MENANTI SENJA BERSAMAMU

MENANTI SENJA BERSAMAMU
KEPUTUSAN BERAT.


__ADS_3

Hari masih sore, didalam ruang perawatan intensif ini terdapat dua wajah yang sangat murung, dua wajah itu tidak bisa menyembunyikan kegundahan hatinya. Setelah kunjungan dokter yang menangani anaknya. Ucapan sang Dokter bagai palu yang menghantam kepala ibu dari laki-laki yang terbaring lemah.


“tidak ada pilihan lain kita akan membawa pak Amir ke Rumah sakit pusat. Kondisinya tidak mengalami perkembangan. Kita menghindari hal-hal yang tidak diinginkan” ucap sang dokter pelan, bahkan sangat pelan. Namun tidak mampu mencegah debaran jantung dan ketakutan ibu dua ini. seketika badannya menjadi lemah. Seluruh sendinya seolah tak bertulang. Dia tidak punya pilihan lagi, apapun akan dilakukan seorang ibu demi anaknya.


“ibu akan menghubungi fatih, ibu tidak tahu harus minta pendapat siapa lagi” mengambil gawai dari meja sofa


“kenapa harus dia bu. Nisa tidak suka, keberadaannya hanya mengagganggu saja. masak bertamu tidak tahu waktu. Manusia apa bukan dia” suara kesal sang anak membuat ibu itu mengangkat wajahnya.


Baru sekarang dia paham mengapa anaknya selalu diam seolah tidak pernah menganggap kedatangan Fatih sebagai sesuatu yang di harapkan.


Tentu ini sangat berbanding terbalik dengan wanita baruh baya ini, keberadaan fatih seolah memberikan dia kekuatan. Ibu tunggal itu bisa berbagi kegundahan hatinya dengan sahabat sang anak, menceritakan kondisi Amir. Karena dia tidak tahu lagi harus bercerita pada siapa.


“Nisa tidak boleh begitu, bagaimanapun Fatih itu orang baik, dia sopan. Kedatangannya juga sangat membantu. Dia menawarkan untuk membawa abangmu berobat keluar negeri” suara lembut sang ibu tetap tidak bisa meluruhkan ketidak sukaan wanita cantik ini.


Bukan Nisa tidak tahu, dia sangat tahu bahwa laki-laki itu sering mencuri pandang ke arahnya. Itu yang membuatnya risih. Dia yakin kedatangan laki-laki itu karena ada maksud lain.


Dia tidak mau tinggi hati dengan dugaannya. tapi keyakinan itu semakin kuat ketika laki-laki itu berbicara sok perhatian, seolah dia laki-laki yang baik. Bagi Nisa itu adalah cara buaya mendekati mangsanya. Tidak berkelas sama sekali. Tapi dia tidak ingin terkecoh. Dengan tidak menganggap keberadaan laki-laki itu di ruangan ini ketika berkunjung adalah salah satu cara melindungi dirinya.


Nisa pernah mendengar dari abangnya, betapa berkuasanya laki-laki itu. sehingga dia paham bahwa tidak mungkin laki-laki sekelas dia benar-benar tertarik dengan dirinya. Kalaupun iya, dia hanya akan di jadikan koleksi laki-laki tampan itu. iya,,, dia mengakui wajah tampan sahabat abangnya.

__ADS_1


Bukan fisik dan harta yang menjadi ukuran Nisa untuk mengagumi laki-laki sebagai calon pendampingnya kelak. Tapi laki-laki yang mampu menjadi imam yang baik, yang taat pada Tuhannya. Dan mampu membimbingnya menjadi istri dan ibu yang baik untuk anaknya kelak.


Sedangkan Fatih, dimata Nisa tidak lebih dari laki-laki sombong, arogan, ambisius yang menghalalkan segala cara untuk menambah pundi-pundi kekayaannya. Playboy kelas kakap, dengan koleksi wanita dengan berbagai macam bentuk yang menarik.


Di mata Nisa, Fatih akan mengencani wanita yang dia inginkan dan membuangnya ketika sudah bosan. Itu bukan hal yang sulit baginya. Limpahan materi yang dimiliki laki-laki itu tidak akan membuatnya kehabisan stok wanita.


