggu” Bagaimana istrinya lupa kalau sekarang malam minggu.
“Apa, saya tidak salah dengar” Kencan seperti apa yang dimaksud Fatih, tentu dia tidak akan membayangkan kencan seperti yang dilakukan remaja pada umumnya. Berjalan bergandengan di tempat umum, sambil makan di pedagang kaki lima. Apakah Fatih akan melakukannya.
“Tentu saja tidak, kita akan keluar malam minggu. Seperti mereka” Mengapa istrinya bertanya begitu, apa dia tidak pernah malam minggu, atau kencan seperti orang lain.
“Saya tidak mau, kencan dengan Anda pasti sangat membosankan” Memang apa yang bisa diharapkan dengan kencan bersama laki-laki, kaki seperti Fatih
__ADS_1
“Sekali lagi aku mendengar panggilan resmi, batal acara kencannya. Sepertinya kencan di dalam kamar jauh lebih menyenangkan”.
“Maaf, tentu saja kita akan jalan-jalan keluar. Di alun-alun kota bukan, ada pedagang mie ayam yang enak banget. Kesukaan aku sama ibu, kak Fira sama Bang Amir juga suka. Ah, iya. Bagaimana kalau kita ajak mereka sekalian. Rania pasti senang” menghilangkan kegugupan dengan berbicara cepat tanpa jeda. Dan tiba-tiba saja ide untuk mengajak keluarganya terlintas. Kalau ada mereka pasti tidak akan membosankan.
“Kita hanya akan pergi berdua, dan jangan mengaturku kita akan pergi kemana”
“Kalau tidak, bagaimana kalau kita kerumah kakak ipar. Aku kangen Rania”Mencoba membatalkan kencan membosankan seperti bayangannya.
“Kita akan pergi malam minggu keluar, ini acara kencan bukan kunjungan keluarga. Atau kita batalkan, sepertinya tidur didalam kamar sambil berpelukan jauh lebih enak. baiklah, itu ide yang bagus” Fatih tidak akan terpengaruh, usaha istrinya untuk menghindari kencan sangat bagus Fatih mengakuinya.
“iya,,, kita akan kencan ke tempat yang Abang mau. Nisa akan ikut dengan senang” Sekali lagi Fatih melihat senyuman yang terpaksa. Dan itu membuat wajah Anisa sangat lucu. Kalau saja tidak ingat ketakutan istrinya, atau kalau saja hubungan mereka seperti orang lain. Fatih akan membatalkan kencannya malam ini. Memeluk dan menghujani istrinya dengan ciuman sepertinya lebih menyenangkan. Tapi Fatih tidak akan melakukannya sekarang. Dia akan menunggu istrinya siap, tidak ada pemaksaan apalagi air mata.
“Berangkat sekarang saja” pintanya pada Fatih yang duduk bersandar diatas sofa.
“Nunggu sampai shalat isya, satu jam lagi kan” membalas tatapan istrinya dengan tajam.
“ Waktu isya kan panjang” Anisa benar, bahkan mungkin sebagian orang akan berpendapat sama dengannya. Tapi tidak dengan Fatih.
“Kamu yakin kita akan pulang masih baik-baik saja setelah jalan-jalan. Bagaimana kalau ternyata Tuhan menarik nyawa kita sepulang kencan ketika belum melaksanakan shalat isya”.
“Aku biasanya begitu, biar pulangnya tidak terlalu malam. Jangan nakut-nakutin” Tiba-tiba dia bergidik ngeri, tidak pernah terpikir hal itu di benaknya. Ternyata suaminya orang yang sangat disiplin.
“Mulai sekarang di rubah, keluar setelah shalat. Aku bertanggung jawab atas apapun terutama ibadahmu” Nadanya tegas, untuk Ibadah Fatih tidak akan segan-segan untuk lebih tegas. Apapun tidak ada toleransi dalam urusan agama. Prinsipnya, kewajiban dahulu, baru sunah. Selebihnya dia akan menyerahkan urusan hidupnya pada sang pemilik hidup.
__ADS_1
Anisa menunduk, bukan suara tegas suaminya yang membuatnya merasa takut. Tapi kebiasaannya dulu yang terlalu menggampangkan soal shalat. Setelah mendengar penuturan Fatih, dia menyadari satu hal bahwa Tuhan tidak akan menunggu kita beribadah setelah bersenang-senang. Karena ajal tidak menunggu kita selesai dengan urusan dunia. Bayangan kecelakaan atau kemalangan di depan matanya. Menari di otak dan pikiran Anisa. Untuk kali ini dia setuju dengan ucapan suaminya.