
Aku yang sedang berusaha menapaki jalan dengan perlahan, mereka dengan paksa menarik tanganku menyeret tanpa belas kasihan, aku pikir mereka keluarga nyatanya semua hilang hanya karena balas budi. Aku ikuti apa yang mereka inginkan hanya agar aku tidak di cap sebagai anak durhaka.
“Kalau bisa pulangnya di percepat Nak, adikmu sudah tiga hari menghindari Ibu, alasan lembur pulang kerumah langsung tidur nggak keluar kamar. Ibu bingung mesti gimana. Kalau ada Rania mungkin bisa Anisa bisa sedikit terhibur”. Wanita itu tahu betapa sayangnya Anisa pada ponakannya. “Ibu jadi merasa bersalah tapi mau bagaimana lagi. Jaman sekarang mencari laki-laki seperti Fatih itu langka. Apa yang harus ibu lakukan?” gawai masih menempel di rungunya. Duduk di meja makan sambil menunggu Anisa turun. Sudah satu jam, tapi belum ada tanda gadis itu akan turun. Suaranya mulai putus asa.
Hubungan dengan putrinya tidak baik-baik saja sekarang. Sudah tiga hari mereka tidak berbicara. Bertemu di meja makan hanya pagi saja, itu pun tidak saling bercerita seperti biasa. Rumah menjadi sepi. Tidak terdengar celotehan Anisa seperti kebiasaannya. Ada saja yang diceritakan sepulang mengajar. Muridnya yang lucu, bandel atau bahkan teman-teman gurunya yang selalu bertingkah konyol. Bahkan obrolan santai sambil makan camilan di depan TV pun sudah tidak dilakukan lagi.
“Besok kita pulang Bu, sabar ya. Mungkin Anisa masih kaget. Waktunya terlalu cepat. Anisa kan perlu waktu, Dia yang akan menjalani semua. Kita hanya membantu meyakinkannya saja, kalau semua itu demi kebaikan Dia juga di masa depannya” Sang putra menjawabnya dari sebrang.
Banyak hal yang mereka bicarakan tentang rencana pernikahan yang terlalu tiba-tiba. Meskipun Fatih sudah menyiapkan semuanya, tapi mental calon mempelai wanita juga perlu disiapkan secara matang. Ibu tidak percaya reaksi putrinya sedemikian dingin. Dia pikir perkenalan, pertunangan, sudah cukup membuat hubungan keduanya untuk dilanjutkan.
Berjalan menghampiri kamar putrinya. Sudah panggilan kesekian tapi tidak ada jawaban. Bu Ratih selalu mengetuk pintu sebelum masuk kekamar putrinya. Itu pun yang diajarkannya pada mereka.Bahwa mengetuk pintu kamar, menunggu dipersilahkan masuk bagian dari sopan santun. Itu yang ditanamkan sejak dini.
“Mbak Mina, ambilkan kunci cadangan, dari tadi siang Nisa belum makan” pintanya pada Mbak Mina. Wanita paruh baya itu menghampiri dengan wajah bingung.
“Mbak Nisa nggak ada di kamarnya Bu, tadi saya sudah cek. Memang belum terlihat datang dari kantor” penjelasan mbak Mina menyadarkan Ibu.
Jarak yang di bangun putrinya cukup jauh, bahkan untuk sekecil ini pun dia tidak menyadari. Seperti kebiasaannya sebelum jam makan malam harusnya sudah dirumah, meskipun makan tanpa suara paling tidak gadis itu sudah terlihat.
“Coba telpon, mungkin masih di sekolah”.
“Kenapa saya tidak kepikiran Mbak, makasih ya” kembali ke meja makan, memanggil nomor telepon Anisa. Satu kali, masih tidak diangkat. Dua kali, dan panggilan ketiga Operator yang menjawab, diluar jangkauan.
Perasaan cemas mulai menghantui, bingung tidak tahu harus bagaimana. Tidak biasanya Nisa pulang lewat waktu maghrib, semarah apapun padanya. Pikiran buruk mulai terlintas. Takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Nisa perempuan, kejahatan diluar sana seolah sedang mengancam putrinya.
“Minum teh hangat dulu Bu” Mbak Mina, tahu keadaan atau majikannya Dia hanya berusaha untuk menenangkan. “Coba telpon teman-teman mbak Nisa, mungkin memang kantornya lembur sampai malam” melihat tangan wanita tua itu bergetar, memunculkan rasa iba di hati Mbak Mina. Diraihnya tangan itu, digenggam dengan erat. Dingin, gambaran betapa cemasnya seorang ibu dihadapannya ini.
“Apa saya keterlaluan Mbak, apa saya masih pantas dipanggil ibu. Hati saya sakit melihat putri saya menjauhi saya mbak” Isakan kepedihan, gambaran hati yang mulai tak nyaman “ Saya hanya ingin Anisa mendapatkan laki-laki yang baik, apa itu salah” perasaan bersalah menggerogoti hatinya, melihat sikap dingin Anisa dia pikir tidak akan Lama. Marahnya Anisa sekarang dinilainya berlebihan.
“Ibu tidak salah, Mbak Nisa butuh waktu. Suatu saat dia akan mengerti bahwa pahitnya jamu itu hanya di awal, selebihnya adalah obat. cara berpikir kita mungkin tidak sama dengan anak jaman sekarang Saya tidak tahu harus membantu ibu dengan cara apa” tangan itu mengelus lembut tangan yang mulai dingin. Telapak tangannya basah. Ketakutan tergambar dari keringat dingin yang mulai mengucur dari pelipis.
Bunyi gawai menyentak keduanya, memaksa mengalihkan pandangan pada benda segi empat yang menyala. Menampilkan nama Fatih disana.
“Assalamualaikum bu, tidak usah cemas Nisa di rumah chika, bairkan dia tidur disana. Dia butuh waktu untuk dirinya sendiri. Ibu istirahat, jangan pikirkan yang aneh-aneh. Urusan Nisa biar saya yang awasi” Bu Ratih menarik Nafa lega. Beban berat itu terankat. Senyum tipis terbit di wajahnya.
__ADS_1
“Terima kasih Nak, kamu yang sabar ya” ucapnya lembut.
“Saya bisa mengatasi semuanya Bu, Nisa begitu karena saya. Sudah malam ibu istirahat. Assalamualaikum” menjawab dengan senyum merekah. Mengambil teh hangat, menyesapnya pelan.
“Apa yang salah sama Tuan Fatih ya Bu. Tampan, baik, dewasa, kayaknya sabar banget sama Mbak Nisa yang suka ngambek” Semua orang akan berpikir sama dengan Mbak Mina. Tidak ada yang salah. Hanya pikiran Anisa yang terlalu buruk. Menganggap semua laki-laki sama seperti Abangnya. “Saya beberapa kali lihat Tuan, dimarahi sama Mbak Nisa, bukannya balik marah malah tersenyum, bahkan kadang tertawa. Kalau sudah gitu mukanya Mbak Nisa tambah kesel. Kadang saya kagum melihat kesabaran Tuan” tatapan Mbak Mina menerawang, mengingat laki-laki itu selalu tersenyum tulus pada anak majikannya.
“ Kelakuan Abangnya yang membuat Nisa begitu, padahal mereka sudah bahagia. Fatih juga yang bantu Amir kembali sama Fira” menghela nafas berat, setelah menuntaskan kalimatnya. “Istirahat sudah malam Anisa biar Fatih yang urus” lanjutnya lagi. Setelah ketegangan pikiran, lelah mulai terasa bahkan matanya mulai berat.
***
“Sudah nangisnya, lagian dapat yang bening malah nggak mau, aku kalau jadi kamu, nikmatin ajalah. Aku yakin tampang seperti Dia itu banyak yangngejar, percaya sama aku” Chika mencoba menghibur Anisa, yang hampir satu jam masih terisak.
“Aku masih nggak habis pikir dengan ibu, kesannya dia seperti menjualku. Rencana sebesar ini justru aku tahu dari kamu. aku yakin, pasti laki-laki itu yang maksa Ibu. Berdalih hutang budi seperti biasanya” sentuhan lembut Chika di punggungnya tak mampu meredakan tangisnya.
“Kalau aku di jual sama laki-laki modelan kayak Fatih, nggak nolak Nis, dengan suka rela Aku akan menyerahkan diri”
“Yang...” teriakan suaminya terdengar kencang dari luar kamar setelah mendengar kalimatnya. “Kamu ada niat selingkuh ya” ternyata ada yang salah paham dengan obrolan mereka.
“Apasih sayang, aku sedang menghibur Anisa, jangan dimasukkan ke hati” mode merayu di layangkan, mengusap bahunya menempel di lengan kiri dan menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.
“Awas saja kamu selingkuh” meskipun marah tangannya tetap mengusap rambut sang istri, menciumnya dengan lembut
“Satu ajah kadang bikin stress, apalagi dua. Bisa darah tinggi istrimu ini” mengusapkan wajahnya di dada suaminya
“ooo, jadi maksud kamu aku nyebelin” Wajah itu memerah, tatapan tajam diarahkan untuk istrinya.
“Kadang-kadang sayang, tapi ngangenin. Percaya kan?” senyum modus senjata terahirnya untuk meluluhkan suaminya “Istirahat duluan, aku masih mau nemenin Nisa, kasihan” Rayuan beriktunya. Memeluk sang suami dengan manja.
“Jangan lama-lama. Mas nunggu...” sang suami menggantung ucapannya, mengigit bibir bawahnya. Chika paham kode itu. “ciuman pengantar tidurnya mana” Lanjutnya lagi. Bayi besar rupanya sedang cemburu, baiklah satu kali ciuman dari chika untuk mempersingkat waktu merajuk
“oke sayang, good night sweetie” Mengusap pipinyi lembut setelah ciuman pengantar tidur pastinya.
Chika kembali ke kamar Anisa, memastikan gadis itu sudah mulai tenang.
__ADS_1
“Hei, belum tidur”
“Kamu nggak tidur sama Mas Andi, kenapa balik lagi”
“Mana bisa aku tidur nyenyak kelonan dengan pacar halalku kalau kamu masih belum tidur” Memastikan Anisa tidur renacananya, baru Chika akan menyusul suaminya sebelum tidur. Tugasnya sebagai istri sedang menunggu.
“Maaf aku ngerepotin kamu, sampaikan juga maaf ku sama Mas Andi”
“Santai, sudah aku "kasih" barusan. Sekarang sudah jinak Dia” keduanya tertawa, hal konyol yang menghibur menurut Chika. Mulai dari kedatangannya tadi siang tak terlihat senyum itu di wajah sang sahabat.
“Maaf nih tapi jangan marah, ya” Anisa antusias dia tahu kalau kalimat pembuka ini akan menjadi nasehat panjangnya dari chika. Mungkin bisa menjadi jalan keluar karena sekarang otaknya mulai buntu. Yang ada hanya kebencian yang tidak tahu ditujukan untuk siapa.
“Bicara sama Tante Ratih, dari hati ke hati. Kamu mikir nggak, sekarang ibumu sedang apa?” pertanyaan yang tidak bisa Nisa jawab. “Sedang mikirin kamu, khawatirin anak gadisnya yang nggak pulang sama sekali setelah dari kantor. Sudah makan apa belum, bagaimana keadaannya sekarang. Atau bisa jadi tante Ratih belum makan nunggu kabar mu” Anisa menegakkan badannya, sepertinya kalimat chika mampu mempengaruhinya sekarang.
Bibirnya masih membisu, tapi hatinya bertanya benarkah ibunya melakukan itu sekarang. Atau dia sedang berdiskusi dengan laki-laki itu sambil tertawa bahagia, merencanakan pernikahan yang tidak masuk akal.
“Penyakit orang tua itu kebanyakan darah tinggi, bukan karena pola makan, tapi karena tidak bisa mengelola emosi. Terlalu banyak yang masuk kepikiran mereka. Jangankan masalah berat, masalah ringan saja menguras otaknya. Kalau sudah gitu akibatnya bisa fatal” suara Chika memang rendah, tapi isi pembicaraan wanita didepannya ini sudah mempengaruhi pikirannya. “Pulang, bicara baik-baik, cari solusinya. Tante sayang banget sama kamu aku bisa lihat itu” Pandangan mereka beradu.
Nisa bangkit dari duduknya menyambar tas di nakas.
“Aku pulang sekarang” hendak melangkah dengan tergesa, sebelum chiak mencegahnya
“Pulangnya besok saja. Sudah jam dua belas. Terlalu beresiko. Yang penting kamu sudah berubah pikiran, malam ini aku temani tidur ya”
“Mas Andi?” Tanyanya dengan dahi berkerut
“Paling sudah nyenyak” Rasa bersalah ada untuk suaminya, karena sudah ingkar untuk menyusulnya begitu urusan dengan Anisa selesai
“Makasih, chik” merebahkan badannya kembali, menarik selimut sampai di dadanya. Tatapannya nanar pikirannya menerawang entah kemana.
“Jangan bilang gitu dong, kayaknya aku orang asing resmi banget pakai acara bilang terima kasih”
Menunggu esok hari, mengubah rencana setelah bangun tidur biasanya lebih dapat ide, karena pikiran sedang fresh setelah istirahat.
__ADS_1