“tapi maaf bukan saya orangnya, kalau anda menargetkan saya dalam koleksi berikutnya” ucapnya dalam hati. Senyum mencibir itu terbit di bibir ranumnya.


“tidak usah bu, biarkan kita pasrah saja apa kata dokter. Kalau Abang memang harus di bawa ya biar dibawa saja” sang ibu paham nada ketidak sukaaan anaknya pada laki-laki itu.


Sang ibu hanya diam. Untuk saat ini dia tidak mungkin berdebat. Dia ingin ada Syafira menemaninya menjaga sang anak. Menantu kesayangannya itu bahkan tidak ada yang tahu keberadaannya. Wanita itu mendesah. Ingin mengeluh tapi itu bukan dirinya. Kuat dan mandiri adalah dua hal yang selalu dia tanamkan di benaknya. Demi kedua buah hatinya.


Tidak dengan dua orang laki-laki yang sedang berjalan dengan langkah tegap di lorong rumah sakit. Laki-laki yang sama. Yang setiap malam mengunjungi sang sahabat demi memastikan kondisinya.


“saya tidak bisa menecegahnya lagi, malam ini saya harus mengungkapkan perasaan saya” ucapan sang atasan tanpa menoleh seperti biasa.


“apa yang akan tuan lakukan” tanya sekretarisnya bingung. Berbagai ke khawatiran muncul di benaknya. Ternyata orang jatuh cinta itu bisa berubah.


“saya akan mengajaknya menikah, bukankah itu keren. Tidak pernah saya memperlakukan wanita se istimewa ini” jawaban pasti sang majikan menambah ketakutannya. Dia yakin sekarang bahwa bosnya akan melakukan ke bodohan.

__ADS_1


“maaf tuan apa tidak sebaiknya tuan pikirkan lagi” benar kan, Reno paham tatapan tidak suka wanita itu pada bosnya sudah bisa menggambarkan bahwa laki-laki di depannya ini akan gagal.


Caranya kali ini hanya akan mempermalukan dirinya sendiri. Reno menggelengkan kepalanya, dia bingung bagaimana cara mencegah tuannya mempermalukan dirinya di depan wanita itu.


“cih, tahu apa kamu. Jatuh cinta saja belum. Saya yakin dengan cara itu dia akan tersentuh kemudian mengangguk setuju atau bisa jadi dia akan berlari kepelukanku. Kamu tahu sendiri kan, belum pernah ada wanita yang mampu menolak pesonaku sejauh ini” terdengar sombong, tapi memang itu kenyataannya. Reno orang yang paling dekat dengan laki-laki gagah yang berjalan di sampingnya saat ini.


“maaf, tidak semua wanita seperti itu Tuan” kata-kata yang meluncur dari bibir Reno berhasil menghentikan langkah kaki Fatih. Dia menatap tajam ke arah sang sekretaris.


“apa maksudmu aku akan gagal, wanita itu akan menolakku begitu?” Reno menunduk dalam tidak berani Beradu tatap dengan Tuannya. Laki-laki didepannya ini seperti ingin memangsa dirinya. Dia tahu kata-katanya baru saja sudah memancing amarah.


“maaf tuan saya hanya tidak ingin Tuan malu nantinya, saya melihat Nona Nisa berbeda dengan wanita yang selama ini mengejar Tuan” ucapnya lagi, masih dengan nada menunduk. Kembali berjalan dengan langkah tegap.


Di ruang perawatan, suara tangisan pelan terdengar sampai ke telinga sang ibu. dia terbangun mengerjapkan matanya berulang. Menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya.


“Nis, kamu kenapa nak...?”tanya sang ibu bingung meskipun ini bukan pertama kalinya anak bungsunya itu menangisi abangnya.


“sudah empat hari, tapi abang masih begini saja bu. Nisa tidak tega. Kenapa abang bisa selemah ini” ucapnya sambil sesenggukan. Anak gadisnya itu mengelap air matanya dengan kertas putih tipis yang dipegang di tangan kanannya.


“ibu ke kamar mandi dulu” beranjak dari sofa menuju kamar mandi yang ada di dalam ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2