MENANTI SENJA BERSAMAMU

MENANTI SENJA BERSAMAMU
BIMBANG


__ADS_3

Hatinya sedang risau, mengingat bagaimana Anisa memeluknya dengan erat sampai mereka terbangun. Seolah dia akan pergi jauh jika pelukan itu terlepas. Tidak ada wajah murung ketika Anisa menyiapkan sarapan, senyum tulus seperti biasa, atau memang istrinya termasuk wanita yang pandai menyembunyikan perasaan. Entahlah, Fatih hanya mengingat betapa wanitanya melewatkan hari yang berat kemarin.


Hari ini minggu, seharusnya dia menghabiskan waktunya dengan Anisa. Tapi, sudah berjanji untuk menyelesaikan masalahnya hari ini. dia sudah membuat janji untuk bertemu. Bukan di rumahnya tapi di restoran.


“Seharusnya Mama tidak perlu melibatkan Anisa. kalau Mama ada masalah dengan wanita yang aku pilih, Mama bilang saja. Anisa tidak tahu apa-apa Ma. Tolong mengertilah” Menunggu pesanan datang. Fatih sudah tidak bisa menahan diri untuk terus menerus membiarkan orang lain mengusik hidup istrinya. Dia pergi setelah Anisa terlelap.


Ada banyak perubahan setelah kedatangan Mamanya kerumah. Anisa lebih pendiam. Selalu tersenyum walau di paksakan. Tidak pernah bercerita dengan celotehnya yang menggemaskan. Hanya dua hari memang. Tapi Fatih merindukannya. Merindukan istrinya yang lari ketika melihat pintu rumah utama terbuka dengan senyum mengembang.


“Sudah Mama duga, pasti wanita itu sudah mengadu. Sepertinya dia memang punya niat merusak hubungan Mama sama kamu” Menegakkan badannya, memastikan bahwa dugaannya benar.


“Anisa tidak seperti yang Mama bayangkan. Dia tidak pernah mengadu bahkan kepada suaminya sendiri atas perlakuan Mama” Nadanya mulai naik. Seberapa buruk anisa dalam pikiran wanita di depannya ini.


“Apakah kamu seorang cenayang yang bisa menebak apa yang orang lain lakukan padahal kamu sendiri tidak tahu, lalu siapa lagi yang mengadu kalau bukan dia?” Tatapannya tajam tepat mengenai manik mata Fatih.


“Reno memasang CCTV lengkap dengan penyadap suara setelah kejadian Anisa tersiram air panas. Hanya berjaga-jaga takut kejadian itu terulang. Mama tidak perlu tahu semua tentang Rumah utama. Tugas Mama sudah selesai menjagaku dan Abang ucapkan terima kasih” Nyonya Maura mengangkat wajahnya. Tatapan itu kembali beradu. Fatih yang berusaha tenang, dan Nyonya Maura yang mulai tersulut amarah.


Seorang pelayan datang membawa pesanan mereka. Hening, tidak ada yang mengeluarkan suara. Fatih tersenyum setelah pelayan meletakkan semua di meja.

__ADS_1


“Mama melakukan semuanya demi kebaikan Abang. Membuat Abang di hormati mereka, agar Abang punya power. Mama membentuk Abang menjadi seorang pemimpin yang disegani. Agar Abang mampu bersanding dengan para pemilik perusahaan besar. Inikah balasannya, mengatakan kalau tugas Mama sudah selesai?, itu sama saja Abang membuang Mama, sudah tidak menganggap kalau wanita ini Ibumu” Menepuk dadanya sendiri dengan mata yang mulai berembun.


“Bukan begitu maksudnya Ma, setiap orang tua akan melepaskan tanggung jawabnya ketika dia sudah memiliki kehidupan sendiri. Biarkan Abang menjalankan kehidupan rumah tangga dengan tenang, tanpa campur tangan Mama” Mencoba memberi pengertian, tapi dia tahu kalau semua yang dikatakannya tidak akan berhasil. “Abang seperti tidak mengenal Mama. Wanita yang pernah menganggap Abang anak adalah wanita yang tidak pernah mencampuri urusan pribadi anak-anaknya. Apa yang membuat Mama berubah?”


“Pilihanmu tidak sesuai dengan kriteria Mama, dan kriteria seorang pemilik perusahaan besar. Bagaimana ceritanya seorang Pemimpin tertinggi di GLOBAL GROUP punya istri seorang guru dari keluarga sederhana. Paling tidak anak pengusaha, artis ternama atau bahkan yang setara dengan kita. Wanita seperti Anisa tidak akan bisa masuk kedalam kehidupan orang seperti kita. Apalagi latar belakangnya guru dan seorang pegawai rendahan”


“Cukup, Mama sudah terlalu jauh menghina istriku dan keluarganya. Apapun yang terjadi Aku tidak akan meninggalkan Anisa. karena aku sangat mencintainya” Suaranya tegas penuh penekanan. Matanya menyala. Ada rasa sakit ketika kalimat tidak pantas itu keluar dari orang yang menganggapnya keluarga.


