MENANTI SENJA BERSAMAMU

MENANTI SENJA BERSAMAMU
KUNJUNGAN PERTAMA


__ADS_3

Tidak ada cara lain, berbicara langsung dengan Fatih untuk tidak mengganggunya untuk saat ini. Menagih janjinya untuk menghormati Profesi Anisa seperti di awal.


Bukan Anisa tidak tahu siapa pelakunya. Baju dan logo yang dipakai laki-laki yang membantu satpam disekolahnya sudah cukup menggambarkan seperti apa peran Fatih untuk saat ini. Terlalu jauh, Anisa tidak suka. Seharusnya tidak boleh ada yang mencampuri urusannya. Laki-laki itu boleh mengikatnya tapi tidak untuk mengatur.


Langkahnya tergesa, nafasnya memburu. karena ada amarah yang menyertai setiap hentakan kakinya menuju ruangan Fatih. Anisa sudah cukup bersabar menahan amarahnya. Waktu pulang sekolah saatnya melampiaskan semuanya. Juga ingin memperjelas batasan antara dirinya dengan laki-laki yang telah mengikrarkan diri menjadi tunangannya beberapa waktu yang lalu.


“Saya antar Nona sampai ke ruangan Tuan” tiba-tiba seorang laki-laki muncul entah dari mana datangnya. Bahkan dengan lancang dia menekan tombol lift di depannya. Kembali laki-laki itu menekan angka delapan pada tombol setelahnya dia mundur kebelakang Anisa. Ada untungnya juga. Bahkan Anisa tidak tahu dimana ruang kerja Fatih.


Anisa tahu gerak-geriknya sedang di awasi melalui CCTV yang terpasang di gedung ini. Kalau tidak bagaimana laki-laki ini tahu dia datang dan kemana tujuannya kalau tidak ada yang memberi tahu. Terserah, yang penting bertemu Fatih, menegaskan batasan hubungannya setelah itu pulang selesai. Setelahnya dia akan tidur pulas. Menyenangkan bukan.


Fatih melihat kedatangan Anisa melalui layar pemantau di ruangannya. Senyum tipis tercetak disana.


“Cukup berani sekali wanita ini, bahkan dia tidak tahu dimana ruanganku” dagunya diapit antara jempol dan telunjuk. Diusapnya perlahan. Wanitanya sudah semakin dekat, saatnya persiapan untuk menyambut. Membuka pintu ruang kerjanya, Fatih berdiri di depannya menyambut dengan senyum cerah. Secerah mentari sore menjelang masuk keperaduannya.


“Ruangan Tuan, sebelah sini nona, silahkan. Beliau sudah menunggu” seorang laki-laki lain menyambut mereka setelah pintu lift terbuka. Berjalan mendahului Anisa sebagai petunjuk jalan. Lorong nampak sepi, mungkin mereka sedang sibuk bekerja. Tentu saja karena sang Tuan sangat kejam makanya tidak ada yang bisa berkeliaran di jam kerja.


Sempat terlintas dalam benak Anisa, berapa gaji mereka yang bekerja disini. Dia tahu gajinya tidak sebesar mereka, tapi Nisa bahagia setidaknya tidak bekerja di bawah tekanan. Apalagi atasannya mahluk menyeramkan seperti Fatih menurut pendapatnya. Gaji kecil yang penting bekerja sesuai dengan passionnya dan tidak tertekan. Senyum mengembang dari bibirnya membayangkan mereka bekerja dibawah tekanan yang tidak semestinya.


Setiap pintu ruangan tertutup, tidak ada suara. Bahkan yang terdengar hanya langkah kaki dirinya dan dua laki-laki yang mengantar dan menjemputnya ini. Begitu menakutkannya pemilik gedung ini kasihan sekali mereka. Angannya menerawang pada wajah-wajah tertekkan para pekerja disini.


“Itu ruangan Tuan, maaf kami hanya mengantar sampai disini” selanjutnya dua orang tadi mengundurkan diri.


“Yang mana” Nisa bergumam sambil berjalan dengan pelan bahkan tidak terdengar langkah kakinya beradu dengan lantai.