“Bukan, itu hanya onsesi. Abang tidak pernah mengatakan cinta di depan Anisa. Abang hanya takut kehilangan. Seperti anak kecil yang takut kehilangan mainan kesayangannya. Itulah faktanya Bang, sadarlah” Fatih terpaku, tenggorokannya tercekat. Apa yang di katakan ibu angkatnya ini bagai tamparan keras. Tunggu, bagaimana wanita didepannya ini tahu hal paling pribadi yang coba di tutupnya dengan rapat.


“Siapa yang ngasih tahu Mama?” Fatih penasaran, bagaimana wanita ini mengetahuinya. Hanya Reno dan Anisa yang tahu masalah yang dia pikir terlalu pribadi. Tentang dirinya yang tidak pernah mengatakan perasaannya dengan jelas di depan Anisa.


Benarkah perasaannya hanya sedangkal itu, apakah dirinya hanya menganggap Anisa sebuah mainan. Dan dia tidak ingin kehilangannya. Rasa nyaman, bahagia ketika Anisa memeluknya kemarin. Rindu ketika masih di kantor. Khawatir dan merasa bersalah ketika tangan istrinya melepuh. Apakah itu bukan cinta. Kalau yang dikatakan Nyonya Maura itu benar, bukankah dirinya orang yang paling kejam menyeret Anisa masuk kedalam hidupnya hanya karena rasa penasaran.


“Ingat Boni kucingmu dulu, kamu merawatnya dengan baik. Memberinya makan. Membelikan segala keperluannya. Dan pada hari dimana Boni menghilang, kamu tidak makan dua hari hingga kucing putih itu kembali. Mama masih ingat, kamu sampai di tegur Papa hanya masalah kucing. Berkali-kali salah membuat keputusan. Kamu sudah besar waktu itu. Dan Mama ingat kamu yang dulu sama seperti yang sekarang. Bedanya istrimu itu manusia” Suara rendahnya seperti seorang ibu yang sedang mendongeng.


Benarkah, apa mungkin perlakuannya terhadap istrinya sama dengan perlakuannya terhadap Boni. Fatih menangis ketika kucing itu meninggal karena usia. Setelah itu dia tidak pernah merawat kucing lagi karena tidak mau kehilangan. Tapi hanya tiga hari, setelah itu perasaannya biasa saja.

__ADS_1


Apakah dia akan baik-baik saja ketika Anisa pergi. Kalau memang yang dikatakan Mamanya benar, mampukah dia melepaskan istrinya pergi. Dia akan membebaskan Anisa untuk memilih jalan hidupnya dari pada hanya di jadikan pelampiasan obsesi tanpa melibatkan perasaan.


Mampukan dia hidup setelahnya, berjalan tanpa Anisa disampingnya. Pernikahannya baru enam bulan, tapi dia yakin dengan hatinya bahwa Anisa adalah sosok yang dicarinya selama ini. dia mampu meredam amarah hanya karena tidak ingin melihat wanita itu tidak nyaman.


“Lepaskan dia, Mama rasa itu yang terbaik untuk kalian. Biarkan dia mendapatkan laki-laki yang mampu menjaganya dengan baik. Dan itu tidak ada dalam dirimu Bang. Duniamu dan dunianya tidak mungkin bisa sejalan”.


Fatih diam, tenggorokannya tercekat. Apa yang dikatakan Mama angkatnya ini semuanya benar. Pikirannya menerawang. Memikirkan wanita yang telah dia beri tempat yang salah untuk berlindung. Dia sudah memberikan rasa nyaman pada wanita itu, nyatanya dia juga yang akan membuat hidupnya sengsara.


Makanan yang terhidang tak lagi menggugah seleranya. Aroma itu terasa hambar. Lambungnya terasa penuh, hingga tak mampu lagi menampung makanan.


Gawainya berdering, panggilan dari Reno membawanya keluar dari lamunan.


“Bang, Nona NIsa keluar dengan sepeda motor, dia tidak mau diantar sopir” Laporan Reno sontak membuat Fatih berdiri dari duduknya.


“ikuti dia, jangan sampai kehilangan jejak. Saya segera kesana. Laporkan apapun yang terjadi pantau terus Ren”


“Tapi Bang, Mbok Sa baru memberi laporan. Perginya setengah jam yang lalu”

__ADS_1


Fatih bergegas ke parkiran, dia tidak mempedulikan panggilan Nyonya Maura. Rasa khawatir menyergapnya. Dia takut terjadi sesuatu pada istrinya. Anisa pendatang baru di kota ini. dia belum tahu jalan. Bagaimana kalau tidak bisa pulang.


“Kemana kamu pergi, mengapa keras kepala sekali. Buat apa aku mempekerjakan mereka kalau hanya menjaga satu orang saja kewalahan” Gumamnya dengan wajah cemas. Dia meninggalkan tempat itu dengan menginjak pedal gas dengan tergesa.


__ADS_2