__ADS_1


“Selamat datang, seharusnya tadi bilang kalau mau datang, aku kan bisa jemput” suara bariton tiba-tiba mengagetkannya. Gadis itu terjengkit . Satu-satunya pintu yang terbuka, bahkan sang pemilik menyambutnya dengan senyum cerah.


“Aku senang kamu mau datang” lanjutnya lagi. mengulurkan tangan mempersilahkan tamunya masuk.


Mata Anisa berkeliling ruangan, bahkan kepalanya ikut berputar. Kagum dengan desainnya, tapi cukup dalam hati saja. Tak perlu diungkapkan, cukup mengagumi penghuninya. Tentu, sang desainer tidak akan mempoles ruangan ini tanpa mengikuti kemauan klien. Selera yang bagus menurutnya. Semua lukisan didalamnya cukup mengagumkan. Tidak ada gambar mahluk hidup atau serupa foto apapun. Hanya lukisan abstrak yang sangat cocok dengan semua hal yang menempel disana.


“Aku tidak sabar ingin menempel foto kita disetiap sudut ruangan ini” suara itu mampu mengalihkan pandangannya. Fatih datang membawa dua minuman kaleng. Tidak bersoda juga tanpa alkohol. Meletakkan di meja tepat didepan Anisa duduk.


Ruangannya cukup luas. Meja kerja, sofa untuk menerima tamu mungkin kamar mandi. Dan ada ruangan kecil, Nisa tahu itu mushola karena di pintu kaca menempel tulisan kalimat tauhid.


“ Kedatangan saya disini hanya untuk memperjelas bahwa saya tidak suka Anda masuk terlalu jauh dalam hidup saya, apalagi sampai masuk kedalam profesi saya. Semoga Anda tidak lupa dengan itu, sekarang saya datang untuk menagih janji yang pernah Anda setujui jadi jangan berhayal terlalu jauh”


“Seharusnya mereka membiarkan laki-laki itu berteriak sampai jam istirahat. Seputus asa itu sampai berteriak seperti orang gila. Satpam sekolah tidak terlalu kuat untuk menangani. orang yang sedang emosi, biasanya kekuatannya meningkat dua kali lipat, pernah dengar” duduk di depan sebelah kanan. Masih ada dua kursi kosong di antar mereka. Dari auranya Fatih sudah tahu bahwa kedantangan Anisa bukan serta merta karena dia ingin tahu tentang kaantornya.


“Aku bukan tipe orang yang main-main dalam hubungan, dari awal aku tidak ingin membohongi siapapun. Apakah kedatangan kedua orang tuaku belum menunjukkan kesungguhan. Lalu katakan dengan apalagi pembuktian itu agar kamu percaya bahwa ini bukan permainan” mata mereka beradu untuk waktu yang lama. Saling mencari kesungguhan dalam netra itu.


Fatih tahu Anisa sedang membangun tembok kokoh dihatinya. Gadis itu memendam ketakutan yang dalam tentang hubungan mereka. Setidaknya itu yang dirasakannya dari pertemuan pertama mereka.


Anisa tidak menangkap kebohongan di matanya, laki-laki itu selalu dengan tatapannya yang jujur, justru itu yang membuat Anisa takut. Dia hanya ingin Fatih berpura-pura di depan keluarganya, setelah itu urusannya selesai. Dia tidak ingin menyeret hatinya masuk terlalu dalam. Ketakutan demi ketakutan selalu melakukan hal yang tidak pernah di bayangkan sebelumnya.


“Apa yang bisa saya percaya dari hubungan yang serba tiba-tiba. Dan saya bukan orang yang yang percaya dengan cinta pada pandangan pertama. Karena perasaan sedalam itu tidak datang dengan serta merta. Butuh proses panjang, perkenalan, pengenalan karakter dan kecocokan. Dan kita tidak mengalami itu semua” pertama kalinya tatapan Anisa menantang, dia ingin kejujuran. Mengahiri semua drama yang mereka lakonkan dengan dalang seorang laki-laki di depannya ini. Dia seperti wayang yang memerankan semua kehendak Fatih.


“kita sudah berkenalan di rumah sakit, aku mengenal karakter keras kepalamu dan saya langsung merasa cocok. Ada yang salah. Bahkan aku mengenal keluargamu. Memintamu dengan baik. Kalau kamu mau, kita akan menikah besok jika itu bisa membuatmu percaya dengan hubungan ini” tanpa jeda, tanpa ragu. Kata demi kata itu meluncur dengan penuh keyakinan. Fatih ingin mempertahankan pendapatnya. Dengan keyakinan yang penuh bahwa Anisa lah wanita yang tepat untuk mendampingi hidupnya.

__ADS_1


Tiba-tiba rasa takut menghinggapi Anisa, tatapannya menunduk dia tidak ingin terhanyut mata teduh didepannya. Gadis itu tidak ingin benteng pertahanan yang dibangunnya dengan kokoh hancur seketika. Kenapa hatinya gampang sekali lemah ahir-ahir ini. Apakah hanya karena laki-laki ini sudah mengikatnya. Hanya karena benda mungil itu hatinya sudah mulai melemah. Kedua tangan itu mengusap wajahnya cukup lama.


“Berhenti memukul kepalamu Nisa, ada apa?” Fatih memegang tangan Anisa, mencegah memukul kepalanya lebih keras lagi. Bahkan pegangan di kedua pergelangan tangan itu cukup kuat. Anisa mengangkat wajahnya. Air mata sudah menetes, dengan tangan masih memegang pergelangan, laki-laki itu mendekat. Mempersempit jarak diantara mereka.


“Saya takut Tuan” Air matanya semakin deras mengalir, Fatih menatapnya dengan bingung. Apa yang ditakutkan wanita didepannya.


“Apa ada kalimatku yang menakutimu” pertanyaan itu, dan tatapan tajam Fatih hanya menerima gelengan sebagai jawaban.


“saya takut hubungan ini tidak berhasil, bagaimana kalau kita gagal di tengah jalan. Ada banyak hati yang kecewa. Keluarga kita berharap banyak dari hubungan ini. Dan saya tidak bisa memberikan itu. Dari awal kita tidak akan pernah cocok. Saya benci dengan terlalu berharap” isakan pelan mengiringi setiap kalimat yang terlontar.


“inikah yang membuatmu memberikan batasan pada hubungan ini, inikah yang membuatmu membenciku. Mencari celah untuk mengurungkan niatku. Jangan harap, dari awal aku yakin kamu adalah orangnya. Kita akan melewati ini semua. Kita akan bahagia. Aku pastikan itu”


“ jangan terlalu yakin melebihi takdir Tuhan, segala kemungkinan itu selalu ada. Kita berasal dari latar belakang yang berbeda. Saya tidak ingin memaksakan diri. Tuan berhak mendapatkan yang jauh lebih baik di saya.” Tatapan memohon dengan wajah sendu. Nisa tahu dia bukan wanita yang tepat untuk laki-laki serba sempurna didepannya ini.


“Akan aku buktikan kalau aku tidak main-main Anisa, tidak ada yang bisa mencegahku” sanggah Fatih dengan suara tegas, ada getaran dalam dirinya ketika tangan itu masih memegang erat pergelangan Anisa. Getaran halus yang mampu membuatnya damai. Ingin rasanya manarik tangan itu agar jatuh kedalam pelukannya, menenangkan agar tidak ada lagi keraguan. Mendekap erat dan tak ingin ada jarak.


Untung saja akal sehatnya masih berfungsi. Dengan baik.


“Saya butuh pegangan, saya tidak sesempurna yang terlihat. Kalau kamu jadi aku mungkin setiap malam akan menangis meraung. Aku butuh kekuatan untuk itu. Dan kamu adalah orang yang tepat” suaranya pelan seperti berbisik.” Aku butuh kekuatan, berjanjilah untuk selalu ada. Hanya itu, cukup kamu berada di sampingku” lanjutnya masih dengan nada lirih.


Kepala Anisa terangkat, seorang Fatih meminta itu darinya “ Ada apa” kalimat tanya itu berputar mengelilingi kepalanya. Kembali netra mereka bertemu. Nisa mencari jawaban. Yah, sinar mata lelah dan rapuh itu terpampang jelas, mendung menggelayut. Pancaran yang baru sekarang Nisa temui.


“Kadang yang terlihat itu tidak seperti kenyataannya, aku manusia biasa. Kekuranganku banyak, dan kamu yang akan melengkapinya” masih dengan tatapan sendu, bahkan terlihat sedikit mengembun.

__ADS_1


__ADS